Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 220 ( Mahligaimu tercipta dari air mataku )


__ADS_3

Semuanya kembali terkejut ketika mendengar jawaban Dinda dan Rizky yang ingin menikah saat ini juga.


"Nak, kami mengerti kalau kalian saling mencintai, tapi setidaknya kalian harus memikirkan perasaan Putri," ujar Suci.


"Iya, kenapa kalian egois sekali dan tidak menjaga perasaan Putri," tambah Hesti.


"Ma, sebenarnya Putri yang meminta supaya Rizky dan Dinda menikah hari ini juga, supaya Putri merasa tenang, karena setelah Rizky dan Dinda menikah, Putri ingin menemani Daddy, jadi Putri nanti tidak akan memiliki banyak waktu lagi."


Ratu menghampiri Putri, kemudian Ratu mengajak Putri untuk berbicara berdua.


"Putri, aku ingin bicara berdua sama kamu. Apa kamu bisa ikut aku sebentar?"


Putri mengikuti Ratu ke Taman belakang rumah Irwan, dan Putri langsung angkat suara ketika keduanya sudah duduk di bangku Taman.


"Ratu, apa tujuan kamu mengajak ku berbicara untuk meminta supaya aku membatalkan pernikahan Dinda dan Rizky? Kalau itu yang ingin kamu katakan. Maaf, sampai kapan pun aku tidak bisa melakukannya."


"Seandainya saat ini aku belum menikah dengan Nanda, aku pasti akan melakukan semua itu, karena dulu aku tidak akan pernah rela melihat Kak Rizky dekat dengan perempuan mana pun termasuk kamu. Akan tetapi, saat ini semuanya telah berbeda, aku sudah memiliki Suami, bahkan sebentar lagi kami akan memiliki Anak," jawab Ratu.


Putri merasa bahagia ketika mendengar perkataan Ratu, karena akhirnya Ratu berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah menikah dengan Nanda.


"Alhamdulillah, sekarang aku bisa tenang, karena ternyata kamu sudah tidak terobsesi lagi kepada Rizky. Yang paling penting, aku merasa bahagia melihat rumah tangga kamu dan Nanda yang harmonis," ucap Putri dengan menitikkan airmata.


Tiba-tiba Ratu memeluk tubuh Putri, kemudian Ratu menangis dalam pelukan Kakaknya tersebut.


"Kak, Ratu tau kalau selama ini hubungan kita tidak pernah baik, tapi kenapa Kakak tega sekali menyembunyikan semuanya dari Ratu? Kenapa Kakak tidak bisa berbagi kesedihan dengan Ratu? Kenapa Kakak selalu memendamnya sendirian?" tanya Ratu dengan menangis.


Putri terkejut ketika mendengar Ratu memanggilnya Kakak.


"Ratu, apa aku tidak salah dengar? Kamu barusan memanggilku Kakak?" tanya Putri dengan menitikkan airmata bahagia, karena baru kali ini Ratu mau memanggil Putri dengan sebutan Kakak.


"Sudah seharusnya Ratu melakukan semua itu sejak dulu, tapi mata hati Ratu selalu tertutup. Selama ini Ratu selalu egois dan keras kepala, bahkan Ratu tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kak, maafin Ratu ya, karena selama ini Ratu selalu menyakiti hati Kak Putri."


"Ratu tidak pernah menyakiti Kakak, karena selamanya Kakak akan selalu menyayangi Ratu. Semoga Ratu dan semuanya selalu diberikan kebahagiaan, meski pun nanti Kakak sudah tidak bisa bersama kalian lagi."


Ratu semakin menangis kencang, karena Ratu masih belum bisa menerima kenyataan jika Putri akan pergi untuk selamanya.

__ADS_1


"Kakak tidak boleh pergi, Kakak sudah janji sama Mommy akan selalu menjaga Ratu."


"Sekarang Kakak sudah tenang, karena sudah banyak orang yang menjaga dan menyayangi Ratu. Sudah, Ratu jangan menangis lagi. Perempuan hamil tidak boleh sedih, kasihan nanti bayi dalam kandungan Ratu akan ikut sedih juga."


"Kak, apa yang Kakak inginkan dari Ratu? Ratu pasti akan berusaha melakukannya."


"Ratu, jika esok atau lusa Kakak dipanggil Tuhan, Kakak titip Ayah sama Ibu ya. Ratu harus menjaga serta menyayangi mereka seperti mereka yang selalu menjaga dan menyayangi kita."


Ratu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena Ratu rasanya tidak sanggup untuk berkata apa pun lagi selain menangis.


......................


Setelah merasa lebih tenang, Putri dan Ratu kembali bergabung dengan yang lainnya, dan semuanya masih terdengar membicarakan pernikahan dadakan Rizky dan Dinda.


Hesti sebenarnya merasa bahagia karena impiannya untuk menjadi besan Suci akan segera terwujud, tapi Hesti merasa kasihan dengan nasib malang yang menimpa Putri.


Aku memang bahagia jika Dinda bisa menikah dengan lelaki yang dicintainya, tapi aku merasa kasihan kepada Putri, karena sejak kecil, Putri selalu hidup menderita, ucap Hesti dalam hati.


Setelah semuanya berdiskusi, Rizky dan Dinda akan menikah secara Agama dulu, karena semuanya harus menyembunyikan pernikahan tersebut dari Farel supaya kondisi penyakit Farel tidak semakin parah.


Rizky menelpon Iqbal supaya membawa Arsyi dan Mama Erina ke rumah Irwan. Pada awalnya Iqbal menolak, karena dia tidak mau kalau Arsyi bertemu dengan Nanda, tapi setelah Rizky mengatakan jika dirinya dan Dinda akan melangsungkan pernikahan, mau tidak mau Iqbal harus datang untuk menghadiri pernikahan Saudaranya tersebut.


Hesti mengajak Dinda menuju kamarnya, karena Hesti ingin Dinda terlihat cantik di hari pernikahannya.


"Nak, ini adalah gaun pernikahan Bunda saat menikah dengan Ayah dulu. Dinda pasti cantik jika mengenakannya," ujar Hesti dengan mengeluarkan gaun pengantin yang selalu dia simpan.


"Makasih ya Bunda, gaunnya sangat bagus," ucap Dinda dengan memeluk tubuh Hesti.


Dinda terlihat sangat cantik setelah merias wajahnya serta mengenakan gaun pemberian Hesti, dan Hesti langsung menangis dengan memeluk tubuh Dinda, karena rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat.


"Bunda kenapa menangis?"


"Nak, Bunda menangis karena terharu. Rasanya baru kemarin Dinda dan Nanda lahir ke Dunia ini, tapi sekarang Dinda akan menyusul Nanda membina rumah tangga. Semoga kalian selalu bahagia ya Nak," ucap Hesti yang di Amini oleh Dinda.


"Bunda, maaf ya, Bunda pasti kecewa karena Dinda menikah dengan Suami orang lain."

__ADS_1


"Jika pernikahan ini bukan keinginan Putri, Bunda pasti akan sangat kecewa karena Dinda telah merebut Suami orang, tapi Bunda tau betul jika Dinda tidak mungkin melakukan semua itu, karena Dinda bukanlah orang yang egois dan tega menyakiti hati orang lain."


"Dinda juga awalnya menolak pernikahan ini, karena Dinda tidak mau menyakiti hati Kak Putri, tapi Kak Putri terus memohon sehingga Dinda merasa tidak tega."


"Mungkin ini semua memang sudah takdir, dan sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah mewujudkan permintaan terakhir Putri. Bunda harap, setelah Dinda dan Rizky menikah, kalian bisa menjaga perasaan Putri ya."


"Iya Bunda, kami akan berusaha menjaga hati Kak Putri. Dinda sama Kak Rizky memang salah, karena sebelumnya kami tidak bisa mengendalikan perasaan yang kami miliki"


"Ya sudah, kalau begitu, sebaiknya sekarang kita ke luar, semuanya pasti sudah menunggu Putri Bunda yang cantik ini."


Dinda terlihat gugup saat Hesti menggandengnya ke luar dari dalam kamar.


"Dinda pasti gugup ya? Dulu juga Bunda sangat gugup, tapi setelah Ayah selesai mengucap ijab kabul, hati Bunda langsung merasa lega."


"Ternyata semua calon pengantin memang seperti itu ya," ucap Dinda dengan mengembuskan nafas secara kasar.


Semua mata kini tertuju pada Dinda, bahkan Rizky sampai tidak mengedipkan matanya saat melihat paras cantik Dinda.


Putri menghampiri Dinda, kemudian Putri menuntun Dinda untuk duduk di samping Rizky.


"Kak Putri, terimakasih," ucap Dinda dengan memeluk tubuh Putri.


"Hanya ini yang aku bisa lakukan untuk kalian. Semoga kalian berdua selalu bahagia," ucap Putri dengan tulus.


Suci terus memeluk tubuh Putri ketika Rizky mengucap ijab kabul pernikahan dengan Dinda, karena bagaimanapun juga semua itu pasti sangat menyakitkan untuk Putri.


Rizky terdengar lantang ketika mengucap ijab kabul pernikahan, bahkan Rizky melakukannya hanya dalam satu helaan nafas, dan Putri menitikkan airmata ketika mendengar para Saksi mengucapkan Sah pada pernikahan Rizky dan Dinda.


Meski pun mahligaimu tercipta dari air mataku, tapi aku ikhlas, dan aku bahagia karena akhirnya kamu bisa bersatu dengan perempuan yang kamu cintai dalam ikatan suci pernikahan, ucap Putri dalam hati.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2