Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 25 ( Ikatan batin Ayah dan Anak )


__ADS_3

Rian mendengus kesal mendengar perkataan Arya, karena perkataan Arya secara tidak langsung bertujuan untuk mengusirnya.


"Arya, kenapa jadi kamu yang sewot? Suci juga tidak keberatan aku main di sini," ujar Rian.


"Aku hanya mengingatkan saja, bukannya kamu sendiri yang bilang akan pulang setelah Hesti dan Bu Rita pulang? siapa tau kamu lupa," ujar Arya.


Suci yang tidak mau Rian dan Arya kembali berdebat, akhirnya memutuskan untuk menyuruh kedua lelaki tersebut untuk pulang.


"Rian, Tuan Arya, mohon maaf, bukannya saya mengusir kalian berdua, tapi sebaiknya sekarang kalian berdua pulang, ini juga sudah mau Maghrib, dan saya tidak ingin ada orang yang salah paham jika kalian masih ada di sini."


Arya sebenarnya tidak mau berpisah dengan Rizky dan Suci, tapi saat ini Arya bukanlah siapa-siapa Suci, sampai akhirnya secara perlahan Arya memberikan Rizky kepada Suci, tapi lagi-lagi Rizky menangis saat lepas dari gendongan Arya.


"Sayang, Rizky kenapa sih dari tadi nangis terus saat lepas dari gendongan Om Arya? Bu coba periksa suhu tubuh Rizky," ujar Suci yang takut jika Rizky sakit.


Bu Rita menempelkan punggung tangannya pada dahi Rizky, tapi Bu Rita merasa jika suhu tubuh Rizky normal normal saja.


"Dahi Rizky gak panas kok. Hesti, coba ambil termometer untuk memastikan suhu tubuh Rizky," ujar Bu Rita.


Hesti mengambil termometer, kemudian memeriksa suhu tubuh Rizky.


"Iya benar, suhu tubuh Rizky normal kok," ujar Hesti dengan memperlihatkan alat pengukur suhu.


Bu Rita dan Hesti secara bergantian mencoba menggendong Rizky, tapi Rizky masih saja menangis.


"Mungkin Rizky sudah merasa nyaman dengan Nak Arya," ujar Bu Rita, dengan mencoba kembali memberikan Rizky kepada Arya, dan benar saja Rizky langsung berhenti menangis.


"Bu, bagaimana ini? kenapa Rizky pengen nempel terus sama Tuan Arya? tidak mungkin kan Tuan Arya menginap di sini?" ujar Suci yang terlihat bingung.


Apa mungkin dugaanku benar jika Tuan Arya adalah Ayah kandung Rizky, makanya mereka memiliki ikatan batin yang kuat antara Ayah dan Anak, karena dulu saat Alina bayi, Alina juga selalu ingin nempel terus dengan Papanya, batin Bu Rita kini bertanya-tanya.


"Aku mau kok nginep di sini," celetuk Arya.

__ADS_1


"Tidak bisa, mana boleh seperti itu, kalian bukan muhrim. Kalau kamu menginap di sini, aku akan ikut menginap juga," ujar Rian yang tidak rela jika Arya semakin dekat dengan Suci.


Suci terlihat bingung karena saat ini Rizky tidak mau lepas dari Arya, tapi Suci juga tidak mungkin mengijinkan Arya menginap di rumah kontrakannya.


Aku harus bagaimana, tidak mungkin kan aku mengijinkan Tuan Arya menginap di sini? selain rumahnya yang kecil, aku tidak mau kalau sampai oranglain salah paham. Rian juga pake ikut-ikutan mau menginap segala, batin suci kini berada dalam dilema.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara handphone yang berbunyi, dan ternyata itu adalah handphone milik Rian.


Rian memutuskan untuk mengangkat telpon nya di luar, karena ternyata yang menelpon Rian adalah Papa Mertuanya.


"Suci, semuanya, aku pamit pulang sekarang ya," ujar Rian yang sebenarnya merasa berat untuk pulang, tapi barusan Mertua Rian menelpon jika katanya Alina masuk Rumah Sakit karena mengalami pendarahan, bahkan Alina membutuhkan donor darah karena saat ini Alina akan melakukan operasi caesar, tapi stok darah yang dibutuhkan Alina masih kurang satu labu lagi.


"Rian, kamu kenapa? sepertinya kamu ada masalah?" tanya Suci.


"Barusan Papa nya Alina telpon dan mengabarkan jika Alina mengalami pendarahan sehingga Alina harus melakukan tambah darah serta operasi caesar. Akan tetapi, golongan darah yang dibutuhkan Alina masih kurang satu labu lagi, jadi aku harus mencari golongan darah yang sama untuk menyelamatkan nyawa Alina."


Bu Rita yang merasa penasaran dengan Alina istrinya Rian, akhirnya menanyakan golongan darah Alina.


"Alina membutuhkan golongan darah A-B Bu."


Deg, deg, deg


Jantung Bu Rita berdetak kencang, karena golongan darah Alina sama dengan dirinya.


Apa mungkin Alina istrinya Nak Rian adalah Alina Putriku? meski pun Alina istrinya Rian bukan Putriku, tapi aku harus tetap menolongnya, karena golongan darahku A-B juga, batin Bu Rita.


"Nak Rian, kebetulan golongan darah Ibu A-B juga, sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit, karena Ibu akan mendonorkan darah untuk Alina. Suci, Hesti, Ibu ke Rumah Sakit dulu ya, nanti Ibu sekalian minta ijin sama Pak RT kalau Nak Arya akan menginap di sini," ujar Bu Rita dengan bergegas mengikuti Rian.


"Tapi Bu_" ucapan Suci terhenti karena Arya memotongnya.


"Suci, kamu tenang saja, aku juga gak bakalan ngapa-ngapain kamu. Aku hanya ingin terus berada di dekat Rizky, begitu juga dengan Rizky yang ingin terus berada di dekatku, ya kan sayang?" ujar Arya yang mengajak main Rizky, dan Suci hanya menghela napas panjang melihat Rizky yang ingin selalu menempel kepada Arya.

__ADS_1


"Suci, aku bersih-bersih dulu ya, nanti aku bantuin potong-potong sayuran, karena kebetulan besok teman-teman di Perusahaan Bos Arya banyak yang memesan makan siang," ujar Hesti dengan berlalu ke kamar mandi.


Suci terus memandangi Arya dan Rizky yang saat ini terlihat asyik bermain.


Padahal usia Rizky belum genap dua minggu, tapi Rizky sepertinya mengerti saat Tuan Arya mengajaknya bermain. Apa Rizky menemukan sosok seorang Ayah dalam diri Tuan Arya, sehingga Rizky ingin selalu berada di dekatnya? maafkan Mama Nak, Mama tidak tau Ayah kandung Rizky ada dimana, dan Mama yakin jika lelaki bejat itu tidak mungkin mau mengakui Rizky sebagai Anaknya, batin Suci dengan menitikkan airmata ketika mengingat nasib malang yang menimpa dirinya.


Arya yang melihat Suci menangis secara perlahan mendekati tubuh Suci yang saat ini terlihat berdiri dengan bersandar pada dinding.


"Suci, apa kamu menangis?" tanya Arya dengan mengelap airmata pada pipi Suci.


"Tidak Tuan, saya hanya kelilipan saja," jawab Suci.


Saat Suci hendak melangkahkan kaki menuju dapur, Arya langsung mencekal pergelangan tangan Suci.


"Suci tunggu. Aku tau jika selama ini kamu sudah mengalami kehidupan yang berat, aku tau kalau kamu masih terluka dengan semua yang terjadi dalam kehidupan kamu, tapi ijinkan aku membalut lukamu, ijinkan aku menjadi tempat berbagi dan menjadi sandaran untukmu," ucap Arya.


"Tapi_," ucapan Suci terhenti, karena Arya menempelkan telunjuknya pada bibir Suci.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, karena aku tau kalau kamu pasti belum siap untuk menjalin suatu hubungan, apalagi kita belum saling mengenal. Tapi aku mohon ijinkan aku menjadi temanmu untuk berbagi suka dan duka, dan aku akan tetap menunggu sampai kamu membuka hatimu untukku, dan bersedia menjadi teman hidupku," ujar Arya, kemudian membawa Suci ke dalam pelukannya.


Suci, merasakan ketenangan dan kehangatan saat berada dalam dekapan Arya, sampai akhirnya suara Hesti mengagetkan keduanya.


"Suci, apa sudah_, maaf aku ganggu," ujar Hesti dengan kembali ke dalam kamarnya ketika melihat Arya dan Suci yang tengah berpelukan.


"Maaf" ucap Suci dan Arya secara bersamaan, dan saat ini keduanya terlihat salah tingkah.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2