
Ratu menatap tajam Nanda, karena sebelumnya Ratu sudah mengatakan kepada Nanda supaya melupakan semua kejadian semalam yang terjadi di antara mereka.
"Maaf Om, tapi Ratu tidak bisa menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak Ratu cintai," ujar Ratu.
Darah Farel terasa mendidih ketika mendengar jawaban yang Ratu lontarkan, dan semuanya tidak pernah mengira jika Ratu benar-benar menolak niat baik Nanda untuk bertanggung jawab.
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Ratu, karena kesabaran Farel sudah benar-benar habis.
"Ratu, apa belum cukup kamu mempermalukan Daddy? Masih untung ada lelaki yang bersedia untuk bertanggung jawab," teriak Farel.
Ratu memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Farel, dan semuanya mencoba menenangkan Farel yang masih terlihat emosi.
"Tenang Farel, semuanya bisa kita bicarakan secara baik-baik," ujar Irwan dengan menarik tubuh Farel supaya menjauh dari Ratu.
"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menikah dengan lelaki lain selain Kak Rizky," ujar Ratu yang bersikukuh dengan pendiriannya.
Farel semakin murka mendengar perkataan Ratu. Ketika Farel hendak melayangkan kembali tangannya, Irwan menahan tangan Farel.
"Dasar Anak durhaka, Anak tidak tau diri kamu Ratu. Dimana otak kamu? Rizky sekarang sudah menjadi Kakak Ipar kamu. Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu," teriak Farel.
"Tenang Farel, kamu harus ingat kondisi kesehatan kamu. Ratu, sekarang Ratu katakan kepada kami, apa yang Ratu inginkan sebagai bentuk rasa tanggung jawab Nanda, karena kami tidak akan pernah lari dari tanggung jawab begitu saja," ujar Irwan.
"Om, sekali lagi Ratu katakan, Ratu tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak Ratu cintai. Nanda, apa belum jelas perkataan ku tadi pagi? Kamu lupakan semuanya, anggap saja semalam tidak terjadi apa pun di antara kita, karena aku tidak mungkin menikah dengan musuh bebuyutan ku," ujar Ratu.
"Maaf Ratu, aku tidak bisa menyetujui permintaanmu, karena dari kecil orangtuaku selalu mengajarkan supaya aku bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat. Meski pun kita tidak saling mencintai, tapi aku akan berusaha menjadi Suami yang baik untuk kamu sebagai bentuk rasa tanggung jawabku," tegas Nanda.
"Kamu tidak perlu bersikap sok baik terhadapku, karena selama ini tidak ada yang pernah benar-benar tulus menyayangiku," ujar Ratu dengan tersenyum mengejek.
Hesti yang sudah benar-benar emosi, akhirnya ikut angkat suara juga.
"Apa kamu pikir semua orang berpikiran picik seperti kamu? Kami juga tidak mau memiliki Menantu seperti kamu, tapi kami takut kalau nanti kamu sampai hamil Anak Nanda."
"Kalau nanti aku hamil, aku tinggal gugurkan saja kandunganku. Gampang kan?" ucap Ratu dengan entengnya.
"Ratu," teriak Farel dengan memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, dan sesaat kemudian Farel pingsan karena terkena serangan jantung.
Ratu terkejut ketika melihat Farel pingsan, apalagi Farel baru saja sembuh dari penyakit stroke nya.
__ADS_1
"Puas kamu membuat Ayah kamu seperti ini?" ujar Ayu dengan menangis, padahal biasanya Ayu tidak pernah sekali pun memarahi Ratu, dan Ayu selalu sabar menghadapi Anak sambungnya tersebut, tapi kali ini Ratu sudah benar-benar keterlaluan.
"A_aku tidak bermaksud membuat Daddy seperti itu," ucap Ratu dengan lirih.
Saat ini ada rasa bersalah yang menjalar pada hati Ratu. Ratu juga takut apabila sesuatu yang buruk kembali menimpa Farel.
"Sebaiknya sekarang kita segera membawa Farel ke Rumah Sakit," ujar Irwan.
Irwan, Nanda dan Papa Andi menggotong Farel menuju mobil, tapi ketika Ratu hendak ikut mengantar Farel, Ayu kembali angkat suara.
"Kamu tidak perlu ikut ke Rumah Sakit, karena keberadaan kamu hanya akan membuat kondisi Mas Farel semakin memburuk. Selama ini aku selalu diam karena aku benar-benar menyayangi kamu seperti Anak kandungku sendiri, tapi kali ini kamu sudah benar-benar keterlaluan," tegas Ayu.
Setelah semuanya berangkat menuju Rumah Sakit, Ratu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.
"Maafin Ratu Dad, Ratu tidak bermaksud membuat Daddy sakit lagi," gumam Ratu dengan berderai airmata.
......................
Di tempat lain, tepatnya di Hotel milik Argadana Grup, Rizky dan Putri turun menuju Restoran untuk sarapan, karena semuanya sudah berkumpul menunggu pasangan pengantin baru tersebut.
"Pengantin baru akhirnya datang juga. Bagaimana malam pertamanya?" goda Mama Erina kepada Putri.
"Oma jangan godain Putri terus, Putri pasti malu," ujar Rizky dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Arsyi yang juga berada di sana hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, karena semenjak tragedi yang menimpanya, Arsyi berubah menjadi sosok yang pendiam dan irit bicara.
"Kenapa sih semenjak Oma pulang dari Singapura kalian jarang sekali bicara, apalagi sampai tertawa seperti dulu?" ujar Mama Erina yang merasa heran atas perubahan sikap keluarganya.
"Mungkin itu hanya perasaan Mama saja. Kami semua baik-baik saja kok," ujar Suci yang mencoba menutupi semuanya.
Suci dan Arya tadinya ingin membicarakan tentang penyakit Iqbal kepada Rizky, tapi mereka tidak mungkin berbicara di depan Mama Erina dan Arsyi.
"Rizky, kenapa Oma lihat Rizky sudah bersiap untuk berangkat kerja? Jangan bilang kalau Rizky tidak mengambil cuti nikah?" tanya Mama Erina.
"Saat ini di Rumah Sakit sedang banyak pasien, Oma. Jadi Rizky tidak bisa mengambil cuti," jawab Rizky yang mencari alasan.
Maaf Oma, Rizky terpaksa berbohong, karena Rizky tidak mau membuat semuanya merasa sedih apabila mengetahui yang sebenarnya, lanjut Rizky dalam hati.
"Putri sayang, maafin Rizky ya Nak, padahal seharusnya sebagai pasangan Pengantin baru, kalian pergi berbulan madu," ucap Oma Rahma yang merasa kasihan terhadap Putri, karena Rizky tidak memiliki waktu untuk Istrinya tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Oma, Putri juga seorang Dokter, jadi Putri mengerti bagaimana sibuknya menjadi tenaga medis, apalagi Mas Rizky masih harus bekerja di Argadana grup."
"Rizky beruntung memiliki Istri yang baik dan pengertian seperti Putri, semoga kalian segera diberikan momongan supaya Oma bisa segera menimang cicit," ucap Mama Erina dengan mata yang berbinar.
Rizky yang sedang minum sampai tersedak ketika mendengar perkataan Mama Erina.
"Sayang, pelan-pelan minumnya," ujar Putri dengan menepuk pelan tengkuk leher Rizky.
"Terimakasih," ucap Rizky dengan lirih.
"Kenapa kamu terlihat canggung seperti itu Rizky? Sekarang Putri sudah menjadi Istri kamu," ujar Mama Erina, dan Rizky hanya tersenyum menjawab pertanyaan Mama Erina.
Beberapa saat kemudian, handphone Putri terdengar berbunyi, dan ternyata itu adalah telpon dari Ayu yang ingin mengabarkan kondisi Farel.
Putri begitu terkejut ketika mendengar jika Farel dibawa ke Rumah Sakit karena mengalami serangan jantung.
"Putri, siapa yang barusan telpon? Kenapa kamu terlihat pucat seperti itu?" tanya Rizky.
"Mas, barusan Ibu telpon, katanya sekarang Ayah dibawa ke Rumah Sakit karena mengalami serangan jantung. Padahal Ayah baru saja sembuh, semoga saja penyakit stroke Ayah tidak kambuh lagi," jawab Putri.
"Kamu jangan khawatir, Ayah pasti akan baik-baik saja. Kalau begitu sekarang kita ke Rumah Sakit. Semuanya kami berangkat dulu ya," ujar Rizky dengan bergantian mencium punggung tangan Mama Erina dan kedua orangtuanya.
Suci dan Arya memutuskan untuk ikut ke Rumah Sakit juga, apalagi mereka harus melihat kondisi kesehatan Iqbal.
"Mama sama Papa akan ikut kalian ke Rumah Sakit. Oma sama Arsyi pulang ke rumahnya di antar sama Supir saja ya?" ujar Suci.
"Iya Nak, kalian tidak perlu khawatir, kalau ada apa-apa, kalian telpon Mama saja," ujar Mama Erina.
Suci dan Arya saling memberi isyarat, karena keduanya saat ini memiliki kesempatan untuk mengatakan kepada Rizky tentang penyakit Iqbal tanpa sepengetahuan Mama Erina dan Arsyi, tapi ternyata Arsyi ingin ikut juga ke Rumah Sakit sehingga membuat keduanya merasa bingung.
"Ma, apa boleh Arsyi ikut ke Rumah Sakit? Arsyi juga ingin melihat kondisi Om Farel."
"Sayang, sebaiknya Arsyi temani Oma di rumah saja ya, kasihan Oma cuma berdua sama Bibi. Kami juga perginya gak bakalan lama kok," ujar Suci yang tidak mau jika Arsyi sampai mengetahui tentang penyakit Iqbal, karena Suci dan Arya takut kalau kondisi Arsyi kembali memburuk.
Tumben Mama sama Papa tidak mengijinkan aku ikut bersama mereka? Padahal biasanya kemana pun mereka pergi aku selalu di ajak. Apa ada sesuatu yang sedang Mama dan Papa sembunyikan dariku? Batin Arsyi kini bertanya-tanya.
*
*
__ADS_1
Bersambung