Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 148 ( Kenapa wajah kami tidak mirip? )


__ADS_3

Lima tahun kemudian..


Rumah tangga Suci dan Arya selalu berjalan dengan harmonis. Meski pun ada saja ujian dalam rumah tangga mereka, tapi keduanya selalu berhasil melewatinya.


Saat ini Rizky dan Iqbal sudah berusia tujuh tahun, dan keduanya sudah akan masuk SD, sedangkan Arsyila yang berusia enam tahun akan naik kelas ke TK kelompok B.


"Sayang, sebaiknya kita berangkat sekarang, hari ini kenaikan kelas Arsyila sama kelulusan si Kembar, jadi kita tidak tidak boleh terlambat karena Anak-anak mau tampil untuk menari," teriak Suci kepada Arya yang masih berada di dalam kamar.


Suci terlihat sibuk mendandani ketiga Anaknya, apalagi Oma Rahma, Mama Erina dan Papa Fadil sedang pergi ke luar kota untuk melayat kerabat yang meninggal dunia, sedangkan Bi Sari sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu, dan Suci memutuskan tidak memakai jasa Baby Suster lagi semenjak Bi Sari meninggal dunia


"Iya sebentar sayang, Papa masih telpon Asisten baru dulu untuk hadir mewakili meeting dadakan," teriak Arya dari dalam kamar.


"Memangnya Farel kemana Pa?" tanya Suci.


"Farel katanya bakalan datang juga ke acara Sekolah untuk mengantar Putri dan Ratu," jawab Arya dengan menghampiri Suci.


"Pa, Asisten barunya laki-laki kan?" tanya Suci dengan memicingkan matanya.


"Memangnya Mama pikir Papa mau menerima Asisten perempuan? Bisa-bisa Mama ngamuk dan ngacak-ngacak seluruh isi kantor," ujar Arya dengan membantu Suci mendandani ketiga Anaknya, setelah itu Suci dan Arya masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan handphone.


"Kak, Arsyi gak mau jadi orang dewasa."


"Memangnya kenapa? Jadi orang dewasa itu enak, bebas pergi kemana-mana," ujar Iqbal yang memang lebih dekat dengar Arsyi.


"Kakak lihat sendiri Papa sama Mama, setiap hari mereka selalu saja sibuk, bukannya jadi orang dewasa itu capek dan membosankan? Setiap hari Papa sibuk bekerja, sedangkan Mama selalu sibuk mengurus kita. Jadi, lebih baik Arsyi menjadi Anak-anak saja."


Rizky yang mendengar perkataan Arsyi langsung menghampiri Arsyi dan Iqbal.


"Arsyi, Papa sibuk bekerja juga demi masa depan kita, sedangkan Mama lebih memilih untuk sibuk merawat kita karena Mama sangat menyayangi Anak-anaknya. Seharusnya kita bersyukur karena memiliki orangtua yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada kita. Arsyi lihat Putri, kasihan Putri karena Mama nya lebih memilih sibuk bekerja, bahkan Putri tidak pernah di antar ke Sekolah," ujar Rizky yang sudah bersikap lebih dewasa.


Rizky sebenarnya menuruni sifat Arya yang selalu bersikap dingin seperti kulkas dua pintu jika kepada oranglain, tapi semua itu tidak berlaku untuk keluarganya, karena Rizky sangat menyayangi semua keluarganya.

__ADS_1


"Arsyi juga kasihan sama Putri Kak, Putri sering dimarahi sama Tante Alina, tapi Tante Alina selalu memanjakan Ratu, semua itu kan tidak adil," cerocos Arsyi.


"Makanya kita harus bersyukur, karena selama ini Mama sama Papa tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada kita bertiga," ujar Rizky dengan mengelus lembut kepala Arsyi.


Alina masih belum bisa menerima Putri sebagai Anaknya karena Putri memiliki kekurangan. Farel juga sudah berusaha melakukan operasi plastik untuk menghilangkan tanda hitam pada wajah Putri, tapi anehnya operasi Putri selalu saja gagal.


Setelah selesai memasangkan dasi pada Arya, Suci dan Arya ke luar dari dalam kamar menghampiri ketiga Anaknya.


"Sayang, kalian sedang membicarakan apa?"


"Bukan apa-apa Ma, kami hanya merasa beruntung memiliki kalian," jawab Arsyi dengan tersenyum manis.


"Mama sama Papa yang lebih beruntung lagi karena memiliki kalian bertiga," ujar Suci.


Suci dan Arya kemudian memeluk ketiga Anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Ya sudah, kalau begitu Sebaiknya sekarang kita berangkat supaya kita tidak datang terlambat," ujar Suci.


"Papa, Arsyi mau di gendong," rengek Arsyi dengan merentangkan kedua tangannya.


"Ya udah, sini Tuan Putri naik punggung Papa," ujar Arya dengan berjongkok.


"Arsyi sudah besar, tidak boleh terus terusan manja sama Papa, nanti kalau Arsyi mau digendong, biar Kak Iqbal saja yang gendong."


"Iya Kak, tapi sekarang Kak Iqbal masih belum kuat menggendong Arsyi, tubuh Kak Iqbal juga masih kecil."


"Kalau begitu nanti Kakak bakalan makan yang banyak supaya cepat tumbuh besar dan bisa menggendong Arsyi," ujar Iqbal.


"Iqbal juga tidak boleh terus memanjakan Arsyi, Arsyi harus belajar mandiri," ujar Rizky.


"Sebagai Kakak, kita harus memanjakan Tuan Putri kita, kalau bukan kita yang memanjakan Arsyi, siapa lagi yang akan memanjakannya," ujar Iqbal yang tidak sependapat dengan Rizky.

__ADS_1


"Nanti Arsyi juga bakalan punya Suami, jadi biar Suami Arsyi saja yang memanjakan Arsyi, seperti Papa yang selalu memanjakan Mama," ujar Rizky.


"Arsyi tidak mau menikah, Arsyi tidak ingin berpisah sama kalian."


Sepanjang perjalanan menuju Sekolah, Ketiga Anak Suci dan Arya yang duduk di jok belakang terus saja berdebat, sampai akhirnya Suci berusaha menjadi penengah di antara ketiga Anaknya.


"Arsyi sayang, Arsyi tidak boleh berbicara seperti itu, suatu saat nanti, Arsyi, Kak Rizky, Kak Iqbal, pasti akan dewasa dan memiliki pasangan hidup. Menikah tidak akan menyebabkan kita semua berpisah, karena sebagai saudara kalian bertiga harus tetap saling menyayangi," ujar Suci.


"Tapi Iqbal juga tidak ingin berpisah dengan Arsyi Ma, bagaimana kalau nanti setelah dewasa Iqbal saja yang menikah dengan Arsyi, supaya kami berdua tidak berpisah," ujar Iqbal dengan memeluk tubuh Arsyila.


Degg


Jantung Suci dan Arya rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Iqbal, entah kenapa keduanya merasa takut ketika mendengar perkataan Iqbal tersebut.


"Iqbal tidak boleh berkata seperti itu, karena Iqbal dan Arsyi adalah Adik Kakak, jadi kalian tidak bisa menikah," ujar Rizky.


"Apa benar seperti itu Ma?" tanya Iqbal dan Arsyila secara bersamaan.


"Iya sayang, perkataan Kak Rizky benar. Iqbal juga tidak boleh terlalu memanjakan Arsyi, supaya Arsyi tidak terus bergantung kepada Iqbal," ujar Suci yang mencoba memberi pengertian, meski pun Suci selalu merasa takut apabila suatu saat nanti Iqbal mengetahui semua kebenarannya.


Maafin Mama Iqbal, Mama belum sanggup untuk mengatakan jika Iqbal bukanlah Anak kandung Mama dan Papa, ucap Suci dalam hati.


Arya yang sangat memahami perasaan Suci, langsung memegang tangan Suci dengan erat serta menganggukkan kepala sebagai isyarat jika semuanya akan baik-baik saja.


Selama ini, Suci dan Arya tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada Rizky, Iqbal dan Arsyila, meski pun pada kenyataannya Iqbal bukanlah Anak kandung Suci dan Arya. Akan tetapi, Iqbal selalu merasa heran ketika melihat wajah Suci dan Arya, karena wajah Iqbal tidak mirip sedikit pun dengan kedua orangtuanya.


Kenapa wajahku tidak mirip dengan Mama dan Papa? Sedangkan Rizky dan Arsyi mirip sekali dengan mereka. Apa benar kata orang-orang kalau aku bukan Anak kandung mereka? Jika aku bukan Anak kandung mereka, lalu aku Anak siapa? Batin Iqbal kini bertanya-tanya.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2