
Suci terlihat melamun, ada rasa bersalah yang menjalar pada hatinya ketika melihat kesedihan yang terukir jelas pada wajah Rian, tapi anehnya Suci tidak bisa menyentuh Rian yang saat ini tengah duduk di samping Arya.
"Mas Rian, maaf ya, saat Mama Linda meninggal dunia, Suci tidak ada di samping Mas Rian," ucap Suci yang terlihat kaku, begitu juga dengan Rian yang memilih menjaga jarak dengan Suci, karena Rian sudah bertekad ingin mengembalikan Suci kepada Arya.
"Tidak apa-apa Suci, masalah umur memang tidak ada yang tau, apalagi Mama meninggal ketika kamu melakukan operasi," ujar Rian dengan terus menundukkan kepalanya, karena Rian takut jika pertahanannya akan runtuh ketika melihat wajah Suci.
"Mas, bagaimana kabar Anak-anak?" tanya Suci.
"Alhamdulillah mereka baik, untuk saja ada Hesti dan Irwan yang membantu menjaga Anak-anak, ditambah lagi sekarang ada Bu Rita dan Putri, jadi di rumah semakin ramai," ujar Rian dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Aku kangen sekali sama Bu Rita, sudah lama kami tidak bertemu," ujar Suci dengan mengembangkan senyuman, dan tanpa sadar Suci menggenggam erat tangan Arya yang saat ini berada di sampingnya.
Rian memutuskan untuk pamit pulang, karena Rian sudah merasa tidak dibutuhkan lagi oleh Suci.
"Suci, Arya, kalau begitu aku permisi dulu," ujar Rian.
Arya meminta ijin kepada Suci untuk mengantar Rian ke luar dari kamar perawatan Suci, padahal sebenarnya Arya ingin berbicara dengan Rian.
"Rian tunggu. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kamu," ujar Arya, kemudian mengajak Rian duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari kamar perawatan Suci.
"Rian, aku tau kalau kamu pasti sakit hati melihat kebersamaan ku dengan Suci," ujar Arya.
Rian beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.
"Sudah seharusnya dari dulu aku mengembalikan Suci kepadamu, karena Suci adalah tulang rusukmu, bukan tulang rusukku," ujar Rian dengan menahan sesak dalam dadanya.
"Rian, terimakasih karena selama ini kamu sudah menjaga Istri dan Anakku. Aku sudah mengetahui semuanya dari Irwan, katanya sebelum Mama kamu meninggal dunia, beliau menceritakan bahwa Arsyila adalah Anak kandungku, dan kamu tidak pernah menyentuh Suci ketika kalian tinggal bersama," ucap Arya.
"Aku melakukan semua itu karena tidak ingin menodai perempuan yang sangat aku cintai, jadi kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih," ujar Rian dengan tertunduk sedih.
"Rian, aku belum sempat meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan di masalalu karena telah menggagalkan pernikahan kamu dengan Suci. Seandainya saja saat itu aku tidak melakukan perbuatan bejat kepada Suci, pasti kamu dan Suci sudah menikah," ujar Arya dengan menghela nafas panjang.
"Arya, mendiang Mama ku pernah bilang, jika di dalam hidup tidak ada kata seandainya, karena semua yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pergi meninggalkan Suci? Atau aku harus berpura-pura menceraikannya dengan alasan karena dia telah berselingkuh dengan kamu?" tanya Rian.
__ADS_1
"Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada Suci jika aku adalah Suaminya, supaya Suci tidak merasa bersalah dan menganggap jika kami telah melakukan dosa besar dengan berselingkuh, tapi Dokter menyarankan supaya kita tidak memaksa Suci untuk mengingat semuanya."
"Dokter juga sebelumnya pernah mengatakan jika syaraf motorik Suci akan rusak jika dia memaksakan diri untuk mengingat semuanya," ujar Rian.
"Iya, makanya aku mencoba menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Suci. Jika sekarang kamu berpura-pura menceraikan Suci karena dia telah berselingkuh denganku, pasti dia akan merasa semakin bersalah, dan bisa jadi dia akan mengakhiri hubungan kami. Jadi, aku harap kamu masih mau berpura-pura menjadi Suami Suci sampai ingatannya kembali, karena aku percaya jika kamu pasti tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya."
"Baiklah kalau itu kemauan kamu, anggap saja aku melakukan semua itu untuk menebus kesalahan yang telah aku lakukan karena telah memisahkan kamu dengan Suci. Sekarang Suci juga tidak mungkin mau aku sentuh, karena aku bisa melihat tatapan penuh cinta saat dia melihatmu. Mungkin aku adalah cinta pertamanya, tapi kamu adalah cinta terakhirnya," ujar Rian dengan terus menahan sesak dalam dadanya.
"Aku tidak bisa mengucapkan apa pun selain terimakasih," ujar Arya dengan memeluk tubuh Rian.
"Arya, mulai sekarang aku kembalikan Suci kepada kamu, dan aku akan menjaga jarak dengannya. Aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik, jangan sampai kamu menyakitinya dan membuat Suci menangis, karena jika kamu sampai melakukan semua itu, aku pasti akan kembali merebut Suci."
"Aku pasti akan selalu menjaga, mencintai dan menyayangi Suci juga Anak-anak kami, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebutnya dariku," ujar Arya dengan penuh semangat.
"Kalau begitu aku pulang dulu, dan aku akan selalu pegang kata-katamu," ujar Rian, kemudian melangkahkan kaki untuk ke luar dari Rumah Sakit.
Setelah kepergian Rian, Arya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar perawatan Suci, dan Arya langsung menghampiri Suci yang sudah terlihat cemas.
"Mas, kenapa sih lama sekali?" tanya Suci.
"Apa Mas Arya membicarakan sesuatu dengan Mas Rian?" tanya Suci.
"Sayang, kamu tidak perlu khawatir seperti itu, hubungan aku dan Rian baik-baik saja, dan kami hanya membicarakan tentang Anak-anak. Sebaiknya sekarang sayangku yang cantik ini makan dulu," ujar Arya, kemudian mengambil makanan Suci lalu menyuapinya.
"Mas, aku bisa makan sendiri," ujar Suci yang hendak mengambil piring dari tangan Arya.
"Sayang, aku tidak akan membiarkan kamu melakukan semuanya sendirian, biarkan Hamba yang melayani Yang Mulia Ratu," ujar Arya dengan tersenyum, dan Suci semakin jatuh cinta terhadap sosok Arya yang selalu bersikap manis kepadanya.
......................
Sudah 3 hari Alina mengalami kontraksi, tapi bayinya belum juga lahir. Dokter sudah melakukan berbagai macam cara terhadap Alina, tapi anehnya semua upaya Dokter selalu saja gagal.
"Dok, saya mohon, sekarang juga lakukan operasi caesar, saya sudah tidak kuat lagi menahan sakit," teriak Alina dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, kami tidak bisa melakukan operasi caesar, karena tensi Anda sangat tinggi," ujar Dokter.
"Lakukan apa pun supaya saya bisa segera melahirkan. Apa kalian tidak tau kalau saya sudah tidak kuat lagi menahan sakit !!" ujar Alina yang terus saja berteriak.
"Kami sudah melakukan semua tindakan yang kami bisa, kami juga merasa heran, karena baru kali ini kami mengalami kegagalan," ujar Dokter.
"Nyonya, sepertinya Anda memiliki dosa yang besar kepada Ibu Anda, soalnya saya juga dulu pernah kesusahan saat akan melahirkan, tapi setelah saya meminta maaf kepada Ibu saya, saya langsung melahirkan dengan lancar," ujar salah satu Perawat.
"Kamu tau apa tentang saya. Saya sudah tidak memiliki Ibu, karena Ibu saya sudah mati," ujar Alina.
Setelah Dokter dan Perawat ke luar dari kamar perawatan Alina, Papa Ferdi mendekati Alina yang masih saja menjerit kesakitan.
"Alina, mungkin perkataan Perawat tadi ada benarnya. Kamu sudah melakukan dosa besar terhadap Ibu kandung kamu. Apa tidak sebaiknya kamu meminta maaf kepada Rita supaya persalinan kamu lancar?" ujar Papa Ferdi.
"Kenapa Alina harus meminta maaf sama seorang Pembantu? Sama saja Alina merendahkan harga diri Alina sendiri," ujar Alina dengan angkuhnya, dan tiba-tiba perut Alina semakin merasa kesakitan
"Sayang, Surga itu di telapak kaki Ibu. Sekarang kamu tau bagaimana rasanya akan melahirkan, pasti Bu Rita juga dulu seperti itu saat akan melahirkan kamu," ujar Farel dengan mengelus lembut perut Alina, karena saat dulu Alina melahirkan Putri, Alina melakukan operasi caesar dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Kamu itu bisanya cuma ngomong. Laki-laki memang hanya mau enaknya saja," gerutu Alina dengan memegang erat tangan Farel sehingga membuat Farel merasa kesakitan.
"Alina, sekarang Papa akan membuktikan jika do'a seorang Ibu akan langsung dikabulkan Tuhan," ujar Papa Ferdi kemudian mengeluarkan handphone nya untuk menelpon Bu Rita.
"Alina tidak percaya dengan semua itu, do'a yang diijabah itu kalau orangnya tidak memiliki dosa. Dia itu seorang pembunuh, mana mungkin do'a seorang pembunuh diijabah oleh Tuhan," ujar Alina dengan tersenyum mengejek.
"Baiklah kita akan buktikan. Sekarang Papa akan meminta maaf kepada Rita atas nama kamu, tapi Papa memiliki syarat," ujar Papa Ferdi.
"Apa syaratnya?" tanya Alina.
"Kamu harus meminta maaf kepada Rita apabila nanti setelah Rita memaafkan kamu, kamu langsung melahirkan dengan lancar," ujar Papa Ferdi.
"Jangankan meminta maaf, Alina bahkan akan bersujud kepadanya jika Alina langsung melahirkan setelah dia memaafkan Alina, karena Alina tidak percaya dengan takhayul seperti itu."
*
__ADS_1
*
Bersambung