
Alina yang sudah menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada Putri atas kesalahan yang sudah ia lakukan selama ini.
"Putri sayang, Maafin Mommy ya. Selama ini Mommy selalu berbuat jahat kepada Putri," ucap Alina dengan memeluk tubuh Putri.
Putri menangis bahagia karena akhirnya Alina mau memeluk nya.
"Mom, Daddy selalu bilang jika setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, yang penting kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Mommy yang sabar ya, Mommy harus ikhlas menerima cobaan dari Tuhan," ujar Putri.
"Iya Nak, Mommy akan berusaha untuk ikhlas, karena Mommy tidak tau sampai kapan Tuhan memberi Mommy kesempatan hidup."
"Mommy tidak boleh berbicara seperti itu, Putri akan selalu merawat Mommy sampai sembuh."
"Makasih banyak ya Nak, Putri memang Anak yang berbakti."
"Sudah seharusnya Putri melakukan semua itu Mom."
Alina merasa malu untuk berbicara kepada Farel, tapi Alina harus meminta maaf serta berterimakasih atas semua kebaikan Farel selama ini.
"M_Mas Farel, terimakasih atas semuanya, terimakasih karena Mas telah mendidik Putri menjadi Anak yang Saleha. Maaf jika selama ini aku tidak pernah menjadi Istri dan Ibu yang baik. Aku titip Anak-anak ya, aku yakin kalau Ayu akan merawat serta mendidik Putri dan Ratu dengan baik," ujar Alina.
"Alina, kamu tidak meminta maaf pun, aku sudah memaafkannya," ujar Farel dengan tersenyum, dan Farel bersyukur karena akhirnya Alina menyadari kesalahan yang telah dia lakukan, terutama kepada Putri.
......................
Ratu saat ini sedang duduk di Taman yang berada di depan Rumah Sakit. Suci dan Arya yang merasa khawatir kepada Ratu, mencoba mencari keberadaannya.
"Ratu sayang, Tante sama Om dari tadi nyariin Ratu, ternyata Ratu ada di sini," ujar Suci, kemudian duduk di samping Ratu.
Ratu terlihat melamun, karena Ratu merasa malu memiliki Ibu yang cacat dan buruk rupa seperti Alina.
"Tante, Ratu tidak mau memiliki Ibu yang cacat dan buruk rupa seperti Mommy, nanti Teman teman Ratu pasti akan mengejek Ratu," ujar Ratu dengan cemberut.
"Sayang, Ratu tidak boleh berkata seperti itu, karena bagaimanapun juga Mommy adalah perempuan yang sudah melahirkan Ratu ke Dunia ini, Mommy juga yang sudah merawat serta membesarkan Ratu dengan penuh cinta dan kasih sayang," ujar Suci yang mencoba memberi pengertian terhadap Ratu.
"Apa Ratu bisa menukar Mommy?" tanya Ratu sehingga membuat Suci dan Arya merasa terkejut.
__ADS_1
"Nak, Kenapa Ratu bisa berpikir seperti itu? Ratu tau kan kalau Surga itu berada di telapak Kaki Ibu?" tanya Suci.
"Ratu tau, tapi sekarang kaki Mommy hanya sampai lutut, dan Mommy sudah tidak memiliki telapak kaki lagi, jadi Surga di telapak kaki Mommy juga sudah hilang."
Suci sampai mengelus dadanya ketika mendengar perkataan Ratu yang begitu keras kepala, dan Arya mencoba menenangkan Suci dengan mengelus bahunya.
"Sabar Ma," bisik Arya.
"Sayang, meski pun telapak kaki Mommy sudah tidak ada, tapi tetap saja Ratu tidak boleh menjadi Anak durhaka. Ratu lihat Kak Putri, sekarang Kak Putri yang merawat Mommy. Apa Ratu tidak mau membantu Kak Putri berbakti kepada orangtua?" tanya Suci.
"Putri sama Mommy kan sama-sama cacat, jadi Putri pasti bahagia karena sekarang ada Temannya," ujar Ratu.
Astagfirullah, kenapa bisa Anak sebesar Ratu memiliki pemikiran seperti itu? Semoga saja Anak-anakku tidak memiliki sifat seperti Ratu, ucap Suci dalam hati.
Baru kali ini Suci yang sabar merasa kesal terhadap seorang Anak kecil, karena Ratu begitu keras kepala dan tidak mau menerima nasehat dari siapa pun.
"Sekarang Ratu ikut Tante masuk ke dalam lagi ya," ajak Suci.
"Ratu tidak mau Tante, Ratu takut melihat wajah Mommy yang seperti Monster."
"Kalau Ratu bersedia ikut Om sama Tante masuk ke dalam, nanti kami ajak Ratu ke rumah kami untuk menginap," ujar Arya yang mencoba memikirkan cara supaya Ratu mau kembali masuk ke kamar perawatan Alina.
Mata Ratu langsung berbinar ketika mendengar perkataan Arya yang akan membawanya pulang.
"Hore, nanti Ratu bisa ketemu sama Kak Rizky yang tampan," ucap Ratu yang terlihat gembira.
Suci dan Arya yang melihat tingkah Ratu sampai menepuk jidatnya.
Semoga saja Rizky tidak berjodoh dengan perempuan seperti Ratu, batin Suci.
Suci yang menyadari kesalahannya kembali berucap dalam hati nya.
Ampuni hamba Ya Allah, tidak seharusnya Hamba berkata seperti itu. Semoga saja Ratu bisa berubah menjadi Anak yang Saleha.
Suci, Arya dan Ratu berjalan beriringan menuju kamar perawatan Alina, dan Alina tersenyum bahagia ketika melihat Ratu yang kembali masuk untuk melihatnya.
__ADS_1
"Ratu sayang, sini Nak, Mommy kangen sekali sama Ratu," ujar Alina dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ratu tidak mau dekat-dekat sama orang cacat dan buruk rupa," teriak Ratu.
Hati Alina terasa sakit ketika kembali mendengar penolakan Ratu. Sedikit pun Alina tidak pernah menyangka jika Anak yang sudah ia besarkan dengan cinta dan kasih sayang, akan berkata seperti itu, bahkan dengan teganya Ratu menghina Alina.
"Alina, semoga kamu cepat sembuh ya, kamu tenang saja, kami akan menjaga Ratu dan Putri selama kamu dan Farel di rawat di Rumah Sakit," ujar Suci.
"Makasih banyak ya Suci, maaf kalau aku sudah merepotkan," ucap Alina yang merasa malu, karena ternyata yang saat ini bersikap baik kepadanya, justru orang-orang yang dulu pernah ia sakiti.
"Putri sayang, sebaiknya sekarang kita pulang, nanti besok Putri bisa menjenguk Mommy sama Daddy lagi," ujar Suci.
"Tante, tidak apa-apa kan kalau Putri di sini saja membantu Bibi merawat Mommy? Lagi pula sekarang Sekolah masih libur."
"Putri memang Anak yang baik. Putri jangan lupa jaga kesehatan ya," ucap Suci dengan memeluk Putri.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Suci, Arya dan Ratu pun pulang menuju kediaman Argadana, sedangkan Farel dan Ayu kembali menuju kamar perawatan Farel.
Sekarang di dalam kamar perawatan Alina hanya ada Alina, Putri, dan Asisten rumah tangga nya.
Putri merasa kasihan karena Alina terlihat sedih ketika melihat kepergian Ratu.
"Mommy jangan sedih ya, Ratu hanya terkejut saja ketika melihat kondisi Mommy yang sekarang, tapi Putri yakin kalau Ratu sebenarnya sangat menyayangi Mommy," ujar Putri dengan memeluk tubuh Alina, karena baru sekarang Putri bisa dengan leluasa memeluk sosok Ibu yang sudah melahirkannya.
"Nak, Putri tidak perlu menghibur Mommy, memang kenyataannya Mommy seperti Monster. Mungkin semua itu adalah karma untuk Mommy yang selalu berbuat jahat semasa hidup," ujar Alina dengan mengelus lembut kepala Putri.
Alina kembali teringat dengan kejahatan yang telah ia lakukan di masalalu, termasuk kepada Mama Linda, karena dulu saat Mama Linda mengalami kecelakaan yang membuat wajahnya dipenuhi luka bakar dan lumpuh, Alina selalu menghinanya dengan sebutan Monster juga.
Ternyata memang benar, apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai. Dulu aku sudah banyak berbuat jahat kepada orang lain. Aku masih ingat ketika mendiang Mama Linda mengalami kecelakaan, karena saat itu aku malah menghinanya seperti Monster ketika melihat wajah dan kakinya yang lumpuh. Sekarang, aku mengalami hal yang sama, bahkan aku lebih parah karena sampai kehilangan kedua kaki ku. Aku tidak mau hidup seperti ini, lebih baik aku mati saja daripada harus menjalani hidup menjadi orang cacat, bahkan Anak kandungku sendiri sampai menghinaku, ucap Alina dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1