
Farel terkejut ketika melihat Alina yang saat ini datang ke rumahnya, karena sebelumnya Alina selalu menolak apabila Farel mengajak untuk melihat rumah mereka.
"Alina, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Farel dengan terus memasukan makanan ke dalam mulutnya, tanpa menghiraukan kehadiran Alina.
"Apa aku tidak boleh datang ke rumahku sendiri? Bukannya rumah ini dulu kamu siapkan untuk tempat tinggal kita?" ujar Alina dengan memeluk tubuh Farel dari belakang.
"Alina, tolong jangan seperti ini. Aku akan segera mengajukan gugatan cerai terhadap kamu," ujar Farel dengan mencoba melepaskan tangan Alina.
Alina merasa geram dengan penolakan Farel, karena biasanya Alina yang menolak Farel.
"Apa karena perempuan itu, makanya kamu jadi berubah Farel?" tunjuk Alina pada Ayu.
"Apa maksud kamu Alina? Kamu tidak perlu menyalahkan orang lain, bukannya kamu sendiri yang sudah tidak mau berhubungan denganku? Apa kamu ingat kata-kata kamu kemarin malam?"
"A_aku waktu itu sedang mabuk, jadi aku asal bicara. Farel, aku tidak ingin berpisah dengan kamu. Kamu mau kan kembali ke rumah? Kasihan Ratu selalu menanyakan kamu."
"Sudahlah Alina, kamu memang perempuan egois. Sekarang semuanya sudah terlambat, dan aku ingin membuka lembaran baru dengan melupakan kamu yang selalu memberikan luka untuk aku dan Putri."
Alina menghampiri Ayu yang saat ini masih terlihat makan tanpa menghiraukan keberadaan Alina.
"Dasar perempuan ja*lang, bisa-bisanya kamu berusaha merebut Suami aku," teriak Alina dengan melayangkan tangannya.
Ayu tiba-tiba berdiri dan mencekal pergelangan tangan Alina.
"Maaf Nyonya, saya di sini bekerja menjadi Pengasuh Non Putri, jadi Anda tidak berhak menghina saya," ujar Ayu.
Farel tidak menyangka jika Ayu yang pendiam berani melawan Alina.
"Aww sakit, lepaskan tangan aku Babu," teriak Alina.
Ayu melepaskan tangan Alina karena merasa tidak enak terhadap Farel dan Putri.
"Farel, apa benar jika dia adalah Babu di rumah ini? Aku tidak percaya jika seorang Babu makan bersama majikan," ujar Alina dengan tersenyum mengejek.
"Itu bukan urusan kamu, jadi kamu tidak perlu repot-repot mengurusi urusanku. Satu hal yang harus kamu tau, kalau Ayu lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan kamu," ujar Farel dengan penuh penekanan.
Alina tidak rela karena Farel lebih membela Ayu dibandingkan dengan nya, sampai akhirnya Alina memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Farel.
"Ayu, aku minta maaf atas sikap Alina," ucap Farel yang merasa tidak enak terhadap Ayu.
"Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti kalau Nyonya pasti telah salah paham, maaf juga kalau tadi saya sudah berbuat kasar. Saya hanya membela diri," ujar Ayu.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, karena orang seperti Alina memang pantas diperlakukan seperti itu. Kalau begitu kalian lanjutkan makannya, saya mau siap-siap berangkat kerja," ujar Farel dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Ayu menghampiri Putri yang terlihat melamun, kemudian Ayu memeluk tubuh nya.
"Putri sayang kenapa melamun terus? Teh Ayu tau kalau Putri pasti sedih kan karena Daddy sama Mommy memutuskan untuk berpisah?"
__ADS_1
"Tidak Teh, Putri justru kasihan sama Daddy, karena Mommy selalu bersikap keterlaluan, Mommy tidak pernah menjadi Istri yang baik, Daddy bahkan jarang sarapan dulu sebelum berangkat kerja."
Ayu terlihat berpikir, kemudian Ayu mempunyai ide membuat bekal makan siang untuk Farel.
"Bagaimana kalau sekarang kita buat bekal makan siang untuk Daddy?"
"Ide yang bagus Teh, Putri juga mau belajar masak dari Teteh," ujar Putri yang kembali bersemangat.
......................
Ketika Farel sudah bersiap untuk berangkat, Farel terkejut karena Putri memberikan kotak makan siang untuknya.
"Daddy, ini bekal makan siang Daddy, tadi Putri dibantu Teh Ayu membuatnya."
"Makasih banyak ya sayang," ucap Farel yang merasa terharu.
"Yu, nanti kalau ada tukang sayur lewat, kamu belanja ya, ini uang belanjanya. Kamu sama Putri kalau mau beli sesuatu pakai saja uang itu, nanti kalau uangnya habis kamu bilang saja," ujar Farel dengan memberikan uang dua juta rupiah untuk Ayu.
Uangnya banyak sekali, kalau aku hidup di kampung, uang segini cukup untuk aku makan satu bulan, ucap Ayu dalam hati.
"Sayang, Daddy berangkat dulu ya, Putri baik-baik sama Teh Ayu," ujar Farel.
"Iya Dad, nanti putri mau belajar masak juga sama Teh Ayu," ujar Putri dengan antusias.
Farel akhirnya berangkat kerja setelah sebelumnya mengucapkan salam.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Aku sudah lama nunggu kamu," ujar Karin dengan memeluk tubuh Farel.
"Karin, jangan seperti ini, gak enak kalau ada yang lihat," ujar Farel.
"Iya, iya, tapi nanti kalau di dalam ruang kerja, boleh dong?" ujar Karin yang terlalu agresif, sehingga membuat Farel merasa tidak nyaman.
"Sayang, kamu bawa apa?" tanya Karin ketika melihat Farel membawa paper bag.
"Ini bekal makan siang, tadi Putri sama Ayu sengaja membuatkan bekal makan siang untukku," jawab Farel dengan tersenyum bahagia.
"Siapa Ayu?" tanya Karin.
"Ayu pengasuh Putri, dia baru datang kemarin. Kamu tau tidak, ternyata Ayu pintar masak lho, masakannya juga enak, nanti kita makan sama-sama ya," cerocos Farel yang terlihat antusias menceritakan tentang Ayu, sehingga membuat Karin terlihat tidak suka.
Aku harus waspada, sepertinya Farel suka sama Ayu. Aku tidak boleh membiarkan siapa pun merebut Farel dariku, ucap Karin dalam hati.
......................
Semenjak kedatangan Ayu, Farel dan Putri merasa bahagia, karena akhirnya mereka memiliki sosok yang selalu perhatian serta pengertian.
Hari ini Farel libur bekerja, dan Farel memutuskan untuk membantu Putri dan Ayu yang sedang terlihat memasak.
__ADS_1
"Daddy boleh ikutan tidak?" tanya Farel dengan menghampiri Putri dan Ayu yang berada di dapur.
"Boleh Dad, sekarang Daddy bantu potong sayuran saja ya," ujar Putri dengan memberikan sayuran pada Farel.
Farel meminta kepada Ayu untuk mengajarinya, tapi Farel yang tidak hati-hati malah mengiris tangannya.
"Astagfirullah Tuan, kenapa jadi berdarah seperti ini," ujar Ayu yang terlihat panik ketika melihat darah yang terus ke luar dari jari telunjuk Farel.
Ayu menarik tangan Farel menuju wastafel untuk membersihkan darahnya, kemudian Ayu berlari mengambil kotak P3K.
Ayu yang panik hampir saja terjatuh karena kakinya tersandung kursi, untung saja Farel berhasil menangkapnya.
"Ayu, kenapa sih kamu lari-lari segala? Bagaimana kalau kamu sampai jatuh? Ini hanya luka kecil, kamu tidak perlu panik seperti itu," ujar Farel.
"Maaf Tuan," ucap Ayu, kemudian memberikan betadine dan plester pada luka Farel.
Farel terus menatap lekat wajah cantik Ayu sehingga membuat Ayu menjadi salah tingkah.
"Sudah selesai Tuan," ujar Ayu.
"Eh iya makasih," ucap Farel.
Saat Ayu berdiri, Ayu tidak sengaja menginjak kulit pisang yang terjatuh, dan lagi-lagi Farel menangkap tubuh Ayu.
Deg deg deg
Jantung keduanya berdetak kencang ketika netra keduanya bertemu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Karin yang baru tiba di rumah Farel.
Ayu yang tersadar ketika mendengar suara Karin, berusaha untuk berdiri, kemudian Ayu mengucapkan terimakasih kepada Farel dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Karin, ada apa pagi-pagi sekali kamu datang ke sini?" tanya Farel.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Hari ini kan kita libur kerja, jadi aku sengaja datang ke sini supaya bisa ketemu sama kamu," ujar Karin dengan bergelayut manja pada Farel.
Farel yang merasa risih berusaha melepaskan pelukan Karin.
"Karin, jangan seperti ini, kita belum muhrim. Di sini juga ada Putri sama Ayu, gak enak kalau mereka melihat kita seperti ini," ujar Farel.
Jadi dia perempuan yang bernama Ayu? Dari dandannya saja sudah terlihat kampungan. Dia tidak selevel jika dibandingkan denganku. Aku harus melakukan sesuatu supaya Farel bisa segera menikahi ku, apalagi sekarang dia dan Alina sudah resmi bercerai, ucap Karin dalam hati dengan tersenyum licik.
*
*
Bersambung
__ADS_1