Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 139 ( Melahirkan bayi kembar )


__ADS_3

Irwan saat ini terus mendampingi Hesti di ruang bersalin, tapi proses pembukaannya sangat lama, sampai akhirnya Hesti meminta ijin kepada Dokter supaya bisa jalan-jalan di Taman yang berada di depan klinik bersalin.


"Dok, saya boleh kan jalan-jalan dulu ke depan? Siapa tau pembukaannya jadi lebih cepat kalau dibawa jalan-jalan," ujar Hesti dengan meringis kesakitan karena kontraksi pada perutnya.


"Boleh Nyonya, seperti itu juga lebih bagus," jawab Dokter.


Irwan secara perlahan memapah Hesti menuju Taman, dan Irwan terus berusaha membujuk Hesti supaya mau melakukan operasi caesar saja.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita melakukan operasi caesar saja? Mas tidak tega melihat kamu terus merasa kesakitan."


"Mas, dari dulu impian Hesti ingin bersalin secara normal, Hesti ingin merasakan bagaimana perjuangan seorang Ibu melahirkan Anak-anaknya."


"Sayang, meski pun caesar, tetap saja seorang Ibu harus berjuang di meja operasi."


"Pokoknya Hesti tetap ingin melahirkan secara normal dengan didampingi oleh Suami Hesti yang tampan ini. Apalagi kata orang kalau operasi caesar itu bakalan lebih sakit setelah kita melakukan operasi, sedangkan melahirkan secara normal sakitnya akan langsung hilang setelah melihat bayi yang sudah berhasil dilahirkan," ujar Hesti dengan mencengkram tangan Irwan, karena perutnya kembali mengalami kontraksi.


"Aduh sakit sayang," ujar Irwan dengan meringis kesakitan.


"Maaf Mas, barusan kontraksinya kuat," ujar Hesti dengan nyengir kuda.


Hesti terlihat melamun, entah kenapa dia merasa takut berpisah dengan Irwan.


"Mas, kalau Hesti meninggal dunia, Hesti titip Anak-anak kita ya."


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, Hesti dan si Kembar pasti akan baik-baik saja, dan kita akan membesarkan Anak kita bersama-sama," ujar Irwan dengan mengelus kepala Hesti, kemudian mencium keningnya.


"Mas, masalah umur itu tidak ada yang tau, dan Hesti minta maaf apabila selama ini memiliki kesalahan sama Mas. Kalau nanti Hesti meninggal saat melahirkan si Kembar, Mas harus mencari Ibu sambung yang baik untuk mereka, Mas harus mencari perempuan yang bukan hanya mencintai Mas saja, tapi harus menyayangi Anak-anak kita juga_" ucapan Hesti terhenti karena Irwan membungkamnya dengan ciuman.


"Apa Hesti sengaja ingin membuat Mas merasa sedih? Sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja, tidak akan pernah ada yang namanya Ibu sambung dan perempuan lain dalam hidup Mas, karena selamanya hanya akan ada nama Hesti di dalam hati Mas," ujar Irwan dengan menangkup kedua pipi Hesti.


Hesti memicingkan matanya mendengar perkataan Irwan yang semakin hari semakin bersikap romantis.


"Mas belajar merayu dari mana? Kenapa semakin hari Mas semakin pintar merayu saja? Jangan-jangan Mas sering merayu perempuan di luar sana?"


"Sayang, tidak mungkin seperti itu, Mas hanya berkata apa adanya, Mas hanya mengeluarkan isi hati Mas saja. Kenapa sih semenjak hamil Istri Mas yang cantik ini menjadi semakin sensitif saja."


"Udah, gak usah bicara lagi, semakin Mas merayu Hesti, semakin Hesti merasa kesal. Sebaiknya sekarang kita masuk, lama-lama rasanya dingin juga," ujar Hesti dengan berdiri, tapi sesaat kemudian Hesti berteriak kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Irwan yang terlihat panik.

__ADS_1


"Mas perut Hesti sakit sekali, sepertinya si Kembar sudah mau lahir, barusan air ketubannya sudah pecah."


Irwan langsung mengangkat tubuh Hesti, kemudian Irwan berlari membawa Hesti masuk ke dalam ruang bersalin.


"Dok, air ketubannya sudah pecah," ujar Irwan yang terlihat panik.


"Tuan jangan panik, sekarang sebaiknya Tuan ke luar, biar kami segera menangani Nyonya," ujar Dokter.


"Dok, ijinkan Suami saya tetap di sini, karena saya ingin Mas Irwan mendampingi saya melahirkan."


"Baiklah kalau itu kemauan Nyonya, sekarang Nyonya ikuti arahan saya," ujar Dokter.


Dokter menyuruh Hesti supaya menarik nafas dari hidung kemudian mengeluarkannya dari mulut.


"Mas sakit," ujar Hesti dengan menggenggam erat tangan Irwan.


"Sayang, Hesti pasti bisa," ujar Irwan dengan mengelap keringat yang bercucuran pada dahi Hesti.


"Mas, Hesti sudah tidak kuat."


"Nyonya pasti bisa, kepala bayinya sudah kelihatan. Sekarang Nyonya tarik nafas lagi, kemudian mengejan," ujar Dokter yang terus memberi arahan kepada Hesti. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, Hesti berhasil melahirkan bayi laki-laki yang tampan.


"Alhamdulillah," ucap semuanya.


"Selamat Nyonya, Tuan, sekarang Nyonya dan Tuan sudah menjadi orangtua," ucap Dokter.


"Dok, masih ada satu bayi lagi yang belum ke luar," ujar Irwan yang ikut merasakan mulas ketika melihat Hesti yang kembali mengalami kontraksi.


Setelah Dokter memberikan bayi laki-laki yang baru Hesti lahirkan kepada Dokter Spesial Anak, Dokter kembali memberikan arahan kepada Hesti.


"Nyonya, sekarang Nyonya ikuti arahan saya lagi," ujar Dokter.


Irwan rasanya sudah tidak tega melihat Hesti yang terus berteriak kesakitan, tapi Irwan tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Hesti.


"Sayang, Hesti pasti bisa," ujar Irwan dengan terus menggenggam erat tangan Hesti.


Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya Hesti berhasil lagi melahirkan bayi perempuan yang cantik.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang atas perjuangan seorang Ibu yang begitu besar," ujar Irwan dengan mencium kening Hesti.

__ADS_1


"Ayah, Bunda titip Anak-anak kita ya," ucap Hesti dengan tersenyum sebelum akhirnya kesadaran Hesti hilang.


Irwan terkejut ketika mendengar perkataan Hesti, apalagi sekarang pegangan tangan Hesti lepas dari genggamannya.


"Dok, kenapa Istri saya?" tanya Irwan yang terlihat panik.


"Tuan tenang dulu, biar kami mengeceknya," ujar Dokter kemudian melakukan USG pada perut Hesti.


"Dok, bagaimana hasilnya?"


"Maaf Tuan, sepertinya ada gumpalan darah pada perut Nyonya. Sekarang juga kita harus melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa Nyonya, karena saat ini kondisi Nyonya dalam keadaan kritis," jawab Dokter.


Tubuh Irwan langsung terasa lemas, sampai akhirnya Irwan terjatuh di atas lantai.


Mama Maya dan Papa Andi yang mendengar keributan di dalam ruang bersalin, menerobos masuk untuk melihat keadaan Hesti dan Cucunya, dan keduanya begitu terkejut ketika melihat Irwan yang duduk di bawah ranjang Hesti.


"Dok, apa yang terjadi dengan Menantu kami?" tanya Mama Maya yang melihat Hesti tidak sadarkan diri.


"Nyonya Hesti sekarang tidak sadarkan diri. Setelah kami periksa, ternyata di dalam perut Nyonya terdapat gumpalan darah, dan kita harus segera melakukan operasi," jawab Dokter.


"Irwan, kenapa kamu malah diam saja? Dok, sekarang juga lakukan yang terbaik untuk Putri kami," ujar Papa Andi, kemudian bergegas menandatangani surat persetujuan operasi, karena Irwan yang tidak kuat menerima semuanya akhirnya pingsan.


Hesti dibawa masuk ke dalam ruang operasi, sedangkan Irwan dibawa menuju ruang perawatan.


Satu jam kemudian, Irwan mulai sadar dari pingsannya.


"Hesti," teriak Irwan saat pertama kali membuka matanya.


"Irwan, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Nak," ucap Mama Maya.


"Ma, mana Hesti? Hesti baik-baik saja kan? Tadi Hesti pamit, kemudian pergi meninggalkan Irwan dan Anak-anak kami," ujar Irwan dengan memeluk tubuh Mama Maya.


"Nak, Irwan hanya mimpi buruk. Hesti sekarang masih berada di dalam ruang operasi."


"Ma, Irwan takut Ma, Irwan tidak mau kehilangan Hesti," ujar Irwan dengan menangis dalam pelukan Mama Maya.


"Hesti pasti akan baik-baik saja. Sekarang yang kita bisa lakukan hanyalah mendo'akan nya," ujar Mama Maya dengan mengelus punggung Irwan.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2