Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 120 ( Surat pengalihan harta )


__ADS_3

Suci sebenarnya ingin sekali bertanya kepada Arya tentang sikap Arya kepada Papa Fadil, karena tidak biasanya Arya bersikap dingin seperti itu, tapi Suci mencoba menahan diri karena tidak mau jika Arya sampai tersinggung.


Sebenarnya ada masalah apa antara Mas Arya dan Papa Fadil? Kenapa Mas Arya terlihat acuh kepada Papa Fadil? Aku ingin sekali menanyakan semuanya, tapi aku tidak mau kalau Mas arya sampai tersinggung, batin Suci kini bertanya-tanya.


"Mama kenapa diam saja?" tanya Arya dengan menggenggam tangan Suci, kemudian menciumnya.


"Mama hanya mengantuk Pa," jawab Suci yang mencoba mencari alasan.


"Kalau Mama ngantuk, Mama tidur saja, nanti kalau sudah sampai rumah, Papa bangunin. Atau Papa gendong sekalian sampai kamar," ujar Arya dengan tersenyum.


"Mama kasihan sama Papa kalau Mama sampai ketiduran di mobil, nanti pinggang Papa encok kalau gendong Mama."


"Papa masih muda Ma, mana mungkin encok," ujar Arya dengan terkekeh.


"Ya sudah, kalau begitu Mama tidur saja, jangan salahin Mama ya kalau sampai nanti Mama susah di bangunin. Papa juga hati-hati bawa mobilnya," ujar Suci, kemudian mencoba memejamkan kedua matanya.


"Selamat tidur Ratuku," ucap Arya dengan mencium kening Suci, dan Suci tersenyum bahagia karena selalu mendapatkan perlakuan manis dari Arya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Arya dan Suci sampai juga di halaman rumah mereka, tapi Arya sengaja tidak membangunkan Suci yang sudah tidur terlelap, dan Arya langsung menggendong tubuh Suci menuju kamar.


"Nak, apa perlu Papa bantu?" tanya Papa Fadil yang saat ini baru turun dari mobilnya.


"Tidak perlu Pa," jawab Arya singkat, kemudian berlalu begitu saja.


Arya pantas marah padaku, karena sebagai orangtua, aku bahkan tidak pernah sekali pun menggendong Putri kandungku sendiri, dan sekarang hanyalah penyesalan besar yang aku rasakan, batin Papa Fadil.


Ketika masuk ke dalam rumah, Arya melihat Oma Rahma dan Mama Erina yang masih belum tidur, karena keduanya sengaja menunggu kepulangan Arya dan Suci, tapi Arya sama sekali tidak menyapa Mama dan Neneknya, dan Arya hanya bertanya tentang Anak-anaknya kepada Bi Sari.


"Bi, apa Anak-anak sudah tidur?"


"Sudah Tuan," jawab Bi Sari.


Arya berlalu begitu saja ke dalam kamar dengan menggendong Suci, padahal Oma Rahma dan Mama Erina ingin sekali mengobrol dengan Arya.


"Sepertinya Arya masih marah sama Erina Ma," ujar Mama Erina dengan tertunduk sedih.


"Arya juga bersikap acuh sama Papa, kalau Suci tidak menghampiri Papa dan mengajak Papa menginap di sini, tadinya Papa mau pulang saja," ujar Papa Fadil dengan duduk di samping Mama Erina.


"Mama rasa Arya bukan marah sama kalian, tapi Arya kecewa dan masih belum bisa menerima semuanya. Semoga saja dengan seiring waktu, Arya akan kembali lagi seperti dulu," ujar Oma Rahma.


"Kemarin Bi Sari bilang, katanya Arya tiba-tiba pingsan Ma, tapi Arya melarang Suci untuk memberitahukan kondisinya kepada kita," ujar Mama Erina.


Oma Rahma menghela nafas panjang, karena pasti tidak mudah untuk Arya menerima semua kebenaran yang menyakiti hatinya.


"Kalian harus sabar, pasti tidak mudah untuk Arya menerima semuanya. Mama tidak tau bagaimana nanti ketika Suci mengetahui kebenarannya. Apa sikap Suci kepada kita juga akan berubah?" ujar Oma Rahma.


"Erina tidak akan sanggup jika Suci sampai membenci Erina, meski pun Erina sadar jika Erina pantas mendapatkan semua itu."

__ADS_1


"Kalian jangan terlalu banyak pikiran, yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a semoga semuanya baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kita istirahat," ujar Oma Rahma.


......................


Suci terbangun pada tengah malam, karena Suci mendengar suara Arya yang mengigau.


"Bu, Pak, maafin Arya, Arya bukan Anak yang berbakti, Arya bahkan sudah menjadi penyebab kematian Ibu. Maafin Arya Bu, maafin Arya," gumam Arya dengan menangis.


"Pa, bangun Pa," ujar Suci dengan mencoba membangunkan Arya, tapi Arya tidak bangun juga.


Suci mencoba memegang dahi Arya yang terus mengeluarkan keringat dingin, dan ternyata Arya demam, tubuh Arya juga menggigil kedinginan.


"Astagfirullah, Mas Arya kenapa bisa sampai demam lagi? Badannya juga menggigil. Aku harus mengambil air hangat untuk mengompres dahinya," gumam Suci, kemudian berlalu menuju dapur.


Suci mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Arya, tapi Arya masih saja mengigau.


"Aku harus bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Arya? Apa aku beritahu Mama sama Papa saja tentang kondisi Mas Arya saat ini? Aku takut Mas Arya sampai kenapa-napa," gumam Suci.


Ketika Suci hendak ke luar dari dalam kamarnya untuk memberitahu kondisi Arya kepada Mama Erina, Suci mendengar suara Arya yang bergumam kedinginan.


"Dingin, dingin."


Suci mengurungkan niatnya, kemudian Suci memeluk tubuh Arya supaya lebih hangat, dan Arya merasa lebih baik setelah mendapat pelukan dari Suci.


"Mas, apa yang sebenarnya Mas Arya sembunyikan dari aku? Kenapa Mas Arya masih belum bisa mengatakannya," ujar Suci dengan mengusap lembut punggung Arya yang saat ini tengah memeluknya.


......................


"Alhamdulillah panasnya sudah turun, sebaiknya aku Shalat Subuh dulu," gumam Suci, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Suci tadinya ingin membangunkan Arya untuk Shalat Subuh berjamaah, tapi Suci merasa tidak tega melihat Arya yang masih terlelap, apalagi semalaman Arya demam.


Setelah Shalat Subuh, Suci memutuskan pergi ke dapur untuk membuat susu jahe, dan ternyata Mama Erina sudah ada di dapur untuk membantu membuat sarapan.


"Mama sudah bangun?" tanya Suci, dengan menghampiri Mama Erina yang sedang memotong sayuran.


"Sudah sayang, Mama lagi bantu Bibi bikin sarapan," jawab Mama Erina dengan memeluk tubuh Suci.


"Suci gak enak jadi ngerepotin Mama. Maaf ya, seharusnya Suci yang masak buat Mama."


"Tidak apa-apa sayang, Mama sengaja ingin masakin sesuatu untuk Suci, meski pun sebenarnya Mama gak bisa masak, dan baru kali ini Mama masuk dapur."


Mama ingin sekali mencoba memasak untuk kamu Nak, karena seharusnya Mama melakukan semua itu dari dulu, tapi Mama bukanlah Ibu yang baik, bahkan dengan teganya Mama sudah menukar kamu sayang. Maafin Mama Nak, maafin Mama, batin Mama Erina dengan menitikkan airmata penyesalan.


"Mama kenapa menangis?" tanya Suci dengan mengelap airmata yang terus menetes pada pipi Mama Erina.


"Tidak apa-apa Nak, ini adalah airmata bahagia karena Mama memiliki Putri sebaik dan secantik Suci."

__ADS_1


"Ma, maaf ya Suci tidak bisa membantu Mama masak. Semalam Mas Arya demam, bahkan Mas Arya terus mengigau. Suci juga merasa heran kenapa Mas Arya bisa sampai mengigau meminta maaf pada Ibu dan Bapak, Mas Arya juga bilang kalau dia sudah menjadi penyebab Ibunya meninggal dunia. Padahal Mama dan Papa kan masih hidup."


Deg deg deg


Jantung Mama Erina berdetak kencang mendengar perkataan Suci, Mama Erina takut kalau Suci sampai mengetahui yang sebenarnya.


"Sekarang bagaimana keadaan Arya, Nak?"


"Alhamdulillah demam nya sudah turun, sekarang Mas Arya masih tidur. Kalau begitu Suci ke kamar dulu ya Ma."


"Iya sayang, nanti selesai masak, Mama panggil kalian untuk sarapan bersama."


Suci kembali ke kamar dengan membawa segelas susu jahe untuk Arya, dan ternyata Arya sudah bangun.


"Mama kemana saja? Dari tadi Papa cariin Mama. Kenapa Mama gak bangunin Papa untuk Shalat Subuh?" ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Mama gak tega lihat Papa yang masih tidur, apalagi semalam Papa demam. Mama udah bikinin Papa susu jahe, sekarang Papa minum dulu mumpung masih hangat," ujar Suci dengan memberikan segelas susu jahe kepada Arya.


"Makasih ya sayang, semalam Papa juga sudah ngerepotin Mama. Kasihan Mama pasti kurang tidur karena harus mengompres Papa."


"Sudah seharusnya Mama melakukan semua itu. Sekarang Papa udah gak pusing sama kedinginan lagi kan?"


"Alhamdulillah Papa sudah lebih baik. Sekarang Papa ke kamar mandi dulu ya, soalnya sebentar lagi mau ada tamu."


"Siapa tamunya Pa?"


"Rahasia dong, nanti Mama juga tau," ujar Arya kemudian melangkahkan kakinya menuju mamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, Arya dan Suci ke luar dari dalam kamarnya untuk melihat Anak-anak, dan beberapa saat kemudian, tamu yang Arya tunggu-tunggu pun datang.


Arya terlihat berbincang dengan Pengacara keluarga Argadana yang mengantarkan berkas-berkas pengalihan harta miliknya yang sudah dirubah menjadi nama Suci, dan setelah Pengacara pamit, Arya menghampiri semuanya yang saat ini sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.


"Pa, siapa yang barusan datang," tanya Suci.


"Pengacara keluarga Argadana, Ma."


Degg


Jantung Papa Ferdi, Mama Erina dan Oma Rahma rasanya berhenti berdetak, karena Arya sepertinya akan mengatakan semua kebenarannya kepada Suci.


"Memangnya ada apa pagi pagi begini Pengacara sudah datang ke sini?" tanya Suci yang merasa penasaran, apalagi Arya terlihat membawa sertifikat serta banyak dokumen.


"Nanti Papa kasih tau semuanya setelah kita selesai sarapan," ujar Arya dengan menggenggam erat tangan Suci.


Sebentar lagi aku akan mengatakan semua kebenarannya Suci. Kamu berhak tau bahwa kamu adalah Anak kandung Mama dan Papa yang sebenarnya, dan aku akan mengembalikan semua harta yang seharusnya menjadi milik kamu, ucap Arya dalam hati.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2