
Ketika Arya membuka matanya, Arya merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, karena baru kali ini Arya tidur di atas lantai.
"Perasaan semalam aku tidak kebagian bantal sama selimut, kenapa sekarang aku sudah pake bantal sama selimut?" gumam Arya.
Arya menyunggingkan senyuman karena pasti yang melakukan semua itu adalah Suci.
"Pasti Istriku tersayang yang sudah memberikan bantal sama selimut nya. Ngomong-ngomong Suci kemana ya, padahal sekarang masih belum Subuh. Apa Suci di dapur?" gumam Arya yang mencium aroma masakan.
Arya memutuskan untuk melihat Suci ke dapur, dan benar saja dugaan Arya, saat ini Suci sudah berjibaku dengan peralatan dapur.
"Sayang, kok Mama gak bangunin Papa?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci dari belakang.
"Sekarang masih jam empat Pa, Mama sengaja bangun duluan supaya bisa masak, jadi nanti bisa fokus jaga Anak-anak. Papa mau dibikinin susu atau kopi?"
"Pengennya sih minum susu dari sumbernya," jawab Arya dengan cengengesan.
"Gak usah mesum," ujar Suci dengan memutar malas bola matanya.
"Mesum sama Istri sendiri masa gak boleh?" ujar Arya, kemudian mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berada di dapur.
"Pa, cuci dulu mukanya," ujar Suci ketika melihat Arya hendak mengambil gorengan.
"Eh iya lupa," ujar Arya dengan tersenyum malu, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Suci menghampiri Arya yang terlihat merenggangkan otot tubuhnya yang terasa sakit.
"Tubuh Papa pasti sakit ya karena semalam tidur di atas lantai?" tanya Suci, kemudian memijit bahu Arya.
"Gak apa-apa kok Ma, mungkin Papa belum terbiasa saja, yang penting Papa selalu merasa bahagia karena bisa terus sama Mama dan Anak-anak," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.
__ADS_1
......................
Arya dan Suci menjalani hari-hari mereka dengan bahagia. Meski pun Suci dan keluarga hidup sederhana, tapi tidak sedikit pun mengurangi kebahagiaan mereka.
"Pa, bagaimana kalau acara syukuran ulang tahun Iqbal sama Rizky, kita satuin saja sekalian sama syukuran pembukaan toko?" ujar Suci.
Saat ini kondisi keuangan Arya dan Suci sudah semakin menipis setelah sebelumnya dipakai untuk merenovasi rumah serta membangun toko, bahkan mobil Arya pun sudah dijual dan sebagian uangnya dipakai untuk membeli mobil bak supaya bisa mengangkut belanjaan.
"Iya Ma, nanti kita undang tetangga terdekat saja, sekalian ngasih santunan sama Anak Yatim, meski pun kita tidak bisa memberi banyak," ujar Arya.
"Berapa pun yang kita sedekahkan, yang penting kita ikhlas. Ya sudah, sebaiknya sekarang kita makan siang dulu. Papa pasti cape habis ngangkut barang dagangan," ujar Suci.
Suci dan Arya bergandengan menuju teras depan rumahnya, dan di sana sudah terlihat berkumpul ketiga Anaknya, Bi Sari, juga keluarga Pak Maman yang sebelumnya sudah membantu persiapan pembukaan toko.
Semuanya makan dengan lahap masakan Suci yang selalu enak, tapi Suci masih belum bisa membuka warung nasi karena masih repot dengan ketiga Anaknya yang masih kecil-kecil.
"Nak, Suci tidak perlu sungkan, kita adalah keluarga, kalau Ibu bisa bantu, Ibu pasti akan dengan senang hati membantu kalian," ujar Bu Inah dengan memegang tangan Suci.
"Makasih banyak ya Bu, dari dulu Ibu dan keluarga selalu baik kepada Suci," ucap Suci dengan memeluk tubuh Bu Inah.
Dari kejauhan, Mama Erina menitikkan airmata ketika melihat Suci dan keluarganya yang sekarang sedang makan di teras depan rumahnya, dan Mama Erina merasa iri ketika melihat Suci memeluk Bu Inah.
Sebelumnya Mama Erina bertanya kepada Irwan tentang alamat rumah Arya di Bekasi. Meski pun Arya menyuruh Irwan untuk merahasiakan alamatnya dari keluarga Argadana, tapi Irwan tidak tega kepada Mama Erina yang terus memohon, apalagi Mama Erina berjanji hanya ingin melihat Arya dan keluarganya dari kejauhan.
"Mama ingin sekali memeluk kamu Nak, tapi sekarang Suci pasti masih belum bisa memaafkan kesalahan Mama. Mama kangen sekali sama kalian," gumam Mama Erina.
Mama Erina bersyukur ketika melihat Suci beserta keluarganya yang terlihat baik-baik saja, bahkan sekarang Suci dan Arya terlihat bahagia.
Sebenarnya tujuan Mama Erina datang ke sana berniat untuk memberikan kado, karena Mama Erina ingat dengan ulang tahun Rizky dan Iqbal.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin memberikan kado untuk Cucu cucuku secara langsung, sampai akhirnya Mama Erina menyuruh dua orang Anak laki-laki yang sedang bermain di dekat mobil miliknya.
"Nak, Ibu bisa minta tolong tidak?" tanya Mama Erina kepada dua Anak laki-laki tersebut.
"Ibu mau minta tolong apa?"
"Tolong berikan ini ke rumah itu ya, bilang saja untuk Bu Suci," ujar Mama Erina dengan memberikan sebuah paper bag yang berukuran cukup besar juga memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan kepada dua Anak lelaki yang sudah bersedia mengantarkan kado ke rumah Suci.
Setelah Mama Erina melihat dua Anak yang ia suruh memberikan kado kepada Suci, Mama Erina menyuruh Supirnya untuk segera melajukan mobilnya sebelum Suci menyadari keberadaan Mama Erina.
Suci yang merasa penasaran dengan isi paper bag, mencoba membukanya setelah keluarga Pak Maman pulang, dan ternyata paper bag tersebut berisi tiga buah kado yang bertuliskan ketiga nama Anak Suci dan Arya.
"Pa, siapa ya yang memberikan kado untuk Iqbal, Rizky dan Arsyila?" tanya Suci.
"Mungkin itu dari Neneknya," jawab Arya, dan Suci langsung memasukan kembali ketiga kado tersebut tanpa mau membukanya.
"Ma, Papa tau kalau Mama masih merasa kecewa dengan perbuatan yang telah Mama Erina lakukan, begitu juga dengan Papa, tapi kado ini untuk Anak-anak kita, jadi Mama harus memberikannya kepada Iqbal, Rizky dan Arsyi," ujar Arya dengan menangkup kedua pipi Suci.
Suci yang melihat tulisan ucapan Selamat ulang tahun di atas kado untuk Iqbal dan Rizky, terpaksa membukanya, karena perkataan Arya ada benarnya juga.
Mama Erina memberikan kado beberapa buah pakaian serta mainan untuk masing-masing Cucunya, dan Suci menitikkan airmata karena teringat kepada Mama, Papa serta Neneknya.
Seandainya saja kalian adalah keluarga Mas Arya, aku pasti akan bahagia karena memiliki keluarga yang baik dan perhatian. Akan tetapi, pada kenyataannya kalian adalah Keluarga ku sendiri, bahkan perempuan yang pada awalnya aku anggap sebagai Ibu Mertuaku, ternyata adalah Ibu kandung yang sudah tega membuang ku. Mungkin aku sudah egois karena tidak ingin berada dekat dengan keluargaku sendiri, meski pun aku sudah memaafkan, tapi rasa kecewa itu masih ada, ucap Suci dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1