Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 52 ( Percobaan bunuh diri )


__ADS_3

Papa Fadil begitu terpukul ketika mengetahui jika Suci adalah Putri kandungnya, tapi Oma Rahma berusaha untuk menguatkan Papa Fadil supaya tegar dan berusaha untuk ikhlas menerima semuanya.


"Fadil, Mama tau jika ini semua pasti berat untuk kamu, tapi sekarang kamu harus berusaha untuk ikhlas, karena sekarang Erina sudah menerima hukuman atas perbuatannya. Kita juga harus merahasiakan semua kebenaran ini dari Arya, karena Mama yakin jika Arya pasti akan semakin terpukul jika dia mengetahui semuanya. Apalagi secara tidak langsung, Arya sudah menjadi penyebab kematian Ibu kandungnya sendiri," ujar Oma Rahma.


Papa Fadil begitu menyesali semuanya, apalagi tadi Papa Fadil sempat berbicara yang tidak-tidak karena semua orang lebih memperdulikan Suci.


"Kenapa kita baru mengetahui semua kebenarannya sekarang Ma? Fadil menyesal karena tidak diberikan kesempatan untuk membahagiakan Anak kandung Fadil. Kasihan Suci, karena semenjak dilahirkan ke dunia ini, Suci sudah hidup menderita. Semuanya salah Fadil Ma, seandainya dulu Fadil tidak mengatakan kepada Erina jika Fadil menginginkan Anak pertama berjenis kelamin laki-laki, mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini, dan Fadil tidak akan kehilangan Anak Fadil."


"Nak, sekarang Suci sudah tenang di alam sana, dan kita harus ikhlas melepas kepergiannya."


"Mungkin semua ini adalah hukuman untuk Fadil, karena pada saat Fadil mengetahui siapa Anak kandung Fadil sebenarnya, Tuhan sudah mengambil Anak Fadil. Maafkan Papa Nak, maafkan Papa," ujar Papa Fadil dengan terus menangis.


Oma Rahma terus berusaha untuk menguatkan Papa Fadil, karena menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi.


"Fadil, kita tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi, karena itu sudah menjadi suratan takdir. Akan tetapi, kita harus berusaha untuk tidak melakukan kesalahan di masa mendatang," ujar Oma Rahma dengan menepuk bahu Papa Fadil.


......................


Saat masuk ke dalam kamarnya, tatapan mata Arya tertuju pada sebuah bingkai fhoto kebersamaannya dengan Suci dan Rizky, dan Arya langsung mengambil fhoto tersebut kemudian memeluknya dengan erat.


"Sayang, kenapa kamu memberikan hukuman yang sangat berat untukku? Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu Suci. Padahal belum satu hari kita berpisah, tapi rasanya kita sudah lama sekali tidak berjumpa. Aku sangat merindukanmu sayang, aku harap kita akan segera bertemu" gumam Arya.


Arya terbesit ide untuk mengakhiri hidupnya, karena Arya berpikir jika dia meninggal, dia akan segera bertemu dengan Suci.


Saat ini Arya seakan mendengar bisikan untuk mengakhiri hidupnya, tapi Arya juga mendengar bisikan lain jika mengakhiri hidup adalah perbuatan dosa besar yang tidak akan Tuhan ampuni, dan kematian merupakan awal dari kehidupan bukanlah akhir dari kehidupan, bahkan seandainya Arya meninggal dunia pun Arya tidak mungkin bisa bertemu dengan Suci, karena Arya sudah pasti akan masuk ke dalam Neraka jika sampai meninggal dengan cara bunuh diri.


"Sebaiknya sekarang aku menyusul kamu sayang, supaya kita bisa segera bersama lagi," gumam Arya yang sudah gelap mata, kemudian mengambil cutter dari dalam laci, karena Arya hendak melakukan percobaan bunuh diri dengan memotong urat nadinya.

__ADS_1


Baru saja Arya menempelkan pisau pada pergelangan tangannya, tiba-tiba Arya mendengar tangisan Rizky yang begitu kencang, sehingga membuat Arya tersadar jika yang dia lakukan adalah salah.


"Astagfirullah, kuatkan hati hamba Ya Allah," ucap Arya, kemudian menyimpan kembali pisau cutter nya ke dalam laci, dan bergegas mengambil Rizky dari dalam box bayi.


"Terimakasih sayang, Rizky sudah menyelamatkan Papa dari dosa besar," ucap Arya dengan menangis memeluk tubuh Rizky.


......................


Pada sore harinya, di kediaman Argadana di adakan acara tahlil pertama Suci, tapi Mama Erina terus saja mengamuk saat acara tahlil digelar.


"Anakku belum meninggal, kenapa kalian mengadakan acara tahlil?" teriak Mama Erina, sehingga membuat semua yang berada di sana merasa terkejut, karena setahu mereka Suci adalah Menantunya.


Semua yang hadir pada acara tahlil terdengar berbisik-bisik, dan mereka membicarakan tentang kejadian tadi siang saat Bu Rita memarahi Mama Erina.


"Sepertinya Nyonya Erina telah melakukan kejahatan yang besar terhadap mendiang Menantunya, makanya Nyonya Erina sampai depresi seperti itu," bisik salah satu tetangga Mama Erina.


Papa Fadil dan Arya membawa Mama Erina untuk masuk ke dalam kamar, dan Papa Fadil meminta kepada Ustad yang memimpin acara supaya melanjutkan acara tahlil nya.


"Pak Ustad, silahkan lanjutkan kembali acara tahlil nya, mohon maaf karena saya harus membawa istri saya ke kamar dulu," ujar Papa Fadil, kemudian bergegas membawa Mama Erina masuk ke dalam kamar.


Arya dan Papa Fadil terus berusaha menenangkan Mama Erina, bahkan Arya memeluk tubuh Mama Erina dengan erat.


"Ma, Arya mohon jangan seperti ini. Bukan hanya Mama yang merasa kehilangan Suci, bahkan Arya merasa lebih kehilangan istri sekaligus Ibu dari Anak Arya."


Mama Erina tiba-tiba mendorong tubuh Arya sehingga Arya terjungkal di atas lantai.


"Kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan Anak kandung kita, bahkan aku belum sempat meminta maaf kepada Anakku," ujar Mama Erina.

__ADS_1


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Mama Erina.


"Ma, apa maksud Mama?" tanya Arya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mama Erina hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan Arya, dan Mama Erina kembali mengambil boneka yang ia anggap sebagai Suci.


"Suci sayang, sekarang Suci mau makan apa? biar Mama suapi Suci ya," ujar Mama Erina dengan tersenyum dan sesekali menangis.


Papa Fadil memutuskan untuk membawa Arya ke luar dari dalam kamarnya, dan setelah mengunci pintu kamar supaya Mama Erina tidak kabur, Papa Fadil mengajak Arya untuk duduk, karena saat ini Arya masih diam mematung.


"Nak, Arya jangan dengarkan perkataan Mama ya, Dokter bilang Mama mengalami gangguan kejiwaan, jadi Mama bicara ngelantur. Mungkin Mama sangat menyesali perbuatannya terhadap Suci, makanya Mama terus terusan dihantui oleh rasa bersalah," ujar Papa Fadil.


"Tapi Pa, sikap Mama seperti seorang Ibu yang kehilangan Anaknya, Mama terlihat sangat menyesali semuanya. Apa mungkin jika sebenarnya Arya adalah Anak angkat, sedangkan Suci adalah tapi Anak kandung Mama dan Papa?"


Papa Fadil terlihat berpikir, karena Papa Fadil tidak mau jika Arya sampai mengetahui semua kebenarannya.


"Arya bicara apa? mana mungkin seperti itu Nak, Arya adalah Anak kandung Papa dan Mama, sedangkan Suci adalah Menantu kami," ujar Papa Fadil dengan memeluk tubuh Arya yang saat ini terlihat sangat rapuh.


Maafkan Papa Suci, Papa masih belum bisa mengakui kamu sebagai Anak kandung Papa. Meski pun kami masih belum memiliki bukti apa pun, tapi Papa sangat yakin jika kamu adalah darah daging Papa, karena perkataan Oma kamu benar, jika hati tidak akan pernah bisa dibohongi, batin Papa Fadil.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2