
Semuanya begitu terkejut ketika melihat Suci dan Arya yang ke luar dari dalam kamar dengan membawa koper.
"Nak, kalian mau kemana? Kalian tidak boleh meninggalkan kami," ujar Mama Erina dengan menghalangi langkah Arya dan Suci.
"Bukannya Anda sendiri yang dulu sudah membuang saya? Jadi Anda tidak berhak menghalangi saya untuk pergi dari rumah ini," ujar Suci tanpa mau melihat Mama Erina, karena dalam hati kecil Suci, dia sangat menyayangi Mama Erina, hanya saja Suci masih merasa kecewa.
Arya memanggil Bi Sari untuk membawa Anak-anak, karena Suci dan Arya akan pindah ke kampung halaman tempat Suci dibesarkan oleh mendiang Bu Asih dan Pak Iman.
"Bi, sekarang kami sudah tidak punya apa-apa, kalau Bibi mau pulang ke Jawa, kami tidak akan melarang Bibi untuk terus ikut dengan kami," ujar Suci kepada Bi Sari.
"Tidak Nyonya, Bibi sudah tidak memiliki keluarga, jadi Bibi akan ikut kemana pun Nyonya dan Tuan pergi, karena kalian sudah seperti keluarga Bibi sendiri," ujar Bi Sari.
"Tapi mungkin kami sudah tidak bisa menggaji Bibi lagi," ujar Arya.
"Tidak apa-apa Tuan, yang penting Bibi masih bisa makan, itu sudah lebih dari cukup," ujar Bi Sari.
"Terimakasih banyak Bi, terkadang oranglain seperti keluarga sendiri, dan keluarga sendiri seperti oranglain," ujar Suci dengan memeluk tubuh Bi Sari.
Arya mengembalikan semua harta miliknya kepada Papa Ferdi dan Mama Erina, kecuali mobil dan uang tabungan yang akan Arya jadikan modal usaha.
"Pa, Ma, Oma, terimakasih banyak karena selama ini kalian sudah menyayangi Arya, kalian juga sudah memberikan semuanya kepada Arya, tapi Arya sadar jika semua itu bukan hak Arya melainkan hak Suci. Karena Suci tidak mau menerima sepeser pun harta kalian, Arya mengembalikan semua ini kepada Mama dan Papa, dan Arya hanya akan membawa mobil dan tabungan hasil kerja yang Arya dapatkan di luar bisnis milik keluarga Argadana."
"Tidak Nak, kenapa kalian menghukum kami seberat ini? Kami tidak akan sanggup hidup tanpa kalian. Suci, jika memang Suci tidak mau memaafkan Mama, tidak apa-apa Nak, karena Mama sadar betul jika kesalahan yang Mama lakukan sangatlah besar, tapi setidaknya kalian tetap tinggal di sini, dan tetap menjalankan Perusahaan milik keluarga Argadana. Nak, apa kalian tidak kasihan sama Anak-anak? Jika kalian ke luar dari rumah ini, memangnya kalian mau tinggal di mana?" ujar Mama Erina yang merasa khawatir dengan nasib Suci dan Anak-anaknya, apalagi Arya belum pernah hidup susah.
"Sepertinya Nyonya sudah lupa jika semenjak dilahirkan ke Dunia ini saya sudah terbiasa hidup susah, saya sudah sering kelaparan dan bekerja keras untuk bertahan hidup. Nyonya tenang saja, Nyonya tidak perlu mengkhawatirkan kami, karena saya tidak akan membiarkan Anak kami kesusahan seperti yang dulu pernah saya alami. Apalagi sekarang saya sudah memiliki Suami yang begitu menyayangi Anak dan Istrinya, dan saya yakin kalau Mas Arya tidak akan pernah membuang saya demi harta, dan kami akan berjuang bersama-sama membesarkan Anak-anak kami, meski pun tanpa harta pemberian dari Anda," ujar Suci.
__ADS_1
"Maaf Ma, tapi kami harus pergi. Maaf jika Arya tidak bisa menjadi Anak yang berbakti, karena apa pun yang Istri Arya inginkan, Arya akan selalu mendukungnya dan berada di sampingnya," ujar Arya, kemudian menggandeng Suci dan Anak-anak mereka ke luar dari dalam rumah.
Mama Erina mengejar mobil Arya ketika mobil tersebut meninggalkan pekarangan rumah, kemudian Mama Erina berteriak memanggil nama Arya dan Suci.
"Arya, Suci, jangan tinggalin Mama Nak," teriak Mama Erina dengan terus menangis dan mengejar mobil yang ditumpangi oleh Arya dan Suci, sampai akhirnya Mama Erina terjatuh di atas aspal.
Arya dan suci sebenarnya merasa kasihan melihat Mama Erina seperti itu, tapi mereka masih merasa kecewa atas perbuatan Mama Erina di masalalu.
Maafin Arya Ma, apa pun yang terjadi, Arya akan selalu berada di samping Istri dan Anak-anak Arya, karena mereka sudah menjadi tanggung jawab Arya di Dunia dan Akhirat, batin Arya.
Suci menggenggam erat tangan Arya untuk memberinya kekuatan, karena Suci tau jika Arya pasti berat meninggalkan keluarga yang sudah membesarkannya selama dua puluh lima tahun.
"Pa, terimakasih karena Papa sudah mengerti posisi Mama. Mama memang tidak seharusnya menjadi Anak durhaka, tapi Mama masih kecewa_"
Perkataan Suci terhenti ketika Arya menempelkan telunjuknya pada bibir Suci.
Sebelum berangkat menuju Bekasi, Suci dan Arya berniat mengantarkan Putri terlebih dahulu ke kediaman mendiang Papa Ferdi. Sebenarnya Suci tidak tega meninggalkan Putri, tapi bagaimana pun juga Putri masih memiliki kedua orangtua yang pasti akan merasa keberatan apabila Suci dan Arya yang merawatnya.
"Mama sebenarnya ingin sekali membawa Putri bersama kita, tapi Alina dan Farel pasti tidak akan mengijinkannya," ujar Suci.
"Sayang, Mama tidak perlu mengkhawatirkan Putri, karena Putri masih memiliki orangtua yang lengkap. Papa juga tadi sudah menelpon Farel, katanya Putri titipkan saja kepada Baby Suster di kediaman mendiang Papa Ferdi, karena saat ini Farel dan Alina masih berada di Rumah Sakit," ujar Arya.
"Semoga saja Alina bisa menyayangi Putri dengan tulus, karena sampai sekarang Alina masih belum bisa menerima kekurangan Putri," ujar Suci.
"Semoga saja Alina berubah. Mama jangan khawatir ya, Farel sangat menyayangi Putri, jadi Farel tidak mungkin membiarkan Alina menyakitinya," ujar Arya.
__ADS_1
Saat ini Suci dan Arya telah sampai di kediaman Papa Ferdi, tapi Putri terus saja menangis ketika Suci memberikannya kepada Baby Suster yang akan mengurus Putri.
"Putri sayang jangan nangis ya, kapan-kapan Tante pasti akan datang mengunjungi Putri. Sus, tolong jaga Putri baik-baik ya," ujar Suci dengan menciumi wajah Putri.
"Nyonya tidak perlu khawatir, Saya pasti akan menjaga Non Putri dengan baik," ujar Suster dengan terus membujuk Putri supaya berhenti menangis.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Suci kemudian kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalannya.
......................
Di tempat lain, Oma Rahma dan Papa Fadil terus membujuk Mama Erina untuk pulang, karena saat ini Mama Erina masih duduk di pinggir jalan dengan meratapi kepergian Suci dan keluarganya.
"Erina, kami mengerti perasaan kamu, tapi kita tidak bisa melarang Suci dan Arya pergi dari sini. Biarkan mereka menenangkan diri terlebih dahulu, Mama yakin jika suatu saat nanti mereka akan memaafkan kesalahan kita," ujar Oma Rahma.
"Semua ini salah Erina Ma, Erina yang sudah menyebabkan Anak dan Cucu Erina pergi meninggalkan kita."
"Sudahlah Erina, kamu jangan menyalahkan diri sendiri, karena dalam masalah ini aku juga sudah salah. Sebaiknya sekarang kita pulang, aku yakin jika suatu saat nanti Anak dan Cucu kita pasti akan kembali pulang," ujar Papa Fadil.
"Iya Erina, kita masih bisa melihat mereka meski pun dari kejauhan, karena Mama yakin jika Suci dan Arya pindah ke kampung halaman mendiang Asih dan Iman di Bekasi," ujar Oma Rahma.
Oma Rahma dan Papa Fadil membantu Mama Erina untuk berdiri, dan mereka memutuskan untuk pulang menuju kediaman Argadana.
Suci, Arya, kami akan selalu menunggu kepulangan kalian Nak. Maafin Mama, maafin Mama, ucap Mama Erina dalam hati yang selalu menyesali semua kesalahannya.
*
__ADS_1
*
Bersambung