
Sepuluh tahun kemudian..
Selama sepuluh tahun, Putri dengan sabar dan penuh kasih sayang merawat Alina, begitu juga dengan Ayu yang selalu membantu menyiapkan semua kebutuhan Alina, apalagi Ayu sudah menganggap Alina sebagai saudaranya sendiri.
Ayu yang kebetulan pernah menuntut ilmu di Pesantren, membantu Alina memperdalam ilmu agama, bahkan saat ini Putri dan Alina sudah mengikuti Ayu dengan mengenakan jilbab serta berpakaian yang menutup aurat.
Berbeda dengan Putri, sosok Ratu justru tidak pernah satu kali pun datang untuk menjenguk Ibu kandungnya tersebut, malah semakin hari tingkah Ratu semakin menjadi-jadi.
"Ratu, bagaimanapun juga Mommy adalah Ibu kandung yang sudah melahirkan kamu. Sampai kapan kamu akan menjaga jarak dengannya? Setidaknya kamu datang untuk menjenguk Mommy kamu," teriak Farel yang selalu merasa kesal menghadapi Ratu yang keras kepala, apalagi saat ini kondisi Alina semakin memburuk.
"Dad, terserah Ratu dong mau pergi atau tidak, kenapa Daddy selalu memaksa Ratu?" teriak Ratu yang tidak mau kalah.
Farel mengacak rambutnya secara kasar, rasanya Farel sudah benar-benar merasa emosi terhadap Ratu.
"Istighfar Yah, kita harus sabar menghadapi Ratu," ujar Ayu dengan mengusap lembut punggung tangan Farel yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
"Bu, sekarang Ratu bukan Anak kecil lagi, bahkan minggu depan Ratu sudah masuk SMA," ujar Farel.
Ratu yang merasa tidak suka terhadap Ayu, selalu menyalahkan Ayu atas kecelakaan yang menimpa Alina.
"Kamu itu cuma Ibu tiri, jadi tidak usah ikut campur urusan keluarga ku. Mommy juga mengalami kecelakaan karena kamu sudah merebut Daddy. Dasar Pelakor," teriak Ratu pada Ayu.
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Ratu, karena Farel sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Daddy tega sekali menampar Ratu hanya demi perempuan ini?" ucap Ratu dengan menangis.
"Sekali lagi kamu berani bersikap tidak sopan terhadap Ibu kamu, Daddy tidak akan segan mengusir kamu dari rumah ini," ujar Farel dengan penuh penekanan.
Ratu yang merasa kesal terhadap Farel dan Ayu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, maaf ya karena Ayah tidak bisa mendidik Ratu dengan baik. Ayah merasa gagal menjadi orangtua," ucap Farel dengan memeluk Ayu.
"Yah, jangan menyalahkan diri sendiri. Sebaiknya kita terus berdo'a supaya Ratu menjadi Anak yang Saleha," ujar Ayu.
Rumah tangga Farel dan Ayu sudah berjalan selama sepuluh tahun, tapi sampai saat ini Ayu masih belum hamil juga. Meski pun seperti itu, Ayu dan Farel tidak pernah mempermasalahkan tentang memiliki momongan, apalagi Ayu sudah menganggap Putri dan Ratu sebagai Anak kandungnya sendiri, walau pun pada kenyataannya Ratu masih belum bisa menerima Ayu sebagai Ibu sambungnya.
Beberapa saat kemudian, Bi Darmi datang ke rumah Farel untuk memberitahukan tentang kondisi Alina yang semakin memburuk.
"Tuan, sekarang kondisi Nyonya Alina sudah semakin memburuk, dan Nyonya Alina menyuruh Bibi untuk memanggil Tuan dan Nyonya," ujar Bi Darmi.
__ADS_1
Ayu dan Farel bergegas menuju tempat tinggal Alina yang berada di samping rumah mereka, dan saat ini Putri sedang membaca surat Yasin untuk Alina.
"Sebaiknya sekarang kita bawa Alina ke Rumah Sakit," ujar Farel.
"Ti_dak perlu Mas. Aku sudah tidak kuat lagi. Mama dan Papa sudah datang untuk menjemput ku. Aku titip Putri dan Ratu ya, terimakasih atas kebaikan Mas Farel dan Ayu selama ini."
Ayu, Putri dan Bi Darmi menangis mendengar perkataan Alina, begitu juga dengan Farel yang ikut menitikkan airmata.
"Putri, Mommy sayang Putri. Terimakasih banyak ya Nak, karena Putri sudah mau merawat Mommy. Mommy titip Ratu," ucap Alina dengan lirih.
Ayu membimbing Alina untuk membaca dua kalimat syahadat, dan beberapa saat kemudian, Alina mengembuskan nafas terakhirnya.
"Mom, bangun Mom. Ibu, kenapa Mommy tidak bangun juga?" tanya Putri dengan menangis.
Farel memeriksa denyut nadi Alina, dan Farel menganggukkan kepalanya kepada Ayu sebagai isyarat.
"Putri sayang ikhlaskan Mommy ya, sekarang Mommy sudah beristirahat dengan tenang," ujar Ayu dengan memeluk tubuh Putri.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap semua yang berada di sana, dan Putri semakin menangis kencang dalam pelukan Ayu.
Beberapa saat kemudian, tetangga Farel berdatangan setelah sebelumnya Ketua RT mengumumkan berita meninggalnya Alina di speaker Mesjid, sedangkan Ratu yang mendengar berita kematian Alina tetap diam di dalam kamarnya.
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang membuat aku malu," gumam Ratu, karena selama ini Ratu selalu merasa malu untuk mengakui Alina sebagai Ibu kandungnya.
Farel menarik headset yang menempel pada telinga Ratu hingga terlepas.
"Kamu benar-benar sudah keterlaluan Ratu. Apa kamu tidak mendengar kalau Mommy kamu meninggal dunia?" teriak Farel.
"Terus Ratu harus gimana Dad? Apa Ratu harus menangis? Percuma juga Ratu menangis, karena semua itu tidak akan membuat Mommy hidup lagi," ucap Ratu dengan entengnya.
Farel memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, karena perkataan Ratu sudah benar-benar keterlaluan.
"Dasar Anak durhaka !!" teriak Farel dengan melayangkan tangannya, tapi sebelum tangannya berhasil menampar Ratu, Farel tiba-tiba pingsan.
Ratu terlihat panik, karena bagaimanapun juga selama ini Farel yang sudah memenuhi semua kebutuhannya.
"Dad, bangun Dad. Bagaimana ini, aku harus segera membawa Daddy ke Rumah Sakit, jangan sampai Daddy kenapa-napa, aku tidak mau kalau sampai jatuh miskin gara-gara Daddy sakit," gumam Ratu dengan mondar mandir.
Arya dan keluarganya datang untuk melayat, dan Arya langsung mencari keberadaan Farel menuju kamar Ratu, karena sebelumnya Ayu mengatakan jika Farel sedang pulang ke rumahnya untuk mencari Ratu.
"Ratu, kenapa Farel bisa sampai pingsan?" tanya Arya yang melihat Farel tergeletak di atas lantai.
__ADS_1
"Mu_mungkin Daddy syok karena Mommy meninggal dunia Om," jawab Ratu dengan gelagapan, karena Ratu tidak mungkin mengatakan kejadian yang sebenarnya, apalagi sejak kecil Ratu sudah naksir sama Rizky.
Semoga saja tidak ada yang tau jika aku yang sudah menyebabkan Daddy pingsan. Bagaimana nanti pandangan keluarga Om Arya kalau mereka tau jika aku selalu membuat masalah, aku tidak mau kalau nanti mereka tidak merestui hubunganku dengan Kak Rizky, batin Ratu.
"Ratu, sebaiknya sekarang kamu turun ke bawah untuk mencari bantuan, kita harus segera membawa Papa kamu ke Rumah Sakit," ujar Arya.
Ratu ke luar dari rumahnya untuk mencari bantuan, dan Ratu yang melihat Rizky dan Iqbal langsung menghampirinya.
"Kak Rizky, Kak Iqbal, tolong Ratu Kak. Sekarang Daddy pingsan, dan Om Arya meminta bantuan untuk membawa Daddy ke Rumah Sakit," ujar Ratu dengan pura-pura menangis.
Rizky dan Iqbal bergegas menghampiri Arya, kemudian keduanya membantu Arya menggotong Farel.
"Mas Arya, kenapa Suami saya?" tanya Ayu dengan menangis.
"Kita harus segera membawa Farel ke Rumah Sakit, sepertinya Farel mengalami serangan jantung," jawab Arya.
Ayu masuk ke dalam mobil terlebih dahulu untuk memangku kepala Farel, sedangkan Rizky duduk di samping Arya yang sudah berada di belakang kemudi.
"Om, Ratu ikut juga ya," ujar Ratu yang melihat Rizky ikut ke Rumah Sakit.
"Ratu, sebaiknya kamu tinggal di sini, kamu bantu Putri dan Tante Suci mengurus pemakaman Mommy kamu," ujar Arya, kemudian melajukan mobilnya.
Ratu menghentak hentakan kakinya di atas tanah, karena usahanya untuk mendekati Rizky selalu saja gagal.
"Ratu, sekarang kita masuk ke dalam yuk," ajak Arsyila.
"Aku lagi gak enak badan, sebaiknya aku kembali ke rumah saja," ujar Ratu dengan berlalu meninggalkan Arsyila dan Iqbal.
"Kak, kenapa Ratu bersikap seperti itu ya, padahal yang meninggal kan Ibu kandungnya?" tanya Arsyila kepada Iqbal.
"Kita tau sendiri bagaimana sikap Ratu selama ini, jadi Arsyi tidak usah memperdulikan Ratu. Sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam, mungkin Mama sama Putri membutuhkan bantuan," ujar Iqbal dengan menggandeng Arsyi.
Ketika keduanya hendak masuk, Arsyila hampir saja tertabrak oleh beberapa orang yang hendak ke luar dari dalam rumah duka, untung saja Iqbal bergegas menarik tangan Arsyila hingga kepala Arsyila menabrak dada bidang Iqbal.
Deg deg deg
Jantung Iqbal berdetak kencang ketika berada pada jarak yang begitu dekat dengan Arsyila.
Perasaan apa ini? Tidak mungkin kan kalau aku jatuh cinta kepada Adik kandungku sendiri? Batin Iqbal kini bertanya-tanya.
*
__ADS_1
*
Bersambung