Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 50 ( Pengorbanan seorang Ibu )


__ADS_3

Hesti dan Bu Rita sebenarnya masih merasa heran, karena suara Istri Rian benar-benar mirip dengan Suci.


"Padahal aku berharap perempuan tadi adalah Suci, tapi Rian bilang namanya Susan," ujar Hesti yang merasa kecewa.


"Ibu juga berharap seperti itu, tapi pada kenyataannya Suci kita telah beristirahat dengan tenang, dan sekarang kita hanya bisa berdo'a untuk Suci. Hesti, kalau begitu sekarang Ibu pulang dulu ya, kasihan Putri kalau Ibu tinggal terlalu lama," ujar Bu Rita kemudian pamit untuk pulang ke rumah Papa Ferdi, karena semenjak pulang dari Rumah Sakit, Alina dan Putri dibawa pulang ke rumah Papa Ferdi.


Bu Rita sebenarnya merasa risih karena harus satu rumah dengan Papa Ferdi, tapi Bu Rita tidak memiliki pilihan lain, karena Bu Rita ingin selalu dekat dengan Anak dan Cucunya.


Alina begitu geram ketika melihat Bu Rita yang baru pulang, karena sejak Bu Rita pergi, Putri terus saja menangis.


"Bagus ya kamu ingat pulang juga. Seharusnya sebagai seorang Babu kamu itu tau diri Rita," teriak Alina.


Papa Ferdi yang mendengar teriakan Alina yang saat ini tengah memarahi Bu Rita, langsung menghampiri Alina dan Bu Rita.


"Alina, tidak sopan sekali kamu terhadap orangtua?' teriak Papa Ferdi.


"Dia bukan Orangtuaku, tapi dia hanya seorang Pembantu di rumah ini. Itu akibatnya kalau Papa terlalu memanjakan Pembantu, jadi dia ngelunjak dan pergi seenaknya. Apa kamu tau si Anak cacat terus saja menangis sejak kamu pergi?dan aku sampai pusing mendengarnya," ujar Alina.


"Cukup Alina, kamu tidak boleh memperlakukan Rita seperti itu, karena Papa tidak mau kamu menjadi Anak durha_"


Perkataan Papa Ferdi terhenti karena Bu Rita langsung memotongnya.


"Tuan, Nona Alina benar, seharusnya saya tidak pergi terlalu lama, tadi saya tidak sempat meminta ijin karena kerabat saya ada yang meninggal dunia, tapi sebelumnya saya sudah menitipkan Non Putri sama Bi Imah."


"Tapi Bi Imah bilang tadi kamu meninggalkan si cacat begitu saja," ujar Alina.


"Alina, sekali lagi Papa mendengar kamu memanggil Putri dengan sebutan si Cacat dan berani memarahi Rita, Papa tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini," ancam Papa Ferdi, sehingga membuat Alina diam tidak berkutik.


Alina memutuskan untuk pergi ke kamarnya, tapi langkah Alina terhenti ketika Bu Rita menyebut nama Suci.


"Rita, siapa yang meninggal dunia?" tanya Papa Ferdi.

__ADS_1


"Suci, Tuan."


"Jadi yang meninggal si Suci mantannya Rian yang sekarang menjadi istri Arya?" tanya Alina yang begitu terkejut.


"Iya benar Nona," jawab Bu Rita dengan tertunduk sedih.


Bu Rita dan Papa Ferdi merasa terkejut, karena tiba-tiba Alina tertawa kencang.


"Ha..ha..ha..Akhirnya perempuan kampung itu musnah juga dari muka bumi ini, jadi aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan dia. Sekarang Aku tidak menyesal bercerai dengan Rian, karena akhirnya aku bisa kembali mengejar cinta Arya," teriak Alina.


"Astagfirullah Non, tega sekali Non Alina tertawa saat mendengar kabar duka. Tidak baik Non Alina bersikap seperti itu, bagaimana kalau semua itu terjadi pada keluarga Non Alina?"


Alina yang merasa geram mendengar perkataan Bu Rita, langsung mendorong tubuh Bu Rita dengan kasar, beruntung Papa Ferdi menahan tubuh Bu Rita saat hendak terbentur tembok.


"Kamu tidak usah lancang menceramahiku," ujar Alina.


"Alina, kamu sudah benar-benar keterlaluan. Papa tidak mengira jika Papa memiliki Anak yang tidak punya hati seperti kamu," teriak Papa Ferdi dengan melayangkan tangannya, tapi Bu Rita langsung menghalangi Papa Ferdi sehingga Bu Rita yang terkena tamparan Papa Ferdi.


Tamparan keras mendarat pada pipi Bu Rita, dan Papa Ferdi begitu terkejut karena sudah salah menampar orang.


"Rita, kamu tidak kenapa-napa kan? maaf aku tidak sengaja, kenapa kamu malah menghalangi aku menampar Alina?" ujar Papa Ferdi.


"Tidak usah sok jadi Pahlawan kesiangan, karena aku tidak akan pernah merasa tersentuh dengan semua yang kamu lakukan," ujar Alina, kemudian berlalu meninggalkan Papa Ferdi dan Bu Rita.


Bu Rita hendak pergi juga menuju kamar Putri, tapi Papa Ferdi mencekal pergelangan tangan Bu Rita.


"Rita apa kamu marah? maaf, aku benar-benar tidak berniat menamparmu," ucap Papa Ferdi yang merasa sangat menyesal.


"Aku akan lebih marah lagi jika sampai Alina yang terkena tamparan kamu. Selama dua belas tahun aku tidak bisa melindungi Anak ku sendiri, dan sekarang sudah saatnya aku menebus semuanya, meski pun aku harus mengorbankan nyawaku sendiri," ucap Bu Rita.


"Tapi Alina sudah keterlaluan Rita."

__ADS_1


"Aku tau kalau Alina sudah sangat keterlaluan, tapi kamu juga tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menghukumnya, karena kekerasan tidak akan bisa merubah sifat keras Alina. Api tidak akan bisa jika dilawan dengan api, tapi kita harus melawannya dengan air, dan kita harus lebih sabar lagi menghadapi Alina. Semoga saja suatu saat nanti Alina bisa menyadari kesalahannya," ujar Bu Rita, kemudian berlalu meninggalkan Papa Ferdi yang tengah berpikir.


"Begitu besar pengorbanan seorang Ibu, sampai-sampai kamu rela terus tersakiti Rita," gumam Papa Ferdi.


......................


Arya yang baru tiba di kediaman Argadana, melangkahkan kakinya dengan dibantu oleh Farel dan Papa Fadil.


"Arya, mana Suci?" tanya Mama Erina dengan menangis, dan Mama Erina baru saja sadar dari pingsannya.


"Suci sudah beristirahat dengan tenang Ma," jawab Arya dengan menahan sesak dalam dadanya.


Mama Erina menjatuhkan tubuhnya, dan Mama Erina kembali menangis histeris karena menyesali semua perbuatannya di masalalu, apalagi Mama Erina sudah merasa yakin jika Suci adalah Anak kandungnya.


"Suci, maafin Mama Nak, kenapa kamu pergi meninggalkan Mama? padahal Mama belum sempat meminta maaf," teriak Mama Erina.


"Ma, kenapa Mama menjadi seperti ini?" tanya Papa Fadil dengan memeluk tubuh Mama Erina, karena saat ini Mama Erina seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya.


"Kembalikan Suci, aku tidak mau menukarnya dengan apa pun juga. Aku mau Suci kembali," teriak Mama Erina.


Oma Rahma yang sudah merasa curiga kepada Mama Erina yang telah menukar Arya dan Suci saat masih bayi, hanya bisa menangis, karena saat ini tidak mungkin Oma Rahma menceritakan kepada Papa Fadil dan Arya tentang siapa Suci sebenarnya.


Oma Rahma takut jika Papa Fadil dan Arya akan merasa terkejut dan tambah bersedih jika mengetahui semua kebenarannya, apalagi saat ini kondisi Mama Erina sedang tidak baik, jadi Oma Rahma berniat untuk menyembunyikan semuanya dari Papa Fadil dan Arya.


Maafin Oma Suci, Oma tidak bisa mengatakan kepada Papa kamu jika kamu adalah Cucu kandung Oma. Oma takut jika Fadil akan seperti Erina yang begitu terpukul atas kepergian kamu Nak. Oma akan selalu mendo'akan Suci, semoga Suci bisa beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana, ucap Oma Rahma dalam hati.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2