
Iqbal dan Rizky hanya diam tanpa mengucapkan satu patah kata pun ketika mendengar perkataan Putri yang akan menelpon Arya, karena baik Rizky mau pun Iqbal sadar betul jika kedua orangtuanya harus mengetahui masalah ini.
Iqbal juga terlihat berpikir, karena Iqbal sudah memantapkan hatinya untuk bertanya kepada Suci dan Arya tentang siapa orangtua kandungnya.
Aku tidak bisa terus terusan lari dari kenyataan jika sebenarnya aku hanyalah Anak angkat Mama dan Papa. Aku harus bertanya kepada mereka siapa orangtua kandungku yang sebenarnya. Aku juga harus mempertanggung jawabkan perbuatanku terhadap Arsyi, ucap Iqbal dalam hati.
Putri terlihat menelpon Suci, dan Putri meminta kepada Suci dan Arya untuk segera kembali ke Indonesia.
📞"Assalamu'alaikum Tante."
📞"Wa'alaikumsalam, Putri tumben telpon, kabar semuanya baik-baik saja kan?" tanya Suci.
Suci sudah merasa khawatir ketika menerima panggilan dari Putri, karena sudah lama Putri tidak menelpon dirinya, apalagi semalam perasaan Suci tidak enak, dan Suci terus merasa gelisah.
📞"Alhamdulillah kabar semuanya baik Tante, hanya saja Putri harap Tante dan Om bisa segera kembali ke Indonesia."
Degg
Jantung Suci rasanya berhenti berdetak, perasaan Suci juga semakin tidak karuan.
📞"Nak, memangnya ada masalah apa yang membuat Om dan Tante harus segera kembali ke Indonesia? Putri tau sendiri kan kalau Tante dan Om baru saja berangkat ke Singapura untuk mengantar Oma berobat?" tanya Suci.
Putri menghela nafas panjang, tapi Putri tidak bisa mengatakan masalah yang sebenarnya lewat telpon, karena Putri takut jika Suci dan Arya akan merasa syok.
📞"Nanti kita bisa membicarakan semuanya setelah Om dan Tante kembali, tapi masalah ini sangat mendesak dan tidak dapat dibicarakan lewat telpon," jawab Putri.
📞"Kalau begitu Tante akan berdiskusi dulu dengan Om untuk mencari Perawat yang bisa membantu Bi Darsih merawat Oma Erina," ujar Suci kemudian mengucapkan Salam sebelum menutup telpon nya.
Suci mengatakan kepada Arya tentang Putri yang menelpon nya serta menyuruh nya untuk segera kembali ke Indonesia.
"Pa, kita harus bagaimana? Mama yakin jika Putri meminta kita untuk pulang karena ada sesuatu hal yang penting. Mama takut kalau semua itu ada hubungannya dengan Anak-anak Pa," ujar Suci dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Mama tenang dulu ya, kalau begitu Papa akan mencari Perawat yang bisa membantu Bi Darsih untuk mengurus Mama Erina selama berobat di sini," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci supaya merasa lebih tenang.
Setelah Arya mendapatkan Perawat yang bisa membantu mengurus Mama Erina, Arya dan Suci berpamitan kepada Mama Erina untuk kembali ke Indonesia.
__ADS_1
"Ma, maaf ya Arya dan Suci tidak bisa menemani Mama melakukan pengobatan, karena Arya ada urusan penting di Perusahaan, Suci juga harus mempersiapkan acara pernikahan Arsyi dan Nanda," ujar Arya yang mencoba mencari alasan supaya Mama Erina tidak merasa khawatir.
"Iya Nak, tidak apa-apa, kalian tenang saja, di sini juga ada Bi Darsih yang akan membantu mengurus Mama."
"Mama tidak perlu khawatir, kami sudah meminta Perawat untuk membantu Bi Darsih, kami juga sudah menitipkan Mama kepada Dokter Evan Temannya Rizky. Setelah urusan di Indonesia selesai, kami pasti akan segera kembali ke sini," ujar Arya.
Suci dan Arya sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan Mama Erina dalam kondisi kesehatan yang tidak baik, tapi mereka juga khawatir apabila terjadi sesuatu yang buruk kepada ketiga Anaknya.
"Bi, kami titip Mama ya, kalau ada apa-apa, Bibi segera hubungi kami," ujar Suci.
Suci dan Arya bergegas kembali ke Indonesia, apalagi Putri mengirimkan pesan supaya Suci dan Arya langsung datang ke Rumah Sakit tempat Rizky bekerja.
......................
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Argadana, Nanda yang sudah janjian akan menjemput Arsyi, merasa kebingungan karena tidak ada siapa pun di kediaman Argadana.
"Kemana Arsyi, padahal kita sudah janjian untuk berangkat kerja bareng? Kenapa pagar rumah juga di gembok?" gumam Nanda.
Nanda mencoba menelpon Arsyi, tapi handphone Arsyi tidak dapat dihubungi sehingga membuat Nanda merasa cemas.
"Tumben handphone Arsyi gak aktif? sebaiknya aku coba telpon Kak Rizky saja, siapa tau semalam Arsyi ikut Kak Rizky ke Rumah Sakit," gumam Nanda lagi.
"Sepertinya ada yang tidak beres, sebaiknya aku pergi ke Rumah Sakit saja, siapa tau Arsyi juga ada di sana," gumam Nanda kemudian melajukan mobilnya ke Rumah Sakit.
Ketika Nanda tiba di Rumah Sakit, Suci dan Arya baru tiba di Rumah Sakit juga.
Selain meminta Suci dan Arya untuk langsung datang ke Rumah Sakit, Putri juga sudah mengirimkan nomor salah satu kamar perawatan di Rumah Sakit tersebut.
"Lho Ma, Pa, bukannya Mama sama Papa mengantar Oma berobat ke Singapura?" tanya Nanda kepada Suci dan Arya.
"Iya Nak, tapi tadi pagi Putri menelpon kami dan meminta kami supaya segera pulang, kami juga terkejut karena Putri langsung meminta kami untuk datang ke Rumah Sakit. Nanda kenapa bisa ada di Rumah Sakit juga?" Suci balik bertanya.
"Kemarin saat Nanda mengantar Arsyi pulang kerja, Nanda sama Arsyi sudah janjian kalau hari ini kami akan berangkat kerja bareng, tapi ketika tadi Nanda menjemput Arsyi, di kediaman Argadana tidak ada siapa-siapa, bahkan telpon Arsyi juga tidak dapat dihubungi. Nanda sudah mencoba menelpon Kak Rizky, tapi Kak Rizky juga tidak mengangkat telponnya, jadi Nanda memutuskan untuk mencari Arsyi ke sini, siapa tau semalam Arsyi ikut sama Kak Rizky ke Rumah Sakit."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita masuk ke dalam, Putri juga tadi sudah memberikan nomor kamar perawatan tempat Putri dan Rizky berada," ujar Suci.
__ADS_1
Suci, Arya dan Nanda berjalan menuju kamar perawatan yang sebelumnya dikirim oleh Putri, sedikit pun ketiganya tidak mengira jika kamar tersebut adalah kamar perawatan Arsyi.
Ketiganya terkejut ketika sampai di depan kamar perawatan yang dikirimkan oleh Putri, karena di dalam kamar perawatan tersebut terdengar suara seorang perempuan yang tengah menangis histeris, terlebih lagi suara perempuan tersebut terdengar tidak asing untuk mereka.
Deg deg deg
Jantung ketiganya berdetak kencang, karena mereka tau betul jika itu adalah suara Arsyi.
"Pa, itu sepertinya suara Arsyi?" ujar Suci, kemudian ketiganya menerobos masuk ke dalam kamar perawatan Arsyi.
Suci, Arya dan Nanda semakin terkejut karena dugaan mereka benar.
Saat ini Arsyi menangis histeris, Arsyi juga terlihat ketakutan.
Rizky dan Putri terlihat mencoba menenangkan Arsyi, tapi Arsyi tidak mau di dekati oleh siapa pun, sedangkan Iqbal terus berlutut di atas lantai dengan menangis.
"Apa yang terjadi? Kenapa Arsyi bisa seperti ini?" tanya Arya.
Suci, Arya dan Nanda mendekati Arsyi, tapi lagi-lagi Arsyi berteriak ketakutan.
"Jangan, jangan dekati Arsyi, Kak Iqbal jahat, Kak Iqbal jahat," teriak Arsyi.
Arsyi mengalami trauma karena perbuatan Iqbal yang telah menodainya, sehingga wajah semua orang terlihat seperti wajah Iqbal.
"Arsyi sayang ini Mama Nak, ini Mama sayang," ujar Suci dengan memeluk tubuh Arsyi.
Arsyi merasa lebih tenang ketika berada dalam pelukan Suci.
"Ma_ma, Arsyi takut," ucap Arsyi dengan lirih, kemudian Arsyi kembali pingsan.
Arya menatap tajam Iqbal, karena Arya sudah bisa menduga jika Iqbal telah melakukan sesuatu yang buruk kepada Arsyi.
"Iqbal, apa yang sudah kamu lakukan kepada Adik kamu? Sekarang juga jelaskan kenapa Arsyi sampai seperti ini !! ujar Arya dengan penuh penekanan.
*
__ADS_1
*
Bersambung