Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 107 ( Kekuatan cinta )


__ADS_3

Di alam bawah sadar Suci, Suci melihat sosok Rian tengah duduk di sebuah taman yang terlihat begitu indah dengan mengenakan pakaian serba putih.


"Mas Rian, syukurlah ternyata Mas Rian baik-baik saja," ujar Suci dengan menghampiri Rian, kemudian duduk di samping nya.


"Suci, kenapa kamu datang ke sini?" tanya Rian.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih, karena Mas Rian sudah menyelamatkanku dan Mas Arya. Di sini terlihat indah dan damai ya, Apa boleh aku tinggal di sini?" tanya Suci.


"Suci, sekarang belum saatnya kamu tinggal di tempat ini. Sekarang pulanglah, Arya dan Anak-anak kalian sedang menunggu kepulanganmu," ujar Rian dengan tersenyum.


"Kalau begitu, sebaiknya Mas Rian ikut pulang denganku, meski pun kita tidak ditakdirkan hidup bersama, tapi kita bisa menjadi Teman. Atau Mas Rian mau jadi Kakak aku?" tanya Suci.


"Suci, aku titip Iqbal ya. Maafkan aku karena sudah tidak bisa menjaga kalian, dan aku juga tidak bisa ikut pulang denganmu, karena sekarang rumahku di sini bersama Mama," jawab Rian.


Beberapa saat kemudian, terlihat Mama Linda berjalan mendekati Suci dan Rian.


"Suci sayang, kenapa kamu ada di sini Nak?" tanya Mama Linda.


"Mama, Suci senang sekali bisa bertemu dengan Mama lagi. Alhamdulillah sekarang Mama sudah bisa berjalan, dan Mama terlihat sangat cantik," ujar Suci dengan memeluk tubuh Mama Linda.


"Suci, pulanglah Nak, tempat kamu bukan di sini," ucap Mama Linda dengan melepaskan pelukannya terhadap Suci.


"Kenapa Mama dan Mas Rian tidak mau ikut pulang bersama Suci?" tanya Suci yang terlihat sedih.


"Sayang, maaf kami tidak bisa ikut pulang, karena sekarang rumah kami di sini, tapi suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi, karena sekarang masih belum saatnya Suci tinggal bersama kami," ujar Mama Linda dengan tersenyum.


"Iya Suci, cepatlah pulang, kasihan Arya, dia sudah menunggumu. Meski pun aku tidak bisa ikut pulang denganmu, tapi aku akan selalu hidup dalam detak jantungmu," ucap Rian dengan tersenyum.


Beberapa saat kemudian, Suci mendengar suara Arya yang terus memanggil nya, dan Suci pun melangkah menuju cahaya putih tempat suara Arya berasal setelah melambaikan tangan kepada Mama Linda dan Rian.


......................


Di tempat lain, tepatnya di Rumah Sakit, Arya terus saja menangis dengan melafalkan do'a, karena saat ini Suci dalam keadaan kritis, bahkan jantung Suci sudah berhenti berdetak.

__ADS_1


Dokter beberapa kali menggunakan alat pacu jantung pada Suci, tapi detak jantung Suci tidak juga kembali, sampai akhirnya Dokter menyuruh Suster mencatat waktu kematian Suci, setelah beberapa kali usahanya tidak berhasil.


"Sus, catat waktu kematian Pasien," ujar Dokter dengan menghela nafas panjang.


Arya yang mendengar perkataan Dokter, melangkahkan kakinya menghampiri Dokter yang saat ini berada di samping Suci.


"Istri saya belum meninggal, Suci tidak akan mungkin meninggalkan kami," ujar Arya dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, karena pada kenyataannya operasi pencangkokan jantung pada Pasien telah gagal, dan kami turut berduka cita atas meninggalnya Istri Tuan," ucap Dokter dengan tertunduk sedih.


Arya langsung berhambur memeluk tubuh Suci yang saat ini terbaring di hadapannya.


"Sayang, bangun. Kenapa kamu tega sekali meninggalkan aku dan Anak-anak kita?" ucap Arya dengan menggoyangkan tubuh Suci.


"Maaf Tuan, jangan seperti ini. Kami mengerti perasaan Anda, tapi kasihan Jenazah Istri Anda jika Anda terus seperti ini," ujar Perawat dengan mencoba menarik tubuh Arya yang terus memeluk tubuh Suci.


"Suci belum meninggal, Suci masih hidup, karena Suci tidak akan pernah meninggalkan aku dan Anak-anak kami," ujar Arya dengan terus memeluk erat tubuh Suci.


"Dokter, cepat periksa Istri saya, saya sudah bilang kalau Istri saya masih hidup," teriak Arya dengan terus memegang erat tangan Suci.


Dokter memeriksa Suci secara seksama, kemudian Dokter tersenyum kepada Arya.


"Ini adalah sebuah keajaiban, Istri Anda sudah kembali karena kekuatan cinta yang Anda miliki untuknya," ujar Dokter, dan Arya langsung melakukan sujud syukur.


"Terimakasih Tuhan, karena Engkau masih memberikan kesempatan kepada Hamba untuk membahagiakan Suci," ucap Arya dengan menitikkan airmata.


Beberapa saat kemudian, secara perlahan Suci membuka matanya, dan Suci langsung menyunggingkan senyuman ketika melihat wajah tampan Arya yang saat ini tengah tertunduk dengan menciumi tangan Suci.


"Mas Arya," ucap Suci dengan lirih.


"Sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga. Kamu sudah membuat aku takut, bahkan hampir mati berdiri," ucap Arya dengan menangis bahagia.


"Syukurlah Anda sudah sadar Nyonya, padahal sebelumnya saya sudah menyatakan jika Anda telah meninggal dunia, tapi Suami Anda bersikeras bahwa Anda masih hidup, bahkan Tuan Arya tidak mau melepaskan pelukannya kepada Anda," ujar Dokter.

__ADS_1


"Apa benar seperti itu Mas? Jadi kamu benar-benar tulus mencintaiku?" tanya Suci.


"Tentu saja, kamu adalah nafasku, kamu adalah kebahagiaan serta kekuatanku, dan kamu adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirku. Jadi, sampai ke ujung dunia pun aku tidak akan pernah melepaskan kamu," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Nyonya, kalau Anda memiliki keluhan, Anda bisa memanggil kami," ujar Dokter yang tidak mau mengganggu Arya dan Suci, kemudian ke luar dari dalam kamar perawatan Suci.


"Mas, tapi aku masih belum bisa memaafkan semua kesalahan mu," ucap Suci.


"Apa pun akan aku lakukan supaya mendapatkan maaf darimu sayang," ujar Arya.


"Kalau begitu Mas harus menebus semua kesalahan Mas Arya dengan selalu berada di sampingku sampai maut memisahkan kita," ujar Suci dengan tersenyum, padahal dari tadi Arya sudah takut jika Suci akan meminta supaya Arya menjauh dari kehidupannya.


Arya seakan tidak percaya dengan yang Suci ucapkan, sampai akhirnya Arya hanya dia mematung.


"Mas, terimakasih ya, karena Mas sudah sabar menungguku," ucap Suci kemudian mengecup pipi Arya yang saat ini berada di hadapannya.


"Sayang, seharusnya Mas yang mengucapkan terimakasih, karena Suci sudah mau memaafkan kesalahan besar yang telah Mas lalukan," ucap Arya, lalu mengecup kening Suci.


Suci mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Rian.


"Mas, bagaimana kondisi Mas Rian? Dia baik-baik saja kan?" tanya Suci.


"Ri_rian," ucap Arya yang masih belum sanggup untuk mengatakan semuanya kepada Suci.


"Tadi aku bermimpi bertemu dengan Mas Rian dan Mama Linda di sebuah tempat yang sangat indah, tapi mereka tidak mengijinkan aku untuk tinggal di sana, karena mereka bilang masih belum saatnya aku tinggal di tempat tersebut," ujar Suci, dan Arya masih diam seribu bahasa, karena takut jika kondisi Suci akan kembali kritis jika mengetahui bahwa Rian sudah meninggal dunia, apalagi jika Suci mengetahui tentang Rian yang sudah mendonorkan jantungnya untuk Suci.


"Mas Arya kenapa diam saja? aku ingin bertemu dengan Mas Rian. Mas Rian baik-baik saja kan?"


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2