
Iqbal dan Pak Tamrin sudah berada di dalam ruang operasi selama emat jam, dan semuanya masih menunggu dengan harap-harap cemas.
Beberapa saat kemudian, lampu di depan ruang operasi terlihat padam. Kemudian semuanya langsung berdiri untuk menghampiri Rizky yang baru ke luar dari dalam ruang operasi.
"Nak, bagaimana operasinya?" tanya Suci.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, sebentar lagi Iqbal dan Pak Tamrin sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan," jawab Rizky dengan perasaan lega.
Semuanya merasa bersyukur dan tersenyum bahagia mendengar keberhasilan operasi Iqbal, begitu juga dengan Arsyi yang sudah lama tidak terlihat tersenyum.
"Arsyi, ada yang ingin Kakak bicarakan. Apa Arsyi bisa ikut ke ruang kerja Kakak?" tanya Rizky.
Arsyi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian berjalan mengikuti Rizky.
Suci dan Arya sebenarnya merasa penasaran dengan pembicaraan Arsyi dan Rizky, sampai akhirnya Arya mengusulkan ide untuk menguping.
"Mama penasaran tidak dengan pembicaraan Rizky dan Arsyi?" tanya Arya.
"Kalau penasaran memangnya kenapa? Anak-anak juga sudah dewasa Pa, dan mereka butuh privasi," jawab Suci.
"Apa tidak sebaiknya kita menguping pembicaraan Rizky dan Arsyi?" usul Arya.
"Pa, tidak baik menguping pembicaraan oranglain, meski pun itu adalah Anak kandung kita sendiri. Atau Papa mau puasanya ditambah menjadi dua bulan?" ujar Suci, sehingga Arya merasa ketakutan.
"Jangan dong sayang, satu bulan saja belum tentu kuat, apalagi dua bulan. Papa hanya bercanda kok," ujar Arya dengan cengengesan.
......................
Arsyi dan Rizky sudah berada di dalam ruang kerja Rizky, dan Rizky menghela nafas panjang sebelum angkat suara.
"Arsyi, Kakak tidak menyangka jika Arsyi bersedia datang ke sini untuk menemui Iqbal," ujar Rizky.
"Meski pun Arsyi belum bisa memaafkan perbuatan Kak Iqbal, tapi Arsyi tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
"Apa Arsyi yakin jika rasa cinta yang Arsyi miliki untuk Iqbal sudah benar-benar hilang?"
Arsyi terdiam mencerna pertanyaan Rizky, karena Arsyi sendiri masih belum yakin dengan semua itu.
__ADS_1
"Kakak tau kalau Arsyi kecewa sama Iqbal, tapi Kakak pikir perasaan itu tidak akan hilang begitu saja. Kakak harap, setelah nanti Iqbal sembuh, Arsyi bersedia menikah dengan Iqbal, apalagi Bagas bilang orang yang bisa menyembuhkan trauma Arsyi hanyalah Iqbal," ujar Rizky yang mencoba memberikan saran kepada Arsyi sebelum Rizky mengatakan jika Nanda akan menikah dengan Ratu.
"Nanti Arsyi akan memikirkan saran dari Kak Rizky, karena entah kenapa semakin hari rasa cinta Arsyi untuk Nanda semakin besar, tapi Arsyi sadar diri kalau Arsyi tidak pantas untuk Nanda," ujar Arsyi dengan tertunduk sedih.
Rizky merasa tidak tega mengatakan kepada Arsyi tentang pernikahan Nanda dan Ratu yang akan dilaksanakan pada dua hari lagi.
Bagaimana ini, aku tidak tega mengatakan kepada Arsyi tentang pernikahan Nanda dan Ratu? Kasihan Arsyi, dia pasti akan sedih apabila mengetahui jika Nanda dan Ratu akan menikah, ucap Rizky dalam hati.
"Apa pun keputusan Arsyi, Kakak akan selalu mendukungnya. Kalau begitu sebaiknya sekarang kita melihat Iqbal ke kamar perawatannya," ujar Rizky yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Suci dan Arya terlihat tegang ketika Rizky dan Arsyi masuk ke dalam kamar perawatan Iqbal, dan Rizky merasa heran dengan ekspresi yang ditunjukan oleh kedua orangtuanya tersebut.
"Arsyi tidak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Arya yang ingin memastikan kondisi Arsyi.
"Memangnya Papa pikir Rizky sudah ngapain Arsyi?" tanya Rizky dengan mengerutkan dahinya.
"Papa hanya memastikan kalau Rizky sudah menjaga Arsyi dengan baik," jawab Arya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Suci menatap tajam Arya, karena Arya sudah bersikap berlebihan.
Arya yang melihat ekspresi Suci, langsung berbisik kepada Suci karena takut jika puasanya ditambah lagi.
Satu jam kemudian, Iqbal dan Pak Tamrin mulai sadar dari pengaruh bius, dan Iqbal yang sudah setengah sadar terus memanggil nama Arsyi.
"Arsyi, Arsyi, jangan pergi Arsyi," gumam Iqbal.
Secara perlahan Arsyi mencoba melangkahkan kaki nya menghampiri Iqbal, kemudian Arsyi menggenggam erat tangan Iqbal.
"Arsyi tidak kemana-kemana Kak, Arsyi ada di sini," ujar Arsyi yang saat ini duduk di samping ranjang pesakitan Iqbal.
Sejak kedatangan Arsyi ke Rumah Sakit, keempat Kakak Iqbal tidak berani menyapa Arsyi, karena mereka merasa malu dengan perbuatan yang telah Iqbal lakukan, apalagi mereka merasa kasihan ketika melihat Arsyi yang selalu gemetar ketakutan.
"Nak, maafin Iqbal ya," ucap Pak Tamrin dengan lirih ketika melihat Arsyi berada di antara ranjang pesakitan Pak Tamrin dan Iqbal.
Arsyi hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kepada Pak Tamrin, karena Arsyi tidak mau mengecewakan Pak Tamrin.
"Arsyi, Kakak bahagia karena Arsyi masih berada di sini," ucap Iqbal dengan tersenyum ketika membuka matanya.
__ADS_1
"Kak Iqbal harus segera sembuh ya, maaf karena sekarang Arsyi harus pulang," ujar Arsyi yang merasa tidak nyaman ketika berada dekat dengan Iqbal.
Iqbal terlihat sedih, karena Iqbal tau kalau Arsyi belum sepenuhnya memaafkan perbuatan nya. Akan tetapi, Iqbal tidak mau egois dengan menahan Arsyi supaya tetap berada di sampingnya.
"Arsyi hati-hati ya, semoga kita bisa segera bertemu kembali," ujar Iqbal.
Dengan berat hati, Iqbal melepas pegangan tangan nya pada Arsyi, kemudian Arsyi menghampiri Suci dan Arya untuk mengajak mereka pulang juga.
"Ma, Pa, kita pulang sekarang ya," ujar Arsyi.
Arya dan Suci terlihat bingung, karena keduanya tidak mungkin langsung pulang ketika Iqbal baru saja sadar pasca operasi.
"Arsyi, sebaiknya kamu pulang sama Kakak saja ya, kebetulan malam ini Kakak gak ada jadwal piket," ujar Rizky yang mengerti dengan posisi Arya dan Suci.
"Kami titip Arsyi ya Kak," ucap Suci yang merasa lega karena Rizky begitu pengertian.
......................
Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Argadana, Arsyi terus saja melamun.
"Arsyi kenapa melamun terus?" tanya Rizky.
"Entah kenapa sudah beberapa hari ini perasaan Arsyi merasa tidak enak Kak. Arsyi memiliki firasat akan kehilangan seseorang yang Arsyi sayang," jawab Arsyi yang merasakan kehampaan di dalam hatinya semenjak dia putus dengan Nanda, karena selama enam tahun menjalin hubungan, setiap hari Nanda selalu menemani hari-hari Arsyi.
Mungkin Arsyi sudah memiliki firasat tentang pernikahan Nanda. Maafin Kakak Arsyi, karena Kakak tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, ucap Rizky dalam hati.
"Oh iya Kak, sudah beberapa hari ini Arsyi tidak melihat Kak Putri. Kak Putri kenapa tidak pernah pulang? Bukannya Kak Putri mengambil cuti nikah selama satu minggu?" tanya Arsyi.
"Di Rumah Sakit saat ini sedang banyak Pasien, jadi Putri memutuskan untuk membatalkan cutinya," jawab Rizky yang tidak mungkin mengatakan jika Putri tengah merawat Farel, karena Arsyi pasti akan menanyakan penyebab Farel masuk Rumah Sakit.
"Kakak harus lebih perhatian lagi sama Kak Putri, jangan sampai kita menyesal ketika orang yang kita cintai sudah tidak ada lagi di samping kita," ujar Arsyi.
Rizky terlihat berpikir ketika mendengar perkataan Arsyi, karena Arsyi belum mengetahui tentang perasaan Rizky terhadap Dinda.
Seandainya aku tidak terlambat menyadari perasaanku terhadap Dinda, mungkin saat ini aku dan Dinda sudah hidup bahagia, dan aku tidak akan merasakan sebuah penyesalan besar dalam hidupku karena harus kehilangan perempuan yang aku cintai. Aku tau jika Rindu ini terlarang, tapi semakin hari aku semakin merindukannya, batin Rizky.
*
__ADS_1
*
Bersambung