Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 192 ( Tidak ada malam pertama )


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Iqbal menjalankan bisnis jual beli sayuran untuk ia pasok ke beberapa Pasar. Kebetulan hari ini Iqbal dan Cindi giliran memasok sayuran ke salah satu Pasar yang berada di Ibukota.


"Kenapa ya jalanan nya macet banget, padahal biasanya jalanan di sini gak macet-macet amat," gumam Cindi dengan terus membunyikan klakson angkot nya.


"Sabar Cin, mungkin di depan sedang ada acara, makanya jalanan macet," ujar Iqbal.


Iqbal yang merasa penasaran, bertanya kepada penjual asongan yang menawarkan dagangan kepadanya.


"Bang, di depan ada acara apa ya? Kenapa jalanan sampai macet seperti ini?" tanya Iqbal kepada pedagang asongan tersebut.


"Pemilik Argadana Grup sedang mengadakan acara pernikahan Anaknya Mas, makanya jalanan jadi macet, soalnya banyak pejabat yang datang pada acara pernikahan tersebut.


Degg


Jantung Iqbal berhenti berdetak, matanya memerah karena menahan tangis, dan hatinya berdenyut sakit karena mengira jika Arsyi dan Nanda yang menikah.


"Tidak, tidak mungkin Arsyi menikah dengan Nanda," gumam Iqbal dengan menitikkan airmata.


Cindi merasa heran ketika mendengar perkataan Iqbal, apalagi Iqbal terlihat begitu syok.


"Iqbal, kamu baik-baik saja kan? Kenapa wajah kamu pucat seperti itu?" tanya Cindi yang merasa khawatir melihat kondisi Iqbal.


"A_aku," perkataan Iqbal terputus, karena Iqbal yang begitu syok tiba-tiba pingsan.


"Iqbal, bangun Iqbal, kenapa pake acara pingsan segala sih, mana jalanan macet begini. Sebaiknya aku menelpon Bang Rojali, tidak mungkin kan aku membawa sayuran ke Rumah Sakit," gumam Cindi yang semakin merasa khawatir melihat keadaan Iqbal.


Cindi menelpon Rojali supaya membantunya membawa Iqbal ke Rumah Sakit, karena Cindi harus mengantarkan pesanan sayuran dan buah ke Pasar.


Setengah jam kemudian, Rojali datang bersama Rojak, keduanya langsung menghampiri Cindi dan Iqbal yang masih belum sadarkan diri.


"Cindi, kenapa Iqbal bisa sampai pingsan seperti ini?" tanya Rojali.


"Cindi juga gak tau Bang, tiba-tiba saja Iqbal pingsan setelah mendengar pemilik Argadana Grup menikahkan Anaknya."


"Sebaiknya sekarang kita bawa Iqbal ke Rumah Sakit, jalanan nya juga sudah tidak terlalu macet," ujar Rojak.


Rojak dan Cindi membawa Iqbal ke Rumah Sakit menggunakan mobil angkot yang biasa dibawa oleh Rojali, sedangkan Rojali bertukar dengan Cindi memasok sayuran dan buah ke Pasar.


Setelah sampai Rumah Sakit, Iqbal langsung dibawa menuju ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan medis, dan kebetulan Dokter jaga kali ini adalah Teman nya Rizky sekaligus Teman Iqbal saat SMA.


"Lho, kenapa dengan Iqbal? Aku kira Iqbal masih belum pulang dari luar negeri?" tanya Dokter Bagas kepada Cindi dan Rojak.


"Kenapa Dokter bisa kenal sama Iqbal?" tanya Cindi yang merasa heran.

__ADS_1


"Siapa yang tidak kenal dengan Tuan Muda dari keluarga Argadana, kebetulan Iqbal juga adalah Teman SMA saya" jawab Dokter Bagas.


Cindi dan Rojak terkejut ketika mendengar jika Iqbal adalah Anak dari pemilik Argadana Grup, karena selama ini Iqbal tidak pernah mengatakan tentang semua itu.


"Sepertinya Iqbal pulang untuk pernikahan saudaranya. Kalau begitu saya periksa Iqbal dulu," ujar Dokter Bagas, kemudian membawa Iqbal masuk ke dalam ruang IGD.


Saat ini banyak pertanyaan dalam benak Cindi dan Rojak, dan keduanya menunggu Iqbal di depan ruang IGD dengan harap-harap cemas.


"Bang, kenapa ya Iqbal menutupi identitasnya dari kita? Dia juga langsung pingsan saat mendengar pemilik Argadana Grup menikahkan Anaknya? Berarti yang menikah kan saudaranya Iqbal. Kenapa juga Iqbal tidak datang ke pernikahan tersebut?" tanya Cindi.


"Mungkin Iqbal memiliki alasan tersendiri, makanya Iqbal menyembunyikan identitasnya dari kita, tapi Abang tidak mengira kalau Iqbal adalah Anak orang kaya," ujar Rojak.


"Nanti kita coba tanya sama Iqbal kalau dia sudah sadar," ujar Cindi.


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD, Cindi dan Rojak pun bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan kondisi Iqbal.


"Dok, bagaimana keadaan Iqbal?" tanya Cindi.


Dokter menghela nafas panjang, karena setelah diperiksa, ternyata Iqbal memiliki penyakit leukimia.


"Awalnya saya mengira jika Iqbal hanya mengalami syok dan kekurangan cairan saja, tapi ternyata Iqbal menderita leukimia dan harus segera mendapatkan donor sum sum tulang belakang," jawab Bagas.


"Kalau begitu saya akan menjadi pendonor untuk Iqbal," ujar Cindi.


"Kita harus melakukan serangkaian pemeriksaan dulu, karena hanya seribu banding satu manusia di Dunia ini yang memiliki kecocokan sum sum tulang, dan biasanya itu berasal dari keluarga terdekat," jelas Dokter Bagas.


"Saya akan menghubungi keluarga Pasien terlebih dahulu. Meski pun salah satu dari kalian memiliki kecocokan untuk menjadi pendonor, tapi kita harus meminta persetujuan dari keluarga Iqbal, apalagi Dokter spesial bedah Rumah Sakit ini adalah saudara kembar Iqbal, dan kebetulan hari ini Dokter Rizky sedang melangsungkan pernikahan. Mungkin nanti ketika saya pergi ke acara resepsi pernikahannya, saya akan memberitahukan kondisi Iqbal kepada keluarganya," jelas Dokter Bagas.


......................


Iqbal sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Cindi dan Rojak masih menunggu Iqbal yang masih belum sadarkan diri juga, sedangkan Bagas berangkat menuju resepsi pernikahan Rizky dan Putri.


Ketika sampai di resepsi pernikahan Rizky dan Putri, Bagas langsung naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, kemudian Bagas meminta Arya untuk berbicara, karena Bagas akan menyampaikan tentang kondisi kesehatan Iqbal.


"Tuan Arya, apa bisa saya meminta waktunya sebentar?" bisik Bagas pada Arya yang tengah menyambut tamu di atas pelaminan, karena Bagas tidak mau merusak kebahagiaan Rizky dan Putri, meski pun pada kenyataannya Rizky tidak bahagia dengan pernikahannya.


Arya mengikuti Bagas turun dari pelaminan, apalagi Arya Melihat raut wajah Bagas yang terlihat cemas.


"Bagas, memangnya apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Arya.


"Sebelumnya saya minta maaf karena telah mengganggu waktu Tuan, tapi ini adalah masalah penting dan menyangkut nyawa Iqbal," jawab Bagas.


Arya terkejut mendengar perkataan Bagas, apalagi semenjak Arya mengusirnya, Arya tidak pernah mendengar kabar Iqbal, padahal Arya sudah mengerahkan Anak buahnya untuk mencari keberadaan Iqbal.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Iqbal? Kamu jangan membuat saya takut?" tanya Arya.


"Sebenarnya Iqbal tadi pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit, dan kebetulan saya yang memeriksa kondisi Iqbal. Tuan, ternyata Iqbal mengalami leukimia, dan harus segera melakukan transfusi donor sum sum belakang," ujar Bagas.


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak, Arya tidak mengira jika Iqbal memiliki penyakit parah seperti itu.


Tubuh Arya terasa lemas bahkan hampir terjatuh apabila Bagas tidak menopangnya.


"Bagas, tolong lakukan yang terbaik untuk Iqbal," ujar Arya dengan menitikkan airmata.


"Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk Iqbal, dan saat ini dua orang yang mengantar Iqbal ke Rumah Sakit sudah melakukan pemeriksaan pencocokan sebagai pendonor untuk Iqbal, dan kita tinggal menunggu hasilnya keluar, tapi yang bisa melakukan operasi hanya Rizky."


"Saat ini kita belum bisa memberitahu tentang kondisi Iqbal kepada Rizky, tapi besok saya akan segera memberitahukannya," ujar Arya.


"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan, karena saya harus segera kembali ke Rumah Sakit," ujar Bagas.


"Terimakasih atas informasinya Bagas, nanti setelah selesai acara, saya akan menyusul ke Rumah Sakit," ujar Arya.


......................


Setelah acara resepsi pernikahan Rizky dan Putri selesai, Arya memberitahukan kondisi Iqbal kepada Suci, dan untuk sementara waktu, keduanya sepakat untuk merahasiakan kondisi Iqbal dari keluarga yang lainnya.


Suci dan Arya bergegas menuju Rumah Sakit, sedangkan yang lainnya langsung beristirahat di Hotel tempat acara pernikahan Rizky dan Putri.


Saat ini Rizky dan Putri sudah berada di dalam kamar pengantin mereka, tapi Rizky selalu terlihat melamun, dan Putri tau betul jika Rizky tidak bahagia dengan pernikahannya.


"Rizky, kamu baik-baik saja kan? Kalau ada apa-apa, kamu katakan saja kepadaku," ujar Putri dengan duduk di sebelah Rizky.


"Maaf Putri, seharusnya malam ini adalah malam pertama kita, tapi aku tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang Suami. Aku juga tidak bisa memberikan malam pertama yang indah untuk kamu," ujar Rizky yang merasa bersalah terhadap Putri.


"Sebelumnya aku sudah bilang, kalau kamu tidak perlu memenuhi kewajiban kamu sebagai seorang Suami, apalagi kondisi aku tidak memungkinkan untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang Istri. Aku justru berterimakasih karena kamu sudah bersedia memenuhi keinginan terakhirku," ujar Putri dengan tersenyum.


"Sebaiknya sekarang kita istirahat, besok aku harus kembali bekerja, karena aku tidak mengambil cuti," ujar Rizky.


"Apa tidak apa-apa kalau kita tidur satu ranjang? Kalau kamu merasa keberatan, aku bisa tidur di sofa," ujar Putri.


"Sekarang kita sudah menjadi Suami Istri. Kita harus berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis di depan keluarga kita. Sebaiknya sekarang kamu minum obat dulu sebelum tidur," ujar Rizky dengan memberikan obat dan segelas air kepada Putri, kemudian Rizky membantu Putri berbaring lalu menyelimutinya.


"Terimakasih Suamiku," ucap Putri dengan tersenyum, kemudian memejamkan kedua matanya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2