
Suci merasa tidak bernafsu untuk makan, karena Suci mengkhawatirkan keadaan Hesti.
"Sayang, Mama harus makan, Papa tidak mau kalau Mama sampai sakit," ujar Arya dengan menyuapi Suci makan.
Setelah selesai sarapan, Suci menitipkan Anak-anaknya kepada Oma Rahma.
"Oma, kami titip Anak-anak dulu ya, soalnya Hesti baru saja melahirkan, Hesti juga barusan habis melakukan operasi pengangkatan rahim karena ada gumpalan darah dalam rahimnya," ujar Suci.
"Kasihan sekali Hesti sampai harus melakukan operasi pengangkatan rahim. Kalian tenang saja, Suci dan Arya tidak perlu mengkhawatirkan Anak-anak. Oma dan para Asisten rumah tangga pasti akan membantu Bi Sari menjaga Anak-anak. Salam saja buat Hesti dan keluarga, tolong sampaikan maaf Oma, Fadil dan Erina yang belum bisa datang untuk menjenguk."
"Iya Oma, insyaallah nanti Suci sampaikan. Makasih ya Oma, kalau begitu kami pamit dulu," ucap Suci dengan memeluk tubuh Oma Rahma.
Suci dan Arya bergantian mencium punggung tangan Oma Rahma serta menciumi ketiga Anaknya, kemudian keduanya pergi setelah mengucapkan salam.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Arya dan Suci membicarakan tentang rencana mereka ke depannya akan bagaimana.
"Ma, setelah Mama Erina sembuh, kita akan kembali ke rumah di Bekasi, atau akan tetap tinggal di kediaman keluarga Argadana?" tanya Arya.
Di satu sisi Suci ingin tetap tinggal di Bekasi, tapi Suci kasihan melihat Arya yang harus bekerja keras apabila mereka tetap tinggal di Bekasi, apalagi Suci merasa berat meninggalkan keluarganya di Jakarta.
"Mama terserah Papa saja. Kasihan juga Papa Fadil, di usianya yang sudah tua, Papa Fadil masih harus mengurus perusahaan. Apa Papa bersedia jika kembali meneruskan Argadana grup?"
Arya terlihat berpikir, karena Arya tidak mau jika pilihannya membuat Suci merasa tidak senang.
"Ma, sekarang Argadana Grup sudah menjadi milik Mama, dan apa pun yang Mama inginkan, Papa pasti akan selalu mendukungnya. Apa Mama masih ingin tetap tinggal di Bekasi? Mama tidak perlu memikirkan Papa, asalkan Papa bisa selalu bersama dengan Mama dan Anak-anak, dimana pun kita berada Papa akan selalu bahagia," ujar Arya dengan mencium tangan Suci yang terus digenggamnya.
"Mama belum bisa mengambil keputusan sekarang, soalnya kondisi Mama Erina masih belum sehat. Pa, untuk sementara waktu urusan grosir kita percayakan saja kepada Bu Inah dan Pak Maman ya, sayang juga kalau grosirnya tutup terus padahal pembelinya selalu ramai."
"Papa gimana Mama saja, apa pun keputusan Mama, Papa akan selalu mendukungnya. Apalagi Keluarga Bu Inah sudah seperti keluarga kita sendiri, jadi hitung hitung kita membantu perekonomian mereka."
"Ya sudah, kalau begitu, nanti setelah pulang dari Rumah Sakit, Mama bakalan telpon Bu Inah," ujar Suci dengan tersenyum, dan Suci selalu merasa beruntung mendapatkan Suami yang baik dan pengertian seperti Arya.
......................
Setelah Arya dan Suci sampai di Rumah Sakit, keduanya langsung menuju kamar perawatan Hesti yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Irwan.
Suci membawa kado untuk kedua Anak Hesti, sedangkan Arya membawa kue dan buah-buahan.
Suci dan Arya masuk ke dalam kamar perawatan Hesti setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucap salam, dan ternyata saat ini Hesti baru saja sadar dari pengaruh obat bius.
"Sayang, Hesti sudah bikin Mas takut," ujar Irwan dengan menangis memeluk tubuh Hesti.
"Maaf ya Mas, Hesti sudah membuat semuanya merasa cemas," ucap Hesti dengan mengusap lembut punggung Irwan, dan keduanya masih belum menyadari kedatangan Suci dan Arya.
__ADS_1
Suci dan Arya menghampiri Hesti dan Irwan setelah keduanya melepas pelukan, sedangkan Mama Maya dan Papa Andi tidak berada di sana karena mereka akan mengambil si Kembar dari ruang bayi.
"Suci, Mas Arya, kapan kalian datang?" tanya Hesti.
"Kami baru saja datang kok, tapi kami tidak mau mengganggu kalian," jawab Suci dengan tersenyum.
"Perasaan tadi kita ngetuk pintu sama ngucapin salam sebelum masuk, kalian saja yang sedang sibuk bermesraan sampai-sampai tidak mendengarnya," ujar Arya.
Irwan dan Hesti tersenyum malu mendengar perkataan Arya.
"Kalian tidak tau saja, kalau tadi aku sampai pingsan ketika mendengar Hesti kritis, apalagi detak jantung Hesti sempat berhenti sehingga membuat aku rasanya hampir mati berdiri," ujar Irwan.
"Hesti, maaf ya kami baru datang, kami baru tau barusan," ucap Suci dengan memeluk tubuh Hesti.
"Iya, tidak apa-apa. Bagaimana kabar Anak-anak dan yang lainnya?" tanya Hesti.
"Alhamdulillah semuanya sehat, kecuali Mama Erina yang masih belum benar-benar sehat. Tadi juga Oma titip salam sama kamu dan keluarga, maaf karena Oma dan kedua orangtuaku masih belum bisa menjenguk kamu dan si Kembar," ujar Suci.
"Iya tidak apa-apa, kita saling do'akan saja semoga semuanya selalu diberikan kesehatan. Aku bahagia karena akhirnya kalian sudah mau kembali ke Keluarga Argadana. Kasihan Om Fadil, sebentar lagi mas Irwan harus ke luar dari Perusahaan kalian, karena Mas Irwan akan meneruskan usaha keluarga juga," ujar Hesti.
Arya mengajak Irwan untuk duduk di sofa, dan keduanya membiarkan Suci dan Hesti yang sedang asyik mengobrol.
"Irwan, ingat kamu harus puasa dulu," bisik Arya.
"Kamu tanya saja sama Dokter, biasanya nifas paling lama enam puluh hari, tapi Hesti kan habis melakukan operasi, mungkin kamu harus puasa selama satu atau dua tahun," ujar Arya yang sengaja mengerjai Irwan.
"Apa? Kenapa lama sekali?" teriak Irwan, sehingga membuat Hesti dan Suci terlihat heran.
"Apanya yang lama Mas?" tanya Hesti.
"Eh tidak, bukan apa-apa," jawab Irwan dengan cengengesan.
Arya tertawa melihat Irwan yang langsung terlihat lemas.
"Kenapa kamu tertawa? Apa kamu sedang mengerjai aku?" tanya Irwan dengan memicingkan matanya.
"Kamu terlalu menganggap serius perkataanku. Mana mungkin sampai satu apalagi dua tahun, palingan juga hitungan bulan," ujar Arya dengan terkekeh.
"Arya, sejak kapan kulkas sepuluh pintu seperti kamu pandai mengerjai orang?" ujar Irwan yang saat ini terdengar ribut dengan Arya.
Suci dan Hesti hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Suami mereka yang masih seperti Anak kecil, sampai akhirnya Mama Maya dan Papa Andi terlihat mendorong dua kereta bayi ke dalam kamar perawatan Hesti.
"Irwan, Arya sedang apa kalian?" tanya Mama Maya.
__ADS_1
"Ma, Arya sudah mengerjai Irwan."
"Kalian ini masih saja seperti Anak kecil. Kalian berdua itu sudah menjadi Ayah. Kamu juga sudah tidak Mama perbolehkan mengadu, karena Mama sudah punya si Kembar."
"Hmmm aku tersisih. Sayang kamu jangan kasih Asi ya, si Kembar kasih Susu formula saja biar setiap malam mereka tidur sama Opa dan Oma nya, ujar Irwan kepada Hesti.
"Mas, tidak bisa seperti itu dong, Asi itu lebih bagus dari susu formula, Hesti juga ingin menjadi perempuan yang sempurna dengan menyusui Anak-anak kita."
"Tapi itu kan punyaku? Aku tidak mau berbagi dengan si Kembar," ujar Irwan sehingga membuat wajah Hesti memerah karena malu.
"Irwan, kamu jangan macam-macam ya. Dasar Anak nakal, kamu minta di jewer ya?" ujar Mama Maya dengan menarik kuping Irwan.
"Ampun Ma ampun. Iya iya Irwan mau berbagi sama si Kembar."
Semuanya tertawa melihat Irwan yang terlihat kesakitan karena Mama Maya yang merasa geram terhadap Irwan terus menjewer bahkan mencubitnya.
"Ma, udah dong lepasin Irwan, kenapa Mama malah ikut-ikutan kayak Anak kecil sih," ujar Papa Andi.
"Pa, Mama kesel sama Anak kita, Irwan itu otaknya mesum sekali. Pasti semua itu karena nurun dari Papa."
"Eh, kenapa Papa jadi kebawa-bawa juga?"
Hesti tersenyum bahagia karena memiliki keluarga yang harmonis.
"Aku ikut bahagia, karena akhirnya kamu memiliki keluarga yang selalu kamu impi-impikan," ujar Suci dengan memeluk tubuh Hesti.
"Semua itu berkat kamu, karena kamu adalah Malaikat tak bersayap untukku," ucap Hesti.
Suci menghampiri kedua bayi Hesti dan Irwan, dan Suci bergantian menggendong keduanya.
"Hesti, apa kamu sudah memiliki nama untuk kedua bayi lucu ini?" tanya Suci.
"Rencananya aku mau ngasih nama Ananda dan Adinda. Nama nya bagus tidak?" tanya Suci.
"Namanya bagus kok, nanti Mas tambahin Putra dan Putri Hartawan di belakangnya sesuai nama keluarga kita," ujar Irwan.
"Sekarang Tante punya Keponakan baru. Semoga kalian berdua panjang umur, selalu diberikan kesehatan, menjadi Anak soleh, berbakti kepada orangtua, banyak rezeki, dan masih banyak lagi do'a yang baik-baik untuk Ananda dan Adinda," ucap Suci yang di Amini oleh semuanya.
*
*
Bersambung
__ADS_1