Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 97 ( Dia adalah Ibu kandungmu )


__ADS_3

Arya membalikan tubuh Suci yang saat ini masih diam mematung karena terkejut mendengar pertanyaan yang Arya lontarkan.


"Suci, lihat mataku, aku tulus mencintai kamu, dan aku ingin kita selalu hidup bersama hingga maut yang memisahkan kita," ujar Arya dengan menatap lekat wajah cantik Suci.


Suci seakan terhipnotis ketika melihat wajah tampan Arya, sampai akhirnya Suci menganggukkan kepalanya serta mengakui kalau dirinya juga mencintai Arya.


"Sebenarnya aku juga mencintai Mas Arya," ucap Suci, dan Arya kembali mendekap tubuh Suci dengan erat.


Bagaimana ini, kenapa aku bisa menerima pernyataan cinta Mas Arya, sedangkan aku sendiri memiliki Suami, bahkan dua Anak, batin Suci saat ini berada dalam dilema.


"Suci, kamu tidak boleh menarik kembali perkataanmu, karena aku tidak akan mengijinkannya. Sekarang kita berdua sudah resmi pacaran," ujar Arya dengan terus mengembangkan senyuman.


"Tapi, bagaimana kalau Mas Rian mengetahui tentang perselingkuhan kita?" tanya Suci yang terlihat cemas.


"Kamu jangan khawatir, dan jangan terlalu banyak pikiran. Rian pasti akan mengerti dengan perasaan yang kita miliki," dan Rian pasti tidak akan marah, karena kamu adalah Istriku, lanjut Arya dalam hati.


"Mas, tapi aku takut menyakiti hati Mas Rian, dia pasti akan kecewa dengan perbuatan kita. Apa tidak sebaiknya kita merahasiakan hubungan kita dari semua orang?" usul Suci.


"Baiklah, jika memang itu menjadi keinginanmu, aku akan mengabulkannya," ujar Arya dengan tersenyum, kemudian secara perlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir Suci.


Aku tau kalau yang aku lakukan dengan Mas Arya adalah dosa yang besar, tapi entah kenapa, aku ingin selalu berada di dekatnya. Maafkan aku Mas Rian, karena aku telah mengkhianati pernikahan kita, ucap Suci dalam hati.


......................


Di tempat lain, Rian terkejut ketika bingkai Fhoto Suci dan dirinya yang tengah ia pegang tiba-tiba terjatuh, bahkan pecah.


"Apa ini sebuah pertanda jika aku harus ikhlas mengembalikan Suci kepada orang yang sudah seharusnya hidup bersama Suci?" gumam Rian dengan berderai airmata.


Rian teringat dengan kata-kata terakhir mendiang Mama Linda yang menyuruh Rian supaya mengembalikan Suci kepada Arya, dan Rian sudah bertekad akan melakukan semua itu, meski pun hatinya pasti akan terluka.


"Apa aku pergi saja dari sini supaya Suci bisa hidup bahagia bersama Arya? Sebaiknya aku bertanya dulu kepada Arya tentang rencana dia, karena Suci pasti akan merasa bingung jika aku meninggalkannya begitu saja," gumam Rian, kemudian memutuskan untuk ke luar dari dalam kamar, karena dari tadi Bi Sari terus mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak Rian makan.


Rian terkejut ketika melihat Bu Rita yang saat ini berada di rumahnya, dan Rian bergegas menghampiri Bu Rita, kemudian mencium punggung tangannya.


"Ibu dan Putri, kapan datang?" tanya Rian.


"Kami baru tiba sekitar satu jam yang lalu. Nak, Ibu mewakili Alina mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Nyonya Linda. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT," ucap Mama Linda yang di Amini oleh semuanya.


"Makasih banyak Bu, karena Ibu sampai repot-repot datang ke sini," ujar Rian.

__ADS_1


"Untung saja Ibu datang ke sini, kalau tidak, mungkin Ibu tidak akan tau kalau Putri Ibu masih hidup. Rian, Ibu sangat kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan kepada Suci, dan sekarang Ibu harap kamu mengembalikan Suci kepada Suaminya," ujar Bu Rita.


"Iya Bu, Rian juga sudah berniat melakukan semua itu, tapi Rian sedang memikirkan bagaimana cara Rian mengembalikan Suci kepada Arya, sedangkan Arya bilang kalau Suci masih mengira jika Rian adalah Suaminya."


"Bagaimana kalau kamu pura-pura menceraikan Suci, kemudian suruh Suci menikah dengan Arya?" usul Hesti.


"Tapi nanti Suci akan bingung kalau tiba-tiba Rian berbuat seperti itu," ujar Bu Rita, sampai akhirnya Irwan memperlihatkan fhoto Suci dan Arya yang sedang berpelukan di Rumah Sakit, karena Arya sengaja mengirimkan fhoto selfi dirinya dan Suci kepada Irwan.


"Sepertinya rencana Arya untuk membuat Suci jatuh cinta sudah berhasil, jadi Rian memiliki alasan kuat untuk pura-pura menceraikan Suci dengan alasan jika Suci dan Arya sudah berselingkuh," ujar Irwan dengan tersenyum bahagia, begitu juga dengan Bu Rita dan Hesti, sedangkan Rian merasakan sesak dalam dadanya, karena sekarang Rian sudah benar-benar kehilangan Suci untuk selama-lamanya.


Sekarang Suci dan Arya sudah kembali bersama, jadi aku tidak perlu menjenguk Suci ke Rumah Sakit, karena mereka pasti akan merasa terganggu dengan kehadiranku, ucap Rian dalam hati.


Irwan yang melihat raut wajah Rian, meminta maaf atas perkataannya yang sudah membuat Rian merasa sedih.


"Rian, kami mengerti dengan perasaan kamu, maaf jika perkataan kami sudah membuat kamu merasa sedih," ucap Irwan.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu Irwan, dari dulu seharusnya aku sadar, jika Suci sudah menjadi Istri Arya. Sekarang aku pasti akan mendukung rencana kalian," ujar Rian dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


......................


Papa Ferdi yang baru pulang dari perjalanan bisnis, langsung mencari keberadaan Putri dan Bu Rita, karena beliau ingin memberikan oleh-oleh untuk mereka.


"Kenapa sih datang-datang yang Papa cari itu mereka? Seharusnya Papa menanyakan kabar Alina, bukan mencari Pembantu dan Anak cacat itu," ujar Alina.


Papa Ferdi merasa geram mendengar perkataan Alina, tapi beliau berusaha menahannya mengingat kondisi Alina yang saat ini tengah hamil, sampai akhirnya Farel yang baru pulang bekerja, menghampiri Alina dan Papa Ferdi.


"Papa sudah pulang?" tanya Farel.


Farel sudah dapat menebak jika Papa Ferdi pasti akan murka ketika mengetahui kalau Alina sudah menyuruh Bu Rita dan Putri pergi ke Jawa Timur.


"Iya Nak. Apa kamu tau dimana Rita dan Putri? Karena Papa tidak menemukan keberadaan mereka di dalam kamar."


Farel mengajak Papa Ferdi untuk duduk terlebih dahulu, supaya Papa Ferdi merasa lebih tenang.


"Pa, sebenarnya tadi pagi Bu Rita dan Putri berangkat ke Jawa Timur untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Tante Linda," ujar Farel.


"A_apa? Alina, kenapa kamu menyuruh Rita dan Putri pergi ke Jawa Timur? Padahal kamu bisa kan mengirim rangkaian bunga sebagai ucapan bela sungkawa?"


"Alina memang sengaja menyuruh mereka pergi jauh dari sini, karena tensi Alina pasti naik ketika melihat wajah mereka yang selalu membuat Alina merasa kesal. Kalau perlu mereka sebaiknya tidak usah kembali lagi ke sini untuk selama-lamanya," ujar Alina dengan tersenyum mengejek.

__ADS_1


Papa Ferdi yang semakin geram mendengar perkataan Alina sudah melayangkan tangannya, tapi Farel mencoba menenangkan Papa Ferdi.


"Pa, Farel mohon jangan seperti ini. Farel tau kalau Papa kecewa dengan sikap Alina, begitu juga dengan Farel, tapi Papa harus tenang. Bi Rita dan Putri pasti akan baik-baik saja."


"Alina, kamu sudah benar-benar keterlaluan," teriak Papa Ferdi.


"Jadi Papa mau menampar Alina hanya demi Pembantu dan Anak Cacat itu? Silahkan tampar Pa, tampar," tantang Alina dengan menunjuk pipinya.


"Cukup Alina, jangan memancing emosi Papa. Bisa-bisanya kamu mengusir Ibu dan juga Anak kamu," ujar Papa Ferdi, sehingga membuat Alina merasa terkejut.


"A_apa maksud Papa? Bisa-bisanya Papa mengatakan jika Pembantu rendahan itu adalah Ibu Alina."


"Kamu harus tau Alina, kalau perempuan yang kamu anggap sebagai Pembantu adalah Ibu kandung kamu sendiri," ujar Papa Ferdi yang sudah tidak tahan untuk mengatakan semua kebenaran tentang identitas Bu Rita yang sebenarnya.


Alina tiba-tiba tertawa kencang, sehingga membuat Papa Ferdi dan Farel merasa bingung.


"Ternyata selama ini kalian sengaja bersekongkol untuk membodohi aku?"


"Nak kami tidak bermaksud membohongi kamu, tapi kenyataan tidak akan bisa dirubah kalau Rita adalah perempuan yang telah melahirkan kamu. Dia adalah Ibu kandung kamu, Alina."


"Harus berapa kali Alina katakan, bahwa Alina sudah tidak memiliki Ibu, karena Ibu kandung Alina sudah mati semenjak dia masuk ke dalam penjara," teriak Alina.


"Alina, Rita hanya membela dirinya, dia sudah dijebak dan difitnah, sampai kapan kamu akan membenci Ibu kandungmu sendiri?" ujar Papa Ferdi.


"Meski pun dia tidak bersalah, Alina tetap akan membencinya, karena dia sudah membuat Alina malu dalam seumur hidup. Apa Papa tau kalau dulu Alina sering dibully karena Alina adalah seorang Anak Narapidana?"


"Apa kamu tau juga kalau Rita yang sudah menyelamatkan nyawa kamu saat kamu melahirkan Putri? karena saat itu kamu membutuhkan donor darah."


"Sedikit pun Alina tidak akan tersentuh dengan perbuatannya, bahkan Alina sangat bahagia karena sudah berhasil mengusir Si Rita dan Si Putri dari sini."


"Alina, kamu tidak akan bisa memutus ikatan darah antara kamu dan Rita, apalagi darah Rita sudah menyatu dengan darahmu," ujar Papa Ferdi.


"Aku juga tidak sudi menerima darahnya. Sekarang aku akan mengeluarkan darahnya dari dalam tubuhku, supaya aku tidak terus terusan merasa berhutang budi kepadanya," ujar Alina dengan mengambil pisau buah yang saat ini berada di hadapannya, sehingga membuat Papa Ferdi dan Farel merasa panik.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2