
Alina, Irwan dan Farel saat ini telah sampai di kediaman Argadana, dan ketiga nya langsung menghampiri Oma Rahma dan Papa Fadil yang sedang mengajak main Rizky di teras depan rumah.
"Selamat sore Oma," ucap Alina, Irwan dan Farel secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Oma Rahma sehingga membuat ketiganya merasa malu kemudian mengucapkan Salam dan mencium punggung tangan Oma Rahma dan Papa Fadil yang saat ini tengah duduk di kursi roda.
"Oma, bagaimana kabar semuanya?" tanya Alina dengan bersikap manis, karena Alina sudah berencana akan mendekati Arya lewat keluarganya.
"Alhamdulillah kabar Oma baik, tapi sampai saat ini kalian bisa lihat sendiri kondisi Om Fadil yang masih belum bisa berjalan, bahkan untuk berbicara pun masih kesusahan, ditambah lagi kondisi Arya yang terbaring lemas karena mengalami pusing, mual dan muntah."
"Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga Oma. Memangnya Arya kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Farel.
"Dokter tidak menemukan penyakit apa pun pada tubuh Arya, makanya Oma merasa aneh, karena penyakit Arya tidak wajar."
"Jadi Arya mengalami gejala seperti perempuan hamil seperti saat dulu Suci hamil Rizky?" tanya Irwan.
"Iya benar, tapi kalian tau sendiri kalau Arya tidak mungkin mengulangi kesalahan seperti yang dulu dia lakukan kepada Suci, apalagi semenjak Suci meninggal dunia, Arya sibuk bekerja dan merawat Rizky," ujar Oma Rahma.
Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, sedangkan Alina sudah tersenyum bahagia karena memiliki kesempatan untuk mendekati Arya.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk aku masuk ke dalam kehidupan Arya, apalagi Arya pasti kesepian karena sudah lama tidak mendapat belaian kehangatan dari seorang perempuan, batin Alina dengan tersenyum penuh Arti.
Oma Rahma mempersilahkan Teman-teman Arya masuk ke dalam rumah, dan Alina meminta ijin untuk menggendong Rizky supaya mendapatkan simpati dari Arya.
"Oma, apa boleh Alina menggendong Rizky?"
"Tentu saja," ujar Oma Rahma dengan memberikan Rizky kepada Alina, tapi setelah berada dalam gendongan Alina, Rizky langsung menangis kencang.
Kenapa sih Rizky pake nangis segala? padahal aku berharap bisa mendekati Arya lewat Rizky, ucap Alina dalam hati.
__ADS_1
Oma Rahma kembali menggendong Rizky, tapi Rizky masih belum juga berhenti menangis.
"Aduh, kenapa Rizky jadi rewel seperti ini ya?" gumam Oma Rahma.
Arya yang mendengar Rizky menangis, berusaha untuk bangun, karena Arya merasa khawatir terhadap Rizky.
"Oma, kenapa Rizky nangis terus?" tanya Arya dengan berjalan secara perlahan menghampiri Oma Rahma yang saat ini sudah berada di depan pintu kamar Arya.
"Oma juga tidak tau kenapa Rizky tiba-tiba menangis saat Alina menggendongnya."
"Pantas saja Rizky menangis, karena Anak Arya tidak mau digendong oleh Nenek Sihir," ujar Arya dengan mengambil Rizky dari gendongan Oma Rahma, dan Rizky langsung berhenti menangis, sehingga membuat Alina semakin bertambah kesal.
Dasar Anak Tuyul, lihat saja nanti kalau aku sudah berhasil menjadi Ibu tiri kamu, ucap Alina dalam hati.
Arya mengajak duduk semuanya di ruang keluarga, karena Arya tidak mau ada perempuan lain masuk ke dalam kamarnya selain Suci dan keluarganya.
"Ya, bagaimana keadaan kamu sekarang, wajah kamu terlihat pucat sekali?" tanya Farel.
Irwan semakin merasa bersalah ketika melihat Rizky dan Arya, karena saat ini Arya harus menjadi orangtua tunggal untuk Anaknya, dan pasti semua itu tidak akan mudah untuk Arya jalani.
"Ya, Aku tau, meski seribu kali pun aku meminta maaf, semua itu tidak akan bisa menebus semua kesalahan yang telah Aku dan mendiang Erwin lakukan, tapi jika ada yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahan kami, aku akan berusaha melakukannya."
"Irwan, sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah terus mendo'akan Suci supaya bisa beristirahat dengan tenang, meski pun aku masih berharap jika Suci ku masih hidup, dan suatu saat nanti Suci akan kembali kepada kami," ucap Arya dengan wajah yang memancarkan kesedihan, sehingga membuat semuanya merasa Iba kecuali Alina.
"Arya, aku harap kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan, kita harus berusaha melupakan masalalu dan membuka lembaran baru," ucap Alina dengan entengnya.
"Kamu tidak tau apa yang aku rasakan Alina, jika kamu berada di posisi aku, kamu pasti tidak akan mungkin bisa berbicara seperti itu," ujar Arya.
"Memangnya dengan terus terusan terpuruk seperti itu, kamu bisa menghidupkan si Suci yang telah mati? hidup harus tetap berjalan Arya, dan aku akan membantu kamu supaya bisa melupakan Suci," ujar Alina dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Dari dulu kamu memang tidak pernah berubah Alina, kamu masih saja tidak tahu malu. Aku kasihan terhadap Farel karena dia sudah dibutakan oleh cinta, sehingga terus terusan mengejar perempuan seperti kamu," ujar Arya dengan tersenyum mengejek.
"Arya kamu tidak berhak menghinaku, karena aku tidak selevel jika dibandingkan dengan Suci, sebab aku jauh lebih segala-galanya," ujar Alina yang tidak terima dengan perkataan Arya.
"Kamu benar Alina, kamu memang tidak bisa dibandingkan dengan Suci, karena kalian jauh berbeda. Sebaiknya sebelum berbicara, kamu berkaca dulu. Suci begitu berharga seperti berlian, sedangkan kamu hanya batu kerikil yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang kamu mau," sindir Arya, sehingga membuat Alina semakin merasa geram.
Saat Alina akan kembali angkat suara, Farel mencegah Alina supaya tidak terjadi keributan.
"Alina, sebaiknya sekarang kita pulang. Kamu seharusnya sadar diri dengan posisi kita saat ini. Meski pun Arya Teman kita, tapi Arya adalah Bos kita. Arya, Oma, kami mohon maaf atas ketidak nyamanan nya, kalau begitu kami permisi dulu," ujar Farel dengan menarik paksa Alina ke luar dari kediaman Argadana.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Alina, Alina terus saja memarahi Farel, tapi Farel menulikan pendengarannya, karena Farel tidak mau terus berdebat dengan Alina.
"Farel, apa kamu tuli? sebaiknya sekarang kamu turunkan aku, aku tidak mau satu mobil dengan kamu," teriak Alina, tapi Farel tidak mau mendengarkan perkataan Alina.
Setelah sampai rumah Papa Ferdi, Alina bergegas turun dari mobil, tapi Farel langsung mengejarnya dan berusaha menahan pintu saat Alina hendak menutupnya.
"Alina, kenapa kamu dan Farel kejar-kejaran seperti itu?" tanya Papa Ferdi.
"Om, saat ini juga Farel ingin menikahi Alina. Farel ingin bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah Farel dan Alina lakukan. Kasihan Putri, karena Putri pasti membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya," ujar Farel dengan tekad yang kuat, meski pun Alina memberikan tatapan tajam terhadap Farel.
Papa Ferdi terlihat berpikir, karena sebelumnya Papa Ferdi dan Bu Rita sudah sepakat untuk segera menikahkan Alina dan Farel, semoga saja dengan begitu Alina tidak akan terus bertingkah dan bisa memberikan perhatian kepada Putri.
"Om setuju dengan usul kamu Farel, sekarang juga Om akan memanggil Penghulu untuk menikahkan kalian," ujar Papa Ferdi sehingga membuat Alina merasa terkejut atas keputusan yang Papa Ferdi buat.
"Tidak, Alina tidak mau menikah dengan Farel."
*
*
__ADS_1
Bersambung