Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 218 ( Airmata bahagia )


__ADS_3

Dinda menatap lekat wajah Rizky sebelum menjawab pertanyaan yang Rizky lontarkan.


"Dinda tidak bahagia," jawab Dinda, sehingga membuat Rizky merasa kecewa.


Rizky tertunduk sedih, karena jawaban Dinda tidak sesuai dengan harapannya.


"Dinda tidak bahagia, tapi sangat sangat bahagia, karena semua ini rasanya masih seperti mimpi," lanjut Dinda dengan tertawa karena telah berhasil mengerjai Rizky.


Dinda berlari ketika melihat wajah Rizky yang terlihat kesal.


"Dinda, kamu bener-bener tega ya ngerjain aku. Lihat saja, aku akan menghukum mu," teriak Rizky dengan mengejar Dinda yang masih menertawakannya.


Ketika berhasil menangkap Dinda, Rizky mengangkat tubuh Dinda kemudian memutarnya, sehingga Dinda berteriak minta ampun.


"Ampun Kak, ampun. Cepetan turunin, kepala Dinda pusing."


"Sepertinya kamu masih ingin menerima hukuman yang lainnya," ujar Rizky dengan menggelitik pinggang Dinda, dan Dinda kembali berteriak minta ampun.


Dari kejauhan, Putri tersenyum sekaligus menitikkan airmata ketika melihat Dinda dan Rizky yang tertawa bahagia.


"Kalau kamu ingin menangis, kamu tidak perlu menahannya," ujar Mark dengan memberikan tisu kepada Putri.


"Terimakasih Mark. Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Putri dengan mengelap airmata yang masih terus menetes.


"Aku ingin tau apakah misi kamu berhasil atau tidak, dan ternyata misi kamu benar-benar berhasil. Baru kali ini aku melihat Dinda tertawa bahagia seperti itu," ujar Mark dengan tersenyum.


"Aku juga baru kali ini melihat Rizky tertawa bahagia, padahal dia selalu bersikap dingin, kecuali pada orang-orang yang dia sayangi."


"Apa kamu menyesal karena telah berhasil menyatukan Rizky dan Dinda?" tanya Mark.


"Aku tidak mungkin menyesal karena telah berhasil menyatukan dua orang yang saling mencintai. Meski pun hatiku terluka, tapi aku bahagia, dan ini adalah airmata bahagia, karena salah satu keinginan terakhirku sudah terwujud," jawab Putri dengan tersenyum tulus.


"Kamu bukanlah seorang manusia Putri, tapi kamu adalah Malaikat tak bersayap, karena hatimu sungguh mulia," ucap Mark sebelum pergi, karena Mark melihat Dinda dan Rizky berlari untuk menghampiri Putri.


Dinda yang merasa kecapean langsung duduk di atas rumput, begitu juga dengan Rizky dan Putri yang ikut duduk juga.


"Kak Putri, terimakasih banyak atas kebahagiaan yang Kak Putri berikan," ucap Dinda dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Putri, dan beberapa saat kemudian Dinda terlihat memejamkan matanya.


"Anak ini dari kecil aktif sekali, dia sampai tertidur karena kecapean," ujar Putri dengan mengelus lembut kepala Dinda.


"Putri, maaf ya, karena aku sudah mengabaikan mu," ucap Rizky yang selalu merasa bersalah terhadap Putri, karena Rizky tidak bisa mengendalikan dirinya saat bersama dengan Dinda.

__ADS_1


"Sekarang masih belum Lebaran, jadi kamu jangan terus meminta maaf. Sebaiknya sekarang kamu gendong Dinda," ujar Putri.


Rizky dengan semangat menggendong Dinda sampai Apartemen, kemudian Putri membukakan pintu kamar Dinda.


Rizky dan Putri terkejut ketika melihat kamar Dinda yang dipenuhi dengan fhoto Rizky.


"Kamu beruntung karena Dinda sepertinya sangat mencintai kamu. Bahkan mungkin cinta yang Dinda miliki lebih besar dibandingkan dengan rasa cinta ku. Rizky, kamu jangan sampai menyakiti Dinda ya, karena kamu tidak akan pernah mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Dinda," ucap Putri dengan menepuk bahu Rizky, kemudian Putri ke luar dari dalam kamar Dinda.


Rizky rasanya ingin sekali mendekap erat tubuh Dinda, tapi dia tidak mungkin melakukan semua itu.


"Selamat tidur My Love. Semoga mimpi indah," ucap Rizky, kemudian mencium kening Dinda.


Ketika Rizky hendak mencium bibir Dinda, tiba-tiba Putri masuk kembali ke dalam kamar Dinda, lalu menarik Rizky untuk ke luar dari dalam kamar Dinda.


"Kamu mau ngapain Anak gadis orang hemm? Jangan harap kamu bisa mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Putri dengan terkekeh karena telah berhasil mengerjai Rizky.


"Kamu tega banget sih Put, padahal dikit lagi aku berhasil," gerutu Rizky.


"Kamu sabar dulu, tunggu sampai kalian berdua menikah," ujar Putri, kemudian berlalu ke dalam kamar, meninggalkan Rizky yang masih duduk di kursi ruang tamu.


.....................


Setelah tinggal selama dua minggu di Amerika, akhirnya Rizky, Dinda dan Putri memutuskan untuk kembali ke tanah air.


"Dinda, semoga kamu dan Rizky selalu bahagia."


"Terimakasih banyak Mark, semoga kamu juga selalu bahagia," ucap Dinda dengan tersenyum.


"Sayang, aku tidak rela kamu tersenyum seperti itu kepada Mark," ujar Rizky.


Putri dan Mark tertawa ketika melihat tingkah Rizky yang terlewat posesif kepada Dinda.


"Rizky, jangan sampai kamu membuat Dinda menangis, karena jika aku mendengar kamu menyakitinya, aku tidak akan segan-segan merebut Dinda," ujar Mark dengan menepuk bahu Rizky.


"Aku tidak bisa berjanji tidak akan membuat Dinda menangis, tapi aku akan memastikan jika airmata yang ke luar adalah air mata bahagia," ucap Rizky.


"Putri, kamu adalah perempuan paling baik yang pernah aku kenal. Kamu memiliki hati seluas samudera. Seandainya dari dulu aku bertemu denganmu, pasti aku sudah menjadikan kamu sebagai Istriku," ucap Mark, dan Putri tertawa mendengar perkataan Mark.


Perasaan Putri sudah merasa lebih baik setelah dia benar-benar mengikhlaskan Rizky untuk Dinda.


Ketiganya melambaikan tangan kepada Mark sebelum naik Pesawat, dan Mark mengelap sudut matanya yang tiba-tiba menitikkan airmata ketika melihat perempuan yang sangat dia cintai akhirnya pergi juga.

__ADS_1


......................


Rizky meminta Iqbal untuk menjemputnya ke Bandara, dan Iqbal merasa terkejut ketika melihat Dinda yang juga ikut pulang bersama dengan Rizky dan Putri, bahkan saat ini Rizky berada di antara Dinda dan Putri.


Sebelah tangan Rizky memeluk pinggang Dinda, dan sebelahnya lagi memegang tangan Putri.


"Apa aku tidak salah lihat?" gumam Iqbal dengan mengucek kedua matanya.


Ketiganya menghampiri Iqbal, dan Rizky menepuk bahu Iqbal yang masih saja terlihat mengucek matanya.


"Iqbal, kamu kenapa? Apa mata kamu kelilipan?" tanya Rizky.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada kamu. Apa kamu salah minum obat?" Iqbal balik bertanya kepada Rizky, bahkan Iqbal memegang dahi Rizky.


"Kamu tidak demam, tapi kenapa kamu bisa membawa dua perempuan? Apa kamu berniat untuk Berpoligami?" tanya Iqbal.


"Ceritanya panjang. Sekarang kamu antar kami ke rumah Dinda, Mama sama Papa sudah pergi ke sana juga kan?" ujar Rizky.


"Mama sama Papa tadi sudah berangkat ke rumah Tante Hesti setelah mendapatkan telpon dari kamu, tapi sebaiknya kamu bawa mobil sendiri, biar aku pulang naik taksi saja."


"Hemm dasar Bucin, kamu pasti tidak bisa meninggalkan Arsyi terlalu lama kan?" sindir Rizky dengan menangkap kunci mobil yang dilemparkan oleh Iqbal.


"Tentu saja. Hari ini aku belum sempat menengok Anakku," ujar Iqbal dengan terkekeh, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Rizky yang masih terlihat geram karena Iqbal tidak mau mengantarnya.


"Dasar saudara gak ada akhlak," teriak Rizky.


"Mungkin Iqbal tidak mau bertemu dengan Nanda, bagaimanapun juga Nanda pernah menjadi saingan cintanya," ujar Dinda.


"Dan kamu juga harus siap mental, karena saingan cinta kamu saat ini sudah menjadi ipar kamu," ujar Putri dengan terkekeh.


Dinda terlihat cemberut ketika mengingat saat dulu Ratu dan dirinya selalu bersaing memperebutkan cinta Rizky.


"Udah, gak usah cemberut seperti itu, apalagi bibirnya sampai di monyongin begitu. Kamu tidak mau kan kalau aku mencium kamu di sini?" goda Rizky dengan berbisik pada telinga Dinda.


"Awas saja kalau berani macam-macam," ujar Dinda dengan memicingkan matanya.


Rizky kembali berbisik pada telinga Dinda, karena Rizky takut jika Putri sampai mendengarnya.


"Sayang, sampai kapan pun, kamu adalah pemenangnya, karena hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai."


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2