
Susi begitu terkejut ketika melihat Suci datang ke rumah Bu Inah, dan semua yang berada di sana merasa heran kenapa Suci bisa mengenal Susi.
"Nak, apa Suci sudah mengenal Keponakan Ibu?" tanya Bu Inah.
Jadi Susi adalah Keponakan Bu Inah? Kenapa harus si Rubah licik sih? Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mengatakan kepada Bu Inah jika Susi adalah seorang Pelakor, karena Bu Inah pasti akan kecewa jiwa mengetahui tentang Susi yang dulu sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan mendiang Mas Rian, batin Suci kini berada dalam dilema.
"Be_belum Bu," jawab Suci yang terpaksa berbohong.
"Kenapa Suci bisa tau kalau nama Keponakan Ibu adalah Susi?"
"Kemarin kan Ibu sendiri yang sudah mengatakan nama Keponakan Ibu," ujar Suci yang mencoba mencari alasan supaya Bu Inah tidak merasa curiga.
"Apa iya ya? Mungkin Ibu lupa," gumam Bu Inah.
Susi yang mendengar perkataan Suci akhirnya bisa bernapas lega, padahal Susi sudah merasa takut jika Suci akan memberitahukan kelakuannya kepada Bu Inah.
Bagus deh kalau si Suci tutup mulut, jantung aku hampir saja copot karena takut dia akan mengadukan kelakuanku kepada Bi Inah kalau dulu aku sudah berusaha merebut Suaminya, ucap Susi dalam hati.
Susi yang melihat sosok Arya di samping Suci, begitu terpesona dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Mas ganteng boleh kenalan tidak?" tanya Susi dengan mengulurkan tangannya kepada Arya, tapi Arya terlihat mengacuhkannya.
Suci menghela nafas panjang melihat kelakuan Susi yang masih belum juga berubah, tapi Suci mencoba untuk bersabar karena merasa tidak enak terhadap Bu Inah.
"Oh iya Pak, kami datang ke sini mau minta bantuan buat mindahin belanjaan ke dalam toko," ujar Suci kepada Pak Maman.
"Ya sudah, ayo Nak Arya kita pindahin sekarang," ujar Pak Maman.
"Sayang, Papa mindahin barang dulu ya," ujar Arya dengan mencium kening Suci sebelum pergi, dan Susi begitu terkejut karena Susi mengira jika Suci masih menjadi Istri Rian.
Jadi lelaki tampan itu bernama Arya? Kenapa Arya mencium Suci? Dia juga menyebut dirinya Papa, tidak mungkin kan kalau dia Suami Suci? Tidak, aku tidak rela jika lelaki tampan itu menjadi milik si Suci. Dulu aku sudah gagal mendapatkan Mas Rian, tapi sekarang aku tidak akan melepaskan lelaki bernama Arya, batin Susi dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Suci yang sudah mengetahui isi pikiran Susi, berbisik di telinga Susi saat melewatinya.
"Jangan mencoba merebut apa yang sudah menjadi milikku, karena aku tidak akan pernah membiarkannya," bisik Suci dengan melangkahkan kaki ke dalam ruang keluarga rumah Bu Inah untuk mengambil Anak-anaknya.
"Apa maksud si Suci berkata seperti itu? Apa mungkin kalau Arya selingkuhannya? Aku harus menanyakan semuanya kepada Bi Inah," gumam Susi dengan mengepalkan kedua tangannya.
Setelah Suci mengambil ketiga Anaknya, Suci dan Bi Sari pamit kepada Bu Inah, dan Susi yang sudah merasa penasaran dengan hubungan Suci dan Arya, memberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Inah.
"Bi, laki-laki tampan tadi itu siapa sih? Kenapa dia terlihat romantis terhadap Suci?"
"Yang kamu maksud Nak Arya ya? Jelas romantis lah, Nak arya kan Suaminya Suci, dan ketiga Anak yang barusan Suci bawa dari sini, itu adalah Anak mereka. Kamu juga nanti bakalan kerja sama mereka," jawab Bu Inah.
Susi bagai tersambar petir di siang bolong ketika mendengar perkataan Bu Inah.
"Ke_kenapa bisa seperti itu? Bukannya Suami Suci itu adalah_" gumam Susi.
"Kamu kenapa sih Sus? Sebaiknya sekarang kamu makan dulu, setelah itu kamu istirahat, kamu sekarang pasti capek kan. Oh iya Bibi sampai lupa nanyain kabar Mbak Ijah. Gimana kabarnya Mbak Ijah? Bukannya dulu kamu sempat ikut kerja sama dia?"
"Aku udah lama gak ketemu sama Bi Ijah. Bibi benar, dulu aku sempat jadi Baby suster di tempat kerja Bi Ijah, tapi majikanku galak, jadi aku gak betah. Kalau begitu aku istirahat dulu ya Bi."
"Nanti aja Bi, Susi belum lapar."
"Napsu makan ku hilang setelah mendengar jika Arya adalah Suami Suci, padahal aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Arya. Kenapa bisa Suci menikah dengan Arya, memangnya Mas Rian kemana? Kenapa sih hidup si Suci selalu beruntung? Dia selalu mendapatkan Suami yang tampan dan kaya. Aku sebenarnya tidak mau jadi Babu nya si Suci, tapi sekarang aku butuh pekerjaan," gumam Susi dengan mondar mandir, sampai akhirnya Susi terbesit ide jahat.
Sebaiknya aku bekerja di Toko milik Suci supaya aku bisa merebut Arya, ucap Susi dalam hati.
......................
Malam pun kini telah tiba, dan Arya yang melihat Suci melamun, tiba-tiba memeluk tubuh Suci dari belakang.
"Mama kenapa sih melamun terus? Pasti ada yang sedang Mama pikirkan?" tanya Arya dengan mengusap lembut kepala Suci.
__ADS_1
Apa aku cerita saja sama Mas Arya tentang siapa Susi sebenarnya? Aku takut kalau Susi berusaha menggoda Mas Arya seperti yang dulu pernah dia lakukan kepada Mas Rian, ucap Suci dalam hati.
"Sayang, kalau ada masalah Mama cerita sama Papa. Bukannya Suami Istri itu harus saling jujur dan saling percaya?"
Suci terlihat menghela nafas panjang, kemudian Suci membalikan tubuhnya menghadap Arya.
"Pa, Mama takut kalau Papa akan tergoda dengan Susi," ucap Suci dengan lirih.
"Kenapa Mama bicara seperti itu? Apa Mama tidak percaya dengan kesetiaan cinta Papa?"
"Mama bicara seperti itu karena Mama memiliki alasan Pa."
"Memangnya apa alasan Mama? Karena Papa yakin kalau Mama sudah mengenal Susi, dan Mama pasti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu kan?"
"Papa benar, Mama sebenarnya sudah mengenal Susi saat dulu Mama dibawa oleh mendiang Mas Rian ke Kalimantan. Susi pernah menjadi Baby Suster Iqbal, dan dulu Susi sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan mendiang Mas Rian."
Suci menceritakan kronologi kejadian saat Susi menggoda Rian, sampai akhirnya Rian mengusir Susi dari rumahnya.
"Apa? Jadi Susi bukan perempuan baik-baik? Ma, sebaiknya kita jangan menerima Susi bekerja di Toko, Papa tidak mau dekat dengan perempuan seperti itu."
"Tapi Mama tidak enak kepada Bu Inah dan Pak Maman. Apa yang harus Mama katakan kalau kita tiba-tiba menolak Susi bekerja membantu di Toko?"
Arya terlihat berpikir, karena Arya juga tidak mungkin mengatakan kepada Bu Inah dan Pak Maman tentang kelakuan Susi.
"Mama percaya kan sama Papa? Papa tidak mungkin tergoda oleh perempuan manapun, karena Papa sudah memiliki perempuan paling cantik dan paling baik di Dunia ini," ujar Arya kemudian memeluk serta mencium Suci.
"Mama percaya sama Papa, tapi Mama tidak percaya kepada Susi, jadi Papa harus hati-hati ya sama Susi, Mama tidak mau kalau Papa dekat-dekat sama rubah licik seperti dia," cerocos Suci, dan Arya langsung membungkamnya dengan ciuman.
"Hanya akan ada satu Suci di Dunia ini, dari dulu, sekarang dan untuk selamanya," ucap Arya dengan tersenyum menatap wajah cantik Suci.
*
__ADS_1
*
Bersambung