
Setelah selesai makan, semuanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Arya, Suci, makasih banyak ya traktirannya," ucap Hesti.
"Iya sama-sama," ujar Suci.
"Sering-sering saja traktirnya ya," ujar Irwan dengan cengengesan.
"Itumah namanya ngelunjak Irwan," ujar Farel.
"Kapan-kapan kalau ada waktu kita kumpul lagi. Kalau begitu kami duluan ya, kasihan Anak-anak pasti kecapean," ujar Arya dengan menggendong Arsyi yang sudah terlihat mengantuk, sedangkan Suci menggandeng Iqbal dan Rizky.
"Dadah Kak Rizky," teriak Dinda dengan melambaikan tangannya.
"Dadah Kakak tampan," teriak Ratu yang tidak mau kalah.
"Kalian berdua masih kecil sudah pada ganjen. Lihat Putri, dia tidak genit seperti kalian berdua," ujar Hesti kepada Dinda dan Ratu.
"Putri itu gak genit karena dia sadar diri kalau wajahnya cacat," ujar Ratu.
"Ratu, kamu tidak boleh berkata seperti itu kepada Kakak kamu," ujar Farel.
"Tapi Dad, emang kenyataannya kan Putri itu cacat? Mommy juga selalu bilang kalau Putri adalah Anak pembawa sial," ujar Ratu yang memiliki sifat persis dengan Alina.
Irwan mencoba menenangkan Farel yang terlihat menahan amarah.
"Sabar Farel, saat ini Ratu masih kecil, jadi dia belum tau mana yang benar dan yang salah," ujar Irwan.
"Tapi aku takut jika nanti sifat Ratu akan semakin menjadi-jadi kalau aku tidak menasehatinya dari sekarang," ujar Farel dengan mengacak rambutnya secara kasar.
Hesti mencoba berbicara dengan Ratu, tapi Ratu tetap saja ngeyel dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan oranglain.
Semoga saja nanti aku tidak memiliki Menantu seperti Ratu, rasanya aku ingin sekali menjitak nya, batin Hesti dengan mengelus dadanya.
"Irwan, Hesti, kalau begitu kami pulang duluan ya," ujar Farel dengan memegangi tangan Ratu dan Putri.
"Iya Farel, kamu hati-hati bawa mobilnya, dan jangan terlalu banyak pikiran. Kami juga akan segera pulang," ujar Irwan dengan menggandeng Hasti dan kedua Anaknya.
Setelah Farel, Putri dan Ratu masuk ke dalam mobil, Irwan, Hesti dan kedua Anaknya pun masuk ke dalam mobil.
"Sayang, Bunda tadi pasti kesal sama Ratu ya?" tanya Irwan ketika melihat raut wajah Hesti.
"Iya Yah, masih kecil saja susah sekali dinasehati, apalagi kalau sudah besar. Jangan sampai kita punya Menantu seperti Ratu," ujar Hesti.
Nanda dan Dinda yang mendengar percakapan kedua orangtuanya langsung saja angkat suara.
__ADS_1
"Bunda tenang saja, calon Istri Nanda nanti kan Arsyi," ujar Nanda.
"Calon Suami Dinda juga Kak Rizky," ujar Dinda yang tidak mau kalah.
"Sepertinya kita bakalan jadi Besan Suci sama Arya nih," ujar Irwan dengan terkekeh.
"Anak-anak, bisa tidak kalian berdua tidak usah ngomong yang aneh aneh? Kalian itu masih kecil," ujar Hesti.
"Tadi kan Bunda duluan yang bilang tentang Menantu?" ujar Dinda.
"Sepertinya senjata makan tuan," gumam Hesti dengan menepuk dahinya.
......................
Ketika Farel dan kedua Anaknya sampai rumah, Alina masih belum pulang juga.
"Bi, apa Nyonya belum pulang?" tanya Farel.
"Belum Tuan."
Farel menyuruh Putri dan Ratu untuk mandi dan beristirahat, karena Anak-anaknya sudah terlihat lelah.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi Alina masih belum juga pulang.
"Kemana saja Alina, kenapa jam segini masih belum pulang juga?" gumam Farel yang terlihat gelisah.
"Alina, apa kamu mabuk?" tanya Farel dengan membantu Alina masuk ke dalam rumah.
"Aku hanya minum sedikit saja karena Teman teman mengajakku parti. Kamu kenapa masih menungguku?" tanya Alina dengan memegang wajah Farel.
"Alina, bagaimanapun juga aku masih Suami kamu, dan aku memiliki kewajiban untuk melindungi kamu. Kenapa sekarang kamu berubah? Mana Alina yang dulu?" tanya Farel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mulai sekarang kamu tidak usah pedulikan aku lagi, kamu juga tidak perlu mengurus hidupku lagi, aku ingin bebas, uangku sekarang sudah lebih banyak dari kamu," teriak Alina dengan mendorong tubuh Farel.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini, dan besok aku akan menjemput Anak-anak. Kasihan mereka jika aku bawa pulang sekarang," ujar Farel dengan mengemasi pakaiannya.
Mungkin sudah saatnya aku menyerah, percuma aku masih tetap bertahan dengan perempuan yang sudah tidak menginginkanku lagi, batin Farel.
Alina menangis ketika melihat kepergian Farel, karena bagaimanapun juga selama ini Farel yang selalu ada untuknya, bahkan pada saat masa masa sulit Alina.
"Farel, maafkan aku, tapi sekarang aku sudah mencintai lelaki lain," gumam Alina.
......................
Keesokan paginya, Farel memutuskan untuk menjemput Putri dan Ratu dari rumah Alina.
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang aku menjemput Putri dan Ratu, bagaimanapun juga mereka berdua adalah tanggung jawabku," gumam Farel dengan mengendarai mobilnya menuju rumah Alina.
Sesampainya di rumah Alina, Putri terdengar menangis karena Alina selalu melampiaskan amarahnya kepada Putri.
"Alina, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tega sekali memukul Putri?" teriak Farel dengan menghampiri Putri yang terlihat ketakutan.
"Sayang, Putri tidak apa-apa kan?" tanya Farel dengan memeluk tubuh Putri yang masih menangis.
"Putri tidak apa-apa Dad, Daddy jangan marahin Mommy."
Farel menatap tajam Alina yang saat ini masih berdiri dengan bertolak pinggang.
"Alina, mulai sekarang aku akan membawa Anak-anak ke luar dari rumah ini. Aku sudah menyerah menghadapi kamu yang selalu bersikap seenaknya," ujar Farel dengan nada tinggi.
"Kamu tidak bisa membawa Ratu, karena aku tidak akan pernah mengijinkannya, tapi kalau kamu ingin membawa Putri, silahkan saja, dengan senang hati aku tidak akan pernah melarangnya, karena dia hanyalah Anak pembawa sial," ujar Alina dengan tersenyum mengejek.
Farel hampir saja menampar Alina jika Putri tidak menarik tangannya.
"Tampar saja Farel, ayo tampar. Kamu memang lebih menyayangi Anak cacat ini dibandingkan Istrimu sendiri," teriak Alina dengan mendekatkan pipinya pada Farel.
"Alina, Putri adalah Anak kandung kamu sendiri, tidak seharusnya kamu membeda-bedakan kasih sayang antara Putri dan Ratu, meski pun pada kenyataannya Putri memiliki kekurangan."
Ratu yang mendengar keributan, ke luar dari dalam kamarnya kemudian menghampiri Alina.
"Mom, kenapa sih ribut-ribut? Ganggu Ratu tidur saja," ujar Ratu dengan cemberut.
Farel menghampiri Ratu, kemudian Farel memegang kedua bahu Ratu.
"Ratu sayang, Ratu mau kan ikut sama Daddy?" ujar Farel.
Ratu terlihat berpikir, karena Ratu tidak mau meninggalkan Alina yang selalu memanjakannya.
"Ratu ingin tinggal di sini saja sama Mommy," ujar Ratu dengan memeluk tubuh Alina.
"Kamu dengar sendiri kan apa yang Ratu katakan? Sekarang kamu dan Putri sudah bisa pergi dari rumah ini," usir Alina.
"Tidak kamu usir pun, aku akan pergi dari rumah ini. Ayo sayang, sebaiknya sekarang kita pergi dari sini, Daddy janji akan selalu membahagiakan Putri," ujar Farel dengan menggendong tubuh Putri.
Sebelumnya Alina sudah menyuruh Asisten rumah tangganya untuk mengemasi pakaian Putri, kemudian Alina menyuruh Asisten rumah tangganya tersebut untuk memberikan koper yang berisi pakaian Putri kepada Farel.
"Kamu jangan lupa bawa semua pakaian Anak cacat itu, karena aku tidak membutuhkannya," teriak Alina.
"Alina, suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan kepada Putri," ujar Farel dengan mata yang memerah, karena Farel tidak menyangka jika di Dunia ini ada seorang Ibu yang begitu kejam terhadap Anak kandungnya sendiri.
*
__ADS_1
*
Bersambung