Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 64 ( Rubah licik )


__ADS_3

Saat ini kandungan Suci sudah memasuki bulan keempat, dan Rian selalu berusaha menjadi Suami Siaga untuk Suci, bahkan saat beberapa kali Suci hampir terjatuh karena Susi diam diam berusaha untuk mencelakai Suci supaya keguguran, tapi Rian selalu berhasil menyelamatkan Suci.


"Sayang, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Rian dengan menahan bobot tubuh Suci saat Suci terpeleset karena menginjak minyak yang sengaja Susi tumpahkan di atas lantai.


"Makasih banyak Mas, karena lagi-lagi Mas sudah menyelamatkan Suci," ucap Suci dengan tersenyum.


"Sayang sudah seharusnya Mas selalu ada untuk menjaga kamu dan bayi kita," ucap Rian dengan membantu Suci duduk.


Rian memeriksa lantai yang Suci injak, dan Rian merasa geram ketika melihat minyak pada lantai, sehingga Rian berteriak memanggil Susi dan Bi Ijah untuk meminta keterangan.


"Maaf Tuan, ada apa Tuan memanggil kami?" tanya Bi Ijah.


"Bi, siapa yang sudah menumpahkan minyak di atas lantai? kalian tau kalau istri saya hampir saja terjatuh karena menginjaknya."


Susi sudah terlihat tegang karena takut jika perbuatannya diketahui oleh Rian.


Bagaimana ini, bisa-bisa Tuan Rian langsung memecat ku jika sampai mengetahui bahwa aku yang sudah sengaja menumpahkan minyak di atas lantai supaya Suci keguguran, batin Susi.


"Maaf Tuan, sepertinya tadi saya tidak sengaja menumpahkan minyak saat hendak membawanya ke dapur," ucap Bi Ijah yang berusaha untuk menyelamatkan Susi, sehingga Susi bisa bernafas lega.


"Bi, kalau bekerja itu hati-hati. Bagaimana kalau istri dan Anak saya sampai kenapa-napa?"


Suci mencoba menenangkan Rian yang terus memarahi Bi Ijah, karena Suci sangat yakin jika bukan Bi Ijah yang melakukan semua itu.


"Mas, sudah jangan terus terusan memarahi Bi Ijah, Bi Ijah juga sudah meminta maaf, lagian Suci juga tidak kenapa-napa."


"Sayang, tapi Bi Ijah sudah melakukan kesalahan yang fatal, dan Mas tidak akan memaafkannya jika sampai kejadian ini terulang lagi," ujar Rian.


Bi Ijah terus meminta maaf kepada Suci dan Rian, bahkan Bi Ijah terlihat menangis karena Bi Ijah takut jika Rian sampai memecatnya.


"Sebaiknya sekarang Bibi dan Susi kembali bekerja, dan Mas antar Suci ke kamar ya," ujar Suci yang ingin berbicara berdua dengan Rian, karena Suci mencurigai sesuatu.


Setelah berada di dalam kamar, Suci mengajak Rian duduk, kemudian Suci memberikan segelas kepada Rian supaya Rian merasa lebih tenang.


"Sebaiknya sekarang Mas minum dulu supaya lebih tenang, karena jika Mas terus emosi seperti ini, kita tidak akan bisa melihat masalah dengan jernih."

__ADS_1


"Maaf sayang, Mas tidak bermaksud memarahi Bi Ijah, tapi Mas takut jika kamu dan bayi kita sampai kenapa-napa."


"Suci tau kalau Mas khawatir terhadap kami, tapi apa Mas yakin jika Bi Ijah yang telah teledor menumpahkan minyak di atas lantai?"


"Apa maksud Suci berbicara seperti itu?" tanya Rian yang masih belum mengerti perkataan Suci.


"Suci sangat yakin jika bukan Bi Ijah yang melakukannya."


"Kalau bukan Bi Ijah siapa lagi? Bi Ijah juga sudah mengakui semua kesalahannya."


"Bisa saja kan pelakunya adalah Susi? apa Mas pikir Suci tidak tau kalau selama ini Susi selalu berusaha mendekati Mas, bahkan Susi sering menggoda Mas Rian."


"Sayang, tapi Mas bersumpah kalau Mas tidak pernah tergoda sedikit pun oleh Susi."


"Iya, Suci tau Mas, tapi Suci yakin kalau Susi akan terus berusaha mendapatkan Mas Rian dengan menghalalkan segala cara, makanya diam-diam Suci memasang CCTV supaya bisa mendapatkan bukti kejahatan Susi."


Suci mengeluarkan handphone nya, kemudian Suci memperlihatkan rekaman CCTV saat Susi dengan sengaja menumpahkan minyak di depan kamar Suci.


"Mas lihat sendiri kan kalau di sini bukan Bi Ijah yang salah, tapi Susi memang sengaja ingin mencelakai Suci, dan Bi Ijah hanya berusaha melindungi Keponakannya."


"Jadi perempuan harus pintar kalau tidak mau Suaminya digondol Pelakor," ujar Suci dengan terkekeh.


"Mas tidak akan mungkin tergoda oleh perempuan lain. Sebaiknya sekarang juga kita pecat Susi."


"Jangan dulu Mas, karena Suci masih ingin melihat permainan apa yang akan Susi mainkan."


"Sayang, tapi Mas takut kalau sampai kamu kenapa-napa."


"Selama ada Mas Rian, Suci tidak akan kenapa-napa," ucap Suci dengan menatap lekat wajah Rian, sehingga membuat Rian salah menjadi tingkah.


"Kalau begitu Mas ke kamar mandi dulu," ujar Rian dengan berlari ke dalam kamar mandi, karena Rian tidak mau sampai melewati batas jika dirinya terus berada di dekat Suci.


"Kenapa Mas Rian selalu menghindariku saat kami berdekatan?" gumam Suci yang merasa heran melihat tingkah Rian.


......................

__ADS_1


Bi Ijah sudah mengira jika minyak yang tertumpah di atas lantai adalah perbuatan Susi. Sampai akhirnya Bi Ijah memarahi Susi ketika keduanya telah sampai dapur.


"Susi, kenapa kamu tega sekali ingin mencelakai Nyonya Suci?"


"Apa maksud Bibi? bukannya Bibi sendiri yang melakukan semua itu? bahkan tadi Bibi mengakui semua kesalahan yang telah Bibi lakukan di depan Suci dan Tuan Rian."


"Kamu memang tidak tau di untung Susi, padahal Bibi sengaja melakukan semua itu untuk melindungi kamu. Kamu juga tidak tau diri, seharusnya kamu memanggil Nyonya Suci dengan sebutan nama saja."


"Halah, begitu saja dipermasalahkan. Bibi tidak usah menceramahi Susi lagi, dan Bibi jangan pernah ikut campur urusan Susi."


"Kalau sampai kamu kembali membuat masalah, Bibi tidak akan segan segan mengantarkan kamu untuk kembali ke kampung," ujar Bi Ijah, tapi Susi berlalu begitu saja tanpa mendengarkan perkataan Bi Ijah.


Sebaiknya malam ini juga aku menjebak Tuan Rian supaya dia menjadi milikku, batin Susi dengan tersenyum licik.


......................


Malam kini telah tiba, dan seperti biasa, saat Suci sudah tidur terlelap, Rian ke luar dari kamar Suci untuk pindah menuju kamar tamu.


Rian begitu terkejut saat memasuki kamar tamu, karena saat ini Susi sudah berada di atas ranjang kamar tamu dengan memakai pakaian seksi.


"Lancang sekali kamu masuk ke sini, sekarang juga kamu ke luar dari sini !!" teriak Rian.


"Tuan tidak perlu berteriak, karena saya hanya akan ke luar apabila sudah mendapatkan apa yang saya mau," ujar Susi dengan mendekati tubuh Rian, tapi Rian mendorong Susi sehingga terlentang di atas kasur.


"Sepertinya Tuan sudah tidak sabar. Apa Tuan pikir saya tidak tau kalau setiap malam Tuan selalu tidur di sini. Semua itu pasti Tuan lakukan karena tidak bisa mendapatkan kepuasan dari Nyonya Suci kan? Tuan jangan khawatir karena malam ini saya akan memberikan apa yang Tuan mau," ujar Susi dengan membuka pakaiannya.


Rian hendak berlari ke luar dalam kamar, tapi Susi berusaha menghalanginya dan mendorong Rian hingga terlentang di atas ranjang.


Susi dan Rian begitu terkejut karena tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Suci saat melihat Rian yang saat ini berada di bawah tubuh Susi yang sudah setengah telanjang.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2