
Arsyi dan Rizky saat ini tengah makan malam, tapi tiba-tiba handphone Rizky berbunyi, dan ternyata Rizky mendapatkan panggilan darurat dari Rumah Sakit.
"Kak, siapa yang barusan telpon?" tanya Arsyi.
"Barusan Kepala Rumah Sakit telpon, katanya ada Pasien darurat yang harus segera di operasi, dan beliau menyuruh Kakak supaya segera datang ke Rumah Sakit, soalnya Dokter yang lain tidak bisa datang, tapi Kakak bilang tidak bisa juga karena Kakak harus menemani Tuan Putri di rumah," jawab Rizky.
Arsyi tau betul jika saat ini Rizky pasti ingin sekali menyelamatkan nyawa Pasien tersebut.
"Kak, Arsyi tau kalau Kakak ingin sekali berangkat untuk menyelamatkan nyawa Pasien tersebut kan?"
"Tapi tidak ada yang lebih penting dari Tuan Putri, dan Kakak tidak mau meninggalkan Tuan Putri sendirian di rumah. Kakak bisa saja membawa Arsyi ke Rumah Sakit, tapi Kakak kasihan kalau Arsyi harus menunggu lama, bahkan mungkin sampai menginap di Rumah Sakit," ujar Rizky dengan mengelus lembut kepala Arsyi.
"Kak, sekarang ada nyawa yang harus Kakak selamatkan. Arsyi bukan Anak kecil lagi, Arsyi bisa menjaga diri dengan baik. Sekarang Kakak sebaiknya lakukan tugas Kakak sebagai seorang Dokter," ujar Arsyi dengan tersenyum.
Rizky sebenarnya tidak tega meninggalkan Arsyi sendirian di rumah, tapi Rizky tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai seorang Dokter, sampai akhirnya Rizky memutuskan untuk menelpon Iqbal sebelum berangkat ke Rumah Sakit.
Rizky bisa bernafas lega karena Iqbal mengangkat telponnya, bahkan Iqbal mengatakan akan segera pulang untuk menemani Arsyi
"Sayang, Kakak berangkat dulu ya, Arsyi kunci saja pintunya, sebentar lagi Iqbal katanya bakalan pulang menemani Arsyi," ujar Rizky yang sebenarnya tidak tega meninggalkan Arsyi sendirian.
"Iya, Pak Dokter tenang saja. Buruan gih berangkat. Kakak hati-hati ya," ujar Arsyi dengan tersenyum.
Setelah Arsyi mengunci pintu, Rizky bergegas mengendarai motor sport miliknya supaya bisa cepat sampai di rumah Sakit.
"Sepi sekali gak ada siapa-siapa di rumah, apa aku telpon Dinda saja ya? Tapi biasanya kalau jam segini Dinda udah tidur. Atau aku telpon Nanda saja, kenapa tiba-tiba rasanya aku kangen sama dia ya? Selama ini aku memang sayang sama Nanda, karena Nanda selalu ada untukku dalam suka mau pun duka, tapi baru kali ini aku memikirkan dia. Apa jangan-jangan aku sudah mulai jatuh cinta sama Nanda?" gumam Arsyi dengan tersenyum ketika melihat fhoto dirinya dan Nanda yang ia pakai sebagai wallpaper di handphone nya.
Ketika Arsyi hendak menekan nomor Nanda, tiba-tiba mati lampu, dan otomatis sinyal pada handphone nya menghilang.
"Kenapa mati lampu segala sih, padahal aku takut banget sama gelap," gumam Arsyi.
__ADS_1
Arsyi terkejut ketika mendengar suara petir yang menggelegar disertai hujan yang lebat sehingga membuat suasana semakin mencekam.
"Aku harus bagaimana? Aku takut," gumam Arsyi.
Arsyi memutuskan duduk di sofa yang berada di ruang tamu untuk menunggu Iqbal, dan beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.
Arsy sebenarnya merasa ragu untuk membukanya, sampai akhirnya Arsyi bisa bernafas lega setelah mendengar suara Iqbal yang memanggilnya.
"Kak Iqbal, Arsyi takut," ucap Arsyi ketika membuka pintu, dan Arsyi langsung memeluk tubuh Iqbal.
"Tuan Putri jangan takut, sekarang sudah ada Kakak yang akan selalu menemani Arsyi, sebaiknya sekarang kita tidur, supaya besok gak kesiangan berangkat kerja," ucap Iqbal dengan mengelus lembut kepala Arsyi, kemudian Iqbal mengantar Arsyi menuju kamarnya.
Ketika sampai di dalam kamar Arsyi, tubuh Iqbal tiba-tiba terasa panas, bahkan kesadaran Iqbal mulai hilang.
"Kak, Kakak baik-baik saja kan? Kenapa tubuh Kakak bisa demam seperti ini? Apa karena barusan kehujanan? Baju Kakak juga basah, sebaiknya Kakak ganti dulu," ujar Arsyi.
"Arsyi, Kakak tidak kuat lagi, rasanya panas sekali," gumam Iqbal dengan mengipasi badannya menggunakan tangan, kemudian membuka semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana bo*xer saja.
Arsyi terus memberontak ketika Iqbal menindih tubuhnya, apalagi Arsyi mencium aroma alkohol dari tubuh Iqbal, tapi tenaga Arsyi tidak sebanding dengan Iqbal, bahkan saat ini Iqbal semakin menjadi-jadi dan terus menghujani Arsyi dengan ciuman.
"Kak, sadar Kak, tolong lepas, jangan seperti ini. Kakak harus ingat, kalau kita adalah saudara," ujar Arsyi dengan menangis ketika Iqbal merobek pakaian yang ia kenakan.
"Kita bukan saudara kandung, kamu bukan Adik ku Arsyi, karena aku hanyalah Anak angkat keluarga Argadana," teriak Iqbal dengan melampiaskan kekecewaan yang ia rasakan.
Arsyi terkejut ketika mendengar perkataan Iqbal, tapi Arsyi tidak mempercayainya karena saat ini Iqbal sedang berada di bawah pengaruh alkohol.
"Kenapa Kakak tega sekali berkata seperti itu? Mama sama Papa pasti sedih jika sampai mendengar perkataan Kakak."
"Semua orang pembohong, selama ini mereka sudah tega membohongiku, mereka menipuku," ujar Iqbal dengan tertawa sekaligus menangis, tapi Iqbal tidak sedikit pun melepaskan pelukannya dari Arsyi, apalagi semakin lama hasrat nya semakin besar dan tidak dapat dikendalikan.
__ADS_1
"Kak, sekarang Kakak sedang berada di bawah pengaruh alkohol, Kakak harus ingat kalau kami sangat menyayangi Kakak."
"Arsyi, apa aku harus bahagia karena ternyata kita tidak memiliki hubungan darah? Iya, aku seharusnya bahagia karena aku bisa menikahi kamu," ujar Iqbal dengan tertawa.
Arsyi semakin ketakutan melihat Iqbal yang sudah bersikap seperti orang yang hilang kewarasannya, dan Arsyi terus berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari kungkungan Iqbal.
"Kamu tidak akan bisa melepaskan diri dari pelukan ku sayang, malam ini kamu akan menjadi milikku Arsyi, dan nanti kita akan menikah. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu dalam seumur hidupku," ujar Iqbal dengan menelusuri setiap inci tubuh Arsyi.
"Kak, Arsyi mohon jangan seperti ini, Arsyi sebentar lagi akan menikah dengan Nanda, dan Arsyi baru sadar jika selama ini Arsyi sudah jatuh cinta sama Nanda," ujar Arsyi dengan terus menangis.
"Semuanya sudah terlambat sayang, malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya," ujar Iqbal kemudian melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan juga tubuh Arsyi, sehingga keduanya kini sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
Arsyi terus menangis ketakutan ketika Iqbal kembali menciumi seluruh tubuhnya.
"Jangan Kak, jangan," teriak Arsyi dengan menjerit kesakitan ketika Iqbal membabi buta melampiaskan hasrat nya kepada Arsyi.
Seluruh tubuh Arsyi rasanya sakit karena perlakuan kasar dari Iqbal, tapi hatinya lebih sakit lagi karena saat ini kehormatannya telah direnggut paksa oleh lelaki yang selama ini selalu ia cintai dan ia anggap sebagai Malaikat pelindungnya.
Iqbal yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol sama sekali tidak mendengar dan memperdulikan tangisan serta teriakan Arsyi yang memintanya untuk berhenti. Sampai akhirnya Iqbal baru berhenti setelah merasa puas melampiaskan hasratnya.
"Sayang, aku sangat mencintaimu," ucap Iqbal sebelum hilang kesadarannya dan tertidur di samping Arsyi.
Saat ini Arsyi benar-benar kecewa terhadap Iqbal, dan rasa cinta yang Arsyi miliki untuk Iqbal berubah menjadi rasa benci.
Maafkan aku Nanda, sekarang aku sudah kotor, aku tidak bisa menjaga kehormatanku, aku sudah tidak pantas lagi menjadi pendamping hidupmu, ucap Arsyi dalam hati sebelum akhirnya kesadarannya hilang.
*
*
__ADS_1
Bersambung