Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 182 ( Rasa cinta menjadi benci )


__ADS_3

Arya sudah takut jika Suci akan merasa kecewa terhadap dirinya apabila mengetahui tentang Iqbal yang telah dia usir.


"Pa, kemana Anak-anak?" tanya Suci yang tidak melihat Anak-anaknya selain Arsyi.


"Rizky dan Putri tadi ada panggilan darurat dari ruang operasi, sedangkan Nanda pergi ke luar untuk membeli makanan," jawab Arya.


Suci merasa heran karena Arya tidak mengatakan tentang Iqbal.


"Kalau Iqbal dimana Pa? Tidak mungkin kan Iqbal meninggalkan Arsyi dalam keadaan seperti ini? Apa Iqbal marah sama kita karena selama ini kita sudah menyembunyikan tentang identitas Iqbal yang sebenarnya?" tanya Suci lagi.


Arya tidak tau harus mengatakan apa tentang Iqbal terhadap Suci, karena saat ini Arya memang masih kecewa terhadap Iqbal, tapi di sisi lain Arya merasa bersalah juga karena telah mengusir bahkan memutuskan hubungan dengan Iqbal tanpa persetujuan dari Suci.


"Ma, maafin Papa, karena Papa telah mengusir Iqbal, bahkan Papa sudah memutuskan hubungan kita dengan Iqbal," ujar Arya dengan tertunduk sedih.


Suci merasa terkejut mendengar perkataan Arya, tapi Suci bisa memahami perasaan Arya yang pasti merasa kecewa dengan perbuatan yang telah Iqbal lakukan terhadap Arsyi.


Suci menghela nafas panjang, karena keluarga Suci kembali dihadapkan dengan ujian yang begitu besar.


"Apa Mama marah sama Papa?"


"Jujur Mama kecewa atas tindakan yang Papa lakukan, tapi Mama juga tidak bisa menyalahkan Papa, karena Mama mengerti perasaan Papa yang pasti merasa kecewa terhadap Iqbal, begitu juga dengan Mama yang merasa sangat kecewa atas perbuatan Iqbal terhadap Arsyi."


"Sekarang kita harus bagaimana untuk memperbaiki semuanya? Karena Papa sudah terlanjur mengusir Iqbal dan tidak memperbolehkan Iqbal untuk menampakan diri lagi di hadapan kita," ujar Arya.


"Sekarang semuanya sudah terjadi Pa, tapi sebagai orangtua, seharusnya kita lebih bijak dalam mengambil keputusan, karena sebenarnya semua kesalahan Iqbal berawal dari kita yang sudah menyembunyikan identitasnya."


Arya terlihat berpikir, karena yang Suci katakan ada benarnya juga.


"Iya, Mama benar. Seandainya dari awal kita tidak menutupi semuanya dari Iqbal, mungkin Iqbal tidak akan merasa terpukul ketika mengetahui jika Iqbal bukanlah Anak kandung kita, dan Iqbal tidak mungkin sampai mabuk. Semuanya memang kesalahan kita, dan sekarang Arsyi yang telah menjadi korban nya," ujar Arya yang tidak tau nasib Arsyi akan seperti apa ke depannya.


"Sebentar lagi Arsyi seharusnya menikah dengan Nanda, tapi mungkin semua itu tidak akan pernah terwujud," ujar Suci dengan menangis dalam pelukan Arya.

__ADS_1


Nanda yang baru saja kembali setelah membeli makanan untuk Arya dan Suci, tidak sengaja mendengar perkataan Suci, dan Nanda langsung saja angkat suara.


"Ma, apa pun yang terjadi, Nanda akan tetap menikahi Arsyi sesuai rencana sebelumnya, karena Nanda sangat mencintai Arsyi, dan Nanda akan menerima Arsyi apa adanya."


"Nanda, tapi semua itu tidak adil untuk kamu Nak, Arsyi pasti tidak akan bersedia lagi untuk menikah dengan kamu. Hesti dan Irwan juga pasti tidak akan menyetujui pernikahan kalian," ujar Suci.


"Kata siapa kami tidak akan setuju?" ujar Hesti yang tiba-tiba muncul di belakang Nanda, karena Hesti, Irwan dan Dinda sudah mengetahui semua kejadian yang menimpa Arsyi dari Nanda, makanya ketiga nya memutuskan untuk menjenguk Arsyi ke Rumah Sakit.


"Suci, semua ini adalah musibah, yang namanya musibah itu tidak ada yang tau," sambung Hesti.


Suci tidak percaya jika Hesti masih tetap merestui pernikahan Nanda dan Arsyi meski pun sudah mengetahui jika Arsyi sudah tidak suci lagi.


"Hesti, tapi semua itu tidak adil untuk kalian, aku tidak mau keluarga kalian menjadi bahan cemoohan semua orang karena masih bersedia menikahkan Nanda dengan Arsyi," ujar Suci.


Hesti langsung memeluk tubuh Suci, karena bagi Hesti, Suci adalah penyelamat hidupnya.


"Suci, apa selama ini kamu sudah melupakan persahabatan kita? Kenapa kamu keberatan dengan pernikahan Anak-anak kita?"


"Hesti, kamu pasti sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpa Arsyi, dan aku tidak mau kalian ikut menanggung malu tentang apa yang terjadi pada keluarga kami, karena sekarang semuanya sudah tidak sama lagi," ujar Suci.


Irwan yang merasa prihatin atas musibah yang menimpa Suci, akhirnya ikut angkat suara juga.


"Suci, Arya, kami turut prihatin atas musibah yang menimpa Arsyi, semoga kalian diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini."


"Terimakasih Irwan, karena kalian selalu ada untuk mendukung kami dalam suka dan duka," ujar Arya.


"Semua itu sudah seharusnya kami lakukan, karena kita adalah keluarga," ujar Farel yang baru datang bersama Ayu untuk melihat kondisi Arsyi setelah mendapatkan kabar mengenai Arsyi dari Putri.


Semuanya terkejut ketika melihat Farel yang sudah bisa berjalan kembali.


"Farel, sejak kapan kamu bisa berjalan lagi?" tanya Arya dan Irwan dengan menghampiri Farel.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah beberapa hari ini aku bisa berjalan lagi, dan semuanya berkat dukungan dari kalian. Arya, Suci kami juga turut prihatin atas musibah yang menimpa Arsyi, sebagai orangtua yang memiliki Anak perempuan, kami mengerti bagaimana perasaan kalian. Kami tidak tau apa jadinya apabila semua itu menimpa Anak-anak kami. Semoga kalian selalu sabar menghadapi semuanya ya," ucap Farel.


"Makasih banyak ya semuanya, semoga saja Arsyi bisa segera sembuh, supaya kita masih bisa menyelenggarakan acara pernikahannya dengan Nanda, apalagi persiapan pernikahan Arsyi dan Nanda sudah delapan puluh persen," ujar Arya.


Arsyi yang sudah sadar, kembali berteriak histeris, sehingga membuat semuanya merasa prihatin.


"Arsyi sayang, jangan takut ya Nak, kami semua akan selalu ada untuk Arsyi," ucap Hesti dengan memeluk tubuh Arsyi yang gemetar ketakutan.


"Bunda, Arsyi takut, sekarang Arsyi sudah kotor, jadi Arsyi tidak pantas menikah dengan Nanda," ujar Arsyi dengan menangis pilu.


Nanda yang mendengar perkataan Arsyi, secara perlahan mendekati Arsyi, kemudian Nanda menggenggam erat tangan Arsyi yang masih memeluk tubuh Hesti.


"My Princess tidak boleh berkata seperti itu, karena bagiku kamu tetap suci, dan kita akan segera menikah seperti rencana sebelumnya," ujar Nanda yang mencoba meyakinkan Arsyi.


"Tidak, aku tidak bisa menikah dengan kamu lagi Nanda. Aku tidak pantas bersanding denganmu, sebaiknya kamu mencari perempuan lain yang lebih baik segala-galanya dibandingkan denganku," ujar Arsyi dengan melepaskan pegangan tangannya dari Nanda.


Semuanya sudah menduga jika Arsyi pasti akan menolak untuk menikah dengan Nanda.


"Nak, Nanda sangat mencintai Arsyi, dan kami akan menerima Arsyi apa adanya," ujar Hesti dengan mengusap lembut kepala Arsyi.


"Maaf Bunda, tapi ini semua tidak adil untuk Nanda, dan keputusan Arsyi sudah bulat, jika Arsyi tidak akan pernah menikah dengan Nanda."


"Arsyi, aku mohon jangan pernah bicara seperti itu lagi, kenapa kamu tega sekali memutuskan hubungan kita yang sudah kita jalin selama enam tahun?" ujar Nanda.


"Maaf Nanda, tapi selama ini aku hanya mencintai Kak Iqbal, dan kamu hanya aku jadikan pelarian saja supaya aku bisa melupakan Kak Iqbal, selama ini aku hanya pura-pura mencintai kamu, karena pada kenyataannya, rasa cintaku untuk Kak Iqbal begitu besar, dan aku tidak bisa melupakannya," ujar Arsyi dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


Arsyi sengaja berkata seperti itu supaya Nanda menyerah dengan hubungan mereka, karena sebenarnya Arsyi baru menyadari jika dirinya sudah jatuh cinta kepada Nanda, sedangkan yang tersisa untuk Iqbal hanyalah rasa kebencian yang mendalam.


Maafkan aku Nanda, karena aku sudah menyakiti hati kamu. Aku terpaksa mengatakan semua itu demi kamu. Sekarang aku sudah tidak pantas lagi untukmu, dan kamu berhak bahagia dengan perempuan lain. Selama ini aku memang mencintai Kak Iqbal, tapi sekarang rasa cinta yang aku miliki untuknya sudah berubah menjadi rasa benci, ucap Arsyi dalam hati.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2