Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 29 ( Permintaan Bu Rita )


__ADS_3

Papa Ferdi akhirnya hanya bisa diam karena dirinya memang sudah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Bu Rita.


Rita memang pantas membenciku, karena aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadapnya. Mulai sekarang aku akan berusaha menebus semua kesalahanku kepada Rita dengan cara apa pun juga, meski pun mungkin kami tidak akan pernah bisa kembali hidup bersama, batin Papa Ferdi.


Beberapa saat kemudian, Alina dan bayinya dipindahkan menuju kamar perawatan, dan Bu Rita meneteskan air mata ketika melihat wajah Alina yang saat ini masih belum sadarkan diri.


"Alina sayang, akhirnya kita bertemu lagi Nak. Maafkan Mama karena selama dua belas tahun ini Mama tidak bisa membesarkan Alina, Mama juga tidak bisa menemani hari hari Alina. Sekarang Alina sudah menjadi seorang Ibu, semoga Alina menjadi Ibu yang baik," ucap Bu Rita dengan mengelus lembut kepala Alina.


Bu Rita memutuskan untuk menjadi Pengasuh bayi Alina supaya Bu Rita bisa dekat dengan Anak dan Cucu nya, karena jika Alina tau kebenaran bahwa Bu Rita adalah Ibu kandungnya, Bu Rita takut jika Alina akan semakin membencinya.


"Nak Rian, apa boleh Ibu meminta tolong?" tanya Bu Rita.


"Tentu saja Bu. Memangnya Apa yang bisa Rian lakukan untuk Ibu?"


"Ibu ingin selalu dekat dengan Anak dan Cucu Ibu. Apa Nak Rian berkenan untuk mengijinkan Ibu jika Ibu berpura-pura menjadi pengasuh bayi Alina?"


"Kenapa Ibu harus berpura-pura? Alina adalah Putri kandung Ibu, apa Ibu tidak ingin mengatakan kepada Alina tentang siapa Ibu sebenarnya?"


"Ibu masih belum siap Nak, Ibu takut Alina akan semakin membenci Ibu, karena dulu saja Alina marah dan membenci Ibu ketika Ibu masuk ke dalam penjara."


"Sekarang Alina sudah dewasa Bu, mungkin Alina bisa menerima jika Ibu mengatakan kejadian yang sebenarnya."


Papa Ferdi yang mendengar permintaan Bu Rita untuk menjadi pengasuh Cucu nya Sendiri, akhirnya angkat suara.


"Rian, sebaiknya kamu ijinkan saja Rita untuk menjadi pengasuh Cucunya sendiri, karena Papa tau betul watak Alina seperti apa. Alina adalah tipe orang yang tidak akan mudah memaafkan jika dia sudah membenci seseorang, jad pasti Alina tidak akan menerima Rita begitu saja ketika dia mengetahui bahwa Rita adalah Ibu kandungnya, meski pun kita menjelaskan jika saat itu Rita hanya membela diri bahkan telah difitnah oleh Meri."


Rian akhirnya menyetujui permintaan Bu Rita, karena Rian merasa kasihan terhadap Bu Rita.


"Baiklah Bu, Rian akan membantu Ibu supaya bisa selalu dekat dengan Anak dan Cucu Ibu, meski pun tekad Rian sudah bulat untuk menceraikan Alina."


"Makasih Nak Rian, apa pun keputusan Nak Rian, Ibu tidak akan menghalanginya, apalagi jika sampai terbukti jika bayi yang Alina lahirkan bukanlah Anak kandung Nak Rian."

__ADS_1


"Terimakasih banyak Bu, karena Ibu sudah mengerti Rian."


"Nak, apa bisa Ibu meminta tolong lagi?"


"Katakan saja Bu, Ibu tidak perlu sungkan."


"Kalau tidak keberatan, Ibu minta Nak Rian mengadzani bayi Alina? meski pun nanti pada kenyataannya bayi Alina bukanlah Anak nak Rian, tapi Ibu harap Nak Rian tidak membenci bayi tidak berdosa ini."


Rian menganggukkan kepalanya, kemudian Rian mengadzani bayi perempuan yang baru saja Alina lahirkan.


................


Suci tidak bisa tidur karena terus teringat dengan Rizky yang saat ini tengah tertidur dengan Arya, sampai akhirnya Suci beberapa kali melihat Rizky dan Arya yang terlihat tidur terlelap.


"Tumben Rizky tidurnya nyenyak sekali, padahal biasanya Rizky sering bangun malam," gumam Suci dengan menatap lekat dua lelaki berbeda generasi yang saat ini berada di hadapannya. Akan tetapi, sesaat kemudian Suci terkejut ketika mendengar Arya mengigau.


"Suci, maafkan aku. Aku menyesal telah menghancurkan hidup kamu, ijinkan aku menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan," ujar Arya yang saat ini terus gelisah dalam tidurnya, dan Suci secara perlahan mendekatkan tangannya untuk memegang dahi Arya.


Suci mengambil air hangat untuk mengompres dahi Arya, dan saat ini Arya masih terus saja mengigau meminta maaf kepada Suci.


"Kenapa Tuan Arya terus saja mengigau meminta maaf kepadaku? apa mungkin jika lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku adalah Tuan Arya? tapi aku tidak yakin jika lelaki baik seperti Tuan Arya bisa melakukan perbuat seperti itu," gumam Suci.


"Suci, jangan tinggalkan aku, aku ingin selalu bersama kamu dan Rizky," gumam Arya dengan menangis, sehingga secara perlahan Suci memegang tangan Arya supaya merasa lebih baik.


"Tuan, saya akan menemani Tuan, sebaiknya sekarang Tuan minum obat dulu," ujar Suci dengan memberikan obat penurun panas kepada Arya, meski pun saat ini Arya masih dalam keadaan setengah sadar.


Suci terus mengompres dahi Arya supaya demam pada tubuh Arya segera turun.


Setelah satu jam kemudian, Suci bisa bernapas lega karena secara perlahan suhu tubuh Arya mulai normal, bahkan Arya sudah berhenti mengigau.


"Alhamdulillah Tuan Arya sudah kembali tidur," ujar Suci yang hendak melangkahkan kaki ke luar dari dalam kamar, tapi Arya terus saja memegangi tangannya.

__ADS_1


Suci yang tidak tega meninggalkan Arya memutuskan untuk duduk di samping Arya, sampai akhirnya Suci yang sudah mengantuk tidak sadar membaringkan badannya dan terlelap di samping Arya.


......................


Keesokan paginya..


Arya yang mendengar suara Adzan Subuh secara perlahan mulai membuka matanya.


"Kenapa sekarang yang aku peluk menjadi besar, bukannya semalam aku memeluk Rizky ya?" gumam Arya dengan mengumpulkan kesadarannya.


Arya tersenyum ketika melihat wajah cantik Suci yang saat ini berada dalam pelukannya, bahkan Suci yang mengira Arya guling, terus mendekap erat tubuh Arya.


"Sepertinya semalam aku demam, dan Suci yang sudah merawatku. Kasihan Suci pasti kecapean, sampai sampai Suci ketiduran di sini," gumam Arya dengan meraba dahinya yang masih terdapat sapu tangan yang Suci pakai untuk mengompres Arya.


Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut, sehingga Arya mengeratkan pelukannya juga terhadap Suci, kemudian Arya berpura-pura tidur lagi ketika melihat pergerakan pada tubuh Suci.


"Astagfirullah, aku sampai ketiduran, untung saja Tuan Arya masih tidur, kalau tidak aku pasti malau karena telah tidur dengan memeluknya. Bagaimana kalau nanti Tuan Arya sampai salah paham," gumam Suci.


Suci memegang dahi Arya untuk mengecek suhu tubuh Arya.


"Syukurlah suhu tubuh Tuan Arya sudah kembali normal. Sebaiknya sekarang aku bergegas Shalat dan masak mungpung Rizky masih tidur," gumam Suci, kemudian secara perlahan melepaskan pelukannya terhadap Arya, dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelah Suci ke luar dari dalam kamar, Arya langsung tersenyum bahagia karena mendapatkan perhatian dari Suci, bahkan Suci terlihat mencemaskan keadaan Arya. Akan tetapi, saat Arya bangun, senyuman pada bibir Arya langsung hilang seketika pada saat Arya melihat sapu tangan yang dipakai oleh Suci untuk mengompres dirinya, karena sapu tangan tersebut adalah sapu tangan milik Arya yang dulu ia pakai untuk menyumpal mulut Suci.


"Bukannya ini adalah sapu tangan milikku? dan saat itu aku memakai sapu tangan ini untuk menyumpal mulut Suci? jadi selama ini Suci masih menyimpannya? aku harus menyimpan sapu tangan ini, karena pada sapu tangan ini terdapat sulaman namaku, dan nanti saat aku sudah siap untuk mengakui kesalahanku, aku akan menunjukan sapu tangan ini sebagai bukti kejahatanku terhadap Suci," gumam Arya yang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri ketika Arya mengingat kelakuan bejatnya yang sudah menghancurkan hidup Suci.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2