
Ketika Papa Fadil ke luar dari dalam kamar mandi, beliau begitu terkejut melihat Arya yang saat ini terlihat menangis dengan duduk berlutut dan bersandar di samping ranjang.
"Nak, Arya kenapa?" tanya Papa Fadil dengan menghampiri Arya.
"Pa, apa ini? Jadi Papa yang sudah mengambil kotak surat milik Suci?" tanya Arya dengan lirih.
Beberapa saat kemudian, Mama Erina datang menyusul Arya karena perasaannya tidak enak, dan benar saja firasat Mama Erina, jika saat ini Arya sudah mengetahui rahasia besar yang sudah disembunyikan selama puluhan tahun.
Mama Erina langsung menutup pintu kamarnya ketika mendengar perkataan Arya, karena beliau takut jika Suci sampai mendengar pembicaraan mereka.
"Ma, Pa, kenapa kalian diam saja? Kenapa kalian tega sekali menutupi hal sebesar ini dari Arya dan Suci?"
"Nak, maafkan kami, semua itu salah Mama, Mama yang sudah menukarkan Arya dan Suci sejak kalian baru dilahirkan ke Dunia ini," ucap Mama Erina dengan memeluk tubuh Arya.
"Arya, jangan pernah salahkan Mama kamu Nak, karena penyebab Mama melakukan semua itu adalah Papa yang sebelumnya pernah mengatakan ingin memiliki Anak laki-laki, dan Papa tidak mengira jika pada akhirnya akan seperti ini."
Arya mengacak rambutnya secara kasar, karena Arya masih tidak percaya dengan kenyataan yang akhirnya ia ketahui.
"Arya mengucapkan terimakasih banyak kepada Mama dan Papa yang sudah memberikan kasih sayang kepada Arya sejak Arya dilahirkan ke Dunia ini. Akan tetapi, apa kalian pernah memikirkan bagaimana perasaan Suci yang sudah kalian buang? Apa Mama dan Papa tau bagaimana Suci menjalani kehidupannya sejak Suci dan Arya ditukar? Suci hidup serba kekurangan, Suci hidup susah karena harus tinggal dengan orangtua yang memiliki kehidupan pas-pasan, dan seharusnya bukan Suci yang menjalani kehidupan itu, tapi Arya."
Mama Erina dan Papa Fadil menangis mendengar perkataan Arya, karena mereka sudah melakukan kesalahan yang besar kepada Suci.
"Nak kami tau kalau kami sudah melakukan kesalahan yang besar kepada Suci, dan kami juga sudah berencana untuk mengakui kesalahan yang telah kami lakukan, kami akan meminta maaf kepada Suci," ujar Mama Erina.
"Arya pernah mendengar jika seorang Ibu akan melakukan apa pun untuk Anaknya, bahkan mengorbankan dirinya sendiri, tapi ternyata ada seorang Ibu yang sudah tega menukar Anaknya karena tidak ingin kehilangan sesuatu yang belum pasti. Sebaiknya Mama sama Papa tidak perlu mengatakan apa pun kepada Suci, karena Suci sudah tidak peduli dengan keberadaan orangtua kandung yang tidak pernah menginginkan kehadiran dia di Dunia ini."
"Nak, Mama menyesal, Mama benar-benar menyesali semua yang telah Mama lakukan, bahkan Mama sampai mengalami depresi karena merasa sangat bersalah kepada Suci, begitu juga dengan Papa yang sampai mengalami stroke ketika mengetahui semua kebenarannya."
"Apa Mama pikir Arya tidak merasa bersalah terhadap Suci? Arya sangat merasa bersalah karena sudah merebut kebahagiaan serta kehidupan yang seharusnya Suci miliki. Arya sudah merebut semuanya dari Suci, bahkan Arya menghancurkan kehormatannya. Mungkin dengan meminta maaf dalam seumur hidup Arya saja tidak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah Arya perbuat."
__ADS_1
"Nak, tapi itu semua bukan kesalahan Arya, karena Mama yang sudah melakukan dosa besar itu. Mama akan menebusnya, Mama akan menerima apa pun keputusan Suci."
"Baiklah kalau itu kemauan Mama. Mulai sekarang, Arya minta kalian jauhi Suci, Arya akan membawa Suci dan Anak-anak pindah ke rumah kami."
"Nak, tapi Suci adalah Anak kandung kami, dan Mama tidak mau berpisah dengan Suci lagi. Mama juga ingin dekat dengan Cucu cucu Mama."
"Apa Arya tidak salah dengar? Kenapa baru sekarang Mama mengakui Suci sebagai Anak kandung Mama? Kenapa Mama tega sekali membuang Suci? Apa itu yang dinamakan kasih sayang seorang Ibu? Ma, sekarang Suci adalah Istri Arya, dan Arya memiliki hak untuk membawa Suci pergi, karena Suci sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhirat Arya. Kalian tenang saja, Arya akan menjaga Suci dengan baik, Arya akan membahagiakan Suci dalam seumur hidup Arya, dan Arya akan mengembalikan semua yang Arya miliki kepada Suci, karena dari awal semua itu adalah milik Suci, jadi sudah sepantasnya Arya mengembalikan semuanya kepada pemilik yang sebenarnya," ujar Arya dengan melangkahkan kaki untuk ke luar dari kamar Mama Erina dan Papa Fadil.
"Nak, Mama mohon jangan berikan hukuman berat seperti ini, jangan pisahkan Mama dari Anak dan Cucu Mama," ujar Mama Erina dengan memegangi tangan Arya.
Papa Fadil berusaha menenangkan Mama Erina, karena mereka pantas mendapatkan hukuman atas semua kesalahan yang telah mereka lakukan.
"Sekali lagi Arya ucapkan terimakasih atas semua kasih sayang telah Mama dan Papa berikan untuk Arya. Maaf jika Arya belum bisa membalasnya, tapi untuk saat ini ijinkan Arya menenangkan diri terlebih dahulu," ujar Arya kemudian melangkahkan kakinya untuk menemui Suci.
Setelah mengetahui semua kebenarannya, Arya merasa tidak pantas bersanding dengan Suci, tapi Arya sudah berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan dengan membahagiakan Suci dalam seumur hidupnya.
Suci merasa terkejut ketika Arya tiba-tiba memeluknya.
"Papa hanya kangen saja sama Mama."
"Pa, kita ini adalah Suami Istri, bahkan kita sudah memiliki Anak. Jadi Mama tau kalau saat ini Papa sedang tidak baik-baik saja."
"Sebenarnya Papa kangen tinggal di rumah kita. Mama mau kan kalau sekarang kita pulang ke sana?" maaf Suci aku masih belum bisa mengatakan yang sebenarnya, tapi aku pasti akan mengatakan semuanya setelah memindahkan semua aset yang aku miliki atas nama kamu, lanjut Arya dalam hati.
"Kenapa Papa ngajak pulang secara tiba-tiba seperti ini? Apa Papa ada masalah sama Mama Erina atau Papa Fadil?"
"Sayang, kita kan sudah memiliki rumah sendiri. Setelah berumah tangga, sudah seharusnya kita tinggal terpisah dari keluarga. Papa ingin kita hidup mandiri, bukannya dalam satu istana tidak boleh ada dua Ratu? Apalagi di sini ada Mama sama Oma, jadi ada tiga Ratu dong," ujar Arya dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Suci sebenarnya masih merasa curiga jika saat ini masih ada yang Arya sembunyikan darinya, tapi Suci tidak mau memaksa Arya untuk mengatakan semuanya.
__ADS_1
Mungkin saat ini Mas Arya masih belum siap mengatakan semua masalahnya kepadaku. Sebaiknya sekarang ku mengikuti keinginannya untuk pulang, batin Suci.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita pulang ke rumah kita, karena seorang Istri harus mengikuti semua keinginan Suaminya, dan Mama akan ikut kemana pun Papa pergi."
"Terimakasih ya sayang, kita langsung berangkat sekarang saja ya, pakaian kita di sana juga banyak, jadi tidak perlu membawa pakaian yang di sini," ujar Arya dengan mencium kening Suci, kemudian keduanya ke luar dari kamar untuk berpamitan terlebih dahulu sebelum pulang, karena Arya tidak mau Suci merasa curiga.
Ketika Arya dan Suci ke luar dari dalam kamarnya, Mama Erina, Oma Rahma dan Papa Fadil sudah terlihat menunggu di ruang keluarga.
"Mama kenapa menangis?" tanya Suci dengan menghampiri Mama Erina.
"Mama tidak mau berpisah dengan kalian?" jawab Mama Erina.
"Bukannya itu yang Mama mau," ujar Arya yang masih merasa kecewa.
"Apa maksud Papa berkata seperti itu terhadap Mama Erina?" tanya Suci kepada Arya.
"Mama ingin kita mandiri sayang, karena itu yang dulu selalu Mama katakan," jawab Arya dengan memaksakan diri untuk tersenyum supaya Suci tidak merasa curiga.
Suci mencoba menenangkan Mama Erina dan Oma Rahma yang terus saja menangis, sedangkan Papa Fadil berusaha tegar meski pun sesekali airmata terus menetes pada pipinya.
"Mama, Oma, sama Papa jangan sedih ya. Kami pasti akan sering-sering main ke sini, atau nanti kalian bisa main ke rumah kami, jaraknya dari sini juga tidak terlalu jauh," ujar Suci dengan bergantian memeluk tubuh keluarganya.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Suci dan Arya mengucap Salam sebelum pergi dari kediaman Argadana.
"Suci, maafin Mama Nak, maafin Mama," ucap Mama Erina dengan lirih ketika mobil Arya meninggalkan halaman rumah mereka.
"Ma, kita harus sabar dan memberikan waktu kepada Arya, karena semua kenyataan ini pasti tidak mudah untuknya," ujar Papa Fadil dengan memeluk tubuh Mama Erina.
*
__ADS_1
*
Bersambung