Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 26 ( Tidak ada kesempatan kedua )


__ADS_3

Rian dan Bu Rita saat ini telah sampai di Rumah Sakit, dan Bu Rita begitu terkejut ketika melihat mantan Suaminya dan Ibu tiri Alina yang tidak lain adalah Asisten rumah tangga Bu Rita saat dulu menjadi Istri Papa Ferdi.


Degg


Rasanya jantung Bu Rita berhenti berdetak ketika mengetahui jika Alina istrinya Rian adalah Putri kandungnya.


Jadi Alina istrinya Rian adalah Putri kandungku? batin Bu Rita dengan menitikkan airmata, apalagi sudah dua belas tahun lamanya Bu Rita mendekam dalam penjara, tepatnya saat itu Alina masih berusia sepuluh tahun.


Papa Ferdi yang melihat Rian, bergegas menghampiri Rian, tapi Papa Ferdi belum menyadari jika saat ini perempuan yang berada di belakang Rian adalah mantan istrinya.


"Rian, apa kamu sudah menemukan donor darah untuk Alina? Alina harus segera melakukan operasi, tapi Alina masih memerlukan satu kantung darah lagi," ujar Papa Ferdi yang terlihat cemas.


"Rian membawa Bu Rita yang kebetulan memiliki golongan darah yang sama dengan Alina, Pa."


Papa Ferdi begitu terkejut ketika melihat Bu Rita, dan ingatan keduanya tentang masalalu mereka saat ini kembali bermunculan.


Dulu Bu Rita dan Papa Ferdi hidup bahagia, apalagi kehidupan mereka semakin sempurna dengan kehadiran Alina dalam pernikahan mereka. Sampai akhirnya kebahagiaan itu hancur setelah kedatangan Bu Meri, yaitu sosok Asisten rumah tangga yang diam-diam selalu menggoda Papa Ferdi.


Rumah tangga yang harmonis akhirnya berakhir tragis ketika Bu Meri menyuruh Kakaknya yang bernama Henri untuk menodai Bu Rita supaya Papa Ferdi menceraikan Bu Rita, tapi saat itu Bu Rita yang membela diri tidak sengaja menusuk perut Kakak kandung Bu Meri hingga menyebabkan meninggal dunia.


Satu-satunya saksi hanyalah Bu Meri, tapi Bu Meri saat itu memutar balikan fakta dengan memfitnah Bu Rita. Bu Meri mengatakan jika Bu Rita akan membunuhnya karena telah mengetahui perselingkuhan Henri dengan Bu Rita, tapi Henri menghalangi Bu Rita yang akan menusuk Bu Meri, sampai akhirnya pisau tersebut mengenai perut Henri.


Bu Rita tidak berhasil menyangkal semua tuduhan Bu Meri, karena terdapat sidik jari Bu Rita pada pisau tersebut, sampai akhirnya Bu Rita dijatuhkan hukuman tigal belas tahun penjara, tapi karena Bu Rita berkelakuan baik setelah bertemu dengan Suci, Bu Rita mendapatkan potongan masa tahanan selama satu tahun.


......................


Bu Meri yang saat ini melihat sosok Bu Rita, lebih terkejut dibandingkan dengan Papa Ferdi, karena sampai sekarang dirinya selalu dihantui perasaan bersalah, apalagi sampai saat ini rumah tangga Bu Meri dan Papa Ferdi masih belum juga dikaruniai seorang Anak, karena Bu Meri selalu mengalami keguguran, dan Bu Meri selalu mengaitkannya dengan dosa yang telah dilakukan oleh dirinya kepada Bu Rita.

__ADS_1


"Ri_rita, kamu sudah ke luar dari dalam penjara?" tanya Bu Meri dengan tergagap.


"Apa kabar Pelakor? sepertinya kamu ketakutan ketika melihatku? apa kamu takut jika rahasia kamu yang telah memfitnahku akan terbongkar?" sindir Bu Rita.


"Ma, jelaskan, apa maksud Rita?" tanya Papa Ferdi kepada Bu Meri.


Bu Meri semakin ketakutan ketika melihat mata Papa Ferdi yang nyalang karena marah terhadapnya.


"Pa, Mama mohon jangan marah, Mama terpaksa melakukan semua itu," ucap Bu Meri dengan menangis.


Rian yang melihat semuanya hanya terdiam karena tidak mengira jika Bu Rita adalah Ibu kandung dari istrinya.


"Rian, sebaiknya kamu antarkan saya untuk melakukan pengambilan darah, karena saya ingin segera menyelamatkan nyawa Alina," ujar Bu Rita.


Rian dan Bu Rita berlalu meninggalkan Papa Ferdi yang terus mendesak Bu Meri supaya mengakui semua kesalahannya.


"Pa, maafin Mama, tapi saat itu Mama terpaksa memfitnah Rita, karena Mama ingin memiliki Papa seutuhnya, bukan hanya sekedar simpanan."


"Katakan, apa yang sebenarnya telah kamu lakukan kepada Rita !!" teriak Papa Ferdi.


"Se_sebenarnya dulu Mama menyuruh Kak Henri untuk menodai Rita, supaya Papa menceraikannya dan mengira jika Rita sudah berselingkuh dengan Kak Henri, tapi saat itu Rita membela diri sehingga menusukan pisau pada perut Kak Henri."


"Kamu benar-benar keterlaluan Meri, aku tidak mengira jika kamu setega itu, kamu sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang kamu mau. Dimana hati nurani kamu Meri?"


"Pa, Mama tidak memiliki pilihan lain, karena Mama selalu merasa cemburu melihat kebersamaan Papa dan Rita yang selalu memamerkan kemesraan."


"Meri, kamu sudah benar-benar keterlaluan. Dulu kamu juga sudah menjebak ku supaya jatuh ke dalam pelukan kamu, bahkan kamu sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan Rita. Aku tidak bisa lagi menjalani rumah tangga dengan kamu, apalagi selama ini kamu sudah menjerumuskan hidup Alina, dan membuat Alina menjadi seorang pembangkang. Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku, karena aku menjatuhkan talak tiga terhadap kamu Meri, dan sekarang juga pergi dari sini," ujar Papa Ferdi.

__ADS_1


Bu Meri langsung berlutut dengan memeluk Kaki Papa Ferdi, karena Bu Meri tidak tau harus pergi kemana jika bercerai dengan Papa Ferdi, apalagi keluarga satu-satunya yang Bu Meri miliki yaitu Henri Kakak kandungnya sudah meninggal dunia.


"Pa, Mama mohon jangan ceraikan Mama, Mama tidak tau harus pergi kemana kalau bercerai dengan Papa, karena Mama sudah tidak memiliki keluarga."


"Meri, aku tidak mau tau urusanmu lagi, karena sekarang kita sudah bukan Suami istri lagi. Aku rasa hukuman itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kesalahan yang telah kamu lakukan kepada Rita. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan semua kejahatan kamu kepada Polisi," ujar Papa Ferdi.


Bu Meri dengan berat hati terpaksa pergi dari Rumah Sakit, karena Bu Meri tidak mau mendekam di penjara, sedangkan Mama Rita yang melihat pertengkaran Papa Ferdi dan Bu Meri setelah sebelumnya selesai melakukan transfusi darah untuk Alina, terlihat acuh dan tidak perduli dengan urusan mantan Suaminya.


"Rita, aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah aku perbuat di masalalu," ucap Papa Ferdi dengan berlutut di depan Mama Rita yang saat ini tengah duduk di depan ruang Operasi.


"Apa aku tidak salah dengar seorang Ferdi merendahkan dirinya untuk meminta maaf kepada ja*lang seperti aku? bukannya itu hinaan yang selalu kamu lontarkan terhadapku Tuan Ferdi yang terhormat," sindir Mama Rita dengan tersenyum mengejek.


Mama Rita masih ingat dengan perlakuan Papa Ferdi yang malah menghina nya saat dulu Bu Rita menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berselingkuh dengan mendiang Henri.


"Rita, aku benar-benar menyesal, aku ingin menebus semua kesalahanku, aku ingin kita kembali hidup bersama," ujar Papa Ferdi dengan menggenggam erat tangan Bu Rita.


"Gampang sekali kamu mengucapkan semuanya setelah apa yang kamu lakukan. Kamu harus tau Ferdi, jika luka hati sangat sulit di obati. Meski pun bibirku berkata memaafkan kamu, tapi mungkin hatiku tidak akan pernah bisa ikhlas menerima perlakuan yang telah kamu lakukan kepadaku di masalalu."


"Aku janji akan membahagiakan kamu Rita, tolong berikan aku kesempatan kedua."


"Maaf Ferdi, tapi dalam kamus ku tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Sekali pengkhianat, akan tetap menjadi pengkhianat. Sekarang kamu bisa berkata seperti itu, tapi itu tidak bisa menjadi jaminan jika kedepannya kamu tidak akan berselingkuh lagi," tegas Bu Rita yang tidak goyah sedikit pun dengan pendiriannya.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2