Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 27 ( Semakin dekat )


__ADS_3

Suci akhirnya mengijinkan Arya menginap di rumah kontrakannya, karena Rizky tidak mau lepas dari gendongan Arya, bahkan saat tidur pun Rizky sampai tidur di lengan Arya, sehingga membuat Suci dan Hesti semakin merasa bingung.


"Suci, kamu lihat sendiri, Rizky dan Tuan Arya sudah seperti Ayah dan Anak saja. Bahkan wajah Rizky juga mirip banget kan sama Tuan Arya? jangan-jangan Tuan Arya memang Ayah kandung Rizky," bisik Hesti pada telinga Suci.


"Hus, kamu kalau ngomong jangan sembarangan, nanti kalau orangnya denger bisa salah paham," ujar Suci yang saat ini tengah memotong sayuran, dan Suci tidak sadar jika tangannya sampai terkena pisau karena Suci melakukan pekerjaannya sambil melamun.


"Awww," teriak Suci, sehingga membuat Arya terkejut.


"Tunggu sebentar ya sayang, Papa lihat Mama dulu" ujar Arya yang secara perlahan menidurkan Rizky.


"Suci, kamu kenapa?" tanya Arya.


"Saya tidak apa-apa, tangan saya hanya sedikit tergores pisau," jawab Suci, dan Arya yang melihat telunjuk Suci berdarah langsung memasukannya ke dalam mulut, kemudian secara perlahan menghisapnya supaya menghentikan pendarahan pada telunjuk Suci.


"Maaf aku sudah lancang, aku hanya mencoba menghentikan pendarahannya," ujar Arya, kemudian membantu Suci membersihkan luka nya, dan meminta kotak P3K kepada Hesti.


Suci seakan terhipnotis dengan perlakuan Arya terhadapnya, dan Suci hanya menuruti perkataan Arya tanpa protes sedikit pun.


Suci terus menatap lekat wajah tampan Arya yang saat ini tengah membalut lukanya, ada kehangatan yang menjalar pada hati Suci ketika mendapatkan perhatian dari Arya. Akan tetapi sesaat kemudian, Suci kembali teringat dengan malam tragedi yang telah menghancurkan hidupnya.


"Jangan, jangan lakukan itu," teriak Suci dengan menangis, juga menutup kedua telinganya.


"Suci, maafkan aku, aku tidak akan menyakitimu," ucap Arya dengan membawa Suci ke dalam pelukannya supaya Suci merasa lebih tenang.


"Tolong, tolong, jangan lakukan itu," ucap Suci dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Arya, sehingga Arya semakin merasa bersalah.


Kasihan Suci, pasti kejadian itu sudah membuatnya mengalami trauma. Maafkan aku Suci, karena aku adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupmu. Aku memang pengecut, aku belum siap untuk mengakui semua kesalahanku, batin Arya dengan menitikkan airmata.


Hesti yang tidak mau mengganggu Arya dan Suci hanya mengintip dari balik pintu, dan Hesti bisa bernapas lega karena Suci sudah terlihat lebih baik.


"Sepertinya Tuan Arya sangat tulus menyayangi Suci dan Rizky, semoga saja mereka berjodoh. Kasihan Suci, selama ini sudah hidup menderita, semoga saja Tuan Arya bisa membahagiakannya," gumam Hesti.


......................

__ADS_1


Di lain tempat, tepatnya di kediaman Argadana, Mama Erina terlihat kesal karena Arya belum juga pulang, apalagi orang suruhan yang Mama Erina tugaskan untuk mengawasi Arya, melaporkan jika saat ini Arya sedang berada di rumah seorang perempuan.


"Aku harus segera menemui perempuan yang sudah membuat Arya menjadi berubah, aku tidak mau kalau sampai Arya berhubungan dengan perempuan miskin yang tidak sederajat dengan keluarga Argadana," gumam Mama Erina.


Mama Erina mencoba menelpon Arya, tapi Arya bilang jika Arya tidak akan pulang karena masih ada pekerjaan, sontak saja semua itu membuat Mama Erina semakin merasa geram terhadap sosok perempuan yang Arya cintai.


"Mama kenapa sih dari tadi uring-uringan terus?" tanya Papa Fadil.


"Pa, Arya sudah benar-benar keterlaluan, Arya sepertinya sudah dibutakan oleh cinta. Papa tau, malam ini bahkan Arya bilang tidak akan pulang."


"Ma, dulu saat Arya kelayapan tidak jelas dan menghambur hamburkan uang dengan berfoya foya Mama selalu membiarkannya, bahkan Mama tidak pernah menanyakan Arya pergi kemana. Kenapa sekarang setelah Arya berubah menjadi lebih baik, Mama malah terlihat tidak suka?" ujar Papa Fadil yang tidak habis pikir dengan pemikiran Mama Erina.


"Pa, dulu Arya belum tertarik untuk mengenal seorang perempuan, bahkan Arya tidak mau menjalin hubungan apalagi sampai memiliki rencana untuk berumah tangga, tapi sekarang situasinya berbeda, Arya sudah memiliki keinginan untuk berumah tangga."


"Terus letak salahnya dimana Ma? Arya sudah dewasa, wajar saja jika Arya ingin segera berumah tangga. Papa justru mendukung Arya, karena sekarang Arya sudah menjadi pengusaha yang sukses dan bertanggung jawab, dan Papa yakin jika alasan di balik semua itu karena Arya berjuang untuk perempuan yang dia cintai."


"Pokoknya Mama tidak mengijinkan Arya menikah dengan perempuan yang tidak sederajat dengan kita. Apa kata orang nanti jika mengetahui pewaris tunggal keluarga Argadana menikah dengan perempuan miskin?"


"Ma, Papa kecewa sama Mama, kenapa sekarang Mama selalu melihat seseorang dari hartanya? Mama bukan Erina yang dulu Papa kenal, karena Erina adalah gadis baik hati dan tidak pernah sombong," ujar Papa Fadil dengan melangkahkan kaki ke luar dari dalam kamar, karena Papa Fadil tidak ingin terus berdebat dengan Mama Erina.


......................


"Suci, aku minta maaf karena sudah lancang memelukmu," ucap Arya yang merasa tidak enak terhadap Suci, dan Suci hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, apalagi saat ini Suci merasa malu karena dia sudah membuat baju Arya menjadi basah terkena airmatanya.


"Sebaiknya sekarang Tuan ke kamar mandi dulu buat ganti baju, jangan sampai Tuan masuk angin karena memakai baju yang basah."


"Padahal tadinya aku ingin terus mengenakan baju ini, karena yang menempel pada bajuku adalah airmata kamu," ujar Arya dengan tersenyum, dan Suci memutar malas bola matanya.


Arya terlebih dahulu mengambil pakaian ganti yang selalu ia bawa dari dalam mobilnya, kemudian Arya melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi.


Arya sebenarnya merasa tidak nyaman karena rumah kontrakan Suci hanya sebesar kamar nya, tapi Arya merasa bahagia karena bisa terus berada dekat dengan Suci dan Rizky.


"Tuan, sebaiknya kita makan malam dulu," ujar Suci ketika melihat Arya ke luar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Arya, Suci dan Hesti akhirnya makan malam dengan diselingi obrolan, dan Arya selalu terlihat lahap apabila memakan masakan Suci.


"Aku lama-lama bisa gemuk kalau setiap hari terus makan masakan kamu," ujar Arya.


"Alhamdulillah kalau Tuan suka dengan masakannya. Gak apa-apa gendut juga, yang penting sehat," ujar Suci.


Hesti yang biasanya selalu bawel saat makan, hanya menyimak percakapan Suci dan Arya, karena Hesti merasa tidak enak dengan kehadiran Bos nya tersebut.


"Suci, terimakasih ya, karena kamu sudah mengijinkan aku selalu dekat dengan Rizky."


"Bukannya kita Teman? bagi saya seorang teman adalah saudara, jadi Tuan tidak perlu merasa sungkan seperti itu."


"Kamu juga terus saja memanggilku dengan sebutan Tuan, apa kamu tidak memiliki panggilan lain untukku?"


"Terus saya harus panggil apa?"


"Panggil Mas saja gimana?"


Hesti yang merasa jadi obat nyamuk akhirnya pamit ke kamar terlebih dahulu dengan alasan sudah mengantuk, apalagi Hesti ingin memberikan kesempatan untuk Suci dan Arya supaya semakin dekat.


"Tuan Arya, Suci, saya ke kamar duluan ya, saya juga sudah ngantuk banget," ujar Hesti dengan menguap.


"Tumben jam segini kamu sudah mengantuk?" ujar Suci.


"Tadi siang aku banyak kerjaan, jadi badanku pegal-pegal, siapa tau kalau berbaring bisa lebih enakan," ujar Hesti dengan bergegas masuk ke dalam kamar.


"Tuan, sebaiknya Anda juga istirahat mungpung Rizky udah tidur, karena biasanya Rizky akan terbangun tengah malam," ujar Suci.


"Aku masih belum ngantuk, tidak apa-apa kan kalau kita ngobrol dulu sebentar lagi? aku ingin mengenal kamu lebih dekat, siapa tau dari teman bisa menjadi teman hidup," ujar Arya dengan tersenyum, sehingga membuat jantung Suci berdetak kencang.


*


*

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2