
Suci terlihat bingung mendengar pertanyaan Arya, karena Suci merasa aneh kenapa Arya ingin bertemu dengan Rizky setiap hari.
"Maaf Tuan, saya tidak mengerti maksud Anda," ujar Suci.
"Aku sebenarnya langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat Rizky, dan aku ingin selalu bertemu dengannya," ujar Arya.
Suci terlihat berpikir, sampai akhirnya Suci mengiyakan permintaan Arya, karena Suci tidak enak jika menolaknya, apalagi Suci melihat jika Arya bukanlah orang yang jahat, bahkan Arya terlihat tulus menyayangi Rizky.
"Kapan pun Tuan ingin menemui Rizky, Tuan bisa datang ke sini."
"Terimakasih banyak Suci," ujar Arya, dan saking bahagianya Arya langsung menggenggam erat tangan Suci.
"Tuan maaf tangannya," ujar Suci.
Arya yang melihat tangannya sedang memegang tangan Suci, secara perlahan melepaskannya.
"Maaf Suci, saking bahagianya aku reflek memegang tangan kamu," ujar Arya dengan tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Suci terkejut ketika Arya tiba-tiba mendekatkan tubuhnya terhadap Suci, dan Suci sudah merasa deg degan karena mengira jika Arya ingin menciumnya, sampai akhirnya.
Cup
Arya mencium pipi Rizky yang berada dalam gendongan Suci.
Papa pulang dulu ya Nak, besok Papa ke sini lagi. Rizky baik-baik sama Mama, batin Arya yang sebenarnya merasa tidak rela untuk berpisah dengan Rizky dan Suci.
Suci merasa malu karena sudah berpikir yang tidak tidak tentang Arya.
Kenapa denganku, kenapa aku sampai berpikir yang tidak-tidak tentang Tuan Arya? sepertinya otak ku tidak beres, batin Suci.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, besok aku bakalan ke sini lagi untuk bermain dengan Rizky," ujar Arya dengan mengelus lembut kepala Rizky.
Dengan berat hati Arya melangkahkan kaki meninggalkan Rizky dan Suci.
Arya sampai berjalan mundur karena ingin terus melihat Suci dan Rizky, bahkan Arya tidak menyadari jika di belakangnya ada tiang listrik.
"Tuan Arya, awas di belakang," teriak Suci, tapi Arya malah menoleh ke belakang sampai akhirnya kening Arya menabrak tiang listrik tersebut.
"Awww," pekik Arya dengan memegang keningnya yang merasa kesakitan.
"Tuan tidak kenapa-napa kan?" tanya Suci yang hendak menghampiri Arya.
"Aku baik-baik saja Suci, kamu tidak perlu ke sini," teriak Arya yang merasa malu, kemudian Arya bergegas masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya besok aku harus memindahkan tiang listrik nya," gerutu Arya dengan memegang keningnya yang benjol.
__ADS_1
......................
Hesti yang melihat mobil Arya ke luar dari halaman kontrakannya, langsung menghampiri Suci.
"Cie cie, ada yang habis di apelin nih sama Bos. Sepertinya Teman ku yang cantik ini bakalan segera menjadi Cinderella," goda Hesti.
"Apaan sih kamu, Tuan Arya datang ke sini buat ngasih uang makan siang pesanannya selama satu bulan."
"Memangnya Tuan Arya ngasih berapa?"
"Sepuluh juta," jawab Suci.
"Apa? besar sekali Suci, bahkan itu lebih besar dari gajiku sebanyak dua bulan. Aku yakin kalau Tuan Arya naksir berat sama kamu."
"Aku juga sudah bilang kalau itu terlalu besar untuk satu bulan, tapi Tuan Arya bilang kalau itu rezeki untuk Rizky, jadi aku tidak boleh menolaknya. Hesti, kamu jangan bicara sembarangan, jangan sampai orang lain yang mendengarnya menjadi salah paham."
Bu Rita yang mendengar percakapan Hesti dan Suci, ikut angkat suara juga.
"Ibu juga sependapat dengan Hesti. Kamu tau tidak Hesti, kalau Nak Arya sampai lima jam main di sini bersama Rizky, kelihatan sekali kalau Nak Arya mendekati Anaknya untuk mendapatkan Ibunya," ujar Bu Rita.
"Ibu, Hesti, kalian senang sekali ya menggoda Suci. Sudah berapa kali Suci bilang, kalau Suci belum memikirkan untuk menjalin suatu hubungan."
"Iya, iya, tapi aku gak yakin kalau kamu bakalan kuat menolak pesona Tuan Arya, secara dia adalah idola di perusahaan. Sudah tampan, kaya, pokoknya benar-benar lelaki yang sempurna. Suci, kalau orang lain memiliki kesempatan seperti kamu, mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut, karena Pak Arya adalah sosok yang sulit untuk di dekati, bahkan sampai saat ini dia belum pernah memiliki kekasih," cerocos Hesti.
......................
Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Argadana, Arya terus saja mengembangkan senyuman ketika mengingat kebersamaannya dengan Rizky.
"Padahal baru beberapa menit saja aku berpisah dari Rizky dan Suci, tapi aku sudah kembali merindukan mereka. Aku harus terus berusaha mengejar cinta Suci," gumam Arya.
Ketika Arya sampai di kediaman Argadana, Mama Erina terkejut melihat kening Arya yang terlihat benjol.
"Sayang, kenapa kening Arya bisa sampai seperti ini?" tanya Mama Erina dengan mengusap kening Arya, tapi Arya malah senyum-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaan Mama Erina.
"Pa, Ma, Arya sepertinya kesambet," teriak Mama Erina kepada Oma Rahma dan Papa Fadil.
"Ada apa sih Ma teriak-teriak?" tanya Papa Fadil.
"Iya Erina, kamu bikin Mama khawatir saja," ujar Oma Rahma.
"Kalian lihat sendiri, kening Arya benjol, tapi saat Erina tanya, Arya tidak menjawab, bahkan terus saja senyum-senyum sendiri."
"Ma, Mama seperti tidak pernah muda saja."
"Apa maksud Papa?"
__ADS_1
"Sepertinya Anak kita sedang jatuh cinta, makanya Arya sampai senyum-senyum sendiri seperti itu."
"Iya Erina, Mama juga yakin kalau Arya bukan kesambet, tapi Arya sedang jatuh cinta," tambah Oma Rahma.
"Arya, apa benar kalau Arya sedang jatuh cinta?" tanya Mama Erina.
"Benar Ma," jawab Arya dengan melangkahkan kaki menuju kamarnya meninggalkan Mama Erina yang terlihat begitu terkejut dengan jawaban Arya.
"Arya, tunggu, Mama belum selesai bicara," teriak Mama Erina.
"Ma, sudah, jangan ganggu Arya, kasihan Arya pasti cape baru pulang kerja."
"Tapi Pa, Mama harus tau bibit, bebet dan bobotnya perempuan yang Arya cintai. Mama tidak mau kalau Arya sampai jatuh cinta terhadap perempuan yang salah."
"Erina, Mama tidak sependapat dengan kamu. Bagaimana jika perempuan yang Arya cintai tidak seperti kriteria kamu? apa kamu akan melarang Arya untuk jatuh cinta?"
"Tentu saja, karena Erina ingin yang terbaik untuk Arya."
"Kamu salah Erina, karena yang terbaik menurut kamu, belum tentu yang terbaik untuk Arya."
"Arya adalah Anak Erina, jadi sebaiknya Mama tidak usah ikut campur dengan semua yang akan Erina lakukan untuk Arya," ujar Mama Erina dengan berlalu begitu saja meninggalkan Oma Rahma dan Papa Fadil.
Papa Fadil yang merasa tidak enak kepada Oma Rahma karena Mama Erina sudah bersikap tidak sopan, langsung meminta maaf atas kesalahan Mama Erina.
"Ma, atas nama Erina, Fadil minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Nak, semua itu bukan salah kamu, tapi sepertinya Erina sudah dibutakan oleh harta, sehingga Erina selalu bersikap sombong dan menganggap rendah terhadap orang miskin. Padahal dulu Mama kira Erina tidak akan bersikap seperti itu, karena Erina pada awalnya merupakan gadis yang baik hati dan tidak sombong."
"Iya Ma, Fadil juga tidak mengira jika sikap Erina akan berubah."
......................
Sesampainya di dalam kamar, Arya langsung membuka galeri fhoto, dan Arya kembali mengembangkan senyuman ketika melihat fhoto dirinya yang sedang menggendong Rizky.
"Kamu benar-benar mirip Papa Nak," gumam Arya.
Arya juga tadi diam-diam memotret Suci, dan Arya menatap lekat wajah cantik Suci di dalam fhoto.
"Maafkan aku Suci, aku pasti akan menebus semua kesalahanku. Kasihan kamu karena selama ini sudah hidup menderita, bahkan kamu harus mengalami hidup dibalik jeruji besi dengan keadaan hamil Anak kita. Mulai sekarang aku akan berusaha membahagiakan kamu dan Rizky. Semoga saja kamu bisa segera membuka hatimu untukku, supaya kita bertiga bisa hidup bersama sebagai satu keluarga," gumam Arya.
*
*
Bersambung
__ADS_1