
Suci dan Rian merasa tenang setelah kepergian Susi, karena Bi Ijah sudah mengantarkan Susi menuju kampung halamannya.
"Sayang, hari ini Ayah mau ngajak Bunda dan Rizky belanja bulanan sekalian jalan jalan. Bunda mau kan?" tanya Rian yang sebelumnya sudah sepakat dengan Suci untuk mengganti panggilan menjadi Ayah dan Bunda, apalagi saat ini Rizky sudah mulai belajar bicara.
"Tumben Ayah ngajak Bunda dan Rizky ke luar rumah? biasanya kami tidak pernah Ayah perbolehkan ke luar rumah," ujar Suci.
"Ayah kasihan sama Bunda, saat ini Bunda tengah hamil, pasti Bunda bosan kalau diam di rumah terus. Sesekali kita harus refreshing biar gak jenuh, Bi Ijah juga masih belum kembali ke sini, jadi tidak ada yang bisa Ayah suruh untuk belanja bulanan," jawab Rian.
Sebelumnya Rian selalu melarang Suci ke luar rumah, karena Rian merasa takut apabila ada orang yang mengenali Suci, tapi Rian merasa kasihan karena Suci pasti merasa bosan jika terus tinggal di rumah.
Kasihan Suci, semenjak aku membawanya pindah ke sini, Suci selalu aku larang ke luar rumah. Seharusnya aku tidak boleh takut, Arya juga pasti tidak akan mencari Suci lagi, karena mengira jika Suci telah meninggal dunia, ucap Rian dalam hati.
Suci dan Rian saat ini telah sampai di Pusat perbelanjaan terbesar di Kalimantan, dan Suci terus mengembangkan senyuman, karena akhirnya bisa ke luar dari sangkar emasnya.
"Bunda sepertinya bahagia sekali?" tanya Rian saat melihat wajah Suci.
"Tentu saja, Bunda rasanya seperti ke luar dari dalam sangkar emas," jawab Suci dengan terkekeh.
"Maaf ya, Ayah sudah bersikap berlebihan kepada Bunda. Ayah hanya tidak mau kalau Bunda merasa kecapean, apalagi Dokter bilang kalau kehamilan yang jaraknya dekat rentan keguguran."
"Iya, gak apa-apa Yah, Bunda juga mengerti kalau Ayah melakukan semua itu demi kebaikan Bunda. Oh iya, sekarang kita mau pergi kemana dulu?" tanya Suci.
"Sebaiknya sekarang kita makan-makan dulu."
"Dalam rangka apa kita makan-makan? apa karena kita sudah berhasil mengusir Pelakor?" tanya Suci dengan tersenyum.
"Itu salah satunya, tapi sepertinya Bunda lupa kalau sekarang Bunda sudah tidak merasa mual muntah lagi, jadi sekarang Bunda sudah bisa memakan apa pun yang Bunda mau."
"Gara-gara kemarin sibuk mengurus masalah dengan Susi, Bunda jadi lupa kalau sekarang Bunda sudah tidak merasa mual dan muntah. Oh iya Yah, kapan kita akan mengadakan acara syukuran empat bulanan."
"Bagaimana kalau minggu ini? Bi Ijah juga besok sudah kembali, dan nanti Ayah akan menyuruh Karyawan Restoran kita untuk memasak makanan nya."
"Padahal tadinya Bunda ingin memasak sendiri."
__ADS_1
"Sayang, Bunda gak boleh capek, dan Ayah tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Bunda."
"Iya iya, Bunda nurut saja sama Ayah."
Setelah selesai makan siang, Suci dan Rian melanjutkan kegiatan mereka dengan berbelanja bulanan, dan Rian terus merasa cemburu karena banyak pasang mata yang begitu terpesona ketika melihat kecantikan wajah Suci.
"Kenapa Ayah cemberut terus?" tanya Suci yang terlihat heran, karena dari tadi Rian terus saja diam.
"Bunda, sebaiknya sekarang kita pulang saja," ajak Rian.
"Lho, kenapa seperti itu, kita kan belum selesai berbelanja?" tanya Suci, tapi Rian hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
Suci menggenggam tangan Rian yang saat ini tengah mendorong kereta belanjaan juga menggendong Rizky, karena Rian tidak memperbolehkan Suci membawa apa pun.
"Bukannya Suami Istri itu harus selalu jujur dan saling percaya? Sekarang Ayah katakan, apa yang membuat Ayah terus saja cemberut?"
Rian menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Suci, karena saat ini hatinya benar-benar dihantui rasa takut.
"Ayah tidak rela jika ada lelaki lain yang melihat kecantikan Bunda," jawab Rian, dan Suci hanya tersenyum ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Rian.
Suci, sebelum aku berhasil menikahi kamu, aku pasti akan selalu merasa ketakutan jika suatu saat nanti ingatan kamu kembali. Apalagi kedua Anak kamu bukanlah darah dagingku, jadi pasti kamu akan lebih memilih untuk kembali kepada Arya, batin Rian.
Rian merasa lebih tenang setelah Suci menggunakan masker, karena tidak ada lagi lelaki yang bisa melihat kecantikan wajah Suci.
Setelah selesai berbelanja, Rian mengajak Suci menuju Restoran, karena Rian mendapatkan telpon dari Karyawannya jika ada Pengusaha dari Jakarta yang memesan makanan untuk acara pembukaan Perusahaan.
"Sayang, tidak apa-apa kan kalau kita ke Restoran dulu sebelum pulang? soalnya barusan Ayah mendapatkan telpon kalau ada Pengusaha dari Jakarta yang memesan makanan untuk acara pembukaan Perusahaannya," ujar Rian.
"Iya Yah tidak apa-apa, lagian Bunda belum pernah melihat Restoran kita."
Jarak dari pusat perbelanjaan menuju Restoran milik Rian hanya menghabiskan waktu selama setengah jam saja, dan Suci kembali menggunakan masker ketika turun dari mobil.
Karyawan Rian sudah terlihat menunggu kedatangan Rian, karena Pengusaha yang akan pesan catering sudah cukup lama menunggu kedatangan Rian.
__ADS_1
"Tuan, Pengusaha yang mau pesan catering sudah menunggu Anda," ucap Karyawan Restoran, dan Rian bergegas melangkahkan kaki dengan mendorong kereta bayi Rizky juga menggandeng Suci untuk menghampiri Pengusaha tersebut.
"Permisi Tuan, mohon maaf Anda sudah lama menunggu. Saya pemilik Restoran Rizky. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rian kepada laki-laki yang saat ini tengah melihat daftar menu.
"Kamu Rian kan?" tanya Irwan ketika melihat sosok Rian yang saat ini berada di hadapannya.
Deg deg deg
Jantung Rian berdetak kencang ketika melihat Irwan, karena Rian takut jika Irwan mengenali Suci.
"Iya benar, kamu Irwan kan?"
"Ternyata dunia ini sempit sekali ya, aku tidak mengira jika kita bisa bertemu di sini. Jadi, kamu pemilik Restoran ini?"
"Saya juga merasa terkejut karena bisa bertemu dengan Anda di sini. Iya benar, kebetulan saya baru beberapa bulan membuka cabang di Kota ini."
Irwan mengerutkan dahinya ketika melihat sosok perempuan hamil yang saat ini berada di samping Rian, karena Irwan merasa jika perempuan tersebut tidak asing untuknya.
Kenapa aku merasa tidak asing dengan perempuan yang berada di samping Rian? apa perempuan tersebut adalah Istri Rian? ucap Irwan dalam hati.
"Rian, apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Irwan yang merasa penasaran.
Suci merasa heran mendengar pertanyaan Irwan, karena Suci tidak mengingat pernikahan Rian dan Alina, dan Suci mengira jika hanya dirinya satu-satunya Istri Rian, sampai akhirnya Suci angkat suara, karena mengira jika Irwan telah salah mendapatkan informasi.
"Maaf Tuan, sepertinya Anda salah mendapatkan informasi, karena hanya saya istri satu-satunya Mas Rian, dan kami sudah menikah hampir dua tahun lamanya, bahkan sebentar lagi kami akan memiliki dua Anak," jelas Suci.
Irwan terlihat berpikir, karena wajah dan suara istri Rian begitu familiar untuknya, sampai akhirnya terlintas sebuah nama pada otak Irwan.
"Apa kamu Suci?"
*
*
__ADS_1
Bersambung