
Arya tersenyum serta menganggukkan kepalanya kepada Suci, kemudian Arya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menetralkan debaran jantungnya.
"Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini? Kayak ABG yang baru pertama kali jatuh cinta saja," gumam Arya dengan senyum senyum sendiri.
Setelah selesai mengganti pakaian, Arya ke luar dari dalam kamar mandi, lalu kembali duduk di samping Suci, karena Arya ingin membicarakan tentang Iqbal.
"Ma, ada yang ingin Papa bicarakan," ujar Arya.
"Memangnya apa yang ingin Papa bicarakan?" tanya Suci.
"Sebelum Rian meninggal dunia, selain ingin mendonorkan jantungnya untuk Mama, Rian juga menitipkan Iqbal kepada kita."
"Meski pun Mas Rian tidak menitipkannya, Mama akan selalu menganggap Iqbal sebagai Anak kandung Mama, apalagi Iqbal sudah Mama rawat sejak dia masih bayi. Apa Papa mengetahui sesuatu tentang orangtua kandung Iqbal?" tanya Suci.
"Dulu Rian sempat mengatakan jika Ibu kandung Iqbal telah meninggal dunia saat melahirkan Iqbal, tapi Iqbal masih memiliki Ayah yang bernama Pak Tamrin, hanya saja Pak Tamrin tidak mampu merawat Iqbal, apalagi beliau memiliki empat orang Anak selain Iqbal," jawab Arya.
Suci saat ini memikirkan cara supaya Iqbal menganggap jika Suci dan Arya Adalah orangtua kandungnya sebelum nanti mereka memberitahukan yang sebenarnya kepada Iqbal setelah Iqbal dewasa.
"Kasihan sekali nasib Iqbal. Mungkin sebaiknya kita merahasiakan dulu identitas Iqbal yang sebenarnya sampai nanti Iqbal dewasa, supaya dia bisa mengerti dan bisa menerima semuanya," usul Suci.
"Tapi bagaimana caranya kita mengakui Iqbal sebagai Anak kandung kita?" tanya arya.
"Setahu Mama, Iqbal dan Rizky lahir pada hari dan bulan yang sama, bagaimana kalau kita mengakui Iqbal sebagai saudara kembar Rizky saja?" ujar Suci.
"Mungkin memang sebaiknya seperti itu supaya Iqbal mengira jika kita adalah orangtua kandungnya," ujar Arya yang menyetujui usul Suci tersebut.
......................
Empat puluh hari telah berlalu dari semenjak meninggalnya Rian, dan hari ini di kediaman mendiang Rian baru saja selesai mengadakan acara tahlil yang ke empat puluh hari.
__ADS_1
Arya dan Suci berniat untuk memberikan sertifikat rumah serta usaha milik Rian kepada Papa Ardi, karena sebelumnya Rian sudah memberikan sertifikat rumah beserta semua sertifikat Restoran kepada Suci.
"Pa, ini sertifikat rumah serta Restoran milik Mas Rian, sebelumnya Mas Rian memberikan semua ini kepada Suci, tapi sekarang Suci harap Papa akan menerima harta peninggalan Mas Rian," ujar Suci dengan meletakan semua sertifikat pemberian Rian di atas meja.
"Nak, Rian sudah memberikan semuanya kepada Suci, dan Papa tidak mau mengambil sesuatu yang bukan hak Papa. Apalagi Papa sebelumnya sudah menerima sebagian harta gono gini dari mendiang Linda, jadi biar saja bagian Rian menjadi milik Suci," ujar Papa Ardi.
Arya merasa keberatan, karena Arya tidak mau jika Suci menerima harta dari lelaki lain selain dari Arya, apalagi Rian adalah mantan kekasih Suci.
"Pa, bukannya kami menolak rezeki, hanya saja Arya tidak mau kalau Suci menerima warisan dari Rian yang notabene nya adalah mantan kekasih Suci. Apa kata orang nanti jika sampai mengetahui tentang semua itu?"
"Ya sudah, kalau begitu kalian simpan saja semua harta peninggalan Rian untuk Anak angkat Rian. Meski pun sekarang Iqbal sudah menjadi Anak kalian, tapi Iqbal adalah titipan Rian, dan nanti sebagian dari hasil usaha peninggalan Rian dan Linda, bisa kalian sedekahkan untuk fakir miskin serta Anak Yatim, supaya pahalanya mengalir pada mendiang Rian dan Linda," ujar Papa Ardi.
Akhirnya Suci dan Arya menerima usulan Papa Ardi, dan besok Arya memutuskan akan membawa Keluarganya untuk kembali ke Jakarta, apalagi Hesti dan Irwan akan melangsungkan pernikahan pada minggu depan.
Bu Rita sebenarnya merasa ragu untuk ikut pulang ke Jakarta, tapi Suci mengatakan bahwa Bu Rita bisa tinggal bersama Suci dan Keluarganya kalau memang Alina masih belum bisa menerima kehadiran Bu Rita dan Putri.
"Bu, Suci tau penyebab Ibu tidak mau pulang ke Jakarta. Ibu takut kan kalau Alina masih belum bisa menerima kehadiran Ibu dan Putri? Ibu tenang saja, Suci juga sudah menganggap Ibu sebagai Ibu kandung Suci sendiri, jadi Suci akan mengajak Ibu dan Putri tinggal bersama kami apabila Alina masih tidak mau menerima kalian."
Bu Rita terlihat berpikir, karena Bu Rita tidak mau menjadi beban Suci, apalagi Bu Rita takut jika Arya dan keluarganya merasa keberatan.
"Bu, Suci benar, Ibu dan Putri bisa tinggal bersama kami. Arya juga tidak keberatan, karena Orangtua Suci berarti orangtua Arya juga."
Mama Erina terlihat melamun, karena saat ini beliau tengah memikirkan cara supaya bisa mengakui Suci sebagai Putri kandungnya. Sekarang kondisi psikologis Mama Erina sudah kembali normal, jadi Mama Erina sudah mengingat tentang kesalahannya yang sudah menukar Arya dan Suci saat mereka masih bayi.
Apa yang harus aku lakukan supaya bisa mengakui Suci sebagai Putri kandungku? Tapi aku takut kalau Suci dan Arya akan kecewa bahkan membenciku jika mereka mengetahui semua kebenarannya. Apa aku sembunyikan saja tentang identitas mereka yang sebenarnya? Sekarang Suci juga sudah menjadi Menantuku, jadi aku masih bisa dekat dengan Putri kandungku sendiri, batin Mama Erina yang saat ini berada dalam dilema.
"Ma, Mama kenapa? Mama baik-baik saja kan?" tanya Suci ketika melihat Mama Erina melamun.
"Mama baik-baik saja sayang, Mama sudah tidak sabar menunggu hari esok, apalagi Mama sudah lama tidak bertemu dengan Oma dan Papa," jawab Mama Erina dengan tersenyum.
__ADS_1
......................
Papa Ardi dan Mama Marlina berpamitan kepada semuanya untuk pulang menuju rumah mereka yang berada di Surabaya.
"Nak, kalau begitu kami pamit pulang dulu. Terimakasih atas bantuan semuanya yang sudah mengadakan acara tahlil untuk mendiang Linda dan Rian," ucap Papa Ardi.
"Pa, kita adalah keluarga, jadi Papa tidak perlu sungkan, apalagi sampai mengucapkan terima kasih," ujar Suci.
"Benar Pa, kalau nanti Papa dan keluarga ke Jakarta, jangan lupa main ke rumah kami," tambah Arya.
"Iya Nak, kalian juga kalau ada waktu jangan lupa main ke Surabaya. Kalau begitu kami pamit pulang dulu, kita saling do'akan saja semoga semuanya selalu diberikan kesehatan serta kelancaran dalam segala urusan," ujar Papa Ardi yang di Amini oleh semuanya.
Setelah mengucapkan Salam, Papa Ardi dan Mama Marlina pun pulang menuju Surabaya.
"Kalau begitu, sekarang kita beres-beres," ujar Mama Erina dengan menggandeng Suci masuk ke dalam rumah, karena Mama Erina selalu ingin dekat dengan Suci.
Ketika Arya ingin menyusul masuk, Bu Rita mengajak Arya untuk berbicara terlebih dahulu.
"Nak Arya, sebenarnya Ibu ingin mengatakan sesuatu," ujar Bu Rita yang terlihat ragu.
"Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan? Ibu bicara saja tidak perlu sungkan," ujar Arya.
"Ibu sudah mengingat nomor rumah kedua orangtua kandung Suci."
*
*
Bersambung
__ADS_1