Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 12 ( Hukuman empat tahun penjara )


__ADS_3

Hari ini Suci akan menghadiri sidang putusan, dan Hakim akan menghadirkan Rian sebagai Saksi sekaligus korban.


Semua teman Suci di Penjara selalu memberikan semangat dan dukungan kepada Suci, tentunya semua itu membuat Suci melangkahkan kakinya dengan mantap, dan akan mencoba ikhlas menerima apa pun keputusan Hakim.


Suci dan Rian yang sudah sama-sama tiba di Pengadilan, saat ini terlihat berpapasan, sehingga membuat jantung keduanya berpacu dengan cepat.


Meski pun saat ini Rian masih hilang ingatan, tapi hati nya terasa menghangat ketika bertemu dengan Suci.


"Suci"


"Rian"


Ucap Suci dan Rian secara bersamaan.


Suci merasa bahagia ketika melihat kondisi Rian yang sudah sembuh, meski pun hati Suci terasa sakit ketika melihat Rian menggandeng Alina yang terus saja menempel kepada Rian.


Saat ini Suci telah duduk di depan Majelis Hakim, sedangkan Rian sudah berdiri untuk memberikan kesaksiannya.


"Saudara Rian, apa benar jika Saudari Suci sudah mendorong Anda sehingga Anda tertabrak truk?" tanya Pengacara.


"Maaf sebelumnya Yang mulia, tapi saya mengalami hilang ingatan, sehingga saya tidak dapat mengingat kejadian tersebut," jawab Rian.


Hakim terlihat bingung karena ingatan Rian masih belum kembali, padahal Rian adalah kunci utama dari kasus yang menimpa Suci.


"Mohon maaf semuanya, meski pun saya masih belum mengingat apa pun tentang masalalu saya, tapi hati saya sangat yakin kalau Suci tidak mungkin melakukan semua itu," sambung Rian.


Mama Linda yang tidak terima dengan kesaksian Rian, langsung saja angkat suara.


"Maaf Yang mulia, saat ini Rian masih belum sembuh, jadi saya harap Yang mulia tidak percaya begitu saja dengan kesaksian Rian," teriak Mama Linda, dan persidangan pun menjadi ricuh, sampai akhirnya Hakim ketua mengetuk palu untuk menenangkan semuanya.


"Saya harap semuanya tenang, kita dengarkan dulu penjelasan dari Saudara Rian," ujar Hakim Ketua kemudian menyuruh Pengacara untuk kembali melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Saudara Rian, kenapa Anda begitu yakin kalau saudari Suci tidak mencelakai Anda? padahal Anda sendiri masih belum mengingat apa pun, apalagi ada tiga orang Saksi yang mengatakan kalau Anda sudah didorong oleh Saudari Suci."


"Karena hati saya mengatakan jika Suci tidak mungkin melakukan semua itu," ucap Rian dengan mantap, dan lagi-lagi Mama Linda kembali berteriak karena tidak rela jika Suci lolos begitu saja dari tuduhan mencelakai Rian.


Aku sudah susah payah menjebloskan Suci ke dalam penjara, jadi aku tidak akan membiarkan Suci lolos begitu saja, batin Mama Linda.


"Yang Mulia, saya sangat yakin kalau Suci telah mencelakai Anak saya, karena Suci yang berstatus mantan kekasih Anak saya tidak terima jika Rian dan Alina bertunangan, dan kecelakaan itu bertepatan setelah Anak saya dan Alina bertunangan."


Hakim terlihat berdiskusi, kemudian Hakim ketua, kembali angkat suara.


"Saudari Suci, apa ada yang ingin Anda katakan sebagai upaya pembelaan?"


"Yang Mulia, mungkin untuk saat ini saya tidak memiliki bukti apa pun untuk membela diri, tapi saya sangat yakin jika Tuhan tidak pernah tidur, dan suatu saat nanti kebenaran pasti akan terungkap," ucap Suci yang terlihat tidak takut sedikit pun.


Rian rasanya ingin sekali memeluk Suci untuk memberinya kekuatan, tapi saat ini Rian berstatus Suami Alina.


Suci, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa pun untuk kamu, semoga kamu kuat menghadapi semua ini, dan semoga ingatanku segera pulih, supaya aku bisa segera mengeluarkan kamu dari Penjara, karena aku sangat yakin kalau kamu tidak bersalah, batin Rian.


Setelah berunding, Hakim Ketua akhirnya membacakan putusan sidang terhadap Suci.


Suci sebenarnya merasa sedih, karena dia harus menjalani hukuman dalam keadaan hamil, tapi Suci akan berusaha untuk tetap kuat demi bayi yang saat ini berada dalam kandungannya.


Nak, maafkan Ibu karena kamu harus ikut merasakan hidup dibalik jeruji besi. Semoga kebenaran akan segera terungkap, supaya nanti kita berdua bisa hidup bersama, batin Suci dengan buliran bening yang tiba-tiba lolos begitu saja membasahi pipinya.


Rian hendak menghampiri Suci, tapi Alina dan Mama Linda langsung memegangi tangan Rian, sehingga Rian menatap nanar kepergian Suci yang sudah dibawa oleh petugas Kepolisian.


......................


Semakin hari kandungan Suci semakin membesar, dan semua Tahanan selalu mendukung Suci dalam menjalani hari-harinya, bahkan mereka tidak membiarkan Suci melakukan pekerjaan berat.


Saat ini usia kandungan Suci sudah melewati bulan ke empat, dan Arya yang selama empat bulan selalu merasa mual dan muntah tiba-tiba sembuh.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya Arya sembuh juga. Kasihan kamu Nak, selama empat bulan ini tidak bisa makan apa-apa," ujar Mama Erina dengan mengelus lembut kepala Arya.


"Ma, hari ini Arya bakalan masuk kerja lagi," ujar Arya yang saat ini sedang sarapan.


"Sayang, Arya tidak boleh masuk kerja lagi, kemarin Arya sampai sakit selama empat bulan, dan pasti itu akibat dari Arya yang sudah kecapean bekerja."


"Ma, Arya adalah seorang laki-laki, dan suatu saat nanti Arya bakalan menjadi pemimpin dalam rumah tangga, Arya akan memiliki tanggung jawab sebagai Kepala keluarga, jadi mulai dari sekarang Arya harus bekerja dengan giat," ujar Arya sehingga membuat semuanya terkejut karena tidak mengira jika seorang Arya bisa berpikir dewasa.


"Alhamdulillah, sekarang Cucu Oma sudah dewasa," ujar Oma Rahma dengan tersenyum bahagia.


"Papa bangga sama kamu Nak, karena sekarang kamu sudah memikirkan masa depan. Apa jangan-jangan kamu sudah memiliki calon istri makanya kamu berpikir seperti itu?" tanya Papa Fadil.


"Sebenarnya Arya sudah jatuh cinta pada seorang gadis, tapi_" perkataan Arya terhenti karena Mama Erina langsung memotongnya.


"Pokoknya Arya tidak boleh memiliki istri dulu, Arya masih muda, dan Arya harus menjadi pengusaha sukses sebelum menikah. Biar nanti Mama yang akan mencarikan calon Istri untuk Arya, karena tentunya perempuan itu harus sepadan dengan keluarga kita, calon istri Arya harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya."


"Ma, tapi Arya sudah mempunyai pilihan sendiri, dan Arya hanya akan menikah dengan perempuan yang Arya cintai."


"Arya, Mama ingin yang terbaik untuk kamu sayang, tapi Mama akan merestui hubungan kamu dengan perempuan yang kamu cintai dengan syarat dia harus berasal dari keluarga yang sepadan dengan kita. Mama tidak mau jika nanti istri kamu sampai mempermalukan keluarga kita."


"Ma, sebenarnya perempuan yang Arya cintai hanya Anak Yatim Piatu, jadi_" perkataan Arya kembali dipotong oleh Mama Erina.


"Apa? jadi dia perempuan miskin? tidak sayang, Mama tidak mau Anak kesayangan Mama menikah dengan orang miskin, kamu tau kan kalau Mama alergi dengan orang miskin?"


Oma Rahma yang tidak setuju dengan pendapat Mama Erina, akhirnya angkat suara juga.


"Erina, Mama tidak setuju dengan perkataan kamu. Apa kamu lupa dari mana kamu berasal?" tanya Oma Rahma dengan penuh penekanan, sehingga membuat Mama Erina menjadi diam seribu bahasa.


Sebelum menikah dengan Papa Fadil, Mama Erina hanyalah Anak Yatim Piatu, tapi Oma Rahma tidak mempermasalahkan status Mama Erina, bahkan Oma Rahma menyayangi Mama Erina seperti Putri kandungnya sendiri, tapi setelah menjadi orang kaya, Mama Erina seakan lupa dengan masalalunya, bahkan Mama Erina berubah menjadi orang sombong yang selalu menganggap rendah orang lain.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2