
Arsyi dan Nanda mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengatakan keputusan mereka.
"Kami berdua sudah memutuskan akan menjadi Sahabat," ucap Arsyi dan Nanda secara bersamaan.
Arsyi menuntun Nanda untuk menghampiri Ratu, kemudian Arsyi menyatukan tangan Nanda dengan tangan Ratu.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya Ratu.
"Aku ingin kalian berdua menikah, karena aku tidak mau bahagia di atas penderitaan oranglain," jawab Arsyi.
"Arsyi, kamu tau sendiri kalau aku tidak mencintai Nanda, dan aku tau kalau kamu dan Nanda saling mencintai. Jadi, kenapa tidak kalian saja yang menikah?" ujar Ratu yang terlihat kesal, karena rencananya menjadi gagal total.
"Ratu, kami memang saling mencintai, tapi kami tidak bisa egois, karena pasti akan banyak hati yang tersakiti jika kami tetap bersama. Saat ini aku hamil Anak Kak Iqbal, dan tidak menutup kemungkinan jika nanti kamu hamil Anak Nanda. Kamu tidak boleh egois, kamu harus memikirkan bayi kamu."
"Arsyi, belum tentu aku akan hamil Anak Nanda. Aku juga sudah meminum obat pencegah kehamilan," ujar Ratu yang bersikeras ingin membatalkan pernikahannya.
"Ratu, kamu sudah kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang gadis, jadi beri Nanda kesempatan untuk bertanggung jawab. Kamu seharusnya merasa beruntung karena bisa menikah dengan lelaki sebaik Nanda."
Putri menghampiri Ratu, kemudian Putri berbisik pada telinga Ratu.
"Kamu harus ingat kondisi kesehatan Daddy, apa kamu tidak kasihan sama Daddy karena harus menanggung malu akibat perbuatan kamu."
Ratu mengepalkan kedua tangannya, kemudian Ratu menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan menikah dengan Nanda, tapi kamu juga harus menikah dengan Iqbal, karena aku tidak mau jika Nanda terus dibayang-bayangi oleh masalalunya," ujar Ratu dengan Nada tinggi.
Nanda keberatan dengan permintaan Ratu, karena Nanda masih tidak rela jika Arsyi menikah dengan lelaki lain.
"Tidak, aku tidak setuju," ujar Nanda.
"Kenapa kamu tidak setuju? Apa kamu tidak rela karena selama enam tahun kamu hanya menjaga jodoh orang lain?" ujar Ratu dengan tersenyum mengejek.
Ketika Nanda hendak angkat suara lagi, Arsyi langsung memotongnya.
__ADS_1
"Baiklah, setelah kamu dan Nanda selesai mengucap ijab kabul, aku dan Kak Iqbal juga akan menikah," tegas Arsyi sehingga membuat semuanya merasa terkejut.
Suci dan Arya mengajak Arsyi untuk berbicara, karena mereka ingin Arsyi sembuh terlebih dahulu dari traumanya sebelum menikah dengan Iqbal.
"Nak, apa Arsyi sudah memikirkan semuanya dengan baik? Mama tau kalau Arsyi masih belum sembuh dari trauma yang disebabkan oleh Iqbal?" tanya Suci.
"Mama tidak perlu khawatir, Psikiater pernah mengatakan kepada Kak Rizky, jika trauma Arsyi hanya bisa disembuhkan oleh Kak Iqbal. Lagi pula saat ini Arsyi sedang mengandung bayinya, dan Arsyi tidak ingin menjauhkan seorang Anak dengan Ayah kandungnya sendiri," jawab Arsyi dengan memaksakan diri untuk tersenyum, padahal saat ini hatinya benar-benar hancur karena harus melihat lelaki yang dicintainya menikah dengan perempuan lain.
"Ternyata sekarang Anak Papa sudah bisa berpikir dewasa. Papa tau kalau Arsyi adalah perempuan yang hebat dan kuat. Apa pun keputusan Arsyi, kami akan selalu mendukung nya," ucap Arya, kemudian Suci dan Arya memeluk tubuh Arsyi dengan erat.
Arsyi, Suci dan Arya, kembali bergabung dengan yang lainnya, karena saat ini Nanda akan mengucap ijab kabul pernikahannya dengan Ratu.
Ratu dan Nanda sudah berada di depan Penghulu, kemudian Nanda menjabat tangan Farel yang akan menjadi Wali nikah Ratu.
Nanda yang tidak dapat berkonsentrasi sampai salah menyebut nama mempelai perempuan sebanyak dua kali, karena yang Nanda ingat hanyalah nama Arsyi.
"Nanda, apa kamu sengaja ingin membuat aku malu?" bisik Ratu.
Nanda melihat ke arah Arsyi, dan Arsyi tersenyum serta menganggukkan kepalanya kepada Nanda sebagai isyarat jika Nanda bisa melakukan semua itu, kemudian Nanda kembali mengucap ijab kabul.
Ratu dan Nanda saat ini sudah Sah menjadi Suami Istri, tapi Ratu tidak mau mencium punggung tangan Nanda, begitu juga dengan Nanda yang tidak mau memberikan tangannya kepada Ratu, apalagi sampai mencium kening Ratu.
"Nanda, Ayah titip Ratu ya Nak. Ayah yakin kalau Nanda bisa menjaga serta membimbing Ratu menjadi Istri dan Ibu yang baik. Sekarang Ayah sudah bisa tenang jika esok atau lusa Tuhan memanggil Ayah," ujar Farel dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Nanda.
"Nanda pasti akan berusaha menjadi Suami yang baik untuk Ratu," ucap Nanda dengan lirih, karena Nanda tidak mau kondisi Farel kembali memburuk.
Hesti masih tidak rela karena yang menjadi Menantunya adalah Ratu, kemudian Hesti menghampiri Arsyi yang terlihat menangis dalam pelukan Suci, lalu Hesti ikut memeluk Arsyi juga.
"Sayang, meski pun Arsyi tidak bisa menjadi Menantu Bunda, tapi selamanya Arsyi akan menjadi Putri Bunda," ucap Hesti dengan menangis.
"Terimakasih Bunda," ucap Arsyi.
Ratu merasa geram karena semua rencananya gagal total, dan Ratu menyalahkan Nanda atas semua kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Kamu sudah membuat hidupku hancur Nanda, dan sekarang hatimu pasti akan hancur juga, karena kamu akan melihat perempuan yang kamu cintai menikah dengan lelaki lain, batin Ratu dengan tersenyum licik.
Ratu yang sudah tidak sabar ingin menghancurkan perasaan Nanda, bergegas menghampiri Iqbal dan Arsyi untuk menyuruh mereka duduk di depan Penghulu.
"Arsyi sekarang kamu harus memenuhi janji kamu untuk menikah dengan Iqbal. Sebaiknya sekarang kalian segera duduk di depan Penghulu."
Iqbal merasa bingung, karena saat ini Iqbal tidak membawa apa pun yang bisa ia jadikan sebagai mas kawin.
"Ma, Pa, bagaimana ini, Iqbal belum membeli mas kawin untuk Arsyi," ujar Iqbal yang merasa sangat gugup.
Suci mengeluarkan satu set perhiasan pemberian mendiang Oma Rahma yang dulu dipakai oleh Arya sebagai mas kawin pada pernikahan dadakan mereka.
"Nak, Mama selalu membawa ini kemana pun Mama pergi, karena ini adalah Mas kawin dari Papa kalian yang dulu diberikan oleh mendiang Oma Buyut."
"Tapi ini pasti sangat berharga untuk Mama?" tanya Iqbal.
"Nak, harta yang paling berharga adalah Keluarga, dan Mama bahagia bisa memiliki kalian di Dunia ini. Mama sudah lama menyimpan perhiasan ini untuk kado pernikahan Arsyi, tapi ternyata Arsyi menikah dengan Iqbal, jadi Mama akan memberikan ini untuk Iqbal supaya Iqbal bisa menjadikannya sebagai Mas kawin untuk Arsyi."
"Terimakasih banyak Ma, Pa. Iqbal sangat beruntung karena memiliki orangtua seperti Mama dan Papa di Dunia ini," ucap Iqbal dengan memeluk Suci dan Arya.
Arya membantu Iqbal untuk duduk di depan Penghulu, karena kondisi tubuh Iqbal masih lemah, kemudian Suci memakaikan penutup kepala pada Iqbal dan Arsyi.
Iqbal menjabat tangan Arya selaku Wali nikah Arsyi, kemudian dengan lantang Iqbal mengucap ijab kabul pernikahan dengan satu helaan nafas.
Selamat tinggal Nanda, semoga kita bisa hidup bahagia dengan pasangan masing-masing, ucap Arsyi dalam hati.
Nanda yang sudah tidak kuat menahan sesak dalam dadanya ketika melihat Arsyi menikah dengan Iqbal, akhirnya pingsan juga sehingga membuat semua yang berada di sana merasa panik.
Acara pernikahan yang seharusnya diwarnai kebahagiaan, kini dibanjiri airmata kesedihan, karena ternyata takdir tidak sesuai dengan yang diharapkan.
*
*
__ADS_1
Bersambung