
Arya terus saja menangis histeris, karena Arya masih tidak percaya jika yang saat ini berada di hadapannya adalah Jenazah Suci.
"Tuan muda, ini barang-barang milik korban," ucap Petugas dengan memberikan kantong keresek yang sebelumnya diberikan oleh Rian.
Arya menjatuhkan tubuhnya ketika melihat barang barang yang berada di dalam kantong kresek tersebut, karena itu merupakan barang barang milik Suci, apalagi Arya melihat identitas Suci juga cincin pernikahan yang pernah Arya berikan.
"Tidak, tidak mungkin ini jenazah kamu sayang. Aku tidak rela, aku tidak rela jika kamu sampai meninggalkan kami. Suci, bangun Suci, aku dan Rizky membutuhkan kamu," ujar Arya dengan duduk bersimpuh di depan jenazah yang sudah dibungkus oleh kain kafan, dan sesaat kemudian Arya kembali pingsan.
Semua yang berada di rumah duka merasa prihatin melihat Arya yang begitu rapuh, termasuk Farel yang baru saja tiba di kediaman Argadana, karena sebelumnya Farel mendapatkan telpon dari Papa Fadil yang menyampaikan kabar jika Suci telah meninggal dunia.
Farel langsung membantu Papa Fadil dan yang lainnya membawa masuk Arya ke dalam kamarnya, dan Farel semakin merasa bersalah ketika kembali mengingat dosa yang telah ia perbuat kepada Suci.
"Om, Tante, Farel turut berduka cita atas meninggalnya Suci. Padahal Farel belum sempat meminta maaf atas kesalahan yang telah Farel lakukan kepada Suci."
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Mama Erina yang merasa penasaran.
Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Farel akhirnya menceritakan semua kejahatan yang telah dirinya, Arya, Irwan dan Erwin lakukan kepada Suci.
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Farel, karena Mama Erina begitu geram mendengar pengakuan Farel.
"Jadi kamu adalah dalang di balik kejahatan yang telah dilakukan oleh Arya terhadap Suci? Tante tidak mengira jika kamu adalah lelaki bejat Farel," teriak Mama Erina.
"Ma sabar Ma, Farel sudah mengakui kesalahannya, begitu juga dengan Arya yang telah berusaha untuk bertanggung jawab terhadap Suci. Sekarang Suci sudah beristirahat dengan tenang, dan kita harus ikhlas melepas kepergiannya," ujar Papa Fadil dengan memeluk tubuh Mama Erina.
"Pa, Mama juga seorang perempuan, dan Suci pasti merasa sangat hancur dengan kejadian naas yang menimpanya, apalagi semua itu terjadi pada malam sebelum acara pernikahan Suci digelar, dan lebih tragisnya kejadian itu sudah menyebabkan Ibu kandung Suci meninggal dunia. Pantas saja Suci begitu kecewa dengan Arya Pa, karena jika Mama berada di posisi Suci, Mama juga akan sulit untuk memaafkan kejahatan yang telah Arya dan teman-temannya lakukan."
"Papa juga merasa kecewa terhadap kelakuan Arya dan teman-temannya, tapi sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mendo'akan mendiang Suci."
__ADS_1
"Mama semakin merasa bersalah terhadap Suci, apalagi pada awalnya Mama sudah mengira jika Suci adalah perempuan tidak benar, tapi ternyata Suci adalah korban dari kejahatan yang telah dilakukan oleh Anak kita dan teman-temannya," ujar Mama Erina yang terus saja menangis.
"Mama yang sabar ya, Suci pasti merasa senang karena melihat Mama sudah berubah dan menyadari semua kesalahan Mama terhadap Suci, dan Suci juga pasti sudah bahagia karena telah berkumpul dengan kedua orangtuanya," ujar Papa Fadil yang terus mencoba menghibur Mama Erina.
Degg
Jantung Mama Erina rasanya berhenti berdetak, karena sebelumnya Mama Erina telah mengira jika Bu Rita adalah Ibu kandung Suci.
Jadi Suci bukan Anak dari perempuan yang saat itu? Apa mungkin Suci adalah Anak ku yang telah aku tukarkan dengan Arya saat dulu masih bayi? apalagi wajah Suci begitu mirip dengan aku. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak pertama kali aku bertemu dengan Suci? tidak mungkin Anak kandungku meninggal dunia, apalagi selama Suci hidup aku sudah menghina dan membencinya, batin Mama Erina, kemudian tiba-tiba berteriak histeris dengan menghampiri jenazah Suci.
"Suci, bangun Suci, maafkan Mama Nak, maafkan Mama."
Papa Fadil dan Oma Rahma merasa heran melihat sikap Mama Erina, karena Mama Erina tiba-tiba menangis histeris, padahal tadi Mama Erina sudah tenang ketika Papa Fadil berusaha menghiburnya.
"Apa sekarang Anda sudah puas karena akhirnya Suci meninggal dunia?" teriak Bu Rita yang baru tiba di rumah duka.
"Kenapa sekarang Anda menangis? apa Anda sudah menyadari kesalahan yang telah Anda lakukan terhadap Suci? sayangnya penyesalan Anda sudah terlambat Nyonya," sindir Bu Rita, kemudian dengan langkah yang berat, Bu Rita menghampiri jenazah yang saat ini berada di hadapannya.
"Nak, ini pasti bukan Suci kan? Suci adalah Anak yang baik, kenapa Tuhan begitu cepat mengambil Suci?" ucap Bu Rita dengan menangis di samping jenazah.
"Bu, sekarang Suci sudah beristirahat dengan tenang. Ibu harus ikhlas melepas kepergian Suci," ujar Farel dengan membantu Bu Rita menjauh dari Jenazah, supaya air mata Bu Rita tidak sampai menetes pada jenazah.
"Kenapa Suci bisa meninggal? kalian pasti sudah berbuat jahat terhadap Suci kan? Nyonya Erina yang terhormat, saya tau jika Anda hanya berpura-pura sedih atas kematian Suci, padahal yang sebenarnya Anda pasti sangat bahagia kan? karena dari awal Anda sudah berusaha menjauhkan Suci dari Arta, bahkan Anda sampai menghina Suci dan Rizky," ujar Bu Rita.
Papa Fadil yang melihat Mama Erina terus saja dipojokan oleh perkataan Bu Rita, mencoba berbicara kepada Bu Rita.
"Bu, saya tau jika selama ini Istri saya sudah berbuat jahat kepada Suci. Tapi saya yakin jika Istri saya sangat menyesali semua perbuatannya."
"Kasihan Suci, selama hidupnya Suci belum pernah merasakan kebahagiaan. Saat Suci dilahirkan ke Dunia ini, Ibu kandungnya sendiri tidak menginginkannya, bahkan dengan teganya sampai menukarkan Suci karena menginginkan bayi laki-laki," gumam Bu Rita.
__ADS_1
Degg
Jantung Mama Erina rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Bu Rita, karena Mama Erina semakin yakin jika Suci adalah Anak kandungnya.
"Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin Suci_" perkataan Mama Erina terputus karena Mama Erina yang begitu syok akhirnya kembali pingsan.
"Jadi orangtua Suci masih hidup?" tanya Papa Fadil.
"Sepertinya begitu Tuan, dan saya berniat untuk mencari keberadaan mereka. Maaf Tuan, dimana Rizky? saya ingin membawa Rizky pergi dari sini," ujar Bu Rita yang belum mengetahui jika Rizky adalah Anak kandung Arya.
"Maaf Bu, apa hubungan Anda dengan Suci?" tanya Oma Rahma.
"Saya sudah menganggap Suci sebagai Anak kandung saya sendiri. Saya dan Suci sebelumnya pernah berada dalam satu sel saat kami di penjara, dan Suci adalah orang baik, bahkan Suci yang telah membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Kasihan Suci karena harus masuk penjara atas kesalahan yang tidak pernah Suci lakukan, apalagi Suci menjalani masa hukuman dalam keadaan hamil," jawab Bu Rita.
Semua yang mendengar kisah Suci semakin merasa kasihan dengan nasib malang yang menimpa Suci.
"Memangnya siapa yang sudah memfitnah Suci?" tanya Oma Rahma.
"Suci telah difitnah oleh mantan calon Mertuanya. Ceritanya panjang, tapi yang pasti Suci tidak bersalah dan dia hanyalah korban. Tuan, Nyonya, tolong ijinkan saya membawa Rizky. Kasihan Rizky karena dia sudah tidak memiliki siapa pun di duni ini," ujar Bu Rita.
"Maaf Bu, tapi Anda tidak bisa membawa Rizky, karena kami adalah keluarga kandungnya," ujar Oma Rahma, sontak saja pengakuan Oma Rahma membuat Bu Rita merasa terkejut.
"A_apa maksud Anda?"
*
*
Bersambung
__ADS_1