
Setelah kepergian Rian, Arya menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas, kemudian Arya menumpahkan semuanya dengan tangisan tanpa memperdulikan orang lain yang saat ini berada di sekitarnya.
Irwan merasa iba melihat Arya yang begitu terpukul dengan takdir hidupnya, tapi lagi lagi Irwan tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Sahabatnya tersebut.
"Arya, sebaiknya sekarang kita kembali ke kamar kamu, aku tidak mau melihat kamu menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sini," ajak Irwan.
"Aku tidak peduli dengan penilaian oranglain terhadapku, karena mereka tidak tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat aku cintai. Saat aku mengetahui jika Suci meninggal dunia, rasanya aku kehilangan separuh jiwaku, tapi sekarang ketika melihat Suci hidup bersama lelaki lain, hatiku lebih hancur lagi, bahkan rasanya aku sudah tidak sanggup untuk bertahan hidup kalau bukan karena Rizky."
"Arya, apa kamu tidak merasa heran kenapa Rian dan Suci bisa memiliki Anak bernama Rizky juga?"
"Entahlah Irwan, sebaiknya kamu jangan membahas lagi tentang perempuan yang tidak pernah mencintaiku, karena semua itu hanya akan menambah luka pada hatiku."
"Arya, tapi kamu hanya mendengar perkataan Rian saja. Apa kamu percaya jika Suci pergi meninggalkan kamu dan Rizky begitu saja? Karena aku melihat sendiri jika saat itu Suci tertabrak oleh mendiang Erwin."
"Tapi tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Suci telah hidup bahagia bersama Rian. Mulai sekarang aku akan mencoba melupakan Suci dan merelakan dia untuk hidup bersama Rian, dan sebaiknya kamu merahasiakan tentang Suci yang masih hidup dari siapa pun juga, karena Suci sendiri yang menginginkan kita menganggapnya sudah meninggal."
"Arya apa kamu tidak ingin menemui Suci dan memperjuangkan cinta kamu? Bukannya kamu sendiri yang bilang jika Rian mandul, dan kemungkinan bayi yang Suci kandung adalah darah daging kamu."
"Aku tidak bisa memaksakan kehendak ku kepada orang yang sudah tidak mau hidup bersamaku lagi. Percuma Suci hidup denganku, tapi dia tidak merasa bahagia."
......................
Sepanjang perjalanan pulang, Rian tersenyum bahagia karena akhirnya Rian bisa sepenuhnya memiliki Suci tanpa bayang-bayang Arya lagi.
"Mungkin aku sudah jahat karena telah memisahkan Suci dari Anak dan Suaminya, tapi aku akan melakukan apa pun supaya Suci selalu berada di sampingku. Sebaiknya aku menikahi Suci setelah nanti Suci melahirkan, supaya Suci tidak bisa lepas lagi dariku apabila suatu saat nanti ingatannya kembali," gumam Rian dengan terus mengembangkan senyuman.
Setelah sampai rumah, Rian langsung memeluk tubuh Suci dari belakang, sehingga membuat Suci terkejut.
"Ayah kok udah pulang lagi?" tanya Suci dengan mengelap airmata yang terus saja menetes pada pipinya.
"Ayah kangen sama Bunda dan Anak-anak kita. Lagian urusannya juga sudah selesai," jawab Rian.
__ADS_1
"Sepertinya Ayah lagi bahagia?" tanya Suci yang melihat raut wajah Rian.
"Tentu saja, karena Ayah memiliki Bunda dan Anak-anak yang selalu membuat hidup Ayah selalu bahagia," meski pun pada kenyataannya aku sudah merebut kebahagiaan oranglain, lanjut Rian dalam hati.
Seharusnya aku merasa bahagia jika Suamiku merasa bahagia, tapi entah kenapa dari tadi hatiku terasa sakit, bahkan tanpa terasa air mataku terus saja menetes, batin Suci yang merasakan kesedihan dalam hatinya.
"Oh iya, bagaimana kabar Jagoan sama Tuan puteri kita? mereka tidak nakal kan?" tanya Rian dengan membalikan tubuh Suci untuk menghadap kepadanya.
"Anak-anak kita selalu baik Yah," jawab Suci.
"Kenapa Bunda menangis?" tanya Rian dengan mengelap airmata yang terus menetes pada pipi Suci, apalagi saat ini mata Suci terlihat bengkak.
"Entah kenapa hari ini perasaan Bunda merasa tidak tenang, Bunda tiba-tiba merasa sedih, tapi Bunda tidak tau apa yang sudah membuat Bunda sedih," ujar Suci.
Apa mungkin Suci sedih karena dia memiliki ikatan batin dengan Arya? Rian, kamu tidak boleh memikirkan perasaan oranglain, yang penting kamu sudah memiliki Suci dalam hidupmu, meski pun mungkin suatu saat nanti Suci akan membenciku karena telah memisahkan dia dari Arya dan Rizky, ucap Rian dalam hati, karena Rian sadar betul jika dirinya sudah melakukan kesalahan, dan setiap perbuatan yang dirinya lakukan pasti akan mendapatkan balasan.
......................
"Ya, sebaiknya kita langsung ke Rumah Sakit, badan kamu panas, aku takut kalau kamu sampai kenapa-napa," ujar Irwan.
"Aku akan baik-baik saja, karena aku masih harus berjuang untuk membesarkan Rizky."
Irwan hanya bisa menghela nafas panjang, karena Irwan sangat memahami perasaan Arya saat ini.
Perasaan Arya pasti sangat hancur, tapi dia mencoba bertahan demi Anaknya. Aku masih tidak menyangka jika Suci akan mengkhianati Arya dan lebih memilih untuk kembali kepada Rian, ucap Irwan dalam hati.
Setelah mengantarkan Arya sampai ke kediaman Argadana, Irwan langsung menuju Argadana Grup, karena Irwan harus menghadiri meeting mewakili Arya.
"Gara-gara Arya sakit, aku harus mewakilinya menghadiri meeting, padahal tadinya aku ingin langsung pulang untuk beristirahat," gumam Irwan dengan mempercepat langkahnya, sampai-sampai Irwan tidak melihat jika di hadapannya ada peringatan 'Awas lantai licin'.
Irwan terpeleset di atas lantai yang masih basah, kemudian Irwan terjatuh setelah sebelumnya menabrak Hesti yang sedang mengepel lantai.
__ADS_1
Saat ini Irwan berada di atas tubuh Hesti, dan netra keduanya saling bertatapan dengan detak jantung yang berpacu cepat, apalagi baru kali ini Hesti merasakan berada dalam posisi jarak yang begitu dekat dengan seorang laki-laki.
Hesti dan Irwan saling mengagumi, tapi Hesti kembali teringat dengan obrolan Irwan dan Farel tempo hari tentang penyebab kematian Suci.
Bukannya dia adalah Tuan Irwan? sadar kamu Hesti, jangan sampai kamu mengagumi orang yang sudah menyebabkan Suci meninggal dunia, batin Hesti.
Hesti langsung mendorong kuat tubuh Irwan hingga terjungkal di atas lantai, dan Hesti yang masih memiliki dendam atas kematian Suci, rasanya ingin sekali meninju wajah Irwan.
"Kalau jalan itu pake kaki, mata nya juga jangan merem biar gak nabrak orang," ujar Hesti dengan ketus, kemudian mengambil alat kebersihan dan pergi begitu saja meninggalkan Irwan yang masih diam mematung menatap kepergiannya.
"Perempuan yang galak, tapi dia sangat cantik," gumam Irwan dengan senyuman yang terukir pada bibirnya.
"Irwan apa sudah tidak ada kursi lagi, sehingga kamu duduk di atas lantai?" ujar Farel dengan membantu Irwan berdiri.
"Aku baru saja melihat bidadari yang turun dari khayangan," jawab Irwan dengan terus tersenyum.
"Perempuan mana yang sudah membuat kamu menjadi puitis seperti itu?"
"Apa kamu kenal dengan OB cantik yang bekerja di sini?" tanya Irwan yang memang jarang berada di Kantor karena selalu ditugaskan mengurus pekerjaan di luar kota.
"Tidak ada yang lebih cantik di Kantor ini selain Alina ku," jawab Farel dengan tersenyum ketika membayangkan wajah cantik Alina.
"Aku kira kamu mengenalnya, karena perempuan itu sudah berhasil membuat aku merasa penasaran. Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan yang bersikap ketus terhadapku. Padahal biasanya mereka yang selalu mengejar-ngejar aku," ujar Irwan.
"Apa kamu sudah berniat untuk bertobat juga?" tanya Farel.
"Aku ingin mengikuti jejak kamu dan Arya, karena aku sudah menyadari kesalahanku selama ini. Hidup cuma satu kali, jadi aku tidak mau menyia-nyiakannya," jawab Irwan.
*
*
__ADS_1
Bersambung