
Suci dan Arya menghabiskan malam yang indah di rumah baru mereka, tapi Keesokan paginya, Arya kembali merasa cemas, apalagi Mama Erina terus menghubungi Arya untuk meminta penjelasan. Akhirnya, mau tidak mau Arya mengajak Suci dan Rizky menuju kediaman Argadana.
Saat ini Arya tengah menyetir, tapi wajah Arya terlihat pucat, sehingga membuat Suci merasa khawatir.
"Mas, baik-baik saja kan?" tanya Suci dengan mengelap keringat yang terus menetes pada dahi Arya.
Arya beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Suci.
"Mas baik-baik saja sayang, hanya saja ada sesuatu yang sedang Mas pikirkan."
"Apa Suci boleh tau? siapa tau dengan begitu beban pada hati Mas akan sedikit berkurang."
"Suci, jika Mas pernah melakukan kesalahan besar, apa Suci mau memaafkan Mas?"
"Apa maksud Mas Arya?" Suci balik bertanya, karena Suci tidak mengerti dengan perkataan Arya, tapi Arya hanya diam saja karena tidak sanggup untuk mengatakan semua yang mengganjal pada hatinya.
"Mas, bukannya Mas sendiri yang bilang, apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama? Mas tenang saja, karena Suci akan berusaha ikhlas menerima apa pun keputusan keluarga Mas," ucap Suci dengan menggenggam erat tangan Arya, karena Suci mengira jika Arya takut menghadapi keluarganya yang akan melakukan penolakan kepada Suci.
Mungkin kamu tidak akan berkata seperti itu apabila mengetahui semua kebenarannya, karena yang aku takutkan bukanlah menghadapi keluargaku, tapi aku takut jika kamu tidak bisa memaafkan kesalahan besar yang telah aku lakukan. Aku takut jika harus kembali kehilangan kamu dan Rizky, batin Arya.
Oma Rahma, Mama Erina dan Papa Fadil sudah terlihat menunggu kedatangan Suci dan Arya di depan rumah, dan ketiganya begitu terkejut ketika melihat Arya menggendong Rizky, karena wajah Rizky dan Arya begitu mirip.
Papa Fadil yang sudah merasa penasaran, langsung melontarkan pertanyaan kepada Arya.
"Arya, kenapa bayi yang kamu gendong memiliki wajah yang begitu mirip dengan kamu?"
"Bukannya semalam Arya sudah mengatakan jika Arya akan membawa Suci dan bayi kami pulang ke sini," jawab Arya.
Degg
Jantung Suci berpacu cepat mendengar perkataan Arya, dan saat ini banyak sekali pertanyaan dalam benak Suci.
Kenapa Mas Arya berkata seperti itu? tidak mungkin kan kalau lelaki yang menjadi Suamiku adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku? mungkin saja Mas Arya sengaja berbohong dengan mengakui Rizky sebagai Anaknya supaya keluarga Mas Arya tidak memandang rendah diriku, ucap Suci dalam hati yang mencoba untuk berprasangka baik terhadap Arya.
__ADS_1
"Nak, sebaiknya sekarang kita masuk, kita bicarakan semuanya di dalam," ujar Oma Rahma dengan menggandeng Suci untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah semuanya duduk, Mama Erina akhirnya angkat suara, karena Mama Erina tidak percaya jika Rizky adalah Anak kandung Arya.
"Arya, kamu tidak perlu berbohong dengan mengakui Anak ha*ram perempuan ja*lang itu sebagai Anak kamu, karena kamu tidak mungkin melakukan perbuatan rendah dengan menghamili perempuan seperti Suci. Kamu itu berasal dari keluarga terhormat dan pewaris tunggal keluarga Argadana."
"Cukup Ma, jangan pernah berani menghina Suci dan Rizky, karena Arya tidak rela jika Mama menghina Anak dan istri Arya. Apa Arya harus melakukan sumpah jika Rizky adalah Anak kandung Arya," tegas Arya, sehingga membuat semuanya terkejut, apalagi Suci, karena Suci begitu syok mendengar perkataan Arya.
Suci hendak berdiri, tapi Arya terus memegang tangannya.
"Apa maksud kamu Mas? tidak mungkin kan kalau kamu adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku?" tanya Suci, sehingga membuat keluarga Arya merasa bingung, karena saat ini Suci terlihat marah terhadap Arya.
"Sayang, Suci tenang dulu ya, Mas bisa menjelaskan semuanya," ucap Arya dengan mengeratkan pegangan tangannya terhadap Suci.
Oma Rahma memutuskan untuk mengambil Rizky dari gendongan Arya, supaya Arya bisa menenangkan Suci yang saat ini terlihat menangis.
"Kalian berdua tidak usah berakting, dan kamu Arya, jangan mempermalukan nama baik keluarga kita, hanya untuk menutupi kelakuan bejat Suci," sindir Mama Erina.
Arya berlutut di hadapan Suci, dengan terus menggenggam erat tangan Suci.
"Suci, maafkan Mas, karena kenyataannya Mas adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidup kamu," ucap Arya dengan lirih, karena saat ini Arya juga tengah menangis.
Mama Erina tidak rela ketika melihat Arya berlutut di hadapan Suci, sehingga Mama Erina menyuruh Arya untuk bangun.
"Bangun kamu Arya, tidak pantas kamu berlutut seperti itu di depan perempuan ja_"
Perkataan Mama Erina terputus karena Arya langsung memotongnya.
"Cukup Ma, harus berapa kali Arya bilang jika Suci adalah perempuan baik-baik," ucap Arya kemudian mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya.
"Kenapa sapu tangan lelaki bejat itu ada di tangan Mas Arya?" tanya Suci dengan gemetar ketakutan.
"Saat Mas demam, Suci memakainya untuk mengompres dahi Mas, dan sapu tangan ini adalah sapu tangan milik Mas," jawab Arya dengan tertunduk malu.
__ADS_1
"Permainan apa lagi ini Arya, katakan jika semuanya tidak benar !!" teriak Mama Erina.
"Mama lihat sendiri sapu tangan yang Mama berikan untuk Arya, Mama sendiri kan yang menyulam nama Arya pada sapu tangan ini? dan Mama harus tau, jika sapu tangan ini adalah saksi bisu ketika Arya menghancurkan hidup Suci sehingga Suci hamil di luar nikah, dan melahirkan Anak Arya. Oma juga pasti ingat ketika beberapa bulan lalu Arya mengalami mual dan muntah selama empat bulan, dan Oma bertanya apa Arya telah melakukan kesalahan kepada seorang perempuan? tapi saat itu Arya tidak berani mengakui kesalahan yang telah Arya lakukan."
"Iya benar, Oma pernah mempunyai pikiran jika Arya telah menghamili seorang perempuan, makanya Arya mendapatkan karma atas perbuatannya," ucap Mama Rahma yang tidak ingin menutupi semuanya.
Suci saat ini terlihat bingung, karena dirinya benar-benar merasa kecewa terhadap Arya.
"Suci, Mas sangat menyesal, saat itu Mas berada di bawah pengaruh alkohol, dan setelah kejadian malam itu, Mas terus mencari Suci untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Mas, tapi Mas tidak juga menemukan keberadaan Suci."
"Cukup Tuan Arya yang terhormat, aku tidak mau lagi mendengar penjelasan kamu. Kenapa kamu baru mengakuinya sekarang? kenapa tidak dari awal kita bertemu kamu mengakui semuanya?" tanya Suci.
"Mas takut jika kamu tidak bisa memaafkan kesalahan yang telah Mas lakukan. Mas tidak mau kehilangan kamu dan Rizky."
"Sudah pasti aku tidak akan sudi memaafkan lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku. Aku tidak menyangka, jika lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku adalah Suamiku sendiri."
"Mas mohon, ijinkan Mas menebus semua kesalahan yang telah Mas lakukan."
"Apa kamu tau karena perbuatan kamu malam itu, Ibuku sampai meninggal dunia? apa kamu bisa mengembalikan Ibuku? apa kamu bisa mengembalikan kebahagiaan yang telah kamu hancurkan? aku kecewa sama kamu. Jangan-jangan selama ini kamu juga hanya berpura-pura mencintaiku."
"Tidak Suci, Mas bersumpah jika hanya kamu satu-satunya perempuan yang Mas cintai. Mas sudah bertekad untuk menebus semua kesalahan yang telah Mas lalukan dengan membahagiakan kamu dan Anak kita dalam seumur hidup Mas."
"Maaf, tapi aku tidak bisa jika terus hidup bersama dengan seorang lelaki bejat sekaligus pembohong besar, bahkan secara tidak langsung kamu telah membunuh Ibuku," teriak Suci, kemudian berlari ke luar dari kediaman Argadana.
Arya hendak mengejar Suci, tapi Mama Erina menahannya dengan memegangi tubuh Arya.
"Arya, sekarang juga kamu jelaskan semuanya kepada Mama, kamu tidak mungkin kan melakukan semua itu? semua yang kamu katakan pasti bohong kan?" tanya Mama Erina dengan menangis, karena Mama Erina masih belum bisa menerima semua pengakuan dosa Arya.
*
*
Bersambung
__ADS_1