Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 80 ( Pertemuan tak terduga )


__ADS_3

Saat ini usia kandungan Suci sudah memasuki taksiran persalinan, dan Rian selalu menjaga Suci dengan baik, meski pun pada kenyataannya selalu ada rasa takut pada hati Rian jika Suci kembali mengingat masalalunya bersama Arya.


"Rian, sampai kapan kamu akan mempertahankan Suci untuk terus berada di sampingmu?" tanya Mama Linda.


"Sampai ingatan Suci kembali dan Suci lebih memilih Arya dibandingkan Rian," jawab Rian.


Mama Linda selalu mengingatkan Rian untuk mengembalikan Suci kepada Arya, tapi Rian masih tetap dengan pendiriannya.


"Nak, apa Rian tidak kasihan kepada Suami dan Anaknya Suci? Mereka pasti membutuhkan Suci berada di sampingnya."


"Ma, bukan hanya Arya dan Rizky yang membutuhkan Suci, tapi Rian juga membutuhkannya."


"Mama tau Nak, karena Mama juga merasa bahagia jika Suci terus berada bersama kita. Suci sudah membuat Mama merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Putri, tapi Mama merasa kasihan karena akhir akhir ini Mama sering melihat Suci melamun. Apa mungkin karena Suci sering mengalami sakit kepala saat dia mencoba mengingat masalalunya?"


"Jadi maksud Mama kita harus mengembalikan Suci kepada keluarganya supaya ingatan Suci kembali dan Suci tidak mengalami sakit kepala lagi?" tanya Rian yang mencoba mencerna maksud perkataan Mama Linda.


"Iya Nak, mungkin saja jika Rian mengembalikan Suci kepada keluarganya, ingatan Suci akan segera pulih. Bukannya Dokter menyarankan supaya Suci bertemu dengan orang-orang yang dia lupakan? Karena dengan begitu memori ingatan Suci secara perlahan akan kembali dengan sendirinya."


Rian terlihat melamun, karena Rian juga sebenarnya tidak tega jika terus melihat Suci merasa kesakitan, tapi Rian masih saja belum merasa siap untuk berpisah dengan Suci.


"Ma, Rian juga sebenarnya tidak tega jika melihat Suci yang terus merasa kesakitan, tapi Rian masih belum rela jika harus berpisah dengan Suci."


"Nak, suatu saat nanti sebuah kebohongan pasti akan terbongkar juga meski pun kita terus menutupinya, dan Mama takut apabila Suci kecewa jika dia mengetahui bahwa kita sudah membohonginya."


Mama Linda dan Rian merasa terkejut ketika melihat Suci yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.


"Memangnya kebohongan apa yang sudah Mama dan Mas Rian sembunyikan dari Suci?" tanya Suci yang merasa penasaran dengan pembicaraan Rian dan Mama Linda.


Mama Linda dan Rian saling menatap, dan mereka terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan yang Suci lontarkan.


"Sayang, sebenarnya kami sedang membicarakan tentang Karyawan Restoran yang diam diam sudah mencoba untuk membuat usaha Ayah bangkrut, untung saja Ayah segera mengetahuinya. Tadinya kami tidak ingin mengatakan tentang semua itu kepada Bunda supaya Bunda tidak kepikiran, tapi ternyata Bunda sudah mendengarnya," ujar Rian yang mencoba menutupi kebohongannya, tapi saat ini kondisi keuangan Rian memang sedang tidak stabil akibat dari Karyawan yang dibayar oleh saingan bisnis Rian supaya menghancurkan usaha Restoran milik Rian.

__ADS_1


"Yah, maaf kalau Bunda tidak tau apa-apa tentang masalah yang saat ini sedang Ayah hadapi."


"Tidak apa-apa sayang, Bunda jangan terlalu banyak pikiran, semuanya pasti akan baik-baik saja. Hanya saja sekarang Ayah jadi lebih sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk Bunda dan Rizky, apalagi Ayah juga harus bolak balik kantor Polisi untuk menjadi Saksi."


"Tidak apa-apa Yah, Bunda mengerti. Bunda justru meminta maaf karena tidak bisa membantu Ayah."


"Yang penting Bunda do'akan Ayah semoga semuanya baik-baik saja. Kalau begitu sekarang Ayah pergi dulu," ujar Rian dengan mengecup kening Suci kemudian pamit kepada Suci dan Mama Linda untuk berangkat menuju Kantor Polisi.


......................


Arya saat ini sedang berada di Jawa Timur, karena Arya dan keluarga mencoba mengobati penyakit Mama Erina dengan melakukan Rukiyah di salah satu Pesantren yang berada di daerah Jawa Timur.


Setelah Arya menitipkan Mama Erina, Arya memutuskan untuk kembali ke Jakarta, karena Arya tidak tenang jika meninggalkan Rizky terlalu lama.


Sepanjang perjalanan, Arya terus saja melamun memikirkan Suci yang masih belum juga dia temukan, sampai akhirnya Arya tersadar dari lamunan ketika Supirnya mengerem mobil secara mendadak.


"Pak, kenapa Bapak mengerem secara mendadak?" tanya Arya.


Arya membuka jendela mobilnya, kemudian Arya turun untuk bertanya kepada perempuan paruh baya yang saat ini sedang terlihat panik.


"Maaf Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Arya.


"Maaf Nak, saya sudah mengganggu perjalanannya, tapi saya bingung karena dari tadi tidak ada yang mau menghentikan kendaraannya, padahal saya mau minta tolong untuk membawa majikan saya ke Rumah Sakit, karena beliau sepertinya mau melahirkan, makanya saya nekad berdiri di tengah jalan," jawab perempuan paruh baya tersebut yang ternyata adalah Bi Sari.


Sebelumnya Suci dan Bi Sari mengajak Rizky jalan-jalan ke Taman yang tidak terlalu jauh dari kediaman Mama Linda, tapi ketika mereka hendak pulang, tiba-tiba Suci merasakan kontraksi, bahkan air ketubannya sudah pecah, sehingga membuat Bi Sari merasa panik, apalagi di Taman tersebut sedang tidak ada orang.


Arya yang merasa kasihan terhadap Bi Sari memutuskan untuk membantunya.


"Dimana keberadaan majikan Ibu?" tanya Arya.


"Nyonya menunggu saya di sana," jawab Bi Sari dengan menunjuk pada sebuah bangku taman.

__ADS_1


Arya melihat seorang perempuan hamil yang sedang duduk di sebuah bangku taman yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, tapi Arya belum melihat wajahnya, karena saat ini Suci sedang dalam keadaan tertunduk dengan memegangi perutnya yang terasa sakit.


Kenapa perutku tiba-tiba terasa sakit saat melihat perempuan yang mau melahirkan itu? Batin Arya yang merasa heran.


"Tuan mau kan membantu saya?" tanya Bi Sari dengan penuh harap.


"Baik Bu, kalau begitu saya akan membantu Ibu dengan membawa majikan Ibu ke Rumah Sakit," ujar Arya dengan melangkahkan kaki mendekati tubuh Suci.


Arya begitu terkejut ketika Suci mendongakkan kepalanya.


"Su_suci," ucap Arya dengan lirih, dan tanpa terasa, buliran bening lolos begitu saja dari mata Arya.


"Maaf Mas, apa Anda mengenal saya?" tanya Suci dengan meringis kesakitan.


Arya hanya diam mematung karena saat ini dirinya tidak percaya jika perempuan yang saat ini berada di hadapannya adalah Suci.


Ketika Arya hendak menjawab pertanyaan Suci, Bi Sari keburu angkat suara.


"Nak, sebaiknya sekarang juga tolong bawa Nyonya Suci ke Rumah Sakit terdekat, saya takut Nyonya kenapa-napa, karena air ketubannya sudah pecah. Akan tetapi, mohon maaf saya tidak bisa ikut mengantar, karena saya tidak mungkin membawa Den Rizky ke Rumah Sakit. Nanti saya akan segera menghubungi Tuan Rian supaya segera menyusul, soalnya handphone saya tertinggal di rumah," ujar Bi Sari.


Suci mencoba menenangkan Bi Sari yang saat ini terlihat panik.


"Bibi jangan panik ya, Suci titip Rizky. Suci pasti akan baik-baik saja, nanti setelah sampai rumah, Bibi jangan lupa segera kasih tau Mas Rian kalau Suci akan segera melahirkan Putrinya," ujar Suci sehingga membuat hati Arya terasa sakit.


Ternyata benar jika Suci tidak mengingatku. Kenapa rasanya sakit ketika aku sudah menemukan Suci, tapi Suci tidak mengenaliku, apalagi Suci akan melahirkan Anak dari lelaki lain. Arya kamu harus kuat, yang penting sekarang aku harus segera membawa Suci ke Rumah Sakit, ucap Arya dalam hati.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2