Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 82 ( Merasa tidak berdaya )


__ADS_3

Jantung Rian berdetak kencang ketika melihat sosok Arya berada di samping Suci, bahkan saat ini Arya menggendong bayi yang baru saja dilahirkan oleh Suci, dan semua itu membuat hati Rian bertanya-tanya.


Kenapa Arya bisa ada di sini? Apa ingatan Suci sudah kembali?


Suci tersenyum melihat kedatangan Rian, dan Suci langsung angkat suara.


"Kenapa Ayah terus saja berdiri di sana? Apa Ayah tidak mau melihat Tuan Putri kita?" ujar Suci kepada Rian, sehingga membuat Rian bernafas lega karena ternyata ingatan Suci yang hilang masih belum kembali.


Secara perlahan Rian melangkahkan kaki menghampiri Suci, kemudian Rian mencium kening Suci, sehingga membuat Arya terbakar api cemburu.


"Sayang, maaf karena Ayah tidak mendampingi Bunda saat melahirkan Tuan Putri kita," ucap Rian.


"Tidak apa-apa Yah, untung saja ada Mas baik hati yang mau mengantar Bunda ke Rumah Sakit," ujar Suci.


Jadi Arya yang sudah menolong Suci dan membawanya ke Rumah Sakit? Kenapa semuanya bisa kebetulan? Semoga saja Arya tidak curiga jika bayi yang Suci lahirkan adalah Anak kandungnya, ucap Rian dalam hati.


Dokter terlihat bingung karena sebelumnya Dokter mengira jika Arya adalah Suami sekaligus Ayah dari bayi yang Suci lahirkan.


"Maaf Nyonya, tadi saya sudah salah mengira. Saya kira Tuan yang mengantar Nyonya adalah Suami Anda, apalagi bayi yang Anda lahirkan begitu mirip dengannya," ucap Dokter.


"Tidak apa-apa Dok, saya juga tadi tidak sadar kalau yang mengantar saya bukanlah Suami saya. Terimakasih banyak ya Mas_" ucapan Suci terhenti karena Suci tidak mengingat nama Arya.


"Arya, nama saya Arya," ucap Arya yang lagi lagi harus menahan sesak dalam dadanya karena Suci bahkan tidak mengingat namanya.


Suci tiba-tiba memegangi kepalanya yang terasa sakit ketika mendengar nama Arya, dan Rian mencoba menenangkan Suci yang sedang berusaha mengingat masalalunya.


"Sayang, Bunda jangan terlalu memaksakan diri mengingat semuanya, Ayah tidak mau jika sampai Bunda kenapa-napa," ujar Rian dengan mendekap erat tubuh Suci.


"Yah, kenapa kepala Bunda terasa sakit ketika mendengar nama Arya? Bunda melihat sekilas bayangan laki-laki bernama Arya."

__ADS_1


"Mungkin nama tersebut adalah nama seseorang yang pernah menghancurkan kebahagiaan kita. Sebaiknya sekarang Bunda jangan terlalu banyak pikiran, apa pun yang terjadi, Ayah akan selalu ada untuk Bunda," jawab Rian dengan menatap tajam kepada Arya.


Arya hanya diam menatap nanar Suci yang terus memegangi kepalanya, dan Arya merasa tidak berdaya.


Aku memang bukan Suami yang baik, bahkan aku selalu saja menyakiti Suci. Kenapa Tuhan, Engkau tidak mengijinkan aku untuk membahagiakannya dan menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan kepada Suci? Ucap Arya dalam hati yang hanya bisa menyalahkan keadaaan.


Dokter meminta kepada Arya dan Rian supaya ke luar dari ruang bersalin, karena Dokter akan melakukan tindakan pasca melahirkan terhadap Suci.


"Maaf Tuan tuan, saya minta Anda berdua ke luar dulu, karena saya akan melakukan tindakan pasca melahirkan kepada Pasien," ujar Dokter.


Perawat mengambil bayi Suci dari gendongan Arya, dan entah kenapa hati Arya terasa hampa ketika berpisah dengan bayi Suci, apalagi bayi tersebut langsung menangis ketika terlepas dari gendongan Arya.


Kenapa hatiku terasa hampa saat berpisah dengan bayi Suci? Apa dia adalah Anak kandungku? Wajahnya begitu mirip denganku, bahkan dia seperti Rizky saat masih bayi dulu, karena Rizky akan menangis apabila terlepas dari pelukanku, batin Arya kini bertanya-tanya.


Arya dan Rian dengan berat hati ke luar dari kamar bersalin, dan Arya memutuskan untuk berbicara dengan Rian.


"Rian, aku ingin berbicara denganmu," ujar Arya.


Bugh bugh


Bogem mentah mendarat pada wajah Rian, karena Arya tidak terima dengan perbuatan yang sudah Rian lakukan.


"Kenapa kamu tega sekali memisahkan Suci dari Anak dan Suaminya? Kenapa saat itu kamu tidak mengatakan kalau Suci mengalami hilang ingatan?" tanya Arya dengan mata nyalang.


"Memangnya kalau aku mengatakan semuanya kepadamu tentang ingatan Suci yang hilang, apa Suci akan kembali mengingat kamu? Kalau pun dia mengingat kamu, pasti Suci akan membenci kamu, karena kamu adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupnya," ujar Rian dengan mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


Arya menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas, karena Arya lagi lagi merasa tidak berdaya ketika mengingat kenyataan jika dirinya sudah menghancurkan hidup Suci.


Rian benar, jika Suci mengingat semuanya, Suci pasti masih membenciku, karena sebelum mengalami kecelakaan, Suci begitu syok saat mengetahui jika aku adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan kehidupannya, ucap Arya dalam hati.

__ADS_1


"Arya, lepaskan Suci, biarkan dia hidup bahagia denganku. Tadi kamu lihat sendiri, setiap Suci berusaha mengingat semuanya, Suci akan mengalami sakit kepala. Jadi, lebih baik Suci melupakan semuanya, dan membuka lembaran baru tanpa bayang bayang masalalu yang hanya membuatnya merasa hancur," ujar Rian.


Arya nampak berpikir, karena saat ini pikirannya benar benar buntu.


"Rian, kamu belum menikahi Suci kan? Karena sampai saat ini aku belum menceraikan Suci, dan Suci masih istriku," ujar Arya.


"Bukannya kamu pernah bilang jika kamu akan menganggap Suci telah meninggal dunia? berarti secara tidak langsung kamu sudah melepaskan ikatan kamu dan Suci, apalagi sudah sembilan bulan kamu tidak menafkahinya. Jadi, aku sudah bisa menikahi Suci, karena dari awal aku sudah berniat untuk menikahi Suci setelah bayi kami lahir," ujar Rian.


"Tapi aku yakin jika bayi yang Suci lahirkan adalah Putri kandungku. Kamu lihat sendiri, wajahnya saja mirip sekali denganku, apalagi dulu kamu pernah mengatakan kalau kamu mandul, jadi kamu tidak mungkin bisa menghamili Suci."


"Kamu harus tau Arya, bayi siapa pun yang Suci lahirkan, Aku akan tetap menganggapnya sebagai darah dagingku sendiri, dan kamu harus ingat, kalau Suci hanya mengingat jika aku adalah Suami sekaligus Ayah kandung dari Anaknya, bukan kamu." tegas Rian.


"Sampai kapan kamu akan menutupi semua kebenarannya dari Suci? Karena aku yakin jika suatu saat nanti Suci akan kembali mengingatku dan Anak kami," ujar Arya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jika ingatan Suci kembali, aku akan menyerahkan semuanya kepada Suci. Dia berhak memilih, dan Aku tidak akan melarangnya jika dia ingin kembali kepadamu," ujar Rian.


Arya hanya bisa pasrah dengan semua kenyataan yang ada di hadapannya, karena jika ingatan Suci kembali pun, Suci pasti akan membencinya.


Rian memang benar, sekarang aku tidak bisa memaksa Suci untuk kembali kepadaku, apalagi saat ini Suci tidak mengingatku. Suci, meski pun kamu tidak mengingatku, tapi aku akan tetap menyimpan rasa cinta yang aku miliki hanya untukmu. Jika memang kita ditakdirkan hidup bersama, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa bersatu kembali, ucap Arya dalam hati, kemudian melangkahkan kaki untuk ke luar dari Rumah Sakit, tapi sebelum Arya pulang, Arya terlebih dahulu membayar semua administrasi persalinan Suci.


Setelah kepergian Arya, Rian memutuskan untuk menyelesaikan administrasi Suci, supaya Suci bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan.


"Bu, saya ingin membayar administrasi atas nama Pasien Suci Pratiwi," ujar Rian.


"Maaf Tuan, tapi baru saja Suami Pasien sudah melunasi semua administrasinya, dan sekarang Pasien atas nama Suci Pratiwi sudah bisa dipindahkan ke kamar terbaik yang Rumah Sakit ini miliki," ujar petugas administrasi.


Rian tidak banyak bertanya kepada petugas bagian administrasi, karena Rian sudah bisa menebak jika Arya yang telah membayar semuanya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2