Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 185 ( Pilih Putri atau Dinda )


__ADS_3

Pak Tamrin merasa terkejut ketika mendengar perkataan Cindi, ada rasa bersalah yang menjalar pada hatinya, karena selama ini Pak Tamrin sudah membohongi Anak-anaknya.


"Nak, bukannya di Dunia ini ada tujuh orang yang memiliki wajah yang mirip? Mungkin hanya kebetulan saja dia mirip dengan Bapak, apalagi saat dulu Adik kamu hilang, dia masih bayi, bahkan Bapak belum sempat memberikan nama," ujar Pak Tamrin dengan tertunduk sedih.


"Iya juga sih. Bapak jangan sedih ya, semoga saja dimana pun Adik Cindi berada, dia selalu bahagia," ujar Cindi yang di Amini oleh Pak Tamrin.


Cindi terus menatap lekat wajah Iqbal yang masih belum sadarkan diri, dan Cindi begitu kagum ketika melihat wajah Iqbal yang tampan.


"Tapi kalau dilihat-lihat dia tampan juga ya Pak," ujar Cindi dengan cekikikan.


Cindi yang sedang mengobati luka Iqbal, tidak sadar telah menekan kuat luka pada wajah Iqbal, sampai akhirnya Iqbal terbangun karena merasa kesakitan.


"Aww sakit," pekik Iqbal dengan memegang pipinya yang bengkak.


"Aduh, kamu udah sadar Tong? Maaf ya aku gak sengaja menekan luka kamu saking semangatnya," ujar Cindi yang terlihat salah tingkah.


"Kamu siapa? Aku dimana?" tanya Iqbal.


"Eh, sepertinya perkataan kamu salah deh, seharusnya begini Tong, kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa? Eh kenapa malah nyanyi ya?" ujar Cindi dengan terkekeh juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mbak siapa? Apa Mbak yang sudah menolong saya?" tanya Iqbal.


"Perkenalkan nama Aye Cindi Bin Bapak Tamrin," ujar Cindi, dan Iqbal terkejut ketika mendengar nama Tamrin.


Kenapa nama Bapak nya Cindi sama ya dengan nama Bapak kandung ku? Mungkin itu hanya kebetulan saja, batin Iqbal.


"Nak, kamu baik-baik saja kan? Perkenalkan nama saya Pak Tamrin, saya Bapak nya Cindi," ujar Pak Tamrin dengan tersenyum, dan hati Iqbal terasa hangat ketika melihat senyuman Pak Tamrin.


"Mbak Cindi, Pak Tamrin, terimakasih banyak ya karena kalian sudah menolong saya. Perkenalkan nama saya Iqbal," ujar Iqbal dengan mengulurkan tangannya kepada Pak Tamrin, kemudian Iqbal mencium punggung tangan Pak Tamrin.


Iqbal sepertinya Anak yang baik. Semoga saja Putra Bungsu ku juga menjadi Anak yang baik seperti Nak Iqbal, ucap Pak Tamrin dalam hati.


"Sudah seharusnya kita saling tolong menolong, tapi kamu panggil aku Cindi saja, palingan juga umur kita gak jauh-jauh amat."


"Iya, makasih banyak Cindi."


Pak Tamrin merasa penasaran dengan sosok Iqbal, dan Pak Tamrin berinisiatif untuk menanyakan nama orangtua Iqbal.


"Nak, apa Bapak boleh tau nama orangtua Iqbal?" tanya Pak Tamrin dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


"Ibu saya bernama Suci, sedangkan Ayah saya bernama Arya," jawab Iqbal.


Pak Tamrin merasa kecewa ketika mendengar nama Arya, karena Pak Tamrin masih mengira jika Anak kandungnya dirawat oleh Rian.


Ternyata aku salah, sepertinya Iqbal bukan Anak yang aku berikan kepada Nak Rian. Meski pun nama Ibu nya sama bernama Suci juga, tapi nama Ayah nya bukan Rian, ucap Pak Tamrin dalam hati.


"Nak, kenapa Nak Iqbal bisa sampai pingsan di Terminal Bus?" tanya Pak tamrin.


"Sebenarnya Iqbal sedang mencari orangtua ka_" perkataan Iqbal terhenti karena mendengar seseorang yang mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum," ucap Bang Rojali yang baru pulang bekerja.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.


"Syukurlah ternyata kamu sudah bangun Tong," ucap Bang Rojali.


"Abang siapa ya? Apa kita saling kenal?" tanya Iqbal.


"Perkenalkan nama aye Rojali Bin Bapak Tamrin," jawab Bang Rojali.


"Oh, jadi Abang Kakak nya Cindi ya?"


"Iqbal, tadi itu Bang Rojali yang nyuruh aku bawa kamu ke sini, karena Bang Rojali kasihan sama kamu, apalagi wajah kamu mirip sekali sama Bapak saat masih muda dulu. Padahal kami sudah mengira kalau kamu adalah Adik kandung kami yang hilang karena diculik, tapi sepertinya bukan, karena kamu masih memiliki kedua orangtua," ujar Cindi.


Iqbal tadinya ingin mengatakan jika Suci dan Arya bukanlah kedua orangtua kandung nya, tapi Iqbal masih belum mengenal keluarga Pak Tamrin dengan baik, jadi Iqbal memutuskan untuk merahasiakan nya dulu, apalagi Cindi bilang jika Adik kandungnya yang hilang karena di culik, sedangkan yang Iqbal tau jika Orangtua kandungnya sudah memberikan Iqbal kepada mendiang Rian saat dirinya masih bayi.


"Makasih banyak ya Bang atas kebaikan semuanya," ucap Iqbal.


"Iya sama-sama, kamu tidak perlu sungkan, anggap saja kami keluarga sendiri. Cindi, sebaiknya kamu siapin makanan untuk Iqbal, kasihan dia pasti lapar. Iqbal, apa kamu menjadi korban perampokan? Kenapa wajah kamu sampai babak belur seperti itu?" tanya Bang Rojali.


Iqbal terlihat berpikir, karena Iqbal tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika ia telah dipukuli karena sudah memperkosa Adik angkatnya sendiri.


Aku tidak mungkin kan mengatakan yang sebenarnya? bisa-bisa mereka takut sama aku karena aku sudah melakukan sebuah kejahatan, ucap Iqbal dalam hati.


"Iya Bang, tadi Iqbal mencoba mempertahankan barang-barang Iqbal saat Perampok ingin mengambilnya, jadi akhirnya Iqbal babak belur karena dipukuli oleh mereka."


"Apa orangtua kamu sudah mengetahui tentang semua ini?" tanya Bang Rojali.


"Belum Bang, Iqbal tidak mau membuat mereka merasa khawatir, apalagi sekarang orangtua Iqbal sedang mengurus Adik Iqbal yang sakit."

__ADS_1


"Kasihan sekali kamu Nak, sebaiknya kamu tinggal di sini saja sampai kamu sembuh," ujar Pak Tamrin.


"Terimakasih banyak Pak, maaf kalau Iqbal sudah merepotkan," ujar Iqbal yang sebenarnya merasa tidak enak karena sudah berbohong terhadap Pak Tamrin dan keluarga.


......................


Arya mengantar keluarga Irwan dan Farel sampai ke parkiran, sedangkan Arsyi kembali tertidur karena efek obat yang diberikan oleh Rizky.


Suci menghampiri Rizky yang terlihat melamun, kemudian Suci duduk di samping Putra sulungnya tersebut.


"Nak, Mama lihat dari tadi Rizky terus melamun. Sebenarnya apa yang sedang Rizky pikirkan?" tanya Suci.


Rizky menyandarkan kepalanya pada bahu Suci, dan saat ini rasanya Rizky berada dalam dilema.


"Rizky masih tidak mengira saja jika Rizky sebentar lagi akan menjalani rumah tangga," jawab Rizky.


"Nak, apa benar kalau Rizky mencintai Putri?"


Rizky mengembuskan nafas secara kasar ketika mendengar pertanyaan Suci.


"Rizky sebenarnya masih belum tau apa yang Rizky rasakan untuk Putri, karena selama ini Putri adalah Teman Rizky. Putri juga Anak yang baik, dan Rizky kagum dengan kegigihan Putri untuk mendapatkan beasiswa Kedokteran."


"Lalu bagaimana dengan perasaan Rizky untuk Dinda? Kenapa Rizky terlihat sedih saat melihat Dinda menangis? Bahkan Rizky sampai menitikkan airmata ketika melihat kepergian Dinda."


"Mana mungkin seperti itu, Rizky tadi hanya kelilipan."


Suci tersenyum ketika mendengar jawaban Rizky yang terlihat gugup.


"Nak, mungkin Rizky bisa membohongi oranglain, tapi Rizky tidak akan bisa membohongi Mama, karena Mama adalah perempuan yang telah mengandung serta melahirkan Rizky."


"Rizky belum yakin juga dengan perasaan Rizky untuk Dinda, karena selama ini Rizky selalu menganggap Dinda sebagai Adik Rizky sendiri, apalagi dulu Rizky selalu merasa kesal ketika melihat Dinda dan Ratu yang bersikap genit terhadap Rizky. Akan tetapi, saat tadi Rizky bicara berdua dengan Dinda, Rizky melihat sisi lain dari Dinda, Dinda sekarang sudah berubah menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana, bahkan Dinda sampai rela mengorbankan perasaannya untuk Rizky dan Putri," ujar Rizky dengan mata yang berkaca-kaca.


Suci menghela nafas panjang ketika menghadapi Rizky yang berada dalam dilema. Meski pun Rizky ahli dalam urusan pekerjaan, tapi tidak dengan masalah percintaan.


"Sekarang Mama tanya, Rizky pilih Putri atau Dinda?"


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2