
Rizky dan Putri terkejut ketika mendengar perkataan Dinda, tubuh Rizky seketika terasa lemas saat mengetahui jika perempuan yang dicintainya sudah memiliki kekasih.
"Dinda, apa bisa kita bicara berdua?" tanya Mark yang juga merasa terkejut karena Dinda tiba-tiba mengakui Mark sebagai kekasihnya, padahal sebelumnya Dinda sudah beberapa kali menolak mentah-mentah pernyataan cinta Mark.
Dinda mengajak Mark pergi ke Taman yang berada tidak jauh dari Apartemennya supaya mereka berdua bisa berbicara dengan leluasa.
"Mark, kamu pasti ingin menanyakan tentang aku yang tiba-tiba mengakui kamu sebagai pacar aku kan?" tanya Dinda.
"Iya benar. Aku merasa heran kenapa kamu berbicara seperti itu, padahal sebelumnya kamu selalu menolak pernyataan cintaku demi lelaki yang bernama Rizky," jawab Mark.
Dinda menghela nafas panjang, dan beberapa saat kemudian Dinda terlihat menangis.
"Dinda, kenapa kamu menangis? Apa ada seseorang yang sudah melukai hati kamu?" tanya Mark yang terlihat panik.
"Mark maaf, karena aku sudah lancang mengaku-ngaku sebagai kekasih kamu, tapi aku tidak tau harus berbuat apa lagi."
"Apa semua itu ada hubungannya dengan Rizky?"
"Iya, karena lelaki yang membuka pintu tadi adalah Kak Rizky."
"Sebaiknya sekarang kamu ceritakan semuanya, dan aku akan menjadi pendengar setia kamu. Siapa tau dengan mengeluarkan semua uneg uneg dalam hati kamu, perasaan kamu akan menjadi lebih tenang," ujar Mark.
Dinda menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya dan Rizky, dan akhirnya Mark mengerti kenapa Dinda meminta Mark supaya berpura-pura menjadi kekasihnya selama Putri dan Rizky berada di Amerika.
"Kamu jangan sedih lagi ya, aku pasti akan selalu membantu kamu. Kalau kamu mau, aku juga bersedia menjadi pacar beneran kamu, atau kita mau langsung nikah saja?" ujar Mark dengan terkekeh.
"Kamu jangan bercanda Mark, kita tidak mungkin menikah, karena kita memiliki keyakinan yang berbeda."
"Aku bersedia untuk berpindah keyakinan," ujar Mark yang terlihat sungguh-sungguh.
"Aku minta maaf, karena aku masih belum bisa membuka hatiku untuk lelaki lain, dan aku tidak mau menyakiti hati kamu jika aku hanya berpura-pura mencintai kamu. Kamu adalah lelaki yang baik, dan kamu pasti akan mendapatkan perempuan baik juga, tapi perempuan itu bukan aku, karena selamanya di dalam hatiku hanya akan ada Kak Rizky."
"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, karena aku mengerti jika cinta tidak bisa dipaksakan. Apa aku boleh memeluk kamu sebagai sahabat?" tanya Mark dengan berjongkok di hadapan Dinda yang duduk di atas bangku Taman.
Dinda sebenarnya tidak mau memeluk Mark, tapi Dinda tidak tega membuat Mark merasa kecewa karena sudah merentangkan kedua tangannya.
"Makasih banyak ya Dinda, aku akan selalu mengingat pelukan ini," ucap Mark.
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu sudah bersedia membantuku," ucap Dinda.
Dari kejauhan, Rizky yang melihat Dinda dan Mark berpelukan, merasakan sesak dalam dadanya, bahkan Rizky sampai beberapa kali meninju tembok untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
"Aku harus tenang, aku sudah berjanji kepada Putri akan berusaha melupakan Dinda, jadi aku tidak boleh seperti ini," gumam Rizky, kemudian membalikan badannya untuk kembali ke Apartemen.
Tidak berselang lama setelah Rizky sampai Apartemen, Dinda dan Mark juga ternyata kembali ke Apartemen, dan Rizky berusaha menahan rasa cemburunya ketika melihat Mark yang terus menggandeng Dinda, apalagi keduanya terdengar menggunakan panggilan sayang.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita sarapan dulu sebelum pergi jalan-jalan," ujar Dinda kepada Mark.
"Iya sayang, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan kamu yang selalu enak," ujar Mark.
Semuanya kini telah berkumpul di meja makan untuk sarapan, dan Dinda sengaja mengisi piring untuk Mark, tapi ketika Dinda hendak memberikannya kepada Mark, Rizky merebut piring yang dipegang oleh Dinda.
"Makasih Dinda," ucap Rizky dengan tersenyum penuh arti sehingga membuat Dinda merasa kesal.
"Gak usah GR, ini buat Mark," ujar Dinda yang hendak kembali merebut piring dari Rizky.
Mark dan Putri hanya menjadi penonton saat Dinda dan Rizky berebut piring, karena keduanya tidak ada yang mau mengalah.
"Kenapa sih Kak Rizky mengambil piring buat Mark? Kak Rizky kan bisa suruh Kak Putri buat ngambil nasi sama lauknya."
"Tapi aku hanya ingin piring yang diisi nasi sama lauk oleh ka_mu," ujar Rizky yang langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan.
Aduh, kenapa sih aku pake bicara seperti itu? Lagi-lagi aku sudah menyakiti hati Putri, ucap Rizky dalam hati yang semakin merasa bersalah terhadap Putri.
"Sayang, gak apa-apa, piringnya kasih saja sama Rizky, lagian nanti kamu masih bisa mengisi piring lagi buat aku. Apalagi setelah kita menikah, aku jadi tidak sabar ingin segera menikahi kamu," ujar Mark dengan tersenyum.
Prang
Piring yang sebelumnya menjadi bahan rebutan Rizky dan Dinda terjatuh di atas lantai hingga terpecah belah.
"Rizky, kamu baik-baik saja kan?" tanya Putri.
"A_aku baik-baik saja," ujar Rizky, kemudian berjongkok untuk memunguti pecahan piring.
"Kak Rizky biar Dinda saja."
"Rizky biar aku saja."
Ucap Dinda dan Putri secara bersamaan.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Aku yang sudah menjatuhkannya, jadi aku yang harus bertanggung jawab untuk membersihkannya," ujar Rizky.
Dinda merasa khawatir ketika melihat tangan Rizky yang berdarah karena terkena pecahan piring, dan Dinda langsung menarik tangan Rizky tersebut.
__ADS_1
"Sekarang Kak Rizky ikut Dinda," ujar Dinda dengan menarik tangan Rizky sehingga membuat Rizky merasa heran, karena Dinda mengajak Rizky menuju dapur.
Dinda membersihkan tangan Rizky dengan air, kemudian Dinda menghisap jari Rizky yang terus mengalirkan darah supaya menghentikan pendarahannya.
Deg deg deg
Jantung Rizky berdetak kencang ketika melihat wajah cantik Dinda dari jarak dekat.
"Dinda, a_apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Rizky dengan tergagap, karena dari tadi Rizky tidak menyadari jika tangannya terluka.
"Apa Kak Rizky tidak sadar kalau tangan Kak Rizky terluka sampai mengeluarkan darah yang cukup banyak?" tanya Dinda.
"Aku memang tidak sadar karena dari tadi aku hanya memikirkan kamu. Kamu harus tau jika luka ini tidak sebanding dengan luka di dalam hatiku ketika melihat kamu bersama dengan lelaki lain," ucap Rizky dengan lirih.
Dinda diam mematung mendengar perkataan Rizky, karena hati keduanya saat ini sama-sama terluka.
Ketika Dinda dan Rizky berada di dapur, Putri memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Mark dari hati ke hati.
"Mark, apa benar kalau kamu dan Dinda adalah sepasang kekasih?" tanya Putri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu sendiri sepertinya tidak cemburu melihat kedekatan Dinda dan Rizky?"
Mark balik bertanya, karena Mark merasa heran dengan sikap yang Putri tunjukan.
"Aku bukannya tidak merasa cemburu, tapi dari awal hati Rizky hanya milik Dinda, dan pernikahan kami hanya sebatas di atas kertas saja," jawab Putri dengan tersenyum.
Mark terkejut ketika mendengar perkataan Putri, dan Mark yakin jika Dinda tidak mengetahui tentang semua itu.
"Apa Dinda sudah tau tentang semua itu?" tanya Mark yang mencoba untuk memastikan.
"Aku belum sempat memberitahukan semua itu kepada Dinda, dan sebenarnya tujuanku datang ke sini untuk menyatukan Rizky dengan Dinda."
Mark tidak habis pikir dengan jalan pikiran Putri, karena baru kali ini Mark mendengar seorang Istri yang mengantarkan Suaminya untuk bertemu dengan perempuan yang Suaminya cintai.
"Apa aku boleh tau alasan kamu melakukan semua itu?" tanya Mark yang merasa penasaran.
"Aku mengidap kanker paru-paru stadium akhir, dan waktu ku di dunia ini hanya sebentar lagi. Dari awal aku yang sudah memaksakan kehendak ku terhadap Rizky, padahal jelas-jelas aku tau kalau Rizky hanya mencintai Dinda. Jadi, sekarang sudah saatnya aku mengembalikan Rizky kepada pemilik hatinya."
*
*
__ADS_1
Bersambung