
Arya melangkahkan kaki untuk melihat Suci yang saat ini tengah berjibaku dengan peralatan dapur, dan Arya selalu merasa kasihan karena Suci harus bekerja keras untuk menghidupi Rizky.
"Suci, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Arya dengan menghampiri Suci.
"Tuan, Anda sudah bangun? bagaimana sekarang, apa sudah merasa lebih baik?" tanya Suci.
"Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Makasih banyak ya, semalam kamu sudah merawatku."
"Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya sekarang Tuan ke kamar mandi dulu buat ambil wudhu, takutnya sebentar lagi waktu Subuh keburu habis," ujar Suci.
Arya begitu bersyukur karena telah dipertemukan dengan sosok Suci, meski pun pertemuan mereka harus di awali dengan tragedi, tapi sosok Suci sudah benar-benar merubah kehidupannya menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah selesai melaksanakan Shalat Subuh, Arya kembali menghampiri Suci untuk membantu pekerjaan nya, tapi Suci menolak bantuan Arya dan menyuruh Arya untuk segera sarapan.
"Suci, aku bantu kamu memasak ya."
"Tidak perlu Tuan, sebentar lagi juga saya selesai. Sebaiknya sekarang Tuan sarapan, sebentar lagi Tuan kan harus berangkat kerja, kebetulan nasi kuning buatan saya sudah matang," ujar Suci dengan memberikan satu piring nasi kuning lengkap dengan ayam goreng dan juga sambal, karena Teman Hesti ada yang memesan nasi kuning untuk acara ulang tahun.
Secara perlahan Arya memasukan nasi kuning dan Ayam goreng ke dalam mulutnya, dan seperti biasa, Arya selalu memuji masakan Suci.
"Masakan Mama nya Rizky memang tidak ada duanya," puji Arya, dan Suci hanya tersenyum mendengar perkataan Arya.
......................
Di lain tempat, tepatnya di Rumah Sakit, secara perlahan Alina mulai sadar dari pengaruh obat bius, dan Bu Rita yang saat ini tengah duduk, langsung mendekatkan tubuhnya pada Alina.
"Siapa kamu?" tanya Alina saat melihat Bu Rita yang saat ini berada di sampingnya, karena Alina sama sekali tidak mengenali wajah Bu Rita, apalagi mereka sudah dua belas tahun lamanya tidak berjumpa.
"Nama saya Rita, saya adalah pengasuh bayi Nak Alina."
"Ooh, jadi kamu hanya seorang Babu. Sebaiknya kamu tau diri, dan kamu harus memanggil majikan dengan sebutan yang benar. Panggil aku Nona," ujar Alina yang selalu bersikap angkuh.
"Alina, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu terhadap orang yang lebih tua," teriak Rian yang selalu merasa kesal dengan tingkah Alina.
__ADS_1
"Rian, aku hanya menyadarkan Bi Rita saja, supaya dia tau posisi dia. Aku bukan Anaknya, jadi tidak sepantasnya dia memanggil aku dengan sebutan Nak."
"Alina, sebenarnya Bu Rita adalah_" perkataan Rian terputus karena Bu Rita langsung memotongnya.
"Den Rian, sudah seharusnya saya bersikap sopan terhadap majikan. Maaf Non Alina, kalau saya sudah bersikap lancang," ucap Bu Rita yang mencoba bersabar ketika menghadapi Alina.
Beberapa saat kemudian, Papa Ferdi yang baru pulang membeli sarapan, langsung mengembangkan senyuman ketika melihat Putri kesayangannya sudah sadar.
"Alina sayang, bagaimana keadaan kamu Nak? Alina baik-baik saja kan?" tanya Papa Ferdi dengan mengelus lembut kepala Alina.
"Alina sudah jauh lebih baik Pa, tapi perut Alina masih ngerasa ngilu. Bi, tolong bawa bayi saya, saya ingin melihatnya," ujar Alina.
Papa Ferdi sebenarnya merasa kasihan kepada Bu Rita yang diperlakukan seperti pembantu oleh Alina, tapi itu adalah permintaan Bu Rita sendiri, karena Alina sudah pasti tidak akan bisa menerima Bu Rita sebagai Ibu kandungnya dengan alasan apa pun.
Bu Rita membawa bayi Alina dari dalam box, kemudian menidurkannya di samping Alina.
"Non, sebaiknya Nona memberikan Asi pertama untuk Non Putri, karena itu akan membuat kekebalan pada tubuh Non Putri," ujar Bu Rita.
Alina begitu terkejut ketika melihat wajah Putri, karena sebagian wajahnya terdapat tanda lahir berwarna hitam.
"Tidak, tidak mungkin bayiku cacat. Sana kamu pergi bawa Anak cacat ini, aku tidak sudi memiliki bayi cacat," teriak Alina kepada Bi Rita.
"Non istighfar, tidak baik Non Alina berbicara seperti itu. Bagaimanapun juga Non Putri lahir dari rahim Non Alina, dan Anak adalah titipan serta rezeki yang paling besar."
"Berhenti kamu menceramahiku, kamu bukan Ibuku, jadi tidak perlu menggurui ku."
"Alina, jangan berbicara seperti itu Nak, Papa harap Alina menganggap Bu Rita sebagai Ibu kandung Alina sendiri."
"Apa jangan-jangan Papa suka sama pembantu baru ini? Pa, Alina sudah tidak memiliki Ibu, karena bagi Alina Ibu kandung yang telah melahirkan Alina sudah mati ketika dia menjadi seorang pembunuh dan membuat Alina malu karena menjadi bahan ejekan teman-teman. Teman teman Alina selalu mengatakan jika Alina adalah Anak dari seorang Narapidana, dan Alina tidak akan sudi mengakui Ibu kandung Alina lagi jika nanti dia sudah keluar dari dalam Penjara."
Degg
Jantung Bu Rita rasanya berhenti berdetak, dan saat ini Bu Rita merasakan sesak dalam dadanya.
__ADS_1
"Cukup Alina, kamu jangan bicara keterlaluan, Papa baru tau jika Meri yang selama ini sudah bersalah, Meri yang sudah berniat mencelakai Mama kamu, dia menyuruh Kakaknya untuk menodai Mama kamu, makanya Mama kamu melindungi diri_" perkataan Papa Ferdi terputus karena Alina langsung memotongnya.
"Melindungi diri dengan membunuh Kakak dari Mama Meri? tetap saja itu bukan alasan, karena sekali pembunuh tetaplah seorang pembunuh, dan itu tidak akan merubah apa pun. Alina tidak akan sudi bertemu lagi dengan dia," teriak Alina, karena hati Alina sudah dipenuhi oleh kebencian kepada sosok Ibu kandungnya.
Bu Rita ingin sekali menangis, tapi Bu Rita mencoba untuk bersabar, karena Bu Rita ingin selalu dekat dengan Anak dan Cucunya.
"Bi, sebaiknya sekarang juga kamu bawa bayi monster ini, karena aku tidak sudi memiliki bayi cacat seperti dia," ujar Alina yang terlihat jijik terhadap bayinya sendiri.
Bu Rita bergegas mengambil Putri dari samping Alina, dan Bu Rita merasa kasihan karena Putri tidak diinginkan oleh Ibu kandungnya sendiri.
Kasihan sekali nasib kamu Nak, tapi Putri jangan sedih ya, Nenek akan selalu menjaga Putri, batin Bu Rita.
Rian yang juga merasa kasihan terhadap Putri, akhirnya angkat suara.
"Alina, tidak seharusnya kamu memperlakukan Anak kandung kamu seperti itu, bagaimanapun juga Putri adalah darah daging kamu."
"Sudahlah Rian, aku tidak peduli dengan bayi monster itu. Apa yang bisa dibanggakan memiliki seorang bayi cacat."
"Harusnya kamu sadar Alina, jika kondisi Putri saat ini semuanya karena perbuatan kamu. Apa kamu lupa jika sebelum melahirkan Putri, kamu sudah menghina Mama Linda? kamu mengatakan jika Mama ku seperti monster?"
"Kamu tidak usah mengkaitkan semua itu dengan Ibu kamu, karena Ibu kamu juga adalah seorang penjahat, jadi dia pantas mendapatkan balasan atas kejahatannya."
"Alina, aku tau kalau Mama sudah banyak melakukan kesalahan selama hidupnya, tapi kamu harusnya berkaca dulu sebelum mengatakan semua itu, karena kamu juga tidak lebih baik dari Mama."
"Sudahlah Rian, tidak usah ceramah, aku capek mendengar ceramah kalian. Oh iya, bukannya kamu mau melakukan tes DNA dengan si cacat? terserah apa yang akan kamu lakukan, karena aku tidak peduli. Akan tetapi, jangan harap kamu bisa menikah dengan si Suci perempuan kampung itu, karena aku tidak akan pernah mau bercerai darimu."
"Kita lihat saja nanti Alina, karena jika benar Putri bukanlah Anak kandungku, aku bisa memiliki alasan yang kuat untuk menceraikan mu," ujar Rian dengan tersenyum mengejek.
*
*
Bersambung
__ADS_1