
Semua yang berada di sana terlihat panik melihat Mama Linda yang sudah terbujur kaku, sampai akhirnya Irwan menyuruh Bi Sari untuk menghubungi Dokter.
"Bi, tolong segera hubungi Dokter," ujar Irwan, kemudian membantu Rian memindahkan Mama Linda ke atas kasur yang berada di ruang keluarga.
Beberapa saat kemudian, Dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Mama Linda.
"Dok, bagaimana kondisi Mama saya? Kenapa Mama tiba-tiba pingsan?" tanya Rian.
Dokter menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Rian.
"Mohon maaf Tuan, tapi Nyonya Linda sudah meninggal dunia," jawab Dokter.
"Tidak, tidak mungkin Mama meninggal dunia, tadi kalian lihat sendiri kan kalau Mama baik-baik saja? bahkan Mama baru saja berbicara dengan kami. Dok, tolong periksa sekali lagi, atau kita bawa saja Mama ke Rumah Sakit," ujar Rian dengan menangis histeris.
"Maaf Tuan, mau kita periksa berapa kali pun, atau kita membawanya ke Rumah Sakit. Kita tidak akan bisa merubah kenyataan jika Nyonya Linda sudah mengembuskan nafas terakhirnya. Saya turut berduka cita, semoga Tuan akan sabar dan ikhlas menghadapi semuanya," ucap Dokter.
Irwan mendekati Rian yang masih menangis, kemudian mengajaknya duduk supaya merasa lebih baik.
"Rian, aku tau kalau kamu sangat terpukul dengan meninggalnya Tante Linda, tadi kamu dengar sendiri perkataan terakhir Tante Linda, kalau yang namanya umur tidak ada yang tau," ujar Irwan dengan menepuk bahu Rian.
Rian hanya bisa menangisi kepergian Mama Linda yang secara tiba-tiba, sampai akhirnya Rian teringat dengan permintaan terakhir Mama Linda.
"Dok, sebelum meninggal dunia, Mama meminta supaya jantungnya di donorkan kepada Suci. Apa bisa?" tanya Rian.
"Sepertinya tidak akan bisa Tuan, karena semua organ vitalnya sudah tidak berfungsi lagi, dan kemungkinan besar penyebab Nyonya meninggal dunia, karena mengalami penyumbatan pada jantungnya," jelas Dokter.
Rian akhirnya hanya bisa pasrah menerima semuanya, karena terus menangis pun tidak ada gunanya.
"Rian, kami turut berduka cita atas meninggalnya Tante Linda. Sebaiknya sekarang kita segera memandikan jenazah beliau supaya bisa secepatnya dikebumikan," ujar Irwan.
Bi Sari sebelumnya sudah memberitahu Ketua RT setempat tentang meninggalnya Mama Linda. Setelah berita meninggalnya Mama Linda di umumkan di speaker Masjid, para tetangga mulai berdatangan untuk melayat serta membantu proses memandikan dan mengurus jenazah.
......................
Di tempat lain, Arya yang selalu setia mendampingi Suci, begitu terkejut saat menerima kabar dari Irwan tentang kematian Mama Linda, dan Arya meminta kepada Irwan supaya membantu Rian mengurus semua keperluan prosesi pemakaman.
"Kasihan Rian, padahal dia masih begitu terpukul karena mendengar tentang penyakit Suci, ditambah sekarang Ibu nya meninggal secara tiba-tiba. Semoga saja Rian diberikan kesabaran dan ketabahan," gumam Arya, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Suci, karena Arya sudah tidak kuat menahan kantuknya.
__ADS_1
Satu jam kemudian, secara perlahan Suci mulai membuka matanya, dan Suci tersenyum ketika melihat wajah tampan Arya yang tengah terlelap dengan mendekap erat tubuhnya.
"Kenapa aku bisa berada di Rumah Sakit, bukannya aku dan Mas Arya baru saja menikah?" gumam Suci ketika sebagian memori otaknya mengingat kejadian ketika dia dan Arya baru saja melangsungkan pernikahan.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Arya ketika merasakan pergerakan pada tubuh Suci, dan Arya lupa kalau Suci masih hilang ingatan.
"Mas, kemana Rizky? kenapa kita bisa berada di Rumah Sakit?" tanya Suci yang masih merasa bingung.
Arya mengira jika yang dia alami hanyalah sebuah mimpi, sampai akhirnya Arya terkejut ketika Suci tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Kemana Anak kita?" tanya Suci, tapi Arya hanya diam mematung, dan membulatkan matanya.
"Jika ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini," gumam Arya dengan mengeratkan pelukannya terhadap Suci.
Beberapa saat kemudian, Suci kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit, dan Arya baru menyadari jika yang barusan dia alami bukanlah mimpi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arya.
"Mas, kenapa kepalaku sakit sekali?" jawab Suci, dan Arya bergegas menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Beberapa saat kemudian Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Suci, dan Dokter memeriksa Suci secara seksama.
"Dok, barusan Istri saya sempat sadar, bahkan dia mengingat saya," ujar Arya.
"Sus, segera siapkan ruang operasi, kondisi Pasien semakin memburuk, dan kita harus segera melakukan tindakan dengan membersihkan gumpalan darah pada otaknya," ujar Dokter.
"Dok, apa Istri saya akan mengingat saya lagi?" tanya Arya.
"Kami belum bisa memastikan semuanya, tapi kemungkinan besar, Pasien akan mengalami hilang ingatan secara permanen, bahkan bisa saja semua kejadian dalam hidupnya tidak akan pernah Pasien ingat lagi," jelas Dokter.
"Dok, tolong lakukan yang terbaik kepada Istri saya, meski pun nanti dia tidak akan bisa mengingat saya lagi, yang penting Suci bisa kembali sembuh," ujar Arya dengan terus menggenggam erat tangan Suci.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Pasien," ujar Dokter, kemudian Suci dibawa menuju ruang operasi.
Sebelum masuk ruang Operasi, Arya mencium kening Suci dan berbisik pada telinganya.
"Sayang, kamu harus kuat, aku dan Anak-anak kita akan selalu menunggu kamu bangun. Aku yakin kalau Suci ku pasti akan sembuh," ujar Arya, kemudian dengan berat hati melepas pegangan tangannya kepada Suci.
__ADS_1
Arya menunggu di depan ruang operasi dengan harap-harap cemas, dan Arya terus melafalkan do'a untuk kelancaran operasi Suci.
......................
Setelah jenazah Mama Linda selesai dimandikan dan dishalatkan, Rian dan yang lainnya mengantar jenazah menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Sepanjang prosesi pemakaman, Rian terus menitikkan airmata, apalagi mengingat Suci yang saat ini sedang melakukan operasi, perasaan Rian semakin tidak karuan.
Kenapa cobaan datang bertubi-tubi secara bersamaan? Padahal selama ini Suci dan Mama yang selalu memberikan aku kekuatan, tapi di hari yang sama, aku mendapatkan kabar buruk dari dua orang yang aku sayangi sekaligus sumber kekuatanku. Ma, maafkan Rian yang belum bisa berbakti kepada Mama. Semoga Mama beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana, ucap Rian dalam hati.
Setelah acara pemakan selesai, satu persatu para tetangga yang mengantar ke tempat peristirahatan terakhir Mama Linda mulai bubar, dan saat ini hanya tinggal Rian dan Irwan yang masih berada di pemakaman.
"Rian, aku tau kalau semua ini pasti berat untuk kamu, tapi kamu harus ikhlas dan kuat demi orang-orang yang kamu sayang," ujar Irwan.
"Aku sudah tidak memiliki siapa pun d Dunia ini, Mama sudah meninggal, sedangkan Papa sudah bahagia dengan keluarga barunya," ujar Rian dengan tertunduk sedih.
"Lalu bagaimana dengan Suci? Apa kamu sudah tidak peduli kepadanya? Bagaimana juga dengan nasib Rizky? Meski pun Arsyila bukan Anak kandung kamu, tapi Rizky adalah Anak yang kamu adopsi."
"Aku sangat peduli kepada Suci, bahkan aku rela apabila harus menukar nyawaku dengan kesembuhannya. Sekarang Suci sudah menjadi Istri Arya, sudah seharusnya dari dulu aku mengembalikan Suci kepada Arya. Mungkin setelah ini aku akan mengembalikan Suci dan Arsyila kepada Arya, sedangkan Rizky, aku akan tetap merawatnya seperti Anak kandungku sendiri, karena Ibunya Rizky sudah meninggal dunia, sedangkan Ayahnya tidak mampu membesarkan Rizky," ujar Rian yang akan mengabulkan permintaan terakhir Mama Linda untuk mengembalikan Suci kepada Arya.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaan meski pun tanpa Suci, karena aku yakin jika di luar sana ada perempuan yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Suci."
"Tidak Irwan, bagiku tidak akan pernah ada perempuan yang lebih baik dibandingkan dengan Suci, dan selamanya hanya akan ada nama Suci dalam hatiku, bahkan sampai aku mati," ujar Rian.
Irwan yang tidak mau berdebat dengan Rian, akhirnya tidak membahas Suci lagi, dan lebih memilih untuk mengajak Rian pulang.
"Sebaiknya sekarang kita pulang, hari sudah sore, kita harus mempersiapkan acara tahlil mendiang Mama kamu," ujar Irwan.
Rian mendekati batu nisan Mama Linda, kemudian Rian pamit pulang.
"Ma, Rian pulang dulu, semoga Mama bisa beristirahat dengan tenang. Rian pasti akan selalu mengirim do'a untuk Mama," ujar Rian, kemudian mengucapkan salam sebelum pulang.
*
*
Bersambung
__ADS_1