
Papa Fadil merasa sangat bahagia, karena akhirnya Suci mau memaafkan kesalahannya.
"Nak, apa Suci mau menemui Mama?" tanya Papa Fadil.
"Iya Pa, Suci mau menemui Mama, tapi kita harus mencari pelaku yang sebenarnya untuk membersihkan nama Mas Arya, karena Suci tidak mau kalau oranglain menganggap Suami Suci sebagai seorang Penjahat."
"Papa pasti akan membantu kalian. Kalau begitu sekarang kita ke rumah kalian dulu, Papa juga sudah kangen sekali sama Cucu cucu Papa. Bukannya Oma juga ada di sana?" ujar Papa Fadil.
"Iya Pa, Oma membantu Suci menjaga Anak anak."
Sebelum Papa Fadil pulang ke rumah Suci dan Arya, Papa Fadil mengucapkan terimakasih kepada Pengacara Keluarga Argadana yang pamit pulang kepadanya.
"Tuan, kalau begitu saya duluan," ujar Pak Hakim.
"Iya Pak, terimakasih banyak karena telah membantu membebaskan Anak saya."
"Itu sudah menjadi tugas saya Tuan. Tuan muda, Nona, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Pak Hakim, kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke Jakarta.
Asep terkejut ketika melihat Arya yang sudah dibebaskan dari dalam Penjara.
Kenapa Mas Arya sudah bisa bebas? Bukannya hasil visum akan ke luar setelah tiga hari? Batin Asep kini bertanya-tanya
"Asep, kamu baik-baik saja kan?" tanya Suci yang melihat Asep diam mematung.
"Eh iya Teh, Asep baik-baik saja. Asep hanya terkejut melihat Mas Arya yang sudah bebas.
"Alhamdulillah Mas Arya sudah bisa bebas karena telah terbukti tidak bersalah. Kalau begitu sekarang kita pulang, tapi kami akan ikut mobil Papa," ujar Suci.
Suci dan Arya ikut naik mobil Papa Fadil, sedangkan Asep mengikuti mobil milik Papa Fadil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Suci, Asep terus saja berpikir, apalagi ketika mendengar Suci memanggil Papa Fadil dengan sebutan Papa.
"Bukannya yang tadi bersama Teh Suci adalah Tuan Fadil? Tuan Fadil adalah pengusaha sukses yang sering masuk Televisi. Kenapa Teh Suci memanggilnya Papa ya? Apa mungkin Mas Arya adalah Anaknya? Tapi kenapa Mas Arya tidak bekerja dengan Papanya dan lebih memilih membuka usaha grosir," gumam Asep, dan saat ini banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya.
__ADS_1
......................
Ketika Suci dan Arya turun dari dalam mobil, semua orang yang sedang melihat kondisi Susi di rumah Bu Inah, bergegas menghampiri Suci dan Arya, apalagi mereka penasaran dengan sosok Papa Fadil yang sering masuk televisi, sehingga semua orang mengira jika Arya dibebaskan karena mendapatkan jaminan dari Pengusaha kaya.
"Bukannya itu Tuan Fadil ya?" ujar salah satu tetangga Suci.
"Iya benar. Itu Tuan Fadil Pengusaha sukses yang sering masuk televisi," ujar salah satu tetangga lainnya.
Salah satu tetangga Suci yang merasa kesal kepada Arya karena mengira jika Arya yang telah menodai Susi, langsung saja melontarkan sindiran.
"Suci, kenapa Suami kamu sudah ke luar dari dalam penjara? Bukannya dia lelaki bejat yang sudah memperkosa Susi? Dasar lelaki tidak tahu malu."
"Bu, tutup mulut Anda, kalau Anda tidak tahu apa-apa sebaiknya Anda jangan bicara sembarangan. Asal kalian semua tau, kalau Suami saya sudah dibebaskan dari dalam penjara karena Mas Arya telah terbukti tidak bersalah. Kalian lihat sendiri bukti visum Susi," ujar Suci yang memperlihatkan bukti visum dan surat kebebasan Arya.
Susi yang mendengar perkataan Suci, bergegas ke luar dari dalam rumah.
"Ibu ibu jangan percaya perkataan Suci, pasti mereka menyogok Polisi supaya membebaskan Suaminya. Tidak mungkin hasil visum ke luar hanya dalam hitungan beberapa jam. Suci, kamu memang perempuan tidak punya hati, bagaimana kalau nasib yang sama menimpa kamu?" teriak Susi.
"Susi kamu belum tau ya kalau Suci dulu pernah menjadi korban pemerkosaan juga?" ujar salah satu Ibu ibu.
Arya dan Papa Fadil yang tidak terima dengan perkataan Susi sudah merasa geram, dan mereka hampir saja melayangkan tangannya pada Susi jika saja Suci tidak menghalanginya.
"Tutup mulut kamu Susi, kalian semua harus tau kalau lelaki yang telah memperkosa Suci adalah_"
Ucapan Arya terhenti karena Suci memotongnya, dan Suci melakukan semua itu karena tidak mau jika nanti Arya menjadi bahan cemoohan orang-orang.
"Pa cukup, Mama tidak peduli dengan perkataan oranglain, yang penting Mama tidak seperti yang mereka bicarakan. Papa dan Papa Fadil tidak perlu mengotori tangan kalian dengan menyentuh Susi, karena Suci sendiri yang akan melakukannya."
Plak Plak
Dua tamparan keras mendarat pada pipi Susi, dan Susi begitu murka sehingga berniat membalas tamparan Suci, tapi Bu Inah mencekal pergelangan tangan Susi ketika Susi melayangkan tangannya ke arah Suci.
"Cukup Susi, dari awal Bibi sudah bilang sama kamu supaya kamu tidak mengganggu Suci, apalagi sampai menyakitinya, tapi ternyata selama ini perkataan Bibi tidak kamu anggap," ujar Bu Inah dengan menangis.
__ADS_1
"Kenapa Bibi selalu saja membela Suci? Susi itu Keponakan Bibi, sedangkan Suci bukan siapa-siapa Bibi."
"Kamu salah Susi, meski pun Bibi dan Suci tidak memiliki hubungan darah, tapi cinta dan kasih sayang yang kami miliki lebih kental daripada darah. Apa kamu pikir Bibi tidak tau kalau saat di Kalimantan kamu sudah menggoda Suami majikan kamu sampai akhirnya kamu dipecat?" ujar Bu Inah yang mendengar cerita dari Bi Ijah.
Bu Inah tidak tahu jika majikan Susi dulu adalah Suci dan mendiang Rian, apalagi Suci mencoba menutupi semuanya dari Bu Inah dan keluarga supaya mereka tidak merasa bingung, dan Suci juga tidak mau menyakiti hati Arya jika mengungkit masalalunya bersama Rian.
"Jadi Bibi lebih percaya dengan perkataan Suci dibandingkan Susi?"
"Kenapa kamu selalu menyalahkan Suci? Bukan Suci yang mengatakan semua itu, tapi Bi Ijah, Bibi kamu sendiri Susi."
Susi terkejut mendengar pengakuan Bu Inah, karena Susi mengira jika Suci lah yang sudah mengatakan semuanya.
"Terus saja kalian membela Suci. Seharusnya kalian jangan tertipu oleh wajah polos si Suci. Mungkin saja kan Mas Arya bisa bebas dari Penjara karena mendapatkan jaminan dari Tuan Fadil? Kalian tau sendiri kalau Tuan Fadil adalah Pengusaha sukses dan paling kaya di Indonesia, bisa saja Suci membayar Tuan Fadil dengan tubuhnya," ujar Susi dengan tersenyum mengejek.
Darah Papa Fadil mendidih mendengar perkataan Susi yang sudah menghina Suci.
"Tutup mulut kamu, harus kalian semua tau kalau Suci adalah Anak kandung saya," teriak Papa Fadil, dan Susi hampir saja pingsan ketika mendengarnya.
"Ke_kenapa bisa seperti itu?" gumam Susi.
Bagaimana ini, aku sudah menyinggung orang penting seperti Tuan Fadil. Kalau saja aku tau dari awal jika Suci adalah Anak orang kaya, aku pasti tidak akan mencari masalah dengan Suci, tapi sekarang sudah terlambat, dan aku akan tetap melawan Suci sampai tetes darah penghabisan, ucap Susi dalam hati yang sebenarnya sudah merasa ketakutan.
Semua orang yang berada di sana terkejut ketika mengetahui yang sebenarnya, dan saat ini semuanya terdengar membicarakan Suci.
"Suci, maaf ya, selama ini kami tidak tau kalau kamu adalah Anak orang kaya," ucap salah satu Ibu.
"Di mata Tuhan semua manusia sama, yang membedakan hanyalah keimanannya, dan saya harap Ibu-ibu tidak memandang seseorang karena harta kekayaan yang dimilikinya, karena semua itu hanyalah titipan. Susi, apa sekarang kamu sudah siap untuk masuk ke dalam penjara?" ujar Suci.
"Memangnya apa kesalahan yang telah aku lakukan? Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, karena di sini aku adalah korban," ujar Susi yang mencoba bersikap tenang.
"Apa kamu lupa kalau kamu sudah memfitnah Suamiku? Aku juga bisa melaporkan kamu atas pencemaran nama baik, dan semua yang di sini bisa menjadi Saksinya, kalau tadi kamu sudah menghinaku," ujar Suci, sehingga membuat Susi diam tidak berkutik.
*
__ADS_1
*
Bersambung