Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 83 ( Memutuskan pindah ke Jawa Timur )


__ADS_3

Arya yang tadinya ingin segera pulang ke Jakarta, memutuskan untuk mengurungkan niatnya, karena Arya masih ingin melihat wajah Suci meski pun dari jauh, sampai akhirnya terbesit ide untuk mengajak Rizky pindah ke Jawa Timur supaya Rizky bisa dekat dengan Ibu kandungnya.


"Sebaiknya aku mengurus cabang perusahaan yang ada di sini, supaya Rizky bisa selalu dekat dengan Suci, meski pun kami tidak bisa lagi hidup bersama," gumam Arya dengan mata berkaca-kaca.


Arya menelpon Oma Rahma untuk menanyakan kabar Rizky, dan Arya mengatakan niatnya untuk mengajak Rizky pindah ke Jawa Timur.


📞"Nak, kenapa Arya mendadak sekali ingin pindah ke Jawa Timur?" tanya Oma Rahma yang merasa heran dengan keputusan Arya.


Aku tidak mungkin mengatakan kepada Oma jika Suci masih hidup dan aku ingin Rizky dekat dengan Suci, meski pun Suci sudah tidak mengingat kami lagi, batin Arya.


📞"Oma, Arya ingin dekat dengan Mama, makanya Arya memutuskan untuk mengurus perusahaan yang berada di sini, supaya Arya bisa sering menjenguk Mama."


📞"Tapi Oma dan Papa kamu tidak mungkin ikut pindah, apalagi Papa kamu masih harus melakukan terapi."


📞"Tidak apa-apa Oma, nanti kalau Arya ada waktu, Arya akan menyempatkan diri untuk menjenguk Oma dan Papa. Kalau begitu besok Arya akan menjemput Rizky," ujar Arya, kemudian mengucap salam sebelum menutup telponnya.


Arya kembali melamunkan Suci, dan rasanya Arya tidak rela jika Rian sampai menikahi Suci.


"Sebenarnya aku tidak rela jika Rian sampai menikahi Suci, tapi aku tidak memiliki cara untuk mencegahnya," gumam Arya dengan mengacak rambutnya secara kasar.


......................


Saat ini Rian terus saja gelisah, karena Rian selalu dihantui rasa takut jika ingatan Suci kembali, apalagi Suci sudah bertemu dengan Arya.


Tuhan, aku tau kalau aku salah jika menginginkan ingatan Suci tentang Arya hilang untuk selamanya, tapi berikan kesempatan supaya Suci bisa lebih lama lagi berada di sisiku, batin Rian dengan menitikkan airmata.


Suci terbangun dari tidurnya karena Suci ingin pergi ke kamar mandi.


"Yah, kenapa masih belum tidur?" tanya Suci yang melihat Rian berdiri di depan jendela dengan melihat ke arah luar.


Rian membalikan badannya ketika mendengar suara Suci, kemudian Rian menghampiri Suci yang terlihat kesusahan untuk bangun.


"Bunda mau ke kamar mandi ya?" tanya Rian dengan membantu Suci untuk berdiri.


"Iya Yah, tapi Bunda masih kesusahan untuk berjalan. Ayah kenapa belum tidur?"


"Ayah masih belum mengantuk, dan Ayah sengaja begadang karena takut jika Bunda membutuhkan sesuatu. Kalau begitu sekarang Ayah bantu Bunda ke kamar mandi," ujar Rian dengan membopong tubuh Suci.


Suci menatap lekat wajah Rian, tapi tiba-tiba Suci menyebut nama Arya.


"Mas Arya," ucap Suci dengan lirih, tapi Rian masih dapat mendengarnya.

__ADS_1


Kenapa Suci tiba-tiba menyebut nama Arya? Apa Suci masih mencoba mengingat Arya? Batin Rian, dan Rian merasakan sesak dalam dadanya, tapi dia berpura-pura tidak mendengar perkataan Suci.


Suci terkejut ketika menyadari jika dirinya sudah menyebut nama Arya.


Kenapa aku jadi kepikiran dengan Mas Arya? Bahkan aku melihat wajah Mas Rian seperti dia. Untung saja Mas Rian tidak mendengarnya, aku tidak mau kalau Suamiku sampai salah paham, ucap Suci dalam hati.


Rian ke luar dari dalam kamar mandi setelah Rian meletakkan Suci di atas kloset duduk, dan Suci selalu merasa heran dengan sikap Rian yang terkesan selalu menghindari Suci.


Kenapa semenjak ingatanku hilang, Mas Rian tidak pernah mau menyentuhku? Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi? Batin Suci kini bertanya-tanya.


Rian kembali masuk ke dalam kamar mandi setelah Suci memanggilnya, tapi Rian langsung menutup matanya ketika melihat kancing baju yang Suci gunakan terbuka pada bagian dadanya.


"Kenapa Ayah nutup mata?" tanya Suci yang terlihat heran.


"Sebaiknya Bunda benerin dulu kancing bajunya," ujar Rian sehingga membuat Suci semakin merasa heran.


"Bukannya kita Suami Istri? Jadi tidak apa-apa jika seorang Suami melihat aurat istrinya, begitu juga sebaliknya," ujar Suci.


Rian terlihat bingung hendak menjawab pertanyaan Suci seperti apa, karena pada kenyataannya Suci masih belum menjadi Istrinya.


"Sayang, saat ini Bunda baru saja melahirkan, jadi jangan sampai Bunda menggoda Ayah," ujar Rian mencoba mencari alasan yang pas supaya Suci percaya dengan jawabannya.


"Sebaiknya sekarang Bunda tidur lagi, Ibu menyusui harus banyak istirahat, biar Ayah yang menjaga Arsyila," ujar Rian dengan membantu Suci berbaring.


Rian dan Suci sepakat untuk memberikan nama Arsyila Khayla pada bayi cantik yang baru saja Suci lahirkan.


Meski pun pada kenyataannya Arsyi bukan darah daging Ayah, tapi Ayah akan selalu menyayangi Arsyi dengan segenap jiwa dan raga Ayah, batin Rian dengan mengusap lembut kepala Arsyila yang sedang tidur terlelap.


......................


Hesti dan Irwan sudah beberapa bulan menjalin hubungan, dan Irwan selalu menghargai prinsip Hesti yang tidak memperbolehkan Irwan menyentuhnya apalagi sampai menciumnya.


Hesti memang berbeda dari perempuan lain, dan itu yang membuat aku semakin jatuh cinta kepadanya, ucap Irwan dalam hati dengan terus menatap lekat wajah Hesti yang saat ini sedang memakan ice cream.


"Kenapa kamu terus melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Hesti dengan mengusap wajahnya, karena Hesti mengira jika ada kotoran yang menempel pada wajahnya.


"Kamu cantik, tapi bibir kamu belepotan," jawab Irwan dengan mengusap sudut bibir Hesti menggunakan Ibu jarinya.


Jantung Hesti berdetak kencang ketika mendapatkan perlakuan manis dari Irwan, karena tidak dapat Hesti pungkiri jika sosok Irwan sudah membuatnya jatuh cinta.


Aku tidak boleh jatuh cinta terhadap Irwan, karena dia adalah orang yang sudah menyebabkan Suci meninggal dunia, ucap Hesti dalam hati.

__ADS_1


"Hesti, kamu baik-baik saja kan?" tanya Irwan yang melihat Hesti melamun.


"Aku baik-baik saja, tapi sebaiknya kamu jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Sebelumnya kita sudah sepakat kalau kamu tidak boleh menyentuhku."


"Aku tidak ada maksud lain sayang, aku hanya membantu kamu membersihkan ice cream di bibir kamu," ujar Irwan dengan memegangi tangan Hesti.


"Siapa yang mengijinkan kamu memanggil aku sayang? kamu juga ngapain pegang-pegang tangan aku?" ujar Hesti, kemudian melepaskan tangan Irwan dan pergi meninggalkan Irwan begitu saja.


Irwan hanya bisa menghela nafas panjang dengan kebiasaan Hesti yang selalu meninggalkannya begitu saja, dan Irwan bergegas menyusul Hesti yang sudah berjalan cukup jauh.


Brugh


Hesti bertabrakan dengan seorang perempuan, sehingga menyebabkan tubuh Hesti hampir terjatuh, beruntung Irwan bergegas menopang tubuh Hesti.


"Hesti, kamu baik-baik saja kan?" tanya Irwan, dan Hesti hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Perempuan yang bertabrakan dengan Hesti langsung memarahi Hesti, karena barang belanjaannya terjatuh.


"Kamu itu kalau jalan pake mata? Bagaimana kalau semua barang barang branded ku rusak? Karena aku yakin kalau kamu tidak akan mampu menggantinya."


"Mbak, dimana-mana juga jalan pake kaki, aku baru tau kalau ada orang yang jalan pake mata. Lagian situ yang nabrak, kenapa jadi nyalahin orang?" ujar Hesti.


Perempuan yang bertabrakan dengan Hesti langsung diam ketika melihat Irwan, karena perempuan tersebut adalah salah satu mantan Irwan.


"Irwan sayang, kamu kemana saja? Kenapa handphone kamu susah sekali dihubungi?" tanya Serli dengan mata yang berbinar, kemudian Serli mendekati Irwan dan memeluk tubuhnya.


Hesti menatap tajam Irwan, dan Irwan langsung melepaskan pelukan Serli.


"Maaf Serli, jangan seperti ini, aku sudah punya pacar. Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini," ujar Irwan dengan menarik lembut tangan Hesti.


"Jadi perempuan kampung ini pacar kamu? Kenapa sekarang selera kamu begitu rendahan?" sindir Serli, sehingga membuat Irwan menghentikan langkahnya.


"Serli, tutup mulut kamu, karena Hesti beribu-ribu kali lipat lebih baik dibandingkan dengan kamu," tegas Irwan, kemudian mengajak Hesti pergi meninggalkan Serli yang begitu geram karena tidak terima dengan perkataan Irwan.


"Lihat saja Irwan, kamu pasti akan menyesal karena telah menghinaku, dan aku akan membuat perhitungan dengan perempuan kampung itu. Sebaiknya aku mencari tau latar belakang perempuan bernama Hesti, siapa tau aku bisa mempermalukan Hesti dengan masalalunya," gumam Serli dengan tersenyum licik.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2