
Arsyi terlihat panik ketika melihat Nanda pingsan, tapi Arsyi menyadari jika saat ini dirinya sudah menjadi Istri Iqbal, dan Arsyi harus menjaga batasan.
Nanda dibawa menuju kamarnya, dan Arsyi hanya bisa melihat Nanda dari kejauhan.
"Sayang, sebaiknya kita pulang ya," ujar Iqbal dengan menggenggam erat tangan Arsyi, tapi Arsyi terlihat gemetaran.
Tangan Arsyi masih terasa gemetar saat aku memegangnya, pasti Arsyi masih merasa takut terhadapku, batin Iqbal.
Keluarga Suci pamit kepada Hesti dan keluarga. Suci dan Arya juga meminta maaf karena kedatangan Arsyi dan Iqbal sudah menyebabkan pesta pernikahan Nanda dan Ratu menjadi berantakan.
"Hesti, kami pulang dulu ya, maaf kalau kedatangan Arsyi dan Iqbal sudah membuat pesta pernikahan Nanda menjadi berantakan," bisik Suci pada Hesti, begitu juga dengan Arya yang meminta maaf kepada Irwan.
"Tidak Suci, seandainya Arsyi dan Iqbal tidak datang ke sini, mereka berdua tidak akan menikah, dan Nanda pasti akan tetap berambisi untuk memiliki Arsyi. Dengan adanya kejadian ini, semoga saja Nanda bisa menerima kenyataan jika sekarang Arsyi sudah menjadi Istri lelaki lain. Aku sebenarnya masih berharap bisa menjadi besan kamu," ujar Hesti dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, karena kedua Anaknya ternyata tidak berjodoh dengan Anak-anak Suci.
Suci memeluk Hesti, dan keduanya terlihat menangis.
"Semoga Dinda bisa mendapatkan pendamping hidup yang lebih segala-galanya dibandingkan dengan Rizky ya, begitu juga dengan Nanda, semoga saja Ratu bisa menjadi Istri dan Ibu yang baik. Aku yakin kalau kamu bisa menaklukan Menantu kamu," ujar Suci dengan tersenyum juga mengelap airmata yang masih terus menetes pada pipinya.
"Terimakasih ya Suci, selamanya kamu akan menjadi sahabat sekaligus saudara terbaik untukku," ucap Hesti, dan Suci tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Rizky memeriksa kondisi Iqbal terlebih dahulu sebelum pulang, karena seharusnya Iqbal masih melakukan pemulihan pasca operasi di Rumah Sakit.
"Iqbal, sebaiknya kamu kembali ke Rumah Sakit, kamu dan Pak Tamrin masih harus melakukan pemulihan pasca operasi," ujar Rizky.
"Biar Bapak saja yang melakukan pemulihan di Rumah Sakit, Aku sebaiknya melakukan pemulihan di rumah saja, karena mulai saat ini aku harus menjaga Istri dan Anak ku baik-baik," ujar Iqbal.
"Awas saja kalau nanti malam kamu meminta hak sebagai Suami kepada Arsyi. Kamu harus ingat, kamu masih belum sembuh, Arsyi juga masih hamil muda, jadi kalian masih belum bisa melakukannya," bisik Rizky.
"Memangnya kamu pikir dengan kondisiku yang lemah ini aku bisa melakukan hal semacam itu? Aku juga tidak akan pernah memaksa Arsyi sampai Arsyi benar-benar memaafkan serta menerimaku menjadi Suaminya," ujar Iqbal dengan terus menyunggingkan senyuman.
Iqbal begitu bahagia karena akhirnya Iqbal bisa menikah dengan perempuan yang dia cintai. Meski pun saat ini perasaan cinta Arsyi kepada Iqbal sudah berubah menjadi benci, tapi Iqbal akan berusaha mendapatkan kembali cinta Arsyi.
Setelah kepulangan Suci dan keluarga, sekarang giliran Farel dan keluarga yang pamit kepada keluarga Irwan, dan untuk beberapa hari ke depan, Putri dan Rizky juga akan tinggal di rumah Farel supaya bisa merawat Farel yang masih dalam masa penyembuhan.
__ADS_1
"Irwan, Hesti, kami titip Ratu ya. Semoga saja dengan tinggal bersama kalian, Ratu bisa berubah menjadi lebih baik lagi," ujar Farel.
"Sekarang Ratu sudah menjadi Anak kami juga, jadi kamu jangan mencemaskannya, karena kami pasti akan menjaganya dengan baik," ujar Irwan.
Ratu sebenarnya tidak mau tinggal di rumah Hesti, apalagi Ratu selalu menganggap jika Hesti adalah sosok yang cerewet.
Sial sekali aku karena harus tinggal satu atap dengan Mertua cerewet, tapi aku akan buktikan kalau aku tidak akan mudah ditindas, ucap Ratu dalam hati.
Hesti merangkul Ratu, kemudian berbisik di telinganya.
"Tidak usah kebanyakan mimpi, sekarang saatnya kamu bangun, karena kamu harus menjadi Menantu yang baik, jangan berharap kamu bisa seenaknya saat tinggal di rumah ini," ujar Hesti dengan tersenyum penuh arti sehingga membuat bulu kuduk Ratu merinding.
Sial, kenapa Mertua cerewet bisa membaca isi hatiku? Apa dia memiliki indra keenam, ucap Ratu dalam hati.
"Ratu, Daddy harap Ratu bisa menjadi Istri yang baik untuk Nanda. Jangan kecewakan Daddy lagi ya Nak," ujar Farel dengan memeluk Ratu.
Ratu menatap nanar wajah Rizky, apalagi saat ini tangan Putri terus menggenggam tangan Rizky sehingga membuat Ratu sedih.
Setelah Farel dan keluarganya pulang, Irwan menyuruh Ratu supaya beristirahat di kamar Nanda.
Ratu melangkahkan kakinya menuju kamar Nanda, dan saat ini Nanda terlihat menangis dengan duduk di atas ranjang.
"Jadi lelaki cengeng banget sih? Dikit-dikit nangis. Kapan kamu akan berubah, sejak kecil kamu selalu saja cengeng, makanya aku membenci lelaki cengeng seperti kamu," cerocos Ratu.
Sejak kecil, Nanda memang cengeng, dan Ratu selalu mengolok-oloknya dengan sebutan Anak cengeng, sedangkan Arsyi selalu menghibur Nanda dan membelanya saat Nanda diganggu oleh Ratu, makanya sejak kecil Nanda sudah jatuh cinta terhadap sosok Arsyi.
"Hmmm, kenapa aku sial sekali karena harus menikah dengan lelaki cengeng seperti kamu," gumam Ratu dengan duduk di atas sofa.
Nanda hanya diam tanpa memperdulikan perkataan Ratu, kemudian Nanda melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi.
"Kenapa dengan si cengeng, apa patah hati membuat dia tidak bisa bicara," gumam Ratu, tapi Nanda masih bisa mendengarnya.
"Apa kamu tidak benar-benar tulus mencintai Kak Rizky?" tanya Nanda.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Sejak kecil aku sangat mencintai Kak Rizky, dan aku sangat berambisi untuk memilikinya," jawab Ratu dengan berapi-api.
"Jika memang kamu tulus mencintainya. Seharusnya kamu tau bagaimana perasaanku saat ini. Kamu tidak tau kan bagaimana hancurnya ketika melihat orang yang kita cintai menjadi miliki orang lain? Aku rasa, perasaan kamu terhadap Kak Rizky bukanlah cinta tulus, tapi itu hanyalah sebuah obsesi ingin memiliki sesuatu yang paling bagus, apalagi dari dulu Kak Rizky merupakan murid paling berprestasi," ujar Nanda, kemudian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Ratu yang masih mencerna kata-kata Nanda.
"Apa benar semua itu hanyalah sebuah obsesi? Dari kecil aku ingin selalu mendapatkan sesuatu yang paling bagus, apalagi jika barang itu banyak diinginkan oleh orang lain. Apa perasaanku terhadap Kak Rizky memang seperti itu? Aku berambisi ingin memilikinya karena dia selalu menjadi rebutan. Tidak, aku yakin kalau ini bukan sekedar obsesi, tapi ini adalah cinta sejati. Aku tidak akan terpengaruh oleh Nanda, dia pasti sengaja berkata seperti itu karena ingin melewati malam pertama yang indah denganku," gumam Ratu, dan tiba-tiba sebuah handuk melayang ke atas kepalanya.
"Kamu jangan kebanyakan mengkhayal. Aku tidak akan sudi menyentuhmu, meski tubuh mu tidak memakai sehelai benang pun, aku juga tidak akan pernah tergoda. Sana cepetan mandi, supaya otak kamu bersih dan tidak berpikir macam-macam," ujar Nanda yang ke luar dari dalam kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Glek
Ratu menelan ludah ketika melihat tubuh atletis Nanda, karena baru kali ini Ratu melihat tubuh lelaki yang begitu sempurna.
Sial, kenapa tubuhnya begitu menggoda, aku ingin sekali memegang roti sobek milik Nanda, ucap Ratu dalam hati sehingga membuat otaknya traveling.
Pletak
Nanda menyentil dahi Ratu yang masih diam mematung, apalagi saat ini keluar air liur dari mulutnya.
"Awww, Nanda, kenapa kamu menyentil dahiku?"
"Itu supaya kamu sadar kalau dari tadi air liur kamu terus menetes," jawab Nanda.
"Mana ada seperti itu," ujar Ratu kemudian mengelap mulutnya, dan benar saja mulutnya basah dengan air liur.
Ratu yang merasa malu akhirnya mencoba berkilah.
"Aku sedang sariawan, jadi air liur ku terus menetes. Kamu gak usah GR, aku sama sekali tidak tergoda dengan roti sobek milikmu. Malam ini aku akan tidur di sofa, aku tidak sudi tidur di ranjang bekas mantan terindah kamu," tegas Ratu.
"Terserah kamu, kamu mau tidur di lantai juga aku tidak peduli," ujar Nanda kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa memperdulikan Ratu yang terus saja mengajak berdebat di malam pertama mereka.
*
*
__ADS_1
Bersambung