Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 34 ( Hujan yang menjadi saksi )


__ADS_3

Arya dan Suci terus saling memandang dengan desiran hangat yang menjalar pada tubuh kedua insan yang tengah dimabuk cinta tersebut, dan saat ini netra keduanya saling mengunci seolah tidak ingin melepaskan pandangan.


"Biarkan hujan yang menjadi saksi jika aku sangat mencintai kamu Suci," ucap Arya.


Belum sempat Suci menjawab perkataan Arya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Ketua RT dan beberapa orang warga yang lewat, dan mereka mengira jika Suci dan Arya tengah melakukan tindakan yang tidak senonoh.


"Apa yang sedang kalian lakukan? bisa-bisanya kalian melakukan tindakan yang tidak senonoh di lingkungan kami," teriak Ketua RT, sontak saja Suci dan Arya langsung terbangun.


"Pak, kami tidak mungkin melakukan semua itu, tadi saya hanya terjatuh di atas tubuh Tuan Arya."


"Kamu tidak perlu mengelak lagi, sudah jelas-jelas kami melihat dengan mata kami sendiri jika kalian sedang bermesraan, kamu lihat sendiri celana lelaki yang tadi berada di bawah kamu, resleting nya saja terbuka seperti itu," ujar salah satu warga.


Suci reflek melihat ke arah celana Arya, kemudian Suci langsung menutup matanya.


"Astagfirullah, kenapa bisa seperti itu?" ucap Suci.


"Pak, Suci adalah perempuan baik-baik, tadi dia hanya membantu saya untuk berdiri karena kepala saya terasa sakit. Sepertinya tadi saya lupa menutup resleting celana saya, ketika saya habis dari kamar mandi," ujar Arya.


"Kalian sudah ketahuan masih saja mengelak, sekarang juga kami akan menikahkan kalian berdua supaya kalian tidak melakukan dosa besar lagi, kalau kalian sudah menikah, maluan bebas ingin melakukan apa pun juga," ujar Ketua RT.


"Pak, tidak bisa seperti itu, kami benar-benar tidak melakukan apa pun," ujar Suci yang tidak mungkin menikah dengan Arya, apalagi Mama Erina sudah menyuruh Suci untuk menjauhi Arya.


"Kami tidak mau jika di lingkungan kami ada yang berbuat zina, jadi sebaiknya sekarang juga kalian menikah," ujar salah satu Warga, begitu juga dengan warga yang lainnya.


Akhirnya Ketua RT menyuruh salah satu warga untuk memanggil Ustadz setempat supaya menikahkan Suci dan Arya, dan saat ini Suci terlihat gelisah, lain hal nya dengan Arya yang merasa bahagia karena sebentar lagi bisa menikahi Suci.


Maaf Suci, tapi mungkin ini adalah yang tebaik untuk kita, karena dengan kita menikah, aku bisa mempertanggung jawabkan kesalahanku di masa lalu. Aku janji, aku akan selalu membahagiakan kamu dan Rizky, dan suatu saat nanti, aku akan mengakui kesalahan yang telah aku lakukan kepadamu, ucap Arya dalam hati.


Suci meminta ijin kepada Ketua RT untuk berbicara berdua dengan Arya sekalian mengganti pakaian, sampai akhirnya Suci diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah.


"Tuan, bagaimana ini, kita tidak mungkin menikah. Apalagi tadi Nyonya Erina datang ke sini dan menyuruh saya supaya menjauhi Tuan," ujar Suci dengan menangis.

__ADS_1


"Jadi Mama yang membuat kamu menghindari aku?"


"Wajar saja Nyonya Erina melakukan semua itu, karena semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk Anaknya."


"Suci, yang terbaik untuk Mama belum tentu yang terbaik untuk kehidupanku, karena bagiku, kamu dan Rizky adalah yang terbaik untukku, kalian berdua adalah sumber kebahagiaanku, jadi apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Kamu mau kan menjadi istri dan Ibu dari Anak-anakku?"


"Tapi_"


Ucapan Suci terhenti karena Arya menempelkan telunjuknya pada bibir Suci.


"Tidak ada kata tapi tapian, karena semuanya sudah menjadi takdir hidup kita, dan mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk menyatukan kita berdua," ujar Arya dengan mendekap erat tubuh Suci.


Suci akhirnya hanya bisa setuju untuk menikah dengan Arya, apalagi saat ini Pak Ustad sudah datang untuk menikahkan mereka.


Setelah Suci dan Arya berganti pakaian, keduanya menghampiri Ustad yang akan menjadi Penghulu sekaligus Wali hakim untuk Suci.


"Silahkan duduk Nak Suci dan Nak Arya," ucap Pak Ustad.


Kenapa nama Ayah kandung Suci sama dengan nama Papa? batin Arya.


"Suci, bukannya kedua orangtua kamu sudah meninggal?" tanya Arya.


"Nanti saya ceritakan semuanya," bisik Suci.


Arya yang sebelumnya diberi satu set perhiasan oleh Oma Rahma, menjadikan perhiasan tersebut sebagai Mas kawin untuk Suci, bahkan Arya juga menambahkan uang sebesar sepuluh milyar untuk mas kawin Suci, sehingga membuat semua orang yang menyaksikan pernikahan Suci dan Arya merasa terkejut.


"Saudara Arya Argadana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Suci Pratiwi Bin Bapak Fadil dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat seratus gram, dan uang sebesar sepuluh milyar rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Suci Pratiwi Bin Bapak Fadil dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Arya dengan lantang.


Setelah para Saksi menyatakan sah pada pernikahan Suci dan Arya yang diselenggarakan secara dadakan tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang dari luar rumah.

__ADS_1


"Tunggu, saya keberatan dengan pernikahan ini," teriak Rian dengan menghampiri Suci.


Rian sengaja datang ke rumah kontrakan Suci setelah sebelumnya Rian melakukan cek kesuburan, karena Rian tidak tega jika harus melakukan tes DNA kepada Putri yang baru saja lahir.


"Suci, aku mohon batalkan pernikahan ini, aku akan segera bercerai dengan Alina, tidak bisakah kamu menunggu aku sebentar saja? Kamu lihat sendiri aku sudah melakukan tes kesuburan, dan hasilnya aku mandul. Jadi, sudah terbukti bahwa bayi yang dilahirkan Alina bukanlah darah dagingku," ujar Rian dengan memegang bahu Suci.


"Rian, lepaskan pegangan tangan kamu dari Istriku, karena sekarang Suci telah Sah menjadi istriku walau pun kami baru menikah secara Agama, tapi aku akan segera mendaftarkan pernikahan kami secara Negara," ujar Arya dengan mendorong tubuh Rian.


Warga yang berada di sana mencoba memisahkan Rian dan Arya, karena saat ini keduanya terus saja berdebat, bahkan hendak adu jotos karena memperebutkan Suci.


"Rian, sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini. Maaf jika aku sudah mengecewakan mu, tapi sekarang aku sudah memiliki Suami, begitu juga dengan kamu yang masih memiliki Istri," ucap Suci.


"Tidak Suci, apa pun yang terjadi, aku akan terus memperjuangkan cinta kita, karena dulu kita sudah berjanji jika kita akan sehidup semati."


"Rian, aku mohon pengertiannya, mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama, dan aku harap kamu bisa ikhlas menerima pernikahan kami, seperti aku yang dulu sudah ikhlas melepaskan kamu untuk menikah dengan Alina," ucap Suci dengan tatapan memohon.


"Baiklah Suci, sekarang aku akan pergi dari sini, tapi tidak dengan hatiku, karena cinta dan hatiku akan selalu ada bersama denganmu," ucap Rian, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari rumah kontrakan Suci.


Setelah kepergian Rian, beberapa saat kemudian datang beberapa orang yang mengantarkan makanan untuk acara pernikahan Suci dan Arya, karena sebelumnya Arya sudah memesan catering untuk warga yang hadir.


"Saya ucapkan terimakasih kepada semua yang hadir dalam pernikahan saya dan Suci yang harus di adakan secara dadakan. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menikahi Suci, hanya saja tadi keburu terjadi kesalahpahaman," ujar Arya.


"Kami mohon maaf Nak Arya, jika kami sudah salah paham terhadap Nak Arya dan Nak Suci," ucap Ketua RT yang merasa malu, apalagi setelah mengetahui jika Arya adalah pemilik Argadana Grup yang setiap bulan selalu memberikan bantuan kepada warga di sekitar perusahaan.


Arya mempersilahkan semuanya untuk memakan hidangan yang telah disediakan, kemudian Arya mengajak Suci untuk berbicara berdua.


"Sayang, apa bisa kita bicara berdua?" ucap Arya sehingga membuat Suci merasa terkejut ketika mendengar Arya memanggilnya dengan panggilan sayang.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2