Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 66 ( Aku adalah seorang Pebinor )


__ADS_3

Rian begitu bersyukur karena Suci sudah percaya kepada dirinya dibandingkan kepada Susi.


"Sayang, terimakasih banyak karena Suci sudah percaya sama Mas, dan berkat Suci, akhirnya kita bisa mendapatkan bukti kejahatan Susi," ucap Rian dengan kembali memeluk tubuh Suci.


"Mas jangan senang dulu, karena masih ada satu hal yang harus Mas jawab dengan jujur."


"Memangnya apa yang ingin Suci ketahui?" tanya Rian dengan menangkup kedua pipi Suci.


"Kenapa setiap malam Mas selalu pindah dari kamar kita, kemudian tidur di kamar tamu? apa Mas segitu jijik nya jika tidur satu ranjang dengan Suci?" tanya Suci dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang, mana mungkin seperti itu, Mas hanya takut jika sampai mengganggu tidur Suci. Apalagi saat ini Suci sedang hamil Anak kita, jadi Mas takut apabila perut Suci sampai tersenggol saat kita sedang tidur. Mas sangat mencintai Suci, jadi tidak mungkin Mas merasa jijik terhadap Suci."


Suci terlihat ragu dengan perkataan Rian, tapi Suci mencoba percaya kepada Rian, karena selama ini sosok Rian merupakan Suami yang baik dan setia.


"Maaf jika sebelumnya Suci sudah curiga kepada Mas, makanya Suci diam diam memasang CCTV juga di kamar ini."


"Tidak apa-apa sayang, karena semua itu sudah membantu mengungkapkan semua kebenarannya, padahal Mas sudah takut jika Suci akan terpengaruh oleh perkataan si rubah licik itu."


"Meski pun tidak ada rekaman CCTV, Suci akan tetap percaya kepada Mas, dan sekarang kita sudah bisa hidup tenang, karena Pelakor yang mengganggu rumah tangga kita sudah berhasil kita singkirkan."


Kamu salah Suci, karena semakin hari hatiku semakin merasa takut, dan setiap waktu, aku tidak bisa merasakan ketenangan, karena pada kenyataannya aku juga adalah seorang Pebinor. Semoga saja kamu tidak membenciku jika suatu saat nanti ingatan kamu kembali, ucap Rian dalam hati.


......................


Arya dan Oma Rahma kembali dibuat heran, karena setelah mengalami mual muntah selama empat bulan, Arya sekarang kembali sehat dan tidak merasakan mual muntah lagi.


"Oma, Arya masih merasa heran, kenapa Arya bisa mengalami kejadian seperti saat Suci hamil Rizky dulu?"

__ADS_1


"Oma juga heran, tapi Oma yakin jika Arya tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama seperti yang Arya lakukan kepada Suci. Apa mungkin dugaan Arya selama ini benar, jika Suci kita masih hidup, dan saat ini Suci kembali hamil Anak Arya?" ujar Oma Rahma yang akhirnya memiliki harapan yang sama seperti Arya.


"Semoga saja seperti itu Oma, karena Arya selalu yakin jika Suci masih hidup, dan suatu saat nanti Suci pasti akan kembali berkumpul bersama kita," ujar Arya dengan mata yang berbinar.


"Tapi kita jangan terlalu banyak berharap juga, karena Oma takut jika pada akhirnya kita akan kecewa. Arya, apa Arya tidak berniat untuk memberikan Ibu sambung untuk Rizky? kasihan Rizky, Rizky pasti menginginkan kasih sayang dari seorang Ibu."


"Oma, selamanya hanya Suci yang akan Arya cintai. Jika pada kenyataannya Suci tidak pernah kembali kepada kita, Arya akan terus menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Rizky. Oh iya Oma, sekarang Rizky sudah berusia enam bulan, jadi Arya akan mulai memberi Rizky makan bubur bayi. Oma bisa kan mengajari Arya membuatnya?"


"Nak, sebaiknya Arya mencari Baby Suster untuk merawat Rizky, Arya tidak mungkin terus memantau pekerjaan dari rumah, kasihan Farel tidak ada yang membantu pekerjaannya, karena Oma dengar Alina sudah beberapa hari tidak masuk kerja karena tidak enak badan, sedangkan Irwan selalu kamu suruh pergi ke luar kota."


"Tidak Oma, apa pun yang terjadi, Arya tidak akan membiarkan oranglain yang merawat Rizky, karena Arya akan sepenuhnya memberikan kasih sayang kepada Rizky. Kasihan Rizky jika harus kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya."


Oma Rahma tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Oma Rahma semakin merasa bangga terhadap Arya yang sudah berubah menjadi sosok yang begitu bertanggung jawab terhadap keluarga. Apalagi semenjak Mama Erina dan Papa Fadil sakit, Arya yang sudah berjuang sendirian untuk menghidupi semuanya.


Terimakasih banyak Suci, Suci adalah Malaikat tak bersayap untuk keluarga Argadana, Oma juga sangat bangga kepada Suci, karena berkat Suci, sekarang Arya sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, ucap Oma Rahma dalam hati.


......................


"Alina, sebaiknya sekarang kita pergi ke Dokter untuk memeriksa kondisi kamu," ujar Farel saat pulang bekerja.


"Aku sudah baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu sok perhatian kepadaku," ujar Alina yang selalu bersikap ketus kepada Farel.


"Alina, bagaimanapun juga sekarang kamu adalah Istri aku, jadi sudah seharusnya aku perhatian terhadap kamu."


"Kamu tidak perlu khawatir, karena besok aku sudah bisa mulai bekerja lagi," ujar Alina, kemudian membaringkan tubuhnya, dan mengacuhkan Farel sehingga Farel memutuskan ke luar dari kamar untuk menghampiri Putri yang sedang di ajak bermain oleh Bu Rita.


Sebenarnya Alina sudah melakukan tes urine, dan hasilnya positif, tapi Alina merahasiakan semuanya dari Farel dan yang lainnya, karena Alina sudah berencana akan menggugurkan kandungannya.

__ADS_1


Kalau aku menuruti kemauan Farel untuk memeriksakan kondisi kesehatan ku, pasti mereka akan tau jika saat ini aku sedang hamil. Aku tidak mau hamil lagi, aku masih ingin bebas dan mendapatkan cinta Arya, aku juga tidak mau sampai melahirkan bayi cacat lagi. Jadi, sebaiknya aku gugurkan saja kandunganku sebelum membesar, ucap Alina dalam hati.


......................


Bu Rita merasa bahagia melihat Farel yang terlihat begitu tulus menyayangi Putri, tapi Bu Rita juga merasa kasihan terhadap Farel, karena Alina belum juga membuka hatinya untuk Farel.


"Den Farel yang sabar ya, Bibi tau kalau Den Farel sangat mencintai Non Alina, semoga saja Non Alina bisa segera membuka hatinya untuk Den Farel," ucap Bu Rita.


"Iya Amin Bi, terimakasih banyak do'anya, Farel juga selalu berharap seperti itu, tapi Farel tidak tau harus melakukan apalagi supaya membuat Alina jatuh cinta kepada Farel."


Bu Rita nampak berpikir, dan Bu Rita memiliki ide untuk membuat Alina menyadari kesalahannya yang sudah bersikap acuh terhadap Farel.


"Bibi punya ide, siapa tau Den Farel mau melakukan saran dari Bibi."


"Ide apa Bi?" tanya Farel yang merasa penasaran.


"Bagaimana kalau Den Farel mencoba bersikap acuh kepada Non Alina? Den Farel pura-pura menyerah menghadapi sikap Non Alina, dan buat Non Alina merasa cemburu karena kedekatan Den Farel dengan perempuan lain. Siapa tau dengan begitu, Non Alina akan merasa kehilangan, kemudian menyadari jika Den Farel begitu berarti untuknya."


"Sepertinya itu ide yang bagus, kenapa Farel tidak kepikiran sampai sana ya?"


"Itu karena rasa cinta Den Farel terhadap Non Alina begitu besar, jadi Den Farel tidak mau menyakiti hati Non Alina. Akan tetapi, kita tidak bisa terus terusan membiarkan Non Alina bersikap seenaknya, dan biasanya orang akan menyadari kesalahannya dan akan merasa kehilangan kalau orang yang selama ini selalu memperhatikannya sudah tidak ada lagi."


"Terimakasih banyak Bi, Farel akan mencoba ide dari Bibi," ujar Farel dengan tersenyum, karena Farel sudah memiliki rencana dalam otaknya.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2